Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Pingsan
Bastian harus benar-benar meluaskan sabarnya dalam menghadapi sang istri yang masih muda, tapi hidup di desa yang seakan jauh tertinggal dari hidup modern. Usia mereka berdua berjarak sepuluh tahun.
"AC itu pendingin ruangan atau kamar. Jadi kayak alat nanti pakai listrik terus keluar udara dingin,"
"Apa kayak kipas angin?"
"Beda,"
Bastian semakin kesulitan untuk menjelaskan pada Seruni tentang gambar AC dan bentuknya, karena ia baru teringat jika ponselnya tertinggal di Surabaya.
"Ehm, kamu punya ponsel?"
"HP maksud Abang?"
"Ya, betul. Ponsel dengan hp sama saja," jawab Bastian.
"Ading gak punya hp baru. Ada hp lama merek Nokia di lemari ading tapi udah lama mati dan gak dipakai," jawab Seruni apa adanya.
"Apa uang bapakmu gak cukup buat beli ponsel baru?"
"Ading punya uang pribadi buat beli hp baru. Tak perlu pakai uang Apak. Tapi di desa kami susah sinyal internet, Bang. Letak menara nya saja jauh banget. Jadi daripada mubadzir ya sudah ading gak pernah pakai ponsel,"
"Menaranya dari sini berapa jauh?"
"Naik motor bisa tiga jam lebih, Bang. Biasanya orang-orang cari sinyal sampai manjat pohon. Itu pun dapatnya sinyal cuma muncul 'G' saja tanpa bungkus kotak,"
"Hah G tanpa bungkus kotak, maksudnya gimana?" tanya Bastian yang mendadak kepalanya diserang migrain mendengar ucapan Seruni.
"Sinyal di hp kan ada di pojok kanan atas, Bang."
"Hem,"
"Nah, itu muncul lambang 'G' kalau kita dapat sinyal. Tapi cuma bisa buat telepon sama kirim SMS aja, Bang. Enggak bisa buka internet kayak nonton Youtabok. Soalnya 'G' nya gak pakai baju atau dibungkus kotak begitu, Bang." Jelas Seruni.
"Jadi, kalau lambang 'G' nya pakai baju atau bungkusan kotak maka bisa internetan?"
"Betul, Bang. Tapi sering lambat itu hp layarnya muter-muter kayak mainan gasing,"
Bastian akhirnya cukup mengerti secuil kisah hidup di desa Seruni yang sangat bertolak belakang dengan hidupnya sehari-hari selama ini. Masyarakat di desa ini hampir tak menggunakan ponsel karena kendala susah sinyal.
Perlu dimaklumi karena mereka berada di daerah 3T ( tertinggal, terdepan, terluar ).
"Apa semua kartu bisa dipakai di desa ini untuk ponsel?" tanya Bastian.
"Gak bisa, Bang. Cuma kartu si merah saja yang hidup kalau abang beruntung dapat sinyalnya. Kartu yang lain sudah hangus tak bisa menyala sinyalnya. Mungkin pabriknya udah tutup jadi sinyalnya ikut tenggelam," ujar Seruni.
☘️☘️
Setengah jam kemudian.
Tangan Bastian sedang sibuk mengipasi wajah Seruni yang terbaring di atas ranjang. Beberapa saat yang lalu Seruni mendadak pingsan.
Bastian yang panik, segera keluar kamar meminta air minum dan minyak kayu putih. Bu Dewi, Rasti serta Pak Tono mendadak ikut terkejut mendengar Seruni pingsan.
"Kenapa Seruni sampai pingsan? Kamu apakan?" cecar Pak Tono.
"Maaf, Pak. Tidak saya apa-apakan. Saya cuma mau ganti baju saja, mendadak Seruni pingsan."
"Astaga, anakmu memalukan banget Pak!" gerutu Bu Dewi.
"Merepotkan saja! Dasar kampungan!" desis Rasti.
Bu Dewi dan Rasti pun akhirnya memilih pergi dari kamar pengantin. Mereka tentu malas mengurusi Seruni.
Tak berselang lama, mata Seruni pun menggeliat tanda bahwa wanita ini akan siuman.
"Run, sadar..." ucap Pak Tono seraya menepuk lembut pipi Seruni.
"Ya ampun, dia pingsan apa jangan-jangan karena lihat senjataku?" batin Bastian.
Bastian akhirnya memilih untuk setia mengipasi wajah Seruni setelah mengolesi minyak kayu putih pada hidung dan leher sang istri. Berharap Seruni segera siuman.
Kedua mata Seruni pun perlahan mulai terbuka. Pandangannya bersir0bok dengan Bastian dalam satu garis lurus yang sama.
Seketika Seruni teringat kala Bastian tanpa basa-basi berganti baju di depannya yang berujung dirinya pingsan.
Awalnya, Seruni terkejut sekaligus terpesona dengan tubuh Bastian yang kotak-kotak di area da_da nya. Terlihat semakin tampan dan gagah.
Detik selanjutnya, ia melihat sesuatu yang cukup horor. Ukuran besar dan men0njol di area pangkal paha Bastian.
Walaupun ia tak melihat jelas bentuknya karena masih terbungkus celana dalam Bastian, tetapi hal tersebut langsung membuat tubuh Seruni merinding disco dan panas dingin. Seruni dapat membayangkan sesuatu dibalik celana dalam Bastian adalah hal yang berukuran sangat besar.
Sepintas, ia teringat ucapan sahabatnya bernama Ningsih saat menjelang ijab qobul. Ningsih menemani dirinya di ruangan khusus saat menunggu Bastian selesai mengucapkan ijab pernikahan.
"Suamimu ternyata bule, Run. Keren banget jodohmu, Run."
"Kata Apak, dia masih ada da_rah pribumi nya kok."
"Iya, campuran bule-pribumi, Run."
"Aku terima apa adanya saja, Ning. Mungkin dia yang terbaik buatku," ungkap Seruni terdengar pasrah.
"Allah memang Maha Baik sama kamu, Run. Selepas diselingkuhin Ardi dan Rasti, kamu dapat calon suami Bang Haidar dari kota. Walaupun sayang Bang Haidar harus meninggal sebelum menikah denganmu. Kini datang Abang bule tampan menjadi pangeran berkuda putih buat jodohmu. Abang Bastian. Uhuy..." goda Ningsih di ujung kalimatnya.
"Alhamdulillah, Ning."
"Oh ya, nanti malam kamu harus siap belah duren."
"Belah gimana maksudnya? Aku belum siapin durian, Ning. Kenapa Apak tak bilang kalau malam nanti harus pakai belah durian segala? Apalagi sekarang ini kan lagi gak musim buah durian," ungkap Seruni dengan mimik wajah polosnya.
"Astaga, Run. Makanya buku yang kau baca jangan soal bertani cabe mulu! Sesekali kau perlu baca buku hubungan suami-istri di ranjang!" seru Ningsih terdengar gemas.
Pak Tono adalah juragan cabai di desa mereka. Alhasil Seruni sejak kecil sudah berkecimpung di ladang cabai membantu sang ayah dan belajar pertanian secara otodidak.
"Memangnya malam pengantin itu harus ngapain saja, Ning?"
"Pakai baju se_xy depan suami. Terus buka baju. Setelah itu dia masukin kamu deh" jawab Ningsih di mana status wanita ini masih single alias belum menikah.
"Masuk gimana, Ning? Masuk angin?"
Sontak Ningsih otomatis menepuk jidatnya sendiri. Sahabatnya yang satu ini memang kudet dan gaptek dalam banyak hal.
Selama ini Ningsih memang sangat tau hidup Seruni hanya sekolah dan bertani di ladang. Seruni jarang bergaul atau bermain dengan teman yang lain terutama lawan jenis. Alhasil pikirannya masih lugu alias polos untuk perkara urusan dewasa seperti hubungan suami-istri.
"Pokoknya nanti kamu lihat saja senjata mas bule. Aku yakin ukurannya besar. Bahkan sangat besar. Maklum produk impor. Pasti beda ukuran sama produk lokal. Kamu tau maksud aku tentang senjata tidak?"
"Enggak," jawab Seruni seraya menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun 20 tahun dia masih berkutat sama cabe dan tanaman terong di ladang doang. Sekarang bersiap ketemu terong beneran di kasur, Run. Big terong. Hehe..." batin Ningsih seraya terkekeh sendiri.
Bersambung...
🍁🍁🍁
hei laki-laki inget baik baik ya wanita modal ngangkang merebut suami orang bukan wanita baik2 sehina hina nya wanita adalah modelan begitu semoga para pelaku perselingkuhan kalau tidak bertobat azab dunia dan akhirat menimpanya dengan sangat tragis Aamiin
Sungguh ngeri kalo baca sepak terjang pelakor zaman ini....,,