Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Keesokan harinya justru Ki Baraya yang menyuruh Laras untuk bertemu dengan Braja.
“Tapi Ayah akan mengawasi kalian dari jauh. Dan kau harus mengajarinya bahasa kita. Pelan-pelan saja. Ayah yakin anak itu bisa diajari bahasa kita.”
“Baiklah, Yah. Aku akan senang sekali melakukannya. Ternyata Ayah mendukungku. Terima kasih, Ayah.”
“Jangan berterima kasih dulu. Niat Ayah ingin mengamati Braja. Apakah dia layak berada di rumah ini. Bila dia bisa bahasa kita, itu adalah pintu bagi Braja untuk memasuki dunia manusia yang sebenarnya,” jelas Ki Baraya.
“Ayah ini masih saja tak percaya dia manusia. Dia bukan memedi, Yah.”
“Ayah tahu. Tapi kejadian di sungai itu membuat Ayah harus punya banyak pertimbangan.”
“Yang ketika Braja melawan buaya?”
“Ya.”
“Baiklah, Yah. Aku mengerti. Aku akan mengajarinya bahasa kita. Sehingga kita bisa berbicara lancar dengannya. Bukankah itu akan membuat Ayah mengubah pikiran tentang Braja?”
“Tentu. Bahkan nanti aku akan mengajarinya silat. Bersama kau dan abangmu.”
“Tapi sepertinya Braja sudah bisa silat, Yah.”
“Aku yakin belum. Memang dia bocah ajaib. Tapi tata silat belum ia miliki. Bila ia bertarung dengan orang lain, gerakannya masih kasar, tanpa pakem dan jurus yang tertata.”
“Oh begitu. Baiklah, Yah. Aku akan ke ladang bunga.”
Begitulah akhirnya Laras pergi ke ladang bunga sambil membawa tongkat dengan jaring penangkap kupu-kupu. Ia akan berburu kupu-kupu macan lagi, sambil menunggu kehadiran Braja.
Siang itu matahari seperti menggantung tepat di atas kepala. Udara hangat bergetar di atas hamparan ladang bunga. Aroma nektar bercampur bau tanah kering menguar pelan.
Laras berlari kecil di antara rumpun bunga liar, jaring kupu-kupu terayun di tangannya. Sesekali ia meloncat ringan, tertawa kecil ketika kupu-kupu macan nyaris lepas dari tangkapannya.
Lalu, seperti sudah menjadi kebiasaan, ia mendongak.
Di atas pohon jambu yang paling tinggi, Braja duduk santai di dahan, satu kaki menjuntai, satu lagi terlipat. Ia menggigit buah jambu yang masih setengah hijau. Getahnya mengalir di ujung bibirnya.
“Ternyata kau suka sekali ya nangkring di pohon sambil makan buah, Braja?” seru Laras sambil menangkupkan tangan di mulutnya.
Braja menoleh. Mata hitamnya berkilat terkena cahaya. Ia tersenyum—senyum kecil yang selalu membuat Laras sulit menjelaskan perasaannya sendiri.
Tanpa berkata-kata, Braja membalikkan tubuhnya. Tangannya dan kakinya menempel di batang pohon. Lalu ia merayap turun—kepala lebih dulu mengarah ke bawah, seperti cicak raksasa.
Kulit Laras meremang.
Setiap kali melihatnya turun seperti itu, ada rasa takut… sekaligus kagum.
Begitu kakinya menyentuh tanah, Braja berdiri tegak di depan Laras. Nafasnya masih wangi jambu.
“Apa kau sudah di sini dari tadi?” tanya Laras.
Braja mengangguk pelan.
Tiba-tiba ia menggenggam pergelangan tangan Laras. Hangat. Kuat. Tanpa bicara ia menariknya berjalan cepat.
“Hey… kita mau ke mana?”
Braja hanya menoleh sekilas, lalu tersenyum misterius.
Mereka menembus semak-semak tinggi. Daun-daun kering berdesis saat tersibak. Hingga akhirnya Laras terdiam.
Di bawah rimbunan semak itu—hamparan kupu-kupu mati.
