"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATAHARI BALI DAN DARAH YANG BERBISIK
Pesisir Uluwatu menyambut mereka dengan deburan ombak yang menghantam tebing karang, sebuah kontras yang tajam dari sunyinya lereng Lawu. Vila milik Saraswati berdiri kokoh di atas tebing, tersembunyi dari hiruk-pikuk turis. Arsitekturnya yang terbuka memungkinkan angin laut masuk ke setiap sudut, membawa aroma garam yang segar.
Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar. Di dalam vila, suasana terasa seperti ruang sidang yang dipenuhi oleh predator.
Sesuai syarat Alya, keempat pria itu tidak diizinkan menginap. Mereka menyewa vila-vila berbeda di sekitar area tersebut, namun setiap pagi, seperti ritual yang tak terelakkan, mereka muncul di gerbang depan dengan alasan yang berbeda-beda.
Pagi itu, Wei Jun tiba paling awal. Ia tidak datang dengan pengawal, melainkan dengan seorang instruktur selancar kelas dunia dan dua papan selancar ukuran anak-anak yang didesain khusus.
"Bintang, Cahaya, apa kalian ingin belajar menaklukkan ombak?" tanya Wei Jun dengan senyum diplomatisnya yang paling menawan. Ia tahu bahwa cara tercepat menuju hati Alya adalah melalui kebahagiaan anak-anaknya.
Sebelum Bintang sempat menjawab, sebuah mobil SUV militer terbuka masuk ke halaman. Luo Cheng melompat turun, membawa dua busur panah tradisional dan target sasaran.
"Surfing itu membosankan, Jun," ejek Luo Cheng. "Anak-anak ini butuh ketangkasan. Bintang, kau punya mata yang tajam. Mari kita lihat apakah kau bisa memanah lebih baik dari ibumu."
Lalu muncullah Han Zhihao. Ia tidak membawa alat olahraga fisik. Ia membawa dua tablet transparan yang berisi program edukasi berbasis AI yang ia ciptakan sendiri. "Dunia masa depan adalah digital. Aku akan mengajari mereka cara meretas kode logika sambil bermain," ucapnya datar, menatap Wei Jun dan Luo Cheng dengan pandangan meremehkan.
Terakhir, Zhang Liang datang. Ia tidak membawa hadiah mewah. Ia datang dengan membawa sekantong benih tanaman dan peralatan berkebun. Ia melihat Alya yang sedang duduk di teras, memperhatikannya dari jauh.
"Aku tahu kau merindukan kebunmu di Lawu, Alya," ucap Liang pelan saat mereka berpapasan. "Aku sudah menyiapkan area di belakang vila ini untuk kau dan anak-anak menanam kembali."
Alya menatap mereka berempat dengan sisa-sisa kejengkelan. "Kalian semua tampak seperti badut yang memperebutkan perhatian di pasar malam. Apakah kalian tidak punya perusahaan untuk diurus?"
"Perusahaan bisa berjalan sendiri, Alana," sahut Wei Jun ringan. "Tapi masa kecil anak-anak ini tidak akan terulang."
Di tengah keriuhan para pria itu, Saraswati mendekati Alya dengan ekspresi serius. Ia membawa sebuah amplop tua yang sudah menguning, yang ditemukan di antara barang-barang yang dikirim oleh Liyun dari brankas rahasia nenek Zhang.
"Alya, ada sesuatu yang harus kau baca. Ini bukan tentang keluarga Zhang, tapi tentang ayahmu... Pak Wiratama."
Alya mengernyitkan dahi. "Ayah saya? Beliau hanya petani biasa yang terjebak hutang."
"Itu yang kita kira selama ini," bisik Saraswati. "Baca ini."
Alya membuka surat itu. Isinya adalah surat perjanjian kerjasama yang dibuat tiga puluh tahun lalu antara Wiratama dan ayah Zhang Liang. Ternyata, tanah di Lawu yang selama ini menjadi sengketa bukan sekadar tanah perkebunan. Di bawah tanah itu terdapat urat mineral langka yang nilainya mencapai triliunan rupiah.
Ayah Liang menghianati Wiratama, memalsukan dokumen kepemilikan, dan membuat Wiratama jatuh miskin hingga akhirnya terlilit hutang pada rentenir yang bekerja untuk keluarga Zhang.
"Jadi... pernikahan kontrak itu..." suara Alya bergetar, "...bukan sekadar keinginan Liang untuk punya pewaris?"
"Bukan," jawab Saraswati. "Madam Liu Xian tahu tentang mineral ini. Jika kau melahirkan pewaris Zhang dan kemudian 'dilenyapkan', maka hak atas tanah Lawu akan jatuh sepenuhnya ke tangan keluarga Zhang secara sah melalui garis keturunan anak-anakmu. Mereka tidak hanya membeli rahimmu, Alya. Mereka mencuri warisan darahmu."
Alya merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Rasa mual yang dulu ia rasakan saat berada di kediaman Zhang kembali muncul. Segala perhatian yang diberikan Liang selama ini—apakah itu juga bagian dari rencana besar untuk mengamankan tanah itu?
