NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Tumbal

Udara di dalam gua bawah tanah itu terasa berat, seolah dipadati oleh ribuan partikel debu purba yang menolak untuk dihirup. Elara Senja terbatuk pelan, punggungnya menempel pada dinding batu kapur yang dingin dan basah, sementara matanya tak lepas menatap sosok yang berdiri lima meter di depannya. Di bawah sorot lampu senter yang mulai meredup, Dr. Arisandi tampak bukan lagi seperti dokter bedah terhormat yang dipuja di RSU Cakra Buana, melainkan bayangan mengerikan dari masa lalu kelam kota ini.

Suara tetesan air yang jatuh dari stalaktit terdengar seperti detak jam kematian yang menghitung mundur sisa waktu mereka. Arisandi melangkah maju, sepatu kulit mahalnya berbunyi 'cepak' saat menginjak genangan lumpur bercampur limbah medis yang merembes dari celah bebatuan. Ia tidak memegang pisau bedah, melainkan sebuah tabung kaca kecil berisi cairan hitam pekat yang bergejolak seolah memiliki nyawa sendiri.

"Kalian pikir lorong ini hanya sekadar basement yang terlupakan?" tanya Dr. Arisandi, suaranya menggema memantul di dinding gua yang sempit.

Elara mengeratkan cengkeramannya pada lengan Pak Darto yang gemetar di sampingnya. Pria tua itu tampak pucat, napasnya tersengal bukan hanya karena usia, tetapi karena tekanan energi negatif yang memenuhi rongga dada. Lorong ini adalah perbatasan antara fondasi beton rumah sakit dan perut bumi Arcapura yang penuh misteri.

"Ini adalah jantung Cakra Buana, Elara. Di sini, sains dan tanah saling memberi makan," lanjut Arisandi sambil mengangkat tabung itu sejajar dengan matanya.

Pak Darto meludah ke samping, membuang rasa pahit yang tiba-tiba memenuhi mulutnya. Ia tahu betul apa yang ada di tangan dokter gila itu. Itu bukan sekadar sampel medis, melainkan residu ektoplasma yang dipanen dari pasien-pasien yang 'gagal' diselamatkan di meja operasi lantai atas.

"Kau melanggar sumpahmu, Arisandi. Tanah ini butuh istirahat, bukan tumbal," geram Pak Darto dengan suara parau.

Arisandi tertawa, sebuah tawa kering yang tidak menyentuh matanya sama sekali. Ia menjentikkan jarinya, dan dari kegelapan di belakang punggungnya, bayangan-bayangan hitam mulai menggeliat. Bentuk mereka tidak beraturan, seperti asap tebal yang mencoba meniru postur manusia, merayap di lantai gua menuju posisi Elara dan Darto.

Elara mundur selangkah, namun kakinya tersandung akar pohon yang menembus langit-langit gua. Ketakutan merayap naik dari ujung kaki hingga ke kepalanya, membekukan logika jurnalis yang selama ini menjadi tamengnya. Ia melihat wajah-wajah samar dalam asap itu, wajah pasien yang pernah ia lihat fotonya di arsip berita orang hilang.

"Lari, Neng!" seru Pak Darto tiba-tiba, menyentakkan Elara dari kelumpuhannya.

Sebelum Elara sempat memproses perintah itu, Pak Darto sudah melompat maju. Pria tua yang biasanya berjalan bungkuk itu kini bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan, didorong oleh adrenalin terakhir yang dimilikinya. Ia merogoh saku jaket lusuhnya dan mengeluarkan segenggam garam kasar yang telah dicampur dengan serbuk belerang.

"Gusti Allah mboten sare!" teriak Pak Darto seraya melemparkan campuran itu ke arah bayangan hitam yang mendekat.

Ledakan kecil terjadi saat garam itu bersentuhan dengan entitas gelap tersebut. Cahaya biru memercik, diikuti suara desis menyakitkan seperti daging yang bertemu besi panas. Asap hitam itu memudar sesaat, menciptakan celah sempit di antara kepungan maut Dr. Arisandi.

"Darto! Jangan bodoh!" bentak Arisandi, wajahnya kini merah padam karena marah.

