Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. AMSALIR
Ruangan seketika hening saat petikan senar Guzheng mulai mengalun. Jari-jari lentik Zhen Yi menari di atas dawai, memainkan nada-nada yang menenangkan jiwa. Suaranya yang mendayu merdu begitu memanjakan telinga, membuat siapa pun yang mendengarnya bungkam dalam pesona.
Kaisar tak sedetik pun melepaskan pandangannya dari Zhen Yi. Ada binar kekaguman sekaligus gairah ingin memiliki di matanya. Sikap terang-terangan Kaisar itu memantik api cemburu di hati Permaisuri Zi Wei, tatapannya menghunus tajam ke arah Zhen Yi.
Zhen Yi, dengan sorot mata yang tampak teduh, sempat melirik ke sudut ruangan yang jauh dari keriuhan para tamu. Di sana, Pangeran Wang Zihan duduk dengan tenang. Tatapan mereka terpaku selama beberapa detik sebelum akhirnya Zhen Yi mengalihkan kembali fokusnya kepada Kaisar.
"Luar biasa. Pantas saja ia dijuluki dewi, penampilan dan suaranya sungguh tiada banding," bisik salah seorang pejabat.
Pejabat di sebelahnya mengangguk setuju. "Benar. Kabar yang kudengar, dia memang sangat tersohor, namun tak sembarang orang bisa mendekatinya."
"Tapi kali ini dia tidak akan bisa lolos dari cengkeraman Kaisar. Lihatlah, Baginda benar-benar terpukau olehnya," bisik mereka sangat pelan, hingga hanya terdengar oleh kalangan terbatas di meja itu.
Zhen Yi bangkit perlahan saat iringan musik utama diambil alih oleh musisi istana. Ia bersiap menunjukkan puncak penampilannya.
Ia berdiri tegak dengan kedua tangan melingkar anggun ke atas dan wajah yang sedikit mendongak. Tubuhnya bertumpu miring ke kanan dengan salah satu kaki terjulur ke samping, memperlihatkan sekilas belahan tungkainya yang mulus di bawah temaram cahaya lampion.
Begitu musik bertempo cepat dimulai, tubuhnya mulai meliuk indah. Gerakannya begitu halus tanpa celah, dipadukan dengan senyum memikat yang mampu memabukkan siapa saja yang memandang.
Riuh tepuk tangan membahana mengiringi berakhirnya penampilan Zhen Yi. Hampir semua orang berdiri untuk memberikan penghormatan atas pertunjukan yang begitu mengagumkan tersebut. Bahkan, Kaisar sendiri memberikan tepuk tangan yang paling meriah dengan wajah berseri-seri.
Namun, di sudut ruangan, Pangeran Wang Zihan tetap bergeming di kursinya. Ia hanya menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan seolah ada kekhawatiran yang tersembunyi di balik ketenangannya.
"Luar biasa!" puji Kaisar dengan suara lantang. "Kau benar-benar menyuguhkan penampilan yang tiada tara malam ini. Sebagai penghargaan, Aku akan menghadiahimu perhiasan yang melimpah dan beberapa kotak emas. Dan mulai malam ini, kau akan tinggal di Paviliun Timur. Buatlah dirimu senyaman mungkin di sana."
Seketika, seisi aula tersentak kaget, tak terkecuali sang Pangeran. Keputusan Kaisar menempatkan Zhen Yi di Paviliun Timur adalah isyarat nyata bahwa ia akan diangkat sebagai selir istimewa. Pasalnya, paviliun tersebut merupakan kediaman eksklusif bagi istri kesayangan Kaisar.
Bukannya merasa takut atau tertekan, Zhen Yi justru merasakan kepuasan yang tersembunyi di lubuk hatinya. Inilah yang selama ini ia rencanakan. Namun, keputusan itu sontak memicu amarah para selir lainnya. Mereka yang berasal dari latar belakang keluarga bangsawan berkuasa merasa sangat terhina. Bagi mereka, disandingkan dengan Zhen Yi yang mereka anggap hanyalah seorang wanita penghibur, adalah sebuah tamparan keras bagi martabat mereka.
Namun, tak ada satu pun yang berani menyanggah perintah tersebut, bahkan Permaisuri sekalipun.
Pangeran Wang Zihan yang tampak diselimuti kekesalan segera beranjak meninggalkan aula. Sementara itu, Zhen Yi menunduk dalam sebagai tanda hormat. "Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia Kaisar. Hamba sungguh tersanjung."
"Hahaha! Bagus, bagus sekali. Aku sangat menyukai pembawaanmu," tawa Kaisar menggema ke seluruh penjuru ruangan. "Ayo! Lanjutkan pestanya!"
Di tengah keriuhan pesta yang berlanjut, Zhen Yi diantar keluar oleh Kasim Bao menuju Paviliun Timur. Ia melangkah cepat mengikuti sang kasim. Sementara itu, Dali yang berjalan paling belakang tak mampu menyembunyikan rasa takjubnya pada kemegahan istana. Pilar-pilar raksasa dengan ukiran naga tampak menjulang gagah seolah menembus langit. Menyadari dirinya tertinggal, Dali segera mempercepat langkah menyusul Zhen Yi yang sudah jauh di depan.
Langkah mereka mendadak terhenti saat sosok Pangeran Wang Zihan berdiri tegak di tengah jalan, menghadang jalur mereka. Spontan, semua orang menunduk hormat, termasuk Zhen Yi.
"Pangeran? Apa alasan Anda menghalangi jalan kami?" tanya Kasim Bao dengan nada penuh tanya.
Dengan pembawaan tenang, Wang Zihan melangkah mendekat. "Bukankah seharusnya kau tetap berada di sisi Kaisar? Bagaimana jika ada seseorang yang berniat mencelakai Ayahanda? Kau tahu sendiri bahwa situasi istana sedang tidak stabil belakangan ini."
Perkataan Wang Zihan berhasil memancing keraguan dalam diri Kasim Bao. Ia celingukan, mendadak merasa tidak tenang. "Tetapi ... Pangeran, hamba harus mengantarkan Nona Zhen Yi. Ini adalah perintah langsung dari Kaisar."
"Tenanglah, Kasim Bao. Kami yang akan mengawal Nona Zhen Yi. Kembalilah ke aula. Aku jamin Nona Zhen Yi akan sampai di paviliunnya dengan aman," sahut Liang sembari mendorong pelan punggung Kasim Bao agar berbalik arah.
Meski masih diliputi kebimbangan, Kasim Bao akhirnya luluh dan mempercayakan Zhen Yi kepada Pangeran Wang Zihan. Ia pun segera bergegas kembali ke sisi Kaisar.
Setelah memastikan Kasim Bao menghilang dari pandangan, Wang Zihan tanpa membuang waktu segera menarik tangan Zhen Yi, membawanya menjauh dari keramaian.
Melihat hal itu, Dali hendak menyusul, namun Liang segera mencegatnya. "Sudahlah, tidak perlu mencampuri urusan mereka. Kita tunggu saja di sini."
Dali membuang muka, mendengus kesal karena tak punya pilihan lain.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