Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Gombalan Daren.
Aira menyuap kuah bakso terakhir sebelum mendongak, matanya menatap tajam ke arah Daren yang berdiri tepat di depan mejanya. Ia meletakkan sendok ke mangkuk dengan denting yang cukup keras. "Tidakkah kamu lihat? Di sini sudah tidak ada tempat," tanya Aira ketus, bahunya mengunci posisi agar tidak ada celah bagi pemuda itu untuk bergabung.
Daren tidak terpengaruh, ia justru menunjuk ruang kosong di ujung bangku kayu panjang di sisi Aira dengan dagunya. "Tempat seluas itu kamu bilang tidak ada? Aku tidak sebesar itu sampai tidak muat kalau saja kamu mau bergeser sedikit, Kak!" desaknya, bersikeras meminta Aira mengalah.
"Astaga, masih ada tempat lain loh! Meja ini khusus untuk orang pacaran. Kalau kamu gabung, ya kamu setannya dong, Daren!" kekeh Aira, mencoba mengusir dengan tatapan tidak suka.
Daren mengerutkan keningnya, lalu melirik Nando yang duduk santai di antara Leonel dan Aira. "Untuk orang pacaran? Emangnya kalian pacaran bertiga?"
Gadis itu menghela napas kasar hingga bahunya naik turun. Ia menumpukan tangan di atas meja, menatap Daren dengan jengah. "Intinya kamu cari tempat lain deh. Mengganggu saja kalau di sini!"
Alih-alih pergi, bahu Daren merosot. Wajahnya yang cerah seketika berubah melas, bibirnya sedikit mengerucut dengan mata yang berkedip-kedip seolah Aira baru saja melukainya dengan kata-kata kejam. "Tidak mau. Semua tempat sudah penuh, hanya ini satu-satunya yang masih bisa ditambah satu orang. Kakak tega sama anak baru, hm?"
Aira mendengus, namun pertahanannya runtuh. Dengan gerakan kasar, ia bergeser ke samping hingga bahunya hampir menabrak bahu Leonel, memberi ruang sempit di ujung bangku. "Iya, iya! Duduk di sini!"
Daren langsung mengambil tempat dengan seringai lebar yang kembali menghiasi wajahnya. Ia duduk dengan santai, menepuk meja seolah baru saja memenangkan lotre. "Nah, begini baru pas. Sudah genap membernya. Kita berdua dan mereka berdua, jadi seperti double date!"
Celetukan itu membuat Nando yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, langsung mendelik tajam ke arah Daren.
"Saya masih normal, Anak Baru!" tukas Nando dingin dengan penekanan di setiap katanya.
Daren menoleh dengan tampang polos yang dibuat-buat, jarinya menunjuk Leonel dan Nando bergantian. "Oh ya kah? Maaf, Kak. Refleks saja, aku pikir tadi kalian berdua yang pacaran."
*******
Aldaren melipat kedua tangannya di atas meja. Ia memperhatikan Aira dengan sangat lekat, mengikuti setiap suapan kuah bakso dan setiap helaian mi yang masuk ke mulut gadis itu tanpa berkedip. Aira yang menyadari itu mulai merasa tidak nyaman. Ia tidak suka diperhatikan sedetail itu, seolah-olah ia sedang diamati di bawah mikroskop.
"Kamu tidak pesan makanan? Kenapa melihatku begitu?" tanya Aira dengan suara datar, mencoba mengabaikan tatapan memuja itu.
Daren justru menopang dagu, pandangannya tidak goyah sedikit pun. "Mendadak aku kenyang melihatmu makan, Kak," jawabnya santai. Ia kembali memaku pandangannya pada wajah Aira.
"Kak... gimana rasanya jadi bidadari?" tanya Daren lagi. Suaranya cukup nyaring, tidak memedulikan riuh kantin atau dua cowok di depan mereka yang sejak tadi diam memperhatikan tingkahnya.
Aira mendengus, menaruh sendoknya dengan gerakan tajam. "Aku tidak pernah jadi bidadari!" jawabnya ketus, jelas tidak sudi membiarkan gombalan bocah itu mendarat mulus padanya.
"Masa sih? Tapi kok aku merasa aku sedang berhadapan dengan bidadari, ya?" Daren terkekeh kecil, wajahnya terlihat tulus namun menyebalkan bagi Aira. "Dan kamu tahu, Kak? Aku sangat senang karena baru pertama kalinya dalam hidup, melihat bidadari ternyata bisa makan juga!" lanjutnya, tak kehabisan bahan untuk menggoda.
"El... aku digoda loh, kamu terima?" rengek Aira sembari mengeratkan pelukan di lengan Leonel. Ia menyandarkan kepalanya manja, mencari perlindungan dari tatapan Daren yang terus tersenyum dengan kalimat menggodanya.
Pria yang sedari tadi duduk dengan wajah datar itu mendengus tajam. Tanpa aba-aba, tangannya yang semula tersembunyi di bawah meja naik dengan gerakan kasar. Ia berusaha melepaskan pelukan gadis itu pada lengannya, namun hanya sekejap karena Aira kembali memeluknya.
"Alah, daripada peluk di situ, mending ke sini, Kak. Lengan kokohku sangat amat menanti pelukanmu!" Daren justru menimpali dengan cengiran lebar, seolah tidak punya rasa takut sedikit pun meski sudah berada di zona berbahaya.
Aira memutar bola matanya malas, meski dalam hati ia merasa cemas dengan reaksi Leonel. "Daren, kamu kenapa mengganggu terus sih? Tidakkah kamu lihat pacarku—maksudku, calon pacarku marah?"
Leonel tidak memedulikan pembelaan Aira. Ia menarik napas dalam, rahangnya mengeras hingga otot di pipinya tampak menonjol. "Aira, lepas!" desisnya rendah, penuh penekanan.
Suasana di meja itu seketika mendingin. Leonel benar-benar tidak nyaman. Wajahnya yang datar kini tidak bisa lagi menyembunyikan jengkel yang meluap, ketenangan meja yang ia jaga sejak tadi hancur lebur hanya karena kehadiran dua orang itu.
Di meja seberang, sahabat-sahabat Aira memperhatikan drama tersebut layaknya sedang menonton film layar lebar. Selain mengamati, mulut mereka juga tak pernah berhenti bicara, berbisik tentang murid baru yang kehadirannya sejak tadi mencuri perhatian.
"Dia kelas sebelas, namanya Daren. Tampan juga ya," bisik Denada seraya menyeruput es tehnya dengan mata yang tidak lepas dari gerak-gerik Daren.
Anya mengangguk antusias, menyetujui penilaian temannya itu. "Huum, kalau harus bersaing dengan Leonel, dia juga tidak kalah tampan lah. Pokoknya, mulai detik ini aku ada di pihak Daren!"
.
.
.
"Kak, kau tidak tanya bagaimana hari pertamaku di kelas?" Daren kembali memancing, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sorot mata yang sengaja dibuat berbinar.
Aira menatapnya datar, sama sekali tidak terkesan. "Apa itu penting untuk aku ketahui?"
Daren tidak goyah. Ia justru terkekeh kecil, menyandarkan punggung ke bangku kayu dengan sikap yang terlampau santai. "Penting lah. Kamu harus tahu gimana kabar calon pacarmu di hari pertamanya, Bidadariku."
Brak!!
Suara dentuman keras memotong kalimat Daren. Leonel menggebrak meja dengan kasar hingga gelas air dan mangkuk di atasnya terguncang hebat. Tanpa berkata apa-apa, Leonel berdiri dengan wajah yang memerah padam menahan amarah, suara mereka yang terlalu banyak bicara jelas menganggu ketenangannya menurutnya. Kursinya terdorong ke belakang sampai menimbulkan suara decit yang memekakkan telinga di lantai kantin.
"Berisik!!" suara Leonel rendah, dia menahan kepalan tangannya.
"Ayo, Nando!" Ujarnya kemudian dingin, tanpa melirik Aira barang sedetik pun. Ia segera melangkah lebar meninggalkan kantin dengan aura yang mencekam.
"Loh, El! Kok pergi?" teriak Aira ikut berlari keluar mengejar pria itu, meninggalkan Daren yang masih duduk di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...