NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Sang Konglomerat

Batas Obsesi Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.

Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.

Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.

Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Bisikan Ular dan Bayangan Masa Lalu

​Satu bulan telah berlalu sejak hari di mana Nadin Kirana membuktikan nilai dirinya di depan dewan direksi Mahendra Corp. Dalam waktu empat minggu tersebut, kehidupan Nadin telah berubah drastis menjadi sebuah rutinitas ganda yang sangat melelahkan secara mental maupun fisik.

​Di siang hari, Nadin adalah Kepala Konsultan Arsitek yang sangat dihormati. Dia memiliki meja gambar sendiri di dalam ruang kerja CEO, akses penuh ke semua data proyek Menara Selatan, dan wewenang untuk merevisi setiap inci cetak biru bangunan tersebut. Para karyawan di lantai enam puluh menunduk hormat setiap kali dia lewat. Mereka memanggilnya Nona Kirana dengan nada segan.

​Namun, ketika malam tiba, dan pintu ganda berbahan kayu eboni itu dikunci dari dalam, gelar profesional itu menguap tak tersisa. Di balik dinding kedap suara tersebut, Nadin kembali menjadi properti pribadi Gilang Mahendra. Pria itu menuntut kompensasi atas setiap kebebasan profesional yang dia berikan. Gilang akan mengklaim tubuh Nadin di atas sofa kulit, di depan dinding kaca yang menghadap pemandangan kota, atau di atas meja gambar itu sendiri, tanpa memedulikan seberapa lelahnya Nadin bekerja seharian.

​Siang ini, Nadin sedang duduk di kafetaria eksklusif yang terletak di lantai dasar gedung Mahendra Corp. Kafetaria ini hanya diperuntukkan bagi jajaran eksekutif senior dan tamu VIP. Nadin memesan secangkir kopi hitam tanpa gula, mencoba mengusir rasa kantuk yang mendera akibat pergumulan panjangnya dengan Gilang semalam suntuk.

​Dimas berdiri sekitar lima meter darinya, di dekat pintu masuk area VIP, menjaga jarak namun tetap mengawasi setiap pergerakan di sekitar Nadin.

​Nadin mengaduk kopinya dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang pada kondisi Arya. Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, dia sempat mengunjungi rumah sakit. Profesor Lee membawa kabar baik bahwa mereka telah menemukan dua kandidat donor ginjal di Singapura yang memiliki tingkat kecocokan awal sebesar tujuh puluh persen. Mereka tinggal menunggu hasil tes darah tahap akhir.

​Kabar itu seharusnya membuat Nadin sangat bahagia. Namun, semakin dekat adiknya pada kesembuhan, semakin Nadin menyadari betapa dalam dia telah terperosok ke dalam kegelapan dunia Gilang. Hutang budinya pada pria itu kini menumpuk setinggi gunung, dan Nadin tidak tahu bagaimana cara dia bisa melarikan diri saat kontrak tiga tahun itu berakhir nanti.

​"Boleh saya duduk di sini, Nona Kirana?"

​Sebuah suara bariton yang ramah namun menyiratkan kelicikan tiba-tiba menyela lamunannya. Nadin mendongak dan seketika tubuhnya menegang.

​Berdiri di seberang mejanya adalah Bastian Wirawan. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu terang yang sangat modis, wajahnya dihiasi senyum karismatik yang selalu berhasil menipu publik. Bastian memegang secangkir espreso di tangan kanannya.

​Nadin langsung melirik ke arah pintu masuk. Dimas terlihat sedang ditahan oleh dua orang pria berbadan besar yang tampaknya adalah pengawal pribadi Bastian. Mereka tidak berkelahi, hanya melakukan blokade pasif yang membuat Dimas tidak bisa mendekat tanpa menimbulkan keributan besar di lobi gedung Mahendra Corp.

​"Ini adalah gedung milik Mahendra Corp, Tuan Wirawan. Saya rasa Anda tersesat," balas Nadin dengan nada dingin dan formal. Dia tidak mempersilakan pria itu duduk.

