NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PERETAS TAKDIR

Keheningan di dalam aula indoor itu terasa bergetar. Rimba Dipa Johanson duduk bersila di atas altar batu hitam dengan mata terpejam rapat. Di dalam kepalanya, sebuah revolusi kognitif sedang terjadi. Setelah evolusi tulang besi hitamnya selesai, kapasitas otaknya seolah meledak melampaui batas manusia normal.

Hanya dalam hitungan menit, Rimba sudah larut dalam kultivasi mental. Ia mulai membedah kitab Aksara Dewa yang ia temukan di perpustakaan mentalnya. Simbol-simbol yang tadinya nampak seperti coretan acak yang membingungkan, perlahan mulai berbicara padanya. Setiap lengkungan garis dan titik memiliki frekuensi energi yang kini bisa ia terjemahkan menjadi konsep logis.

Tiba-tiba, di tengah pendalamannya, Rimba tersentak kecil. Ia menyadari sesuatu yang ajaib. Ada satu jalur kesadarannya yang sedang "menganggur".

"Ah, benar! Aku lupa kalau teknik Seribu Satu Pikiran tingkat satu sudah sempurna!" batin Rimba berteriak girang.

Tanpa membuang waktu, ia membagi fokusnya secara vertikal. Jalur pikiran pertama tetap dibiarkan melakukan pendalaman otomatis terhadap Aksara Dewa, sementara jalur pikiran kedua ia tarik paksa masuk kembali ke Perpustakaan Mental. Fokus keduanya ini ia tujukan pada satu target: Sistem Aether.

Sebagai mahasiswa IT yang terbiasa dengan logika pemrograman, Rimba tidak melihat Aether sebagai sihir mistis. Baginya, ini adalah perangkat lunak tingkat dewa. Ia mulai mencari "source code" dari sistem ini. Ia ingin tahu strukturnya, bagaimana syntax programnya bekerja, bagaimana deklarasi variabel energinya, dan sejauh mana otoritas yang bisa ia kendalikan.

Setelah menemukan kitab manual Sistem Aether di sudut rak mentalnya, pikiran kedua Rimba segera melahap isinya. Walhasil, Rimba melakukan multi-tasking murni di dalam kepalanya. Jika orang biasa melihatnya, mereka hanya akan melihat seorang pemuda yang duduk diam, namun jika diperhatikan dengan teliti, tubuh Rimba mulai mengeluarkan uap tipis. Itu adalah tanda bahwa mesin biologis dan mentalnya sedang bekerja pada clock speed maksimal. Ia sedang melakukan overclocking pada jiwanya sendiri.

---

Empat jam berlalu dalam sekejap bagi Rimba, meski di dunia luar mungkin hanya hitungan detik. Rimba membuka matanya, dan sebuah kilatan cahaya biru keemasan melintas di pupilnya.

"Jadi begitu maksudnya?! Sistem ini sebenarnya adalah jembatan antara logika numerik dan energi semesta!" gumamnya pelan. Tubuhnya kini basah kuyup oleh peluh, tanda bahwa konsentrasi tinggi tadi memakan energi fisik yang tidak sedikit.

Rimba segera turun dari altar. Perutnya berbunyi nyaring, protes karena cadangan energinya terkuras. Ia melangkah menuju ruang tengah dengan langkah ringan namun mantap.

"Lara sayaaaang... buatkan makanan ya? Aku lapar sekali!" seru Rimba tanpa malu sedikit pun. Ia terus melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi air hangat yang menyegarkan dan mengganti celana latihannya dengan yang baru, ia menuju ruang makan.

Di atas meja kayu gaharu yang harum, telah tersedia berbagai hidangan lengkap. Lara sudah duduk di sana, nampak terbiasa dengan panggilan-panggilan aneh dari tuannya.

"Ayo kita makan bersama, Lara. Dan beri juga Cesar bagian yang paling besar," kata Rimba sambil menarik kursi.

Lara mengambil beberapa potong daging segar—mungkin dari hewan buruan di Hutan Asura—dan memberikannya kepada Cesar yang langsung menyambutnya dengan lahap di sudut ruangan. Setelah itu, Lara duduk di hadapan Rimba. Mereka mulai bersantap dalam suasana yang lebih hangat dari biasanya.

Di sela-sela kunyahannya, Rimba menatap Lara dengan serius. "Lara, aku mau tanya sesuatu."

Lara mendongak. "Apa itu, Rimba?"

"Di dalam novel-novel kultivasi yang pernah kubaca, orang yang dapat sistem ajaib begini biasanya adalah orang yang hidupnya menderita, penuh tekanan, atau punya dendam kesumat. Sedangkan aku? Hidupku biasa-biasa saja. Meski aku yatim piatu, aku bahagia tinggal bersama Kakek. Tidak ada tragedi berdarah yang membuatku ingin balas dendam. Jadi... kenapa aku yang dipilih? Aku bahkan tidak punya gairah untuk bertarung. Apa kamu tahu alasannya?"