Dokter itu tidak tinggal diam. Ia melempar tabung kaca di tangannya ke tanah. Pecahan kaca berhamburan, dan cairan hitam di dalamnya meledak menjadi kabut pekat yang langsung menyergap kaki Pak Darto. Pria tua itu menjerit tertahan, tubuhnya seolah ditarik paksa oleh gravitasi yang tidak wajar hingga ia jatuh berlutut.

Elara hendak berlari menolongnya, tetapi Pak Darto menoleh dengan mata melotot. Wajahnya yang keriput kini dibanjiri keringat dingin, namun tatapannya tajam penuh perintah. Ia tahu bahwa kekuatannya tidak akan cukup untuk mengalahkan Arisandi, tetapi cukup untuk menahannya beberapa detik.

"Pergi, Elara! Bawa buktinya ke permukaan! Jangan biarkan kematian mereka sia-sia!" perintah Pak Darto, suaranya bergetar menahan sakit.

"Saya tidak bisa meninggalkan Bapak!" balas Elara, air mata mulai mengaburkan pandangannya.

Situasi semakin kacau. Dinding gua mulai bergetar, merespons benturan energi supranatural yang terjadi. Stalaktit kecil mulai runtuh satu per satu, jatuh menghunjam ke tanah seperti tombak runcing. Arisandi melangkah mendekati Darto, siap mengakhiri gangguan tua itu dengan tangannya sendiri.

Pak Darto memukul tanah dengan telapak tangannya, merapalkan mantra kuno yang diajarkan leluhurnya untuk menutup gerbang gaib. Tanah di sekitar mereka retak. Sebuah pilar batu kapur besar di samping Arisandi mulai miring, pondasinya tergerus oleh getaran yang diciptakan Darto.

"LARI! SEKARANG!" raung Pak Darto sekuat tenaga.

Elara melihat pilar itu mulai rubuh, mengarah tepat ke celah antara dirinya dan Darto. Ia sadar, jika ia tidak bergerak sekarang, ia akan terkubur bersama rahasia busuk rumah sakit ini. Dengan hati hancur, Elara memutar tubuhnya dan berlari sekuat tenaga menuju lorong sempit yang mengarah ke tangga darurat Basement 3.

Suara gemuruh dahsyat terdengar di belakangnya. Debu kapur menyembur memenuhi lorong, membuat napas Elara sesak. Ia tidak berani menoleh. Ia hanya mendengar teriakan frustrasi Arisandi yang tertelan oleh suara reruntuhan batu.

Elara terus berlari, kakinya terasa berat seolah mengenakan sepatu besi. Ia menaiki anak tangga beton yang lembap, satu demi satu, dengan paru-paru yang terasa terbakar. Setiap langkah menjauhkannya dari Darto, dan rasa bersalah itu menghantam dadanya lebih keras daripada ketakutan fisik apa pun.

Sesampainya di pintu besi berkarat yang memisahkan area gua dengan koridor Basement 3, Elara mendobraknya hingga terbuka. Ia jatuh tersungkur di lantai keramik yang dingin. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di lorong rumah sakit menyambutnya, kontras dengan kegelapan total yang baru saja ia tinggalkan.

Suasana di Basement 3 sunyi senyap, hanya terdengar dengungan mesin pendingin kamar jenazah yang berada di ujung lorong. Elara bangkit perlahan, menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya. Ia meraba saku celananya, memastikan perekam suara kecil yang ia bawa masih ada di sana. Benda itu merekam semua percakapan gila Arisandi.

Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Dari balik pintu besi yang baru saja ia lewati, terdengar suara hantaman berat. Sesuatu sedang mencoba mendobrak dari bawah. Arisandi—atau apa pun yang ia kendalikan—belum selesai dengannya.

Elara menatap lorong panjang RSU Cakra Buana yang membentang di hadapannya. Bayangan pilar-pilar kolonial tampak seperti raksasa yang sedang tidur. Ia sendirian sekarang. Pak Darto telah menjadi bagian dari fondasi rumah sakit ini, menjadi tumbal untuk memberinya waktu.

"Aku akan menghancurkan tempat ini, Pak," bisik Elara dengan suara gemetar namun penuh tekad.

Ia memaksakan kakinya untuk melangkah lagi, meninggalkan jejak sepatu berlumpur di lantai rumah sakit yang steril. Malam ini belum berakhir, dan Elara tahu, perburuan yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!