Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Perjamuan Sandiwara
Suara pisau yang beradu dengan papan potong di dapur terdengar seperti detak jantung yang berpacu. Tania sedang mengiris daging sapi dengan gerakan yang terlalu mekanis.
Ia sedang menyiapkan Beef Wellington, menu mewah yang selalu diminta Mama Ratna setiap kali berkunjung. Aroma bawang bombay dan rosemary mulai memenuhi ruangan, tapi bagi Tania, harum itu terasa mencekik.
Biasanya, saat memasak seperti ini, Rey akan berdiri di ambang pintu, setidaknya berkomentar tentang aroma masakannya. Tapi hari ini, Rey hanya duduk di ruang tengah, pura-pura sibuk dengan laptopnya, meski Tania tahu pria itu terus-menerus melirik ke arah pintu kamar tamu yang tertutup.
"Butuh bantuan?"
Suara Rey tiba-tiba muncul di belakangnya. Tania tidak menoleh, ia tetap fokus pada irisannya.
"Nggak usah. Nanti malah berantakan."
Rey tidak beranjak. Ia melangkah lebih dekat, hingga Tania bisa merasakan panas tubuh suaminya di belakang punggungnya. "Tan, aku tahu kamu marah. Tapi tolong, malam ini saja... di depan Mama, bisa kita bersikap seperti biasa? Aku nggak mau Mama curiga dan tensinya naik."
Tania meletakkan pisaunya. Ia berbalik dan menatap Rey dengan senyum miring yang menyakitkan. "Bersikap seperti biasa? Maksud kamu, aku harus pura-pura jadi istri yang paling bahagia sedunia sementara suamiku baru saja 'selingkuh' hati dengan mantannya? Begitu?"
"Aku nggak selingkuh, Tania!" desis Rey, suaranya tertahan agar tidak terdengar kuat "Tolonglah, jangan bahas itu sekarang. Mama sebentar lagi sampai."
"Kamu takut Mama tahu kamu gagal jadi suami?" tanya Tania pelan, tepat di depan wajah Rey.
"Atau kamu takut Mama tahu kalau anak emasnya ini masih menyimpan foto-foto Bianca di laci terkunci ruang kerjanya?"
Wajah Rey memucat. Ia ingin membalas, tapi suara bel rumah berbunyi nyaring. Sandiwara harus dimulai.
Mama Ratna masuk dengan anggun, membawa aura otoritas yang selalu membuat Tania merasa kecil. Beliau langsung memeluk Tania, sebuah pelukan yang bagi Tania terasa seperti lilitan yang menuntut.
"Tania sayang, kamu kelihatan agak kurus. Rey, kamu nggak kasih makan istrimu dengan benar?" goda Mama Ratna sambil berjalan menuju meja makan.
Rey tersenyum kaku, tangannya melingkar di pinggang Tania—sebuah sentuhan yang membuat Tania ingin bergidik ngeri karena tahu itu semua palsu.
"Tania lagi banyak kerjaan di kantor, Ma. Tapi dia tetap masak enak kok buat Mama."
Acara makan malam dimulai dengan keheningan yang dipaksakan. Hanya suara denting alat makan yang beradu dengan piring porselen. Tania merasa mual. Setiap suapan daging yang ia telan terasa seperti kerikil yang mengganjal di tenggorokan.
"Jadi," Mama Ratna meletakkan serbetnya setelah selesai makan. Matanya beralih dari Rey ke Tania dengan tatapan menyelidik. "Mama sudah bicara dengan dr. Hendrawan. Beliau salah satu dokter kandungan terbaik. Mama sudah buatkan janji untuk kalian berdua hari Sabtu ini."
Tania terhenti. Gelas air putih yang sedang ia pegang sedikit bergoyang. Ia melirik Rey, berharap pria itu akan bicara sesuatu, tapi Rey justru menunduk, memotong dagingnya seolah itu adalah hal paling penting di dunia.
"Gimana, Tan? Kamu nggak ada acara hari Sabtu, kan?" tanya Mama Ratna lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.
Tania menarik napas panjang. Ia teringat lirik lagu itu—tentang kejujuran hati. Ia lelah berpura-pura. "Ma, maaf sebelumnya. Tapi aku rasa... sekarang bukan waktu yang tepat untuk periksa ke dokter kandungan."
Suasana di meja makan mendadak membeku. Mama Ratna mengerutkan kening, wajahnya berubah serius. "Maksud kamu apa, Tania? Kalian sudah menikah tiga tahun. Usia Mama nggak makin muda. Apa lagi yang kalian tunggu?"
"Kami nggak menunggu apa-apa, Ma," sahut Tania, suaranya tenang tapi tegas. Ia melirik Rey yang kini menatapnya dengan tatapan penuh peringatan.
