Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Retakan di Antara Kita
Langit menjelang subuh berwarna abu-abu pucat ketika Aluna masih berdiri di balkon lantai atas gedung Konsorsium. Kota di bawahnya terlihat tenang, seolah tidak ada sistem rahasia yang baru saja berganti pemilik beberapa jam lalu.
Namun tangannya tidak tenang.
Ponselnya masih terbuka.
Foto itu masih terpampang jelas.
Arkan.
Di ruangan gelap.
Berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.
Dan pesan di bawahnya:
Percaya padanya sepenuhnya?
Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang.
Aluna tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
“Semua anggota utama sudah diamankan,” suara Arkan terdengar rendah. “Surya sedang mengatur tim audit.”
Aluna mematikan layar ponselnya perlahan.
“Bagus,” jawabnya singkat.
Arkan berhenti di sampingnya.
Biasanya, keheningan di antara mereka terasa nyaman.
Sekarang… terasa rapuh.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Aluna akhirnya menoleh.
Matanya menelusuri wajah pria itu. Setiap garis tegas. Setiap ekspresi yang dulu ia percaya tanpa ragu.
“Ada yang ingin kau ceritakan?” tanyanya pelan.
Arkan mengernyit. “Tentang apa?”
Aluna mengeluarkan ponselnya dan menampilkan foto itu.
Arkan membeku.
Beberapa detik.
Hanya beberapa detik.
Tapi cukup bagi Aluna untuk melihat sesuatu di matanya.
Pengakuan.
“Atau kau ingin aku menebak sendiri?” suara Aluna tetap tenang, terlalu tenang.
Arkan menatap layar. Lalu menghela napas pelan.
“Foto itu diambil sebelum operasi malam ini.”
“Dengan siapa kau bertemu?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Arkan.”
“Aku bertemu informan.”
“Siapa?”
“Orang dalam.”
“Nama.”
Keheningan.
Angin subuh berhembus dingin.
“Aku tidak bisa memberitahumu,” Arkan akhirnya berkata.
Kata-kata itu seperti retakan pertama pada kaca yang selama ini utuh.
“Tidak bisa… atau tidak mau?” Aluna bertanya.
“Aku mencoba melindungimu.”
“Dengan merahasiakan sesuatu lagi?”
Nada suaranya tidak meninggi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih tajam.
Arkan memejamkan mata sesaat.
“Permainan ini belum selesai, Aluna. Masih ada pihak yang belum muncul.”
“Dan kau bekerja dengan mereka?”
“Aku bekerja untuk menjatuhkan mereka.”
“Tanpa memberitahuku?”
“Kau baru saja diangkat menjadi Ketua,” Arkan membalas pelan. “Bebanmu sudah cukup berat.”
Aluna tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung humor.
“Jadi kau memutuskan sendiri apa yang boleh kuketahui?”
Arkan menatapnya dalam.
“Aku memutuskan untuk tetap hidup.”
Kalimat itu membuat Aluna terdiam.
Ia ingin marah.
Ingin percaya.
Ingin lari.
Semuanya bercampur.
⸻
Pagi itu, berita tentang restrukturisasi internal Konsorsium sudah tersebar. Media belum tahu detailnya, tapi rumor bergerak cepat.
Nama Aluna mulai muncul di beberapa forum bisnis tertutup.
Surya masuk ke balkon.
“Kita punya masalah,” katanya tanpa basa-basi.
“Kapan tidak?” Arkan bergumam.
Surya menunjukkan tablet.
Beberapa aset Konsorsium mulai dipindahkan secara diam-diam sebelum sistem dikunci semalam.
“Transfer dilakukan satu jam sebelum kita tiba,” Surya menjelaskan. “Seseorang tahu operasi akan terjadi.”
Aluna langsung menoleh pada Arkan.
Arkan menangkap tatapan itu.
“Bukan aku.”
“Lalu siapa?” Aluna menekan.
Surya menghela napas.
“Jejak digitalnya bersih. Terlalu bersih.”
Hening.
“Kau punya akses tambahan selain yang kau berikan padaku?” Aluna bertanya pada Arkan.
Arkan menatapnya tanpa berkedip.
“Tidak.”
Namun kali ini, Aluna tidak tahu apakah itu kebenaran utuh.
⸻
Siang hari, mereka pindah ke ruang rapat sementara yang kini secara resmi berada di bawah otoritas Aluna.
Ruang itu besar. Dinding kayu gelap. Meja panjang dengan kursi-kursi kosong yang dulu diisi orang-orang berkuasa.
Sekarang, kursi utama di ujung meja itu miliknya.
Aluna berdiri menatapnya lama.
“Aneh?” Arkan bertanya dari belakang.
“Aku tidak pernah menginginkan kursi ini.”
“Tapi sekarang kau memilikinya.”
Aluna duduk perlahan.
Kursi itu terasa berat.
Bukan secara fisik.
Secara makna.
Surya membuka layar presentasi.
“Kita harus bergerak cepat sebelum sisa jaringan mereka menyusun ulang kekuatan.”
“Berapa banyak yang masih bebas?” Aluna bertanya.
“Setidaknya seperempat anggota inti belum teridentifikasi.”
Arkan menyilangkan tangan.
“Mereka akan bergerak di bawah radar.”
“Termasuk orang yang kau temui tadi malam?” Aluna berkata tiba-tiba.
Ruangan mendadak sunyi.
Surya menoleh cepat ke Arkan.
“Orang apa?”
Arkan menatap Aluna lama.
“Ini bukan waktu yang tepat.”
“Justru ini waktu yang tepat,” Aluna membalas. “Aku Ketua sekarang, bukan?”
Nada suaranya tidak tinggi. Tapi tidak bisa dibantah.
Arkan menghela napas pelan.
“Baik.”
Ia menatap Surya sekilas, lalu kembali pada Aluna.
“Aku bertemu seseorang yang mengaku punya informasi tentang fase terakhir Konsorsium.”
“Siapa?”
“Dia tidak menyebut nama.”
“Pria atau wanita?”
“Pria.”
“Usia?”
“Sekitar lima puluh.”
Surya langsung menegang.
“Itu bisa siapa saja.”
“Dia memberi tahu bahwa sistem akan berpindah otomatis jika garis darah hadir secara fisik,” Arkan melanjutkan. “Itu sebabnya aku tahu kau harus masuk gedung sendiri.”
Aluna membeku.
“Jadi kau tahu itu akan terjadi?”
“Aku tahu kemungkinan itu ada.”
“Tapi kau tidak memberitahuku.”
“Karena jika kau tahu, ekspresimu akan berbeda. Dan mereka akan curiga.”
Aluna merasa napasnya berat.
Semua yang ia lakukan semalam—
Sebagian adalah perhitungan Arkan.
“Kau mempertaruhkan aku.”
“Aku mempercayaimu.”
“Tanpa izinku.”
Keheningan kembali menggantung.
Surya mengangkat tangan pelan. “Kita harus fokus pada ancaman eksternal dulu.”
Namun ancaman terbesar kini terasa berada tepat di seberang meja.
⸻
Sore menjelang ketika notifikasi keamanan berbunyi.
“Server luar negeri kita menerima permintaan akses ulang,” salah satu staf melapor.
“Dari mana?” Surya bertanya cepat.
“Lokasi tidak terlacak.”
Arkan mendekat ke layar.
Permintaan itu menggunakan kode lama.
Kode yang hanya diketahui lingkaran dalam.
Dan satu nama lama muncul sebagai identifikasi pengguna.
A. PRATAMA
Semua orang membeku.
“Adrian ada di ruang tahanan sementara,” Surya berkata.
“Berarti ini bukan dia,” Aluna berbisik.
Arkan menatap layar lebih dekat.
“Kecuali…”
“Kecuali apa?” Aluna menoleh padanya.
“Kecuali ada satu orang lagi dengan inisial itu.”
Darah Aluna terasa dingin.
“Apa maksudmu?”
Arkan menatapnya pelan.
“Nama tengahmu.”
Aluna Pratama Wijaya.
Sistem mengenalinya sebagai Ketua.
Tapi jika ada protokol cadangan atas nama Pratama—
Itu berarti ada sesuatu yang belum mereka pahami.
Permintaan akses kedua masuk.
Kali ini lebih kuat.
Layar mulai berkedip.
Surya berseru, “Mereka mencoba memicu rollback sistem!”
“Rollback?” Aluna bertanya.
“Jika berhasil, status kepemimpinan akan kembali ke struktur lama.”
“Kembali ke Adrian?” Arkan bertanya.
“Tidak,” Surya menjawab pelan.
“Ke pewaris cadangan.”
Ruangan hening.
“Siapa pewaris cadangan?” Aluna bertanya.
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua menyadari satu kemungkinan yang sama.
Jika Aluna adalah garis darah utama—
Maka garis itu tidak mungkin berhenti padanya.
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka keras.
Seorang petugas keamanan masuk dengan wajah pucat.
“Ketua… ada seseorang yang memaksa masuk ke lobi utama.”
“Siapa?” Arkan bertanya tajam.
Petugas itu menelan ludah.
“Dia mengaku… saudara Anda.”
Waktu seolah berhenti.
Aluna berdiri perlahan.
“Aku tidak punya saudara.”
Petugas itu terlihat ragu.
“Dia membawa dokumen kelahiran. Dan… hasil tes DNA.”
Jantung Aluna berdetak keras.
“Namanya siapa?”
Petugas itu melihat tablet di tangannya.
Lalu membaca perlahan.
“Alvino Pratama.”
Keheningan memekakkan telinga memenuhi ruangan.
Arkan langsung menoleh pada Aluna.
Surya memucat.
Di layar, permintaan rollback semakin kuat.
Dan kini semuanya masuk akal.
Pewaris cadangan.
Jika sistem dirancang untuk garis darah—
Maka satu anak tidak cukup.
Aluna merasa dunia kembali retak.
Karena permainan ini ternyata tidak pernah tentang dirinya saja.
Ia menatap pintu ruang rapat.
“Bawa dia ke sini.”
Arkan langsung memegang lengannya.
“Aluna, kita tidak tahu siapa dia.”
Ia menatap Arkan dalam.
“Persis seperti aku tidak tahu siapa diriku semalam.”
Keheningan.
Langkah kaki terdengar mendekat di lorong.
Dan untuk pertama kalinya—
Aluna merasakan ketakutan yang berbeda.
Bukan tentang Konsorsium.
Bukan tentang kekuasaan.
Tapi tentang identitasnya sendiri.
Karena jika pria itu benar-benar saudara kandungnya—
Maka takhta yang baru saja ia ambil…
Bisa saja bukan hanya miliknya.
END BAB 23 🔥