Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Asli
"Maksud Mama gimana?"
Nadira membetulkan posisi duduknya menghadap ke arah Gina.
"Maksud Mama... kamu jangan sampai terlalu capek mengurus semua orang, Nadira. Kamu juga harus istirahat," jawab Gina semakin terdengar seperti teka-teki.
Nadira tersenyum tipis. "Mama tenang aja. Aku nggak bakal terlalu capek. Aku ini kan calon menantu kalian," kata Nadira.
"Ayo, habiskan makanannya. Aku harus pergi ke kamar nenek setelah ini." Ia kembali menyuapi Gina dengan perasaan jengkel.
"Aku nggak bakal biarin mereka memperlakukan aku seenaknya. Liat saja nanti. Jika saat ini aku diam, anggap saja aku sedang berbaik hati."
"Karena setelah aku menjadi menantu keluarga ini, aku nggak akan sudi menjadi pelayan gratis di rumah ini," batinnya.
Klunting.
Suara notifikasi masuk ke ponsel Nadira. Ia merogoh saku celananya dan mendapati pesan masuk dari Bima.
"Sayang, aku sampai lupa ingetin kamu... tolong lap tubuh Mama dan gantikan popoknya, ya. Dia mungkin akan segan meminta kamu melakukannya."
Rahang Nadira mengeras. "Yang bener aja Mas Bima minta aku membersihkan kotoran ibunya," batin dia sambil melirik Gina yang tengah memejamkan mata.
"Mas, aku nggak bisa lakuin ini!" balas Nadira cepat.
Tak membutuhkan waktu lama, pesan balasan kembali datang.
"Nanti pulang dari kantor, kita ke toko perhiasan beli cincin kawin kita. Kamu juga bisa membeli beberapa perhiasan yang kamu suka."
Nadira menghela napas panjang. Rayuan suaminya itu sangat sulit ditolak. "Baiklah. Hanya kali ini aku akan melakukannya," bisik Nadira.
"Ma, aku akan bantu Mama ganti pakaian," ucap Nadira sembari bangkit dari duduknya. Ia pergi ke kamar mandi dan melihat beberapa wadah yang sepertinya sudah disediakan di sana.
Perempuan itu kembali ke kamar dengan air hangat dan handuk kecil, menghampiri mertuanya.
"Maaf merepotkan, ya, Dira. Biasanya Bima yang akan melakukan semua ini, tapi sepertinya tadi dia lupa," kata Gina lemah.
Nadira tidak menjawab, dia tersenyum tipis nampak masam saat mulai melepaskan pakaian mertuanya.
Perempuan itu menahan napas saat melepas popok Gina. Bahkan memalingkan wajah dengan ekspresi jijik melihat kotoran yang menempel di benda itu.
"Aku nggak kuat," gumam Nadira, hampir muntah.
Nadira belum selesai mengerjakan tugasnya saat pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan Marsinah muncul sambil mengibaskan tangan di depan hidung.
"Bau apa ini?" tanyanya.
Nadira meletakan handuk yang kotor di atas ranjang lalu berdiri, menghampiri Marsinah. "Nek, aku beneran nggak sanggup."
Marsinah berdecih sinis. "Kalau bukan kamu yang kerjakan lalu siapa, Dira? Cepat selesaikan!"
"Tapi, Nek..." Nadira hendak protes, namun Marsinah menggeleng tegas.
"Kalau kamu tidak ingin mengurusi mayat hidup ini, bujuk Bima supaya wanita itu pergi dari rumah ini," sela Marsinah cepat.
"Tapi, sebelum dia pergi... siap-siap saja kamu akan jadi pelayan wanita tak guna itu," lanjutnya lalu berbalik dan pergi meninggalkan kamar.
Nadira terpaku. Ia menatap calon mertuanya dengan tatapan jijik, juga kasihan. "Sial. Kalo aku nggak ngikutin keinginan Mas Bima, dia pasti kecewa bahkan marah."
"Bagaimana sekarang?"
Ia melihat kotoran manusia itu yang sudah berceceran bahkan di seprai. Dia menghentakkan kaki ke lantai, dan terpaksa kembali mendekat. Nadira mengambil kain dan melilit hidungnya untuk menghalau aroma bau yang menyengat itu.
Selanjutnya, sambil menahan rasa mual ia melanjutkan kegiatannya membersihkan tubuh Gina dan mengganti pakaiannya.
Dalam hati ia bertekad, "Aku harus membicarakan semuanya pada Mas Bima. Aku ini calon istrinya, bukan perawat orangtuanya."
---
"Alhamdulillah..."
Andini meneguk kuah bakso hingga ludes tak bersisa. Setelah itu, dia mengusap bibirnya yang kotor dengan punggung tangan.
"Ayah, baksonya enak banget. Andini sampe kekenyangan," kata Andini, mengelus perut yang sedikit buncit sambil tersenyum lebar.
Arga mengusap kepala putrinya. "Ayah seneng kalo Andini suka apalagi sampe kekenyangan. Lain kali, kita beli bakso lagi."
"Janji, Ayah?" Andini menyodorkan jari kelingkingnya dan langsung disambut oleh Arga.
"Ayah janji. Kamu harus tumbuh jadi anak yang sehat dan cerdas. Ayah akan berjuang untuk kamu."
Andini meraih boneka kelincinya dan turun dari kursi. Gadis itu mengedarkan pandangan dan tatapannya tertuju pada sebuah toko.
"Ayah..." Ia menggoyangkan lutut Arga.
"Ayah, apa uang ayah masih banyak? Andini mau beli tas. Tas Andini udah bolong bawahnya," bisik Andini dengan polos, tatapannya tak lepas dari ransel berwarna pink yang tergantung di sebuah toko.
Arga mengikuti arah pandang putrinya lalu mengangguk singkat. "Ayo, Ayah belikan."
Mata Andini seketika berbinar cerah. Ia melompat ceria dan berlari menuju toko penjual barang sekolah itu.
"Ayah, Dini mau yang itu!" tunjuk Andini sambil melompat-lompat.
Arga segera meraih ransel itu. "Yakin mau yang ini? Nggak mau pilih-pilih dulu?" tawar Arga.
Andini menggeleng cepat. "Itu aja, Ayah. Itu sudah sangat bagus. Ada gambar kuda poninya."
"Ayah bayar dulu, ya. Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana," pesan Arga sebelum mencari pemilik toko untuk melakukan pembayaran.
Setelah mendapatkan tas itu, mereka segera pergi meninggalkan pasar, dengan Andini yang menggendong ransel barunya.
"Kamu nggak mau beli yang lain, Dini?"
"Enggak usah, Ayah. Uang ayah simpan aja buat nanti kita beli beras. Biar Ayah nggak ngutang mulu," jawab gadis itu sambil menutup mulut, menahan tawa.
Arga tersenyum lebar lalu berlutut di hadapan putrinya. "Anak ayah ternyata pintar. Kalo gitu, Ayah akan simpan uangnya untuk bekal kita sampai Ayah gajian lagi. Bagaimana?"
Andini mengangguk singkat, lalu melingkarkan tangan di leher ayahnya. "Ayah, Dini mau naik ke pundak Ayah," pintanya.
Arga langsung memenuhi, mengangkat tubuh gadis itu ke atas pundak lalu berlari kecil di pinggir jalan sambil menirukan suara mobil, membuat tawa Andini meledak.
---
"Mas Bima!"
Nadira menyambut kepulangan calon suaminya di depan pintu rumah. Ia sudah tidak sabar membicarakan posisinya di dalam rumah itu.
"Kamu udah siap, sayang?"
Bima merangkul tubuh Nadira dan memberikan kecupan manis. Perlakuan itu hal yang hampir tidak pernah Arga lakukan.
Nadira menggeleng pelan. "Harusnya aku udah siap sejak tadi kalo nggak sibuk ngurusin Mama dan Nenek kamu, Mas," jawab Nadira ketus sambil melipat tangan di depan dada.
Bima menatap Nadira dengan sebelah alis terangkat, bertanya.
Nadira, tak bisa menahan lagi. Ia menurunkan kedua tangannya dan menatap Bima dengan tatapan menuntut.
"Mas, sebenarnya kamu membawaku ke sini untuk apa?!" desaknya.
Bima mengerutkan kening. "Kamu ini nanya apa, Dira? Jelas-jelas kamu calon istriku. Tapi, kita nggak mungkin bisa langsung menikah, kan?"
Bima melihat sekitar sebelum berbisik, "Kamu masih harus menyelesaikan masa Iddah. Baru kita bisa menikah."
Nadira menggeleng tegas. "Bukan itu yang ingin aku tanyakan, Mas!"
"Lalu apa?"
"Kamu bilang aku ini calon istrimu. Tapi kenapa kamu malah nyuruh aku ngurus ibumu?!"
"Nadira, dia ibuku. Apa salah kalo aku meminta tolong. Setelah kita menikah, dia juga akan jadi ibumu!"
"Kenapa harus aku, Mas? Kenapa kamu nggak cari perawat untuk mengurusnya? Aku ini calon istrimu, bukan pembantu!"
Bima mengedarkan pandangan ke sekeliling lalu menarik tangan Nadira menuju kamar. Ia menutup pintu perlahan lalu menatap calon istrinya tajam.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Nadira? Apa karena kita belum menikah jadi kamu berpikir seperti itu?"
"Hanya karena aku nyuruh kamu masak, ngurus mama dan nenek, kamu merasa aku memperlakukan kamu sebagai pembantu?!" cecar Bima.
"Pembantu mana yang akan aku nikah, Nadira? Aku bahkan akan membawa kamu ke toko perhiasan. Itu karena kamu calon istriku. Aku nggak akan ngelakuin itu pada seorang pembantu!" tutur Bima panjang lebar.
"Kalo gitu, aku nggak mau ngurus mama kamu lagi, Mas. Aku sampai mau muntah karena membersihkan kotorannya tadi pagi," ujar Nadira sambil memalingkan wajah.
"Terus kerja kamu apa di rumah? Hanya duduk manis seperti ratu? Sementara aku capek kerja tiap hari untuk memenuhi kebutuhan kamu?!"
"Bukan gitu maksudku, Mas...," sela Nadira.
"Aku menikah dengan orang kaya, karena aku ingin hidup enak. Kalau ujung-ujungnya diperlakukan kayak babu, mending aku jadi istri Mas Arga. Jelas-jelas aku bisa hidup seenaknya," lanjut Nadira dalam hati.
"Ingat, Nadira. Kalau bukan karena aku, kamu pasti masih di gubuk suamimu yang miskin itu," peringat Bima mengingatkan jasanya.
Nadira meremas bajunya dengan erat. Sorot matanya memancarkan sinar tak suka. Namun, dia tidak bisa membantah ucapan Bima. Dia tidak sekuat itu, apalagi mengingat, jika dia kini tak punya tempat pulang.
"Jangan banyak drama. Lakukan saja apa yang aku perintahkan!"
"Kalau aku bilang kerjakan, berarti kamu harus lakukan itu tanpa membantah!" tegas Bima, matanya menatap Nadira dengan tajam.
Bersambung...