Sayap-sayap warna jingga dan hitam tergeletak diam di tanah. Ada yang masih utuh, ada yang sudah rapuh. Pemandangan itu sunyi, seperti tempat peristirahatan terakhir yang tak pernah diketahui siapa pun.
Dada Laras terasa sesak.
“Braja… ini… kuburan kupu ya?” bisiknya.
Braja berjongkok. Tangannya yang kasar menyentuh satu kupu-kupu macan yang masih utuh. Ia mengangkatnya dengan sangat hati-hati—seolah menyentuh sesuatu yang sakral.
“Akan kau apakan itu?” tanya Laras pelan.
Braja mendekatkan kupu-kupu itu ke bibirnya.
Ia meniupnya.
Angin tipis keluar dari mulutnya—bukan angin biasa. Sejenak udara di sekitar mereka seperti bergetar. Sayap kupu-kupu itu perlahan merentang. Warna jingganya kembali menyala, meski tubuhnya tetap kaku.
Laras membelalak.
Braja lalu mengambil bilah rotan kecil dari balik pinggangnya. Dengan cekatan ia melilitkan bagian bawah tubuh kupu-kupu itu, membentuknya seperti hiasan rambut.
Ia berdiri dan menyodorkannya pada Laras.
“Untukku?” suara Laras hampir tak terdengar.
Braja mengangguk.
Dengan hati-hati Laras menyematkan sanggul kupu-kupu itu di rambutnya. Sayapnya terhampar indah di sisi kepalanya, seperti mahkota kecil dari alam.
Angin berembus.
Sayap itu bergetar tipis—bukan karena hidup, tapi karena angin. Namun tetap saja terlihat seakan bernyawa.
Braja terpaku.
Ia memandang Laras tanpa berkedip.
“Hihihi… kenapa kau bengong?” Laras tersenyum nakal. “Aku cantik ya?”
Braja tersipu. Untuk pertama kalinya, terdengar suara kecil keluar dari tenggorokannya—tawa yang tertahan.
“Hih…”
Laras terkejut. “Eh? Kau bisa tertawa!”
Braja tertawa lagi, kali ini sedikit lebih jelas. Seperti anak kecil yang baru belajar bersuara.
Laras ikut tertawa.
“Braja… aku ingin melihat dari atas pohon. Apa kau bisa membantuku?”
Mata Braja berbinar. Ia segera menempelkan tubuhnya ke batang pohon. Telapak tangan dan kakinya melekat kuat pada kulit kayu. Ia menepuk pundaknya, memberi isyarat.
Laras menelan ludah.
Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Braja, memeluk punggungnya. Tubuh Braja terasa hangat—aneh, seolah ada daya yang membuatnya tak mudah tergelincir.
Lalu Braja merayap naik.
Cepat. Lincah. Tanpa ragu.
Angin mulai terasa lebih kencang. Tanah semakin jauh.
“Waaaah, Brajaaa! Aku takut!”
Braja tertawa kecil lagi.
“Hey! Jangan meledek!”
Namun beberapa saat kemudian mereka sampai di dahan paling tinggi. Braja duduk lebih dulu, lalu menurunkan Laras perlahan.
Dan saat Laras memandang ke sekeliling—
Nafasnya tertahan.
Ladang bunga membentang seperti lautan warna. Kupu-kupu tampak seperti serpihan cahaya yang beterbangan. Sungai berkilau memantulkan matahari. Hutan di kejauhan seperti tembok hijau yang melindungi dunia kecil mereka.
Angin membelai wajahnya. Rambutnya berkibar, sanggul kupu-kupu itu bergetar pelan.
“Astaga…” bisiknya.
Untuk pertama kalinya, Laras merasa dunia ini begitu luas. Dan untuk pertama kalinya juga, ia merasa aman berada di ketinggian—karena ada Braja di sisinya.
Braja duduk diam, memandangi cakrawala.
Dan entah kenapa, di matanya terpantul sesuatu yang lebih tua dari usianya.
Seolah-olah… ia pernah melihat dunia ini dari tempat yang lebih tinggi lagi.