Lara meletakkan sendoknya, menatap Rimba dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku sendiri tidak tahu pasti, Rimba. Setahuku, sistem-lah yang memilih wadahnya. Jika ternyata kamu yang terpilih, berarti kamu adalah individu yang paling kompatibel untuk menjalankan fungsi sistem ini. Mungkin kejernihan hatimu atau cara berpikirmu yang logis sebagai manusia modern adalah kuncinya. Latar belakang masa lalu tidak selalu menjadi syarat utama bagi takdir."

Rimba terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Masuk akal juga." Ia kembali menyuap nasi, lalu matanya memperhatikan cara Lara makan. "Kamu kalau makan tidak bisa dengan gaya urakan sepertiku ya, Ra? Sampai makan saja dilakukan dengan sangat anggun. Benar-benar cantik teman hidupku ini, he he he..."

"Rimba... apaan sih?" Lara tersipu, wajahnya seketika berubah warna menjadi merah terang seperti kulit kepiting rebus. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan senyumnya.

"Aku yang urakan begini, sedangkan kamu sangat anggun dan cantik. Apa kita bisa hidup bersama dalam waktu yang sangat panjang di sini, Lara?" Rimba menggoyangkan alisnya, sengaja menggoda.

"Aku... aku akan menyesuaikan saja dengan gaya kamu, Rimba," jawab Lara lirih tanpa berani memandang matanya. "Aku kan pelayanmu, jadi aku akan berusaha melaksanakan semua perintahmu."

"Eh, stop!" Rimba meletakkan gelasnya dengan suara denting yang cukup keras. "Jangan pernah bilang kamu pelayanku lagi. Sejak pertama kita bertemu, aku tidak pernah menganggapmu begitu. Kamu adalah sahabatku. Di sini kita setara. Kamu adalah pendamping hidupku di dimensi ini. Kita cuma bertiga di sini bersama Cesar. Jadi, tolong, jangan sebut dirimu pelayan lagi. Ya?"

Lara tertegun. Ia merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya—sesuatu yang tidak ada dalam kode pemrogramannya sebagai asisten dimensi. "Ah, iya... ma... maaf."

"Jadi mulai sekarang kita berteman, kan?" tanya Rimba memastikan. Lara mengangguk pelan.

"Nah, setelah kita berteman begini... kapan kamu bakal tidur di kamarku?" Rimba menyipitkan mata, memasang wajah paling jahil yang ia punya.

"Hah... apa?!" Lara tersedak air yang baru saja diminumnya. Ia terbatuk-batuk dengan wajah yang hampir meledak karena malu.

"Ups! Maaf, aku bercanda lagi!" Rimba nyengir tanpa dosa. Ia bangkit dari kursi, merasa energinya sudah pulih total. "Aku latihan lagi ya, Sayang. Da-dah sayaaaang..."

Rimba memberikan kiss bye di udara sambil berlari kecil menuju ruang kontrol aula indoor.

"Rimbaaaaaa! Iiiiihhhh...!" jeritan Lara menggema, namun pelakunya sudah menghilang di balik pintu ruang kontrol sambil tertawa puas.

---

Begitu sampai di depan panel kontrol Aether, ekspresi Rimba langsung berubah serius. Ia menekan tombol ON dan layar dinding raksasa kembali menyala. Berkat pemahaman Aksara Dewa yang baru ia kuasai, kini layar itu tidak lagi berisi simbol asing, melainkan instruksi yang bisa ia pahami.

"Wah... ternyata sistem ini bisa disinkronkan dengan internet di dunia nyata juga? Ini bisa sangat berguna!" gumamnya saat melihat opsi konektivitas global.

Namun, fokus utamanya bukan itu. Rimba mulai merambah ke System Preferences. Ia mencari pengaturan rasio waktu. Setelah menemukannya, jemarinya bergerak cepat di atas panel hologram.

"Satu jam di luar sama dengan satu hari dalam? Itu terlalu lambat," gumamnya. Ia menghapus angka tersebut dan mengetikkan parameter baru: 1 jam di dunia luar \= 1 bulan di dunia dimensi.

Tak berhenti di situ, ia mencari pengaturan area tanaman obat. Di sana, ia melakukan langkah gila. Ia mengatur rasio waktu kebun menjadi 1 jam di dunia luar \= 100 tahun di dalam dimensi. Ia ingin memastikan bahan-bahan obatnya memiliki kualitas legendaris dalam waktu singkat.

Terakhir, ia masuk ke bagian Kultivasi Fisik. Sistem standar memberikan penggandaan beban dan hasil sebanyak dua kali lipat (2G). Rimba tersenyum miring. Ia menghapus angka '2' dan menggantinya dengan '5'.

"Mari kita buat ini menjadi lima kali lebih berat," ucapnya mantap.

Dengan pengaturan ini, jika orang normal berlatih di tingkat satu menengah dengan beban 2G, Rimba akan menanggung 5G. Jika mereka di tingkat satu tinggi dengan beban 4G, Rimba akan menanggung 25G secara eksponensial. Ini adalah latihan neraka yang bisa menghancurkan tubuh siapa pun, namun dengan Tulang Besi Hitam dan Armor Naga Asura, Rimba yakin ia bisa melaluinya.

"Sekarang," Rimba melangkah ke tengah aula, "mari kita lihat seberapa jauh sistem 5G ini bisa membawaku."

1
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!