Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Suara jangkrik di Desa Asih mendadak senyap, digantikan oleh desau angin yang menyapu dedaunan pohon jati dengan kasar. Di dalam posko, Mika tampak gelisah, sesekali melirik layar ponselnya yang sebenarnya penuh sinyal, namun ia tetap melancarkan skenario andalannya.
"Duh, sinyal Telkomsel kenapa ampas banget sih di dalem? Gue keluar bentar ya gaes, mau telpon Mama. Kangen berat nih," ucap Mika sambil meraih jaket denimnya dan menyampirkan tas kecil di bahu.
Asia yang sedang asyik maskeran hanya bergumam malas. "Jangan lama-lama, Mik. Udah mendung tuh, ntar lo digondol wewe gombel."
"Gue keluar dulu ya gaes. Byee!" Mika melambaikan tangan dengan cepat dan menghilang di balik pintu sebelum Siti sempat bertanya lebih lanjut.
Langkah kakinya setengah berlari menyusuri jalan setapak yang gelap. Begitu sampai di depan sebuah rumah joglo modern dengan pagar kayu yang tinggi—rumah dinas sang Kepala Desa—Mika memastikan keadaan sekeliling sunyi senyap. Tidak ada warga yang lewat, tidak ada suara motor. Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu kayu jati itu perlahan.
TOK! TOK! TOK!
Pintu terbuka. Alvaro berdiri di sana, hanya mengenakan kaos dalam berwarna putih dan celana pendek hitam. Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak jauh lebih santai, namun matanya langsung menggelap saat melihat Mika berdiri di depannya.
"Masuk," ucap Alvaro pendek.
Mika melangkah masuk ke ruang tamu yang harum aroma kayu cendana. Begitu pintu tertutup, ia langsung berbalik menatap Alvaro dengan wajah penuh rasa bersalah. "Al... kamu beneran nggak papa tadi aku dorong? Sumpah, aku panik banget pas denger suara Asia. Takut banget ketauan."
Alvaro tidak menjawab. Ia justru mendekat, membuat Mika terpojok ke pintu yang baru saja ditutup. "Kamu punya tenaga yang cukup besar untuk ukuran mahasiswi yang makannya cuma ramyeon, Mikayla."
Tepat saat itu, JEDEEER!
Suara guntur menggelegar hebat di atas langit Desa Asih. Dalam hitungan detik, hujan turun seperti ditumpahkan dari langit, disertai angin badai yang menghantam dinding rumah dengan suara mengerikan.
"Duh, kok hujan sih..." gumam Mika sambil menatap jendela yang kini tertutup tirai air. "Mana badai lagi. Gimana aku balik ke posko?"
"Kamu tidak akan balik ke posko dalam keadaan seperti ini," ucap Alvaro tegas. Ia mengambil handuk kecil dan memberikannya pada Mika untuk menyeka beberapa tetes air yang sempat membasahi rambutnya.
Suasana di dalam rumah itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya ada suara hujan yang menderu di luar. Alvaro berjalan ke dapur, lalu kembali dengan dua cangkir jahe hangat. "Ini 'harga' yang kamu janjikan di surat tadi siang, kan?"
Mika menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan. Rasa pedas jahe dan manis gula aren menyatu, menghangatkan kerongkongannya. Namun, panas yang menjalar di hatinya jauh lebih hebat saat ia menyadari bahwa malam ini, ia benar-benar hanya berdua dengan Alvaro di tengah badai.
Alvaro duduk di sofa, menatap Mika dengan pandangan yang sangat intens. "Tadi siang kamu panggil saya Dajjal di depan temanmu. Kamu tahu hukuman untuk menghina Kepala Desa?"
Mika mencoba tertawa kecil, meski jantungnya berdegup kencang. "Itu kan akting, Al! Kamu sendiri yang bilang mau main peran."
"Tapi dorongan itu... membuat dada saya sesak sampai sekarang," Alvaro meraih tangan Mika, menuntunnya agar duduk di sampingnya. Ia meletakkan tangan Mika tepat di dadanya yang bidang. "Rasakan. Jantung saya tidak pernah kembali normal sejak kamu masuk ke ruangan itu tadi pagi."
Mika bisa merasakan detak jantung Alvaro yang kuat dan cepat di bawah telapak tangannya. Suasana berubah menjadi sangat intim. Cahaya lampu ruang tamu yang kuning redup menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding.
Alvaro meletakkan cangkir jahenya di meja, lalu bergerak mendekat. Ia menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut Mika yang masih sedikit lembap. "Malam ini badai tidak akan berhenti cepat, Mikayla. Dan saya rasa... saya juga tidak ingin berhenti."
Alvaro menunduk, mencium aroma leher Mika yang selalu membuatnya candu. Mika memejamkan mata, tangannya tanpa sadar meremas kaos putih Alvaro. Saat bibir mereka bertemu, itu bukan lagi sekadar kecupan singkat seperti di kantor tadi pagi. Ini adalah ciuman yang penuh dengan rasa rindu, rasa lapar, dan proteksi yang luar biasa.
Hujan di luar semakin menggila, namun di dalam ruangan itu, suhu seolah naik drastis. Alvaro mengangkat tubuh Mika ke pangkuannya tanpa memutuskan ciuman mereka. Tangannya yang kasar namun lembut mulai menjelajahi lekuk tubuh Mika di balik jaket denimnya.
"Al..." bisik Mika di sela napasnya yang memburu.
"Jangan takut," sahut Alvaro rendah, suaranya parau oleh gairah yang tertahan. "Di sini hanya ada kita. Tidak ada Asia, tidak ada Siti, tidak ada warga."
Malam itu, di bawah atap joglo yang kokoh, batas-batas antara Kepala Desa dan mahasiswi benar-benar lebur. Di tengah gemuruh badai yang mencoba merobohkan apa pun di luar sana, mereka menemukan perlindungan di dalam pelukan satu sama lain—sebuah malam yang panjang, panas, dan penuh dengan janji-janji bisu yang hanya dimengerti oleh kulit yang bersentuhan.
Mika terbangun saat cahaya fajar pertama mulai menyelinap di balik celah jendela. Ia tersentak saat melihat jam di dinding: pukul 04.30 pagi. Panik segera menyerang seluruh syarafnya.
"Al! Al, bangun! Udah subuh!" Mika mengguncang bahu Alvaro yang masih tertidur lelap di sampingnya dengan napas teratur.
Alvaro membuka matanya, menatap Mika dengan pandangan yang sangat lembut—sebuah pemandangan yang tak pernah dilihat warga desa mana pun. "Sudah mau pulang?"
"Aku bisa mati kalau Siti bangun dan gue nggak ada di kasur!" Mika segera memakai kembali pakaiannya dengan terburu-buru. Alvaro bangkit, membantu merapikan kerah jaket Mika yang berantakan.
"Hujannya sudah reda. Saya antar sampai persimpangan," ucap Alvaro.
Mika berjalan mengendap-endap keluar dari rumah Alvaro. Udara subuh sangat dingin dan tanah masih becek karena badai semalam. Begitu sampai di depan pintu posko, Mika menarik napas panjang, mengatur ekspresi wajahnya agar tampak sangat mengantuk dan lelah.
Saat ia membuka pintu perlahan... "KLIK!"
Lampu ruang tengah posko tiba-tiba menyala. Siti dan Asia sudah duduk di kursi plastik dengan wajah yang sangat datar, seolah mereka sudah menunggu di sana sejak zaman purba.
"Baru balik, Mik?" tanya Siti dengan nada suara yang sangat tenang, namun mematikan.
"Abis telpon Mama? Telpon Mama apa telponan sama jin penunggu sungai? Ini jam lima pagi, Mikayla," tambah Asia sambil melipat tangan di dada.
Mika membeku di ambang pintu. "E-eh... itu... semalem kan badai gede banget! Gue... gue neduh di rumah warga! Sumpah! Gue nggak berani balik pas ujan angin gitu!"
Siti berdiri, berjalan mendekati Mika. Ia mengendus aroma di sekitar Mika. "Neduh di rumah warga ya? Kok bau lo bau parfum woody yang sangat familiar ini sih? Terus... kenapa ada bekas merah di leher lo yang sengaja lo tutupin pake kerah jaket itu?"
Mika reflek memegang lehernya, wajahnya pucat pasi. "Ini... ini digigit nyamuk! Nyamuk desa sini ganas-ganas banget, sumpah!"
Asia menyipitkan mata. "Nyamuknya punya jabatan Kepala Desa nggak, Mik?"
Mika terdiam seribu bahasa. Sandiwaranya kini berada di ujung tanduk. Sementara di kejauhan, suara adzan subuh berkumandang, menandai dimulainya hari yang penuh dengan interogasi panjang bagi sang koordinator KKN.