"Tapi rasanya tidak adil membawa anak ke dalam rumah tangga yang... pondasinya sendiri belum kuat."
"Pondasi apa maksud kamu?" suara Mama Ratna meninggi. "Kalian punya segalanya! Rumah mewah, mobil, kecukupan. Apa lagi yang kurang?"
"Kehadiran, Ma," jawab Tania singkat. "Kehadiran hati anak Mama di rumah ini."
Rey meletakkan garpunya dengan suara brak yang cukup keras. "Tania, cukup!"
"Kenapa? Kamu takut Mama tahu kalau selama ini aku cuma pajangan?" Tania berdiri. Emosi yang ia pendam sejak pertemuan di restoran tempo hari akhirnya meledak.
"Ma, tanya pada anak Mama. Kapan terakhir kali dia pulang dan benar-benar menatap mataku tanpa memikirkan wanita lain? Tanya padanya, kenapa dia lebih memilih menemani wanita dari masa lalunya belanja tas daripada makan malam denganku?"
Mama Ratna terperangah. Ia menatap Rey dengan pandangan tak percaya. "Rey? Apa yang dibilang Tania itu benar? Kamu bertemu Bianca lagi?"
Rey berdiri, wajahnya merah padam karena malu dan marah. "Ma, itu nggak seperti yang Tania bilang. Aku cuma bantu Bianca—"
"Bantu yang berlanjut sampai ke meja makan romantis dan foto-foto mesra di media sosial?" potong Tania. Ia menatap mertuanya.
"Ma, aku sayang sama Mama. Tapi aku nggak mau punya anak hanya untuk dijadikan pengikat bagi laki-laki yang jiwanya nggak pernah ada di rumah ini. Itu kejam untuk anakku nanti."
"Tania! Kamu keterlaluan!" Rey membentak.
"Aku keterlaluan? Kamu yang keterlaluan, Rey!" Tania meraih ponselnya yang ada di atas meja.
"Malam ini, biarkan aku kasih tahu Mama rahasia kecilmu."
Tania membuka sebuah folder di ponselnya—hasil screenshot kiriman Maya tentang kebersamaan Rey dan Bianca yang belum sempat ia tunjukkan pada siapa pun. Ia meletakkan ponsel itu di depan Mama Ratna.
Mama Ratna melihat foto-foto itu, dan tangannya mulai gemetar. Beliau menatap anaknya dengan tatapan kecewa yang sangat dalam.
"Rey... Mama nikahkan kamu sama Tania supaya kamu lupa sama masa lalumu yang nggak sehat itu. Kenapa kamu malah begini?"
Rey kehilangan kata-kata. Ia ingin mendekat, tapi Tania sudah lebih dulu beranjak dari sana.
"Nikmati makan malamnya, Ma. Aku mau cari udara segar," ucap Tania.
Tania berjalan menuju pintu depan tanpa menoleh lagi. Rey mengejarnya, mencengkeram lengan Tania tepat di teras rumah yang diguyur gerimis.
"Kamu mau ke mana lagi? Ke tempat Adrian? Kamu mau pamer luka kamu ke dia supaya dia bisa jadi pahlawan lagi?" tanya Rey dengan suara serak, penuh dengan rasa frustrasi yang luar biasa.
Tania melepaskan tangan Rey. "Mungkin. Setidaknya dia nggak perlu aku paksa untuk melihat bahwa aku sedang hancur."
Tania melangkah menuju gerbang, tapi sebuah mobil SUV hitam baru saja berhenti di depan rumah mereka. Pintu terbuka, dan bukan Adrian yang keluar.
Seorang wanita dengan gaun putih dan wajah yang tampak sangat pucat keluar dari mobil itu. Dia adalah Bianca. Wanita itu tampak limbung, matanya sembab, dan dia langsung menatap ke arah Rey seolah-olah tidak ada orang lain di sana.
"Rey... tolong aku... aku nggak tahu harus ke mana lagi," ucap Bianca sebelum tubuhnya merosot dan pingsan tepat di hadapan Rey dan Tania.
Tania membeku. Rey secara refleks berlari mendekat untuk menangkap tubuh Bianca.
Di bawah guyuran gerimis, Tania berdiri sendirian, menyaksikan suaminya mendekap wanita lain di depan matanya sendiri, di depan rumah mereka sendiri.
dasar iblis hidup
jangan slaahin tania kalau kamu bkalan lebih susah dari sblumnya 😭
dari pada ono sibuk ngurus warisan🙄
makanya dia lakuin persiapan itu sebagai konpensasi
ini mertua yang baik
dsar mata duitan
tuntut ajaa mereka tania