Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Menerobos Batas Kematian
Semburan api jiwa berwarna biru pekat itu melahap jarak di antara mereka dalam sekejap mata. Suhu di dasar jurang yang sudah membekukan tiba-tiba berubah menjadi panas yang tidak wajar—panas yang membakar langsung ke dalam lautan kesadaran, mengancam untuk menghanguskan jiwa menjadi abu.
Li Jian berdiri kokoh bagai karang di tengah badai samudra. Zirah es absolut yang melapisi tubuhnya berderit keras saat berbenturan dengan api jiwa sang Naga Tulang.
BLAAAAAAR!
Gelombang kejut dari benturan itu melemparkan debu kristal es hingga menyapu dinding gua. Xiao Ling terlempar ke belakang, terbatuk darah meski ia berada puluhan meter dari pusat ledakan. Tekanan dari kultivasi tahap Bina Pondasi tingkat menengah benar-benar tiranik.
Di pusat pusaran api biru itu, Li Jian menahan napasnya. Gerhana diangkat tinggi-tinggi sebagai perisai, bilah energi es setipis sayap jangkrik di ujungnya berusaha membelah aliran api tersebut.
Namun, kekuatannya tidak seimbang.
Kretak... krak...
Zirah es di lengan Li Jian mulai retak. Kulitnya melepuh, namun darah yang merembes keluar langsung membeku dan menguap oleh kombinasi hawa Yin esktremnya sendiri dan api jiwa sang naga. Tulang-tulang kakinya berderit, dipaksa amblas hingga sebatas mata kaki ke dalam lantai kristal es hitam.
"Bocah gila! Mundur!" raung Yueyin di dalam benaknya. Ilusi Sang Kaisar Es tampak bergetar hebat, menahan sebagian dari tekanan mematikan itu agar jiwa Li Jian tidak hancur. "Perbedaan kultivasi kalian terlalu jauh! Cairan Qi Tingkat Enam-mu tidak cukup padat untuk menahan api jiwa purba ini! Meridianmu akan meledak!"
"Jika aku mundur... aku akan mati terbakar!" balas Li Jian melalui kertakan giginya. Matanya yang berwarna perak kini memancarkan urat-urat darah yang mengerikan.
Pusaran hisap dari Gerhana bekerja maksimal, menelan sebagian api jiwa itu, namun mulut pedang tersebut memiliki batas kapasitas, dan semburan sang naga seperti lautan yang tak berujung. Dantian Li Jian mulai terasa seperti balon yang diisi air mendidih hingga ambang batas ledakan.
Li Jian menatap lurus menembus kobaran api biru, melihat tengkorak raksasa sang Naga Tulang yang menatapnya dengan tatapan meremehkan.
Sebuah seringai buas, yang lahir dari keputusasaan dan keangkuhan absolut, mengembang di wajah Li Jian yang berdarah.
"Cairan Qi-ku tidak cukup padat?" bisik Li Jian. "Kalau begitu... aku hanya perlu memadatkannya dengan palu kematian ini!"
Alih-alih menyalurkan sisa Qi-nya untuk mempertebal zirah esnya, Li Jian melakukan sesuatu yang dianggap bunuh diri oleh kultivator manapun. Ia menarik seluruh energi pertahanannya kembali ke dalam Dantian secara instan.
Zirah esnya hancur seketika. Api jiwa biru langsung menjilat jubah dan kulitnya. Rasa sakit yang tak terlukiskan merobek-robek kesadarannya, seolah jutaan pisau bedah menguliti sarafnya satu per satu.
Namun, di dalam Dantian-nya, sebuah keajaiban yang dipaksakan sedang terjadi.
Li Jian menggunakan tekanan eksternal dari api jiwa tahap Bina Pondasi itu sebagai palu godam raksasa. Ia membiarkan energi mematikan itu menekan genangan cairan Qi perak Tingkat Enam-nya dari segala arah. Bersamaan dengan itu, Seni Bintang Pemakan Langit berputar gila-gilaan, menyedot energi Yin murni yang memancar dari Inti Netherworld di belakang sang naga.
"Kau menggunakan kematian sebagai tungku penempaan?!" Yueyin tersentak, suaranya campur aduk antara kengerian dan kekaguman yang luar biasa.
Trang! Trang! Trang!
Suara benturan logam terdengar dari dalam tubuh Li Jian. Itu bukan suara tulangnya yang patah, melainkan suara cairan Qi peraknya yang terus-menerus ditekan, dikompresi, dan dimurnikan oleh tekanan ganda dari dalam dan luar.
Di ambang batas di mana tubuhnya hampir menjadi abu, sebuah suara retakan tipis terdengar. Batas Tingkat Enam telah hancur.
Cairan Qi perak yang sebelumnya mengalir seperti air, kini berubah wujud secara drastis. Energinya memadat menjadi seperti raksa cair—berat, lambat, namun menyimpan daya hancur yang seratus kali lipat lebih masif. Pendaran warnanya tidak lagi sekadar perak kebiruan, melainkan memancarkan kilau hitam kosmik di bagian intinya.
Kondensasi Qi Tingkat Tujuh—Tahap Akhir telah dicapai!
BOOOOOOOM!
Sebuah pilar cahaya perak bercampur hitam meledak dari tubuh Li Jian, menembus atap gua bawah tanah dan membelah semburan api jiwa sang Naga Tulang menjadi dua bagian.
Api biru yang tadi membakar kulitnya padam seketika. Luka-luka bakarnya mengelupas, digantikan oleh kulit baru yang sepucat salju dan sekeras baja es. Aura yang memancar dari tubuh pemuda itu kini membuat ruang di sekitarnya terdistorsi.
Sang Naga Tulang menghentikan semburannya. Rongga matanya yang berisi api jiwa berkedip, menunjukkan sebersit insting ketakutan purba. Serangga yang seharusnya hangus itu kini memancarkan tekanan seorang penguasa sejati.
"Terima kasih atas pijatannya, tulang tua," suara Li Jian menggema, nadanya sedingin nol mutlak.
Ia perlahan mengangkat Gerhana. Urat-urat biru pada pedang tumpul itu kini menyala dengan intensitas yang membutakan. Bilah es tipis di tepinya berdengung, haus akan kehancuran.
Li Jian menekuk lututnya, dan dalam sekejap mata, ia menghilang.
BAM!
Lantai kristal tempatnya berpijak hancur menjadi kawah. Kecepatan Li Jian di Tingkat Tujuh tidak lagi bisa ditangkap oleh mata fana. Ia muncul tepat di atas tengkorak raksasa sang Naga Tulang.
Naga itu mengaum marah, mencoba menyabetkan cakar tulangnya yang sebesar rumah ke arah Li Jian.
Namun Li Jian hanya mendengus. Ia memegang Gerhana dengan kedua tangan, mengumpulkan seluruh cairan Qi raksanya ke ujung pedang, dan menghantamkannya ke bawah bak sebuah meteorit hitam.
"Tebasan Bintang Jatuh: Penghancur Mahkota!"
CRAAAAANG!
Bilah energi es tipis dari Gerhana merobek Niat Pedang pelindung di sekitar tulang naga itu, sementara bobot pedang yang tumpul menghantam tepat di tengah-tengah tengkoraknya.
Gelombang kejut raksasa meledak. Tulang purba yang konon tak bisa digores itu retak parah, memancarkan debu tulang dan kilatan api biru. Kepala sang Naga Tulang terhempas ke bawah dengan kekuatan yang sangat brutal, menghantam lantai gua hingga membuat seluruh Makam Pedang bergetar hebat.
ROAAAAAR!
Naga itu meronta kesakitan, ekor tulangnya menyapu membabi buta dan menghancurkan ratusan stalagmit kristal di sekitarnya.
Li Jian melenting mundur di udara, mendarat dengan anggun puluhan meter dari monster yang sedang mengamuk itu. Napasnya stabil. Mata peraknya menatap dingin ke arah retakan besar di dahi sang Naga Tulang.
"Kulitmu cukup keras," ejek Li Jian, menyeka setetes darah beku di sudut bibirnya. "Tapi mari kita lihat apakah tulangmu bisa menahan sepuluh tebasan lagi."
Di sudut gua, Xiao Ling menatap pertunjukan itu dengan mulut setengah terbuka. Ia baru saja menyaksikan seorang pemuda menerobos kultivasi di tengah cengkeraman kematian, dan memukul mundur monster Bina Pondasi dengan kekuatan fisik yang murni.
Namun, naga purba itu tidak akan menyerah begitu saja. Mengumpulkan seluruh kemarahannya, sang Naga Tulang bangkit, tulang-tulangnya mulai menyerap ribuan pedang berkarat dari dinding jurang untuk membentuk zirah berduri yang jauh lebih mengerikan.
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