​Bastian terkekeh pelan. Dia menarik kursi di seberang Nadin dan duduk tanpa peduli pada penolakan wanita itu. "Saya sedang ada jadwal pertemuan dengan beberapa vendor di gedung sebelah, lalu saya melihat burung cantik milik Gilang sedang duduk sendirian di sini. Tentu saja saya harus mampir untuk menyapa. Kita belum sempat berkenalan secara layak di acara lelang waktu itu."

​"Saya tidak tertarik untuk berkenalan dengan Anda. Silakan pergi sebelum keamanan gedung menyeret Anda keluar," ancam Nadin. Dia bersiap untuk berdiri, namun kalimat Bastian selanjutnya membuat kakinya terpaku di lantai.

​"Bagaimana kabar Herman Kirana? Apakah ayahmu masih dalam pelarian?" tanya Bastian santai. Pria itu menyesap espresonya seolah dia baru saja menanyakan cuaca hari ini.

​Darah Nadin seolah berhenti mengalir. Jantungnya berdebar sangat keras hingga telinganya berdenging. Dia menatap Bastian dengan mata membelalak.

​"Dari mana Anda tahu nama ayah saya?" desis Nadin. Kedua tangannya meremas ujung meja dengan sangat kuat.

​"Saya adalah seorang pebisnis, Nadin. Sama seperti Gilang. Ketika saingan terbesar saya tiba-tiba membawa seorang wanita tak dikenal dan menjadikannya kepala arsitek untuk proyek triliunan rupiah, tentu saja saya akan melakukan investigasi latar belakang," jelas Bastian dengan senyum tipis. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja. "Dan apa yang saya temukan sangat menarik. Seorang ayah yang membawa lari sepuluh miliar rupiah, dan seorang anak perempuan yang tiba-tiba tinggal di penthouse Gilang Mahendra. Sangat mudah untuk menyambungkan titik-titik tersebut."

​Nadin menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. "Itu bukan urusan Anda. Jangan mencampuri masalah pribadi saya."

​"Saya hanya merasa kasihan padamu," ucap Bastian, nada suaranya kini terdengar lebih pelan dan penuh rahasia. Mata cokelat pria itu menatap tajam ke arah mata Nadin. "Kamu adalah arsitek yang sangat jenius. Presentasimu di ruang rapat tempo hari sangat luar biasa. Kabar itu bocor sampai ke telingaku. Sayang sekali kecerdasanmu itu hanya digunakan untuk melunasi utang di bawah kaki Gilang."

​"Saya permisi," ucap Nadin tegas. Dia benar-benar berdiri kali ini, meraih tas tangannya. Dia tidak ingin mendengar racun dari mulut pria ini lebih lama lagi.

​"Tunggu, Nadin," Bastian ikut berdiri. Pria itu menahan langkah Nadin hanya dengan kata-katanya. "Apakah kamu pernah berpikir, bagaimana mungkin seorang Herman Kirana, seorang manajer keuangan biasa, bisa membobol kas perusahaan properti sebesar sepuluh miliar tanpa bantuan orang dalam?"

​Langkah Nadin terhenti. Dia tidak menoleh, namun seluruh tubuhnya menegang.

​"Dan apakah kamu tidak merasa aneh?" lanjut Bastian, suaranya kini terdengar seperti bisikan ular di telinga Nadin. "Di malam yang sama saat rentenir menyerangmu di rumah sakit, Gilang Mahendra kebetulan berada di sana untuk menyelamatkanmu? Pria seperti Gilang tidak pernah melakukan inspeksi rumah sakit pada tengah malam kecuali ada sesuatu yang sangat penting. Pria itu tidak percaya pada kebetulan, Nadin. Pria itu menciptakan kebetulan."

​Nadin memejamkan matanya rapat-rapat. Udara di sekitarnya terasa menipis. Otaknya yang logis mulai bekerja dengan kecepatan penuh. Bastian benar. Terlalu banyak kebetulan