Sore itu, saat keempat pria itu sedang duduk di ruang tamu menunggu makan malam, Alya berjalan masuk dengan langkah yang menggetarkan lantai kayu. Ia melempar dokumen tua itu ke tengah meja, tepat di depan Zhang Liang.
"Jelaskan ini, Mas Liang," desis Alya. Matanya berkilat dengan kebencian yang lebih murni daripada sebelumnya.
Liang mengambil dokumen itu, membacanya, dan seketika wajahnya memucat. "Alya... aku... aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak tahu tentang perjanjian ini. Ayah tidak pernah memberitahuku."
"Tapi ibumu tahu!" teriak Alya. "Madam Liu Xian tahu! Kalian menghancurkan ayahku, membuatnya gila karena kemiskinan, lalu kalian membeliku seperti barang dagangan untuk melegalkan pencurian kalian?! Kalian semua predator!"
Alya menoleh ke arah Wei Jun, Zhihao, dan Luo Cheng. "Dan kalian? Apakah kalian juga tahu? Apakah 'perlindungan' kalian selama ini juga karena kalian ingin bagian dari mineral di bawah kebun kopiku?!"
Hening.
Luo Cheng berdiri, wajahnya merah padam. "Aku bersumpah, Al, aku hanya tahu tanah itu punya nilai strategis, tapi aku tidak tahu tentang sejarah ayahmu. Jika aku tahu, aku sudah meratakan rumah Zhang sejak dulu!"
Wei Jun terdiam cukup lama, lalu ia menghela napas. "Pihak Wei Properties memang mencium adanya anomali geologis di Lawu. Itulah alasan aku membeli sertifikat tanahmu dari bank. Aku ingin mengamankannya agar tidak jatuh ke tangan orang lain... tapi aku tidak tahu Liang terlibat sedalam ini dalam penipuan masa lalu."
Han Zhihao adalah yang paling tenang. "Data satelitku memang menunjukkan radiasi mineral unik di sana. Aku diam karena aku ingin menggunakan informasi itu sebagai alat tawar untuk membawamu pergi dari Liang. Tapi aku tidak peduli pada uangnya, Alya. Aku hanya peduli padamu."
Alya tertawa getir. "Kalian semua sama. Tidak ada yang tulus. Kalian semua mencintai saya karena ada 'nilai' di balik diri saya. Entah itu rahim, entah itu tanah, entah itu data."
Alya mengambil kembali dokumen itu. Ia menatap Bintang dan Cahaya yang sedang bermain di halaman, tidak menyadari badai yang sedang terjadi di dalam rumah.
"Dengar baik-baik," ucap Alya kepada keempat pria itu. "Tanah di Lawu adalah milik anak-anakku secara sah menurut hukum waris jika penipuan ini terbongkar. Dan aku akan membongkarnya. Aku akan menuntut keluarga Zhang atas penipuan tiga puluh tahun lalu."
"Alya, jika kau melakukan itu, saham Zhang Maritime akan jatuh bebas. Perusahaan akan hancur," cegah Liang.
"Biarkan hancur!" balas Alya. "Aku ingin melihat istanamu terbakar seperti Mas melihat hidupku terbakar dulu."
Alya kemudian menatap Wei Jun. "Dan kau, Wei Jun. Kau bilang kau memegang sertifikat tanahku? Berikan sekarang juga, atau aku akan melaporkan perusahaanmu atas penadahan aset hasil kejahatan."
Wei Jun terpaku, lalu ia perlahan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan amplop berisi sertifikat asli yang selama ini ia simpan. Ia meletakkannya di meja. "Ini milikmu, Alana. Selalu milikmu."
Alya mengambil sertifikat itu. Ia merasa sebuah beban besar terangkat, namun hatinya terasa kosong. Ia telah memenangkan pertempuran hukum dan finansial, namun ia menyadari bahwa ia dikelilingi oleh pria-pria yang, meskipun kini tampak memujanya, semuanya memiliki andil dalam rantai penderitaannya.
Malam itu, Alya mengurung diri di kamar. Ia memeluk Bintang dan Cahaya yang tertidur lelap.
"Kita akan kembali ke Jakarta," bisik Alya pada malam. "Tapi bukan sebagai tawanan. Kita akan kembali untuk mengambil apa yang menjadi hak kita."
Di luar, di bawah sinar bulan Bali, empat pria itu berdiri di balkon yang berbeda, masing-masing menyadari bahwa mereka telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cinta tulus Alya. Alya bukan lagi kelinci kecil yang bisa dijinakkan. Naga-naga itu telah membangunkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: seorang wanita yang tidak memiliki rasa takut lagi.
Namun, di sudut gelap taman vila, sebuah bayangan bergerak. Seorang pria berpakaian hitam dengan alat komunikasi di telinganya berbisik, "Nyonya Besar, Alya sudah tahu tentang rahasia Lawu. Dia akan bergerak ke Jakarta."
Suara Madam Liu Xian terdengar dari seberang sana, parau namun penuh bisa. "Bagus. Biarkan dia datang. Jika dia ingin bermain sebagai ratu, maka aku akan memastikan dia mati di singgasananya."