Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA
12:15 PM. Safehouse "Alpha Zero".
Ketegangan yang sempat memuncak saat alarm berbunyi tiba tiba berubah menjadi kerutan dahi di wajah Raka. Ia menatap layar monitor dengan intensitas yang bisa melubangi baja, namun jemarinya tidak menarik pelatuk sistem pertahanan otomatis.
"Tunggu," gumam Raka. "Liana, lihat pola pergerakan kendaraan kedua."
Liana, yang sudah siap dengan jari di atas tombol detonate protokol penghapusan data, mencondongkan tubuh ke arah layar. "Mereka tidak melakukan formasi flanking. Mereka... berhenti? Raka, mereka menyalakan lampu hazard."
Raka menghela napas panjang, sebuah suara yang jarang terdengar campuran antara lega dan kejengkelan yang mendalam. Ia menurunkan senapan SIG MCX nya, membiarkannya tergantung pada sling taktis di dadanya. "Batalkan protokol penghapusan. Itu bukan tim pemburu Yudha."
"Lalu siapa? Pasukan sirkus?" tanya Liana, masih waspada.
"Bukan. Itu The Mechanic. Dan sepertinya dia membawa lebih banyak mainan daripada yang aku minta," Raka berjalan menuju pintu baja berat dan menekan kode akses manual.
Pintu terbuka dengan desisan hidrolik, membiarkan cahaya matahari siang menyusup masuk ke dalam gudang yang remang remang. Tiga kendaraan hitam yang tadi tampak mengancam ternyata adalah truk logistik yang dimodifikasi. Dari pintu kemudi truk terdepan, turun seorang pria bertubuh tambun dengan kaos singlet berminyak dan kacamata yang tergantung di ujung hidungnya.
"Raka! Kau hampir saja membuatku terkena serangan jantung dengan sensor laser sialanmu itu!" teriak pria itu, yang dikenal dengan nama Bimo, sang teknisi jenius yang bisa mengubah pemanggang roti menjadi pemancar satelit jika ia sedang mood.
"Kau terlambat sepuluh menit, Bim," sahut Raka datar, meski ada kilat tipis di matanya yang menunjukkan dia senang melihat kawan lamanya itu masih hidup.
"Sepuluh menit? Aku membawa dua ton peralatan curian dari gudang vendor Aegis lewat jalur tikus, dan kau mengeluh soal sepuluh menit?" Bimo masuk ke dalam gudang, langsung mengabaikan Raka dan terpaku pada Liana. "Wah, wah... Liana? Sang Ratu Enkripsi kembali dari kematian? Sekarang aku tahu kenapa si kaku Raka ini mau keluar dari lubangnya."
Liana tertawa, suara yang terasa seperti musik di tengah laboratorium yang biasanya sunyi itu. Ia berjalan mendekat dan memberikan pelukan singkat pada Bimo. "Senang melihat perutmu makin makmur, Bim. Masih suka mencuri chip dari server pemerintah?"
"Hanya kalau mereka lupa mengunci pintunya," jawab Bimo sambil terkekeh.
Selama dua jam berikutnya, suasana gudang yang tadinya tegang berubah menjadi kesibukan yang santai. Bimo mulai menurunkan muatannya unit pemrosesan grafis tingkat tinggi, antena phased array yang masih dibungkus plastik militer, dan beberapa peti berisi amunisi subsonic.
Raka dan Liana bekerja berdampingan membantu Bimo merakit server baru. Di tengah hiruk pikuk kabel dan bau timah solder, suasana terasa jauh lebih manusiawi. Tidak ada pembicaraan tentang kiamat digital untuk sejenak.
"Sini, biarkan aku yang menyolder bagian ini. Tanganmu terlalu besar untuk sirkuit nano ini," kata Liana sambil mengambil alih alat solder dari tangan Raka.
Raka bergeser sedikit, memberikan ruang bagi Liana di meja kerja yang sempit. "Aku hanya memastikan koneksinya tidak short."
"Aku sudah melakukan ini sejak kau masih belajar cara merakit PC, Raka. Diam dan pegang papan sirkuit ini untukku," perintah Liana tanpa menoleh.
Raka menurut. Ia memegang papan hijau kecil itu dengan stabil. Saat Liana mulai menyolder dengan presisi yang memukau, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Raka bisa mencium aroma sampo lidah buaya yang samar dari rambut Liana aroma yang sama dengan sepuluh tahun lalu. Sebuah detail yang tidak penting bagi misi, namun entah bagaimana, otaknya menolak untuk memfilternya kali ini.
Liana mendongak sejenak, menangkap tatapan Raka. Ia tidak membuang muka. Sebaliknya, ia memberikan senyuman kecil yang nakal. "Apa? Ada sisa solder di mukaku?"
"Tidak. Hanya saja... kau tidak banyak berubah," kata Raka, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Kau juga. Masih kaku seperti robot yang butuh pelumas," Liana mematikan alat soldernya. "Tapi setidaknya robot ini masih ingat cara memegang papan sirkuit untukku."
Bimo, yang sedang sibuk memasang kabel di bawah meja, berteriak tanpa melihat mereka. "Hei, kalian berdua! Jika kalian ingin melakukan adegan drama romantis, lakukan setelah kita berhasil menumbangkan Aegis. Sekarang, bantu aku mengangkat unit pendingin ini!"
Liana tertawa dan menjulurkan lidah ke arah Raka, sebuah gestur kekanak kanakan yang membuat Raka hampir nyaris sekali tersenyum.
Setelah semua peralatan terpasang, mereka duduk mengelilingi meja bundar dengan tiga cangkir kopi panas dan beberapa bungkus mie instan makanan wajib para teknisi. Di layar besar, data Aegis-7 sekarang terlihat jauh lebih detail berkat tambahan kekuatan pemrosesan dari Bimo.
"Oke, dengarkan," Bimo memulai sambil mengunyah mienya. "Aegis punya protokol keamanan bernama The Medusa. Jika kau menyentuh sistem pusatnya tanpa kunci biometrik Yudha, ia akan membakar seluruh data dan mengirim koordinatmu ke unit pemukul terdekat."
"Itu sebabnya kita butuh Kunci Bayangan," sahut Raka. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk seperti kunci USB, tapi dengan casing titanium. "Aku sudah mulai membangunnya semalam. Sebuah virus yang tidak merusak, tapi membekukan Medusa selama enam puluh detik."
"Hanya enam puluh detik?" Liana mengerutkan kening. "Raka, pangkalan The Grid itu luasnya dua hektar. Kau butuh waktu lebih dari satu menit untuk sampai ke pusat kendali."
"Enam puluh detik adalah waktu yang kita punya sebelum sistem cadangan aktif," jawab Raka. Ia menatap Liana dengan serius. "Itu sebabnya, aku tidak akan masuk lewat pintu depan. Aku akan masuk lewat jalur pembuangan panas di bawah air."
Liana meletakkan cangkir kopinya, wajahnya berubah cemas. "Jalur itu bertekanan tinggi, Raka. Kau akan hancur sebelum sampai ke turbin."
Raka menoleh ke arah Bimo. Bimo tersenyum lebar dan menarik kain penutup dari sebuah peti besar di sudut ruangan. Di dalamnya terdapat sebuah setelan selam taktis berbahan polimer yang sangat tipis namun kuat, dilengkapi dengan pendorong mikro di bagian punggung.
"Ini bukan baju selam biasa, Liana," kata Bimo bangga. "Ini adalah Liquid Shadow. Bisa menahan tekanan hingga sepuluh atmosfer dan menyerap gelombang sonar. Raka akan masuk seperti oli yang mengalir di dalam mesin."
Liana menatap baju itu, lalu menatap Raka. "Kau benar benar gila."
"Gila yang punya rencana," balas Raka pendek.
Sore harinya, Bimo pamit untuk kembali ke permukaan guna memantau pergerakan logistik musuh. Tinggallah Raka dan Liana kembali dalam kesunyian gudang. Namun kali ini, kesunyian itu tidak terasa dingin.
Raka duduk di tepi motornya, membersihkan lensa kacamata taktisnya. Liana datang membawa jaket tambahan dan melemparkannya ke bahu Raka. Udara di gudang bawah tanah mulai terasa dingin.
"Kau harus istirahat, Raka. Besok adalah perjalanan panjang menuju pesisir," kata Liana.
"Aku tidak butuh banyak tidur," jawab Raka otomatis.
Liana duduk di sampingnya, di atas kotak peralatan. "Kau selalu bilang begitu. Tapi kau manusia, bukan mesin. Bahkan mesin paling canggih pun butuh waktu untuk mendinginkan prosesornya."
Liana meraih tangan Raka, mengambil kacamata taktis dari jemarinya, dan meletakkannya di meja. Ia menggenggam tangan pria itu. Tangan Raka terasa kasar dengan bekas luka luka kecil, sementara tangan Liana terasa hangat.
"Berjanjilah padaku satu hal," bisik Liana.
Raka menatap mata Liana yang memantulkan cahaya redup dari monitor. "Apa?"
"Kali ini, jangan jadi hantu. Jangan menghilang lagi setelah ini selesai." kata Liana.
Raka terdiam cukup lama. Logikanya mencoba mencari jawaban yang paling aman, paling taktis. Tapi kali ini, sistemnya mengalami error yang indah. Ia tidak bisa memberikan jawaban logis.
"Aku akan mencoba," jawab Raka akhirnya. Itu bukan janji pasti, tapi bagi Liana, itu sudah lebih dari cukup.
Liana menyandarkan kepalanya di bahu Raka, dan kali ini, Raka tidak merasa kaku. Ia merasakan detak jantungnya sendiri stabil, kuat, dan untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, merasa memiliki tempat untuk kembali.
Di luar, bintang bintang mulai muncul di langit Bogor, tidak menyadari bahwa di dalam gudang terbengkalai itu, sebuah rencana besar sedang berdenyut, siap meledak dan mengubah dunia digital selamanya.