NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Peninggalan Terakhir

Tiga hari setelah pemakaman Biru. Rumah masih berbau bunga. Aroma melati dan kenanga bercampur, mengingatkan Ishani pada tanah yang menutup tubuh suaminya. 

Karangan bunga dan kartu ucapan duka cita masih berserakan di mana-mana, seakan belum mengizinkan Ishani untuk melupakan.

Fajar baru saja terbit ketika Ishani melangkah keluar kamar. Kamar itu semakin terasa sempit tanpa Biru. Udara di dalamnya membuatnya sesak. Ia butuh bernapas.

Langkahnya terhenti.

Ada suara.

Bukan tangisan keras. Lebih seperti napas yang tersengal, ditahan, lalu pecah pelan.

Ishani menajamkan pendengaran. Suara itu berasal dari kamar yang ditempati Langit sejak hari pemakaman. Pintu kamar terbuka sedikit. Celahnya cukup mengintip.

Ishani mendekat tanpa suara. Hatinya terhenyak.

Langit duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Punggungnya membungkuk. Bahunya bergetar. Di pelukannya, foto wisuda Biru, foto di mana mereka berdiri berdampingan, dua wajah yang hampir sama, dua senyum yang sama dengan sorot mata berbeda.

Air matanya jatuh tanpa ditahan. Membasahi lengan kaos hitamnya. Isaknya tertahan, seperti seseorang yang sejak kecil terbiasa menyembunyikan tangis.

Ishani menutup mulutnya sendiri agar tidak ikut terisak. Ia mundur perlahan, bersandar pada dinding.

Tiga hari ini Langit terlihat tenang. Tegak. Seolah tidak ada yang runtuh. Ternyata ia hanya memilih runtuh sendirian.

Isakan Langit perlahan mereda. Tapi, ia masih terduduk dengan tatapan kosong, masih memeluk foto Biru. Kemudian, setelah beberapa saat, ia mencoba mengatur napasnya, seakan sedang meredakan rasa sesak di dadanya. 

Ishani kembali ke kamarnya tanpa suara. Di saat itu, ia menyadari satu hal. Ia dan Langit memikul luka yang sama. Hanya caranya berbeda.

**********

Siang itu rumah mulai sepi. Pelayat telah kembali ke hidup masing-masing. Tidak ada lagi suara ramai yang menutupi kehampaan.

Sepi terasa lebih tajam dari sebelumnya.

Ishani duduk di sofa, memeluk perutnya. Matanya terus menatap pintu depan. Tidak akan ada lagi suara yang membukanya sambil berseru, “Sayang… aku pulang.”

“Mas…” suaranya patah.

Air mata mengalir deras. Ia membungkuk, menutup wajahnya. Pertahanannya runtuh lagi. Di dalam perutnya, bayi itu bergerak pelan.

Ishani terdiam.

Gerakan kecil itu seperti menariknya kembali ke dunia yang masih berjalan. “Maaf…” lirihnya. “Ibu masih belajar bernapas tanpa ayah.”

Ia takut suatu hari anak itu akan bertanya, Kenapa Ayah tidak ada?

Dan ia tidak tahu bagaimana menjawab tanpa kembali hancur.

Tanpa ia sadari, Langit berdiri tidak jauh dari sana. Ia melihat Ishani, tapi tidak mendekat. Ada jarak tidak terlihat yang tidak berani ia lewati.

Satu jam kemudian, Langit kembali. Ia berjongkok di depan Ishani dengan jarak yang cukup. 

“Ishani…” panggilnya pelan.

Ishani membuka mata. Untuk sepersekian detik, jantungnya terhenti. Wajah itu terlalu mirip. Hidung lurus, rahang tegas, potongan rambut yang sama. 

Namun mata itu berbeda. Tidak ada cahaya percaya diri seperti Biru. Yang ada hanya kelelahan dan beban yang tidak pernah ia minta.

Air mata kembali mengalir tanpa sadar.

Langit langsung berdiri menjauh. Tangannya masuk ke saku. Tubuhnya kaku, seolah ia menyadari kalau kehadirannya bisa melukai. 

“Aku bikin sup jagung,” ucapnya singkat. “Kamu harus makan.”

Tidak ada nada memaksa. Hanya tanggung jawab.

Ishani ingin menolak. Tapi ia ingat gerakan kecil di dalam perutnya tadi. Ia mengangguk.

Langit meletakkan mangkuk di meja. Uapnya masih mengepul. Harum jagung hangat memenuhi ruangan.

“Makan selagi hangat.”

Ia pergi sebelum Ishani sempat mengucapkan terima kasih.

***********

Malam setelah tahlil ketiga, Ishani duduk di halaman belakang. Langit malam bertabur bintang. Satu bintang tampak lebih terang dari yang lain.

“Apa itu kamu, Mas?” gumamnya pelan. “Sekarang kamu sudah tidak sakit lagi, kan?”

Ia tersenyum tipis sambil mengusap perutnya. “Anak kita baik-baik saja.”

“Isha.” Bu Maura memanggil dari dalam rumah. “Bisa masuk ke dalam?”

Bu Maura membawa Ishani ke kamar Langit. Di dalam, Langit berdiri dengan kotak kayu di tangannya. 

“Duduklah,” pinta Langit pada Ishani dan ibunya.

“Saat mengetahui kehamilan Ishani, Biru sempat menemuiku,” mulai Langit dengan suara berat. “Dia menitipkan sesuatu padaku. Dia mau aku memberikannya pada waktu yang tepat.”

Langit berhenti sejenak, meredakan sesuatu dalam hatinya. 

“Semuanya ada sini,” lanjutnya 

Ishani menatap kotak kayu di tangan Langit. 

“Dia sudah mempersiapkannya seolah tahu kalau dia….,” suara Langit tercekat. Ia menarik napas dalam. 

“Ini buat ibu.” Ia menyerahkan sepucuk surat untuk Bu Maura. 

Ia lalu beralih pada Ishani. “Yang ini buat kalian.”

Ishani mendapatkan amplop coklat.

“Semua itu adalah peninggalan terakhirnya. Aku kira malam ini adalah waktu yang tepat,” jelas Langit. 

Ishani membawa amplop itu ke kamarnya. Tangannya gemetar saat membukanya.

Di dalamnya ada sebuah surat dan kotak kecil. Ia membuka kotak itu perlahan.

Sebuah jam tangan perak dengan tali cokelat terbaring rapi. Terlalu besar untuk pergelangan tangan bayi. Di bagian belakangnya terukir kalimat pendek:

Ayah mencintaimu sebelum melihat wajahmu.

Tangis Ishani pecah tanpa suara. Ia menutup kembali kotak itu dengan hati-hati. Ia akan menyimpannya sampai anaknya cukup besar untuk memahami arti kehilangan.

Dengan tangan bergetar, ia membuka suratnya.

Isha Sayang,

Kalau kamu membaca ini, berarti aku gagal menepati janji untuk selalu bersama kalian. Maaf kalau aku tidak bisa menjadi penjaga dan pelindungmu lagi. Maaf kalau aku belum sempat menjadi ayah yang kamu dan anak kita butuhkan.

Tapi percayalah, aku pergi dengan hati yang penuh cinta untuk kalian. Jangan marah pada keadaan. Jangan juga menyalahkan dirimu sendiri. Apa pun yang terjadi, itu bukan salahmu.

Aku sudah meminta Langit menjaga kalian. Bukan untuk menggantikanku, tapi supaya kalian tidak pernah merasa sendirian.

Tolong besarkan anak kita dengan cerita-cerita tentang ayahnya. Katakan padanya bahwa aku mencintainya bahkan sebelum ia membuka mata.

Dan kamu, Isha…

jangan berhenti tersenyum.

Aku mencintaimu.

Sekarang.

Dan selamanya.

Biru

Air mata Ishani membasahi kertas itu.

Bayi dalam kandungannya bergerak kuat, seolah merespons.

“Aku akan kuat, Mas,” bisiknya. “Aku janji.”

Di luar kamar, Langit berdiri dalam gelap. Ia mendengar isakan yang tertahan itu. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. 

Ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia tidak tahu apakah ia cukup kuat. Tapi satu hal pasti, ia tidak akan membiarkan Ishani dan anak itu merasa kehilangan untuk kedua kalinya

.

1
Aquarius97 🕊️
turut berduka cita ya ishnani... semoga diberi kesabaran 😭
@dadan_kusuma89
Justru ini yang akan menjadi kehangatan kehidupan kalian kedepan
Xlyzy
selama ini sosok langit di bentuk untuk ngejaga biru dan itu tampak nya terbawa hingga biru tiada , awal nya ia hanya ingin memenuhi janji nya pada biru untuk menjaga ishani namun tampak nya hatinya langit mulai menimbulkan perasaan lain namun doktrin identitas nya sebagai penjaga membuatnya menyangkal perasaan suka itu.

begitulah asumsi ku bekerja 😁🤭
Filan
Langit terlalu menjaga, Ishani terlalu sungkan.
Filan
selalu ga enakan
Three Flowers
mungkin Langit sudah terlanjur terbawa perasaan... karena dia adalah orang yang tulus dan mudah luluh
Three Flowers
jangan begitu, Biru... bukankah kamu yang menitipkan penjagaan mereka pada Langit?
Three Flowers
Padahal mereka seusia, tapi tanggung jawab yang harus dipikul Langit seolah jauh di atas usianya.
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
kopi buat otor. semangat ya. aku libur baca dulu buat pekan ini ya
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
sumpah ya ni orang baik banget. 😭 🤌
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
iya bener. kuat2 ya melanjutkan hidup 😭
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰☠️⃝🖌️M⃤
dan pada akhirnya, dia tak ada saat di butuhkan /Cry/ gimana ishani gak terpukul, suaminya aja sesiaga ini
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰☠️⃝🖌️M⃤
Mungkin biru punya firasat, kalo dia memang tak akan bisa melihat anaknya nanti /Scowl/
PrettyDuck
kalo aku liat2, kayaknya kamu tuh sebenernya sayang sama ishani
coba lebih jujur
mungkin pelan iahani bisa terima kamu 🥲
PrettyDuck
duh, ishani juga jangan mulai ungkit2 biru
makin insecure lah langit 😖
PrettyDuck
tau ih langit
bikin ishani serba salah kalo sikapnya begini
Miu Nuha.
kalo terus mengungkit biru rasany sedih ya 🥲,, mungkin sebagian hati kalian msh blm ikhlas akan kepergiannya...
-Thiea-
gak papa kok langit. kamu juga berhak untuk bahagia dan egois.
-Thiea-
langit dipaksa jadi anak kuat. padahal dia punya kehidupan sendiri, tapi dia seperti di larang untuk bahagia dan bertanggung jawab pada biru . sebenarnya gak adil sih.
Yani Sri
hari ini boom like, 1 vote dan secangkir kopi untukmua kak, semangat lanjut yaa.....
Nuri_cha: Terima kasih banyak untuk dukungannya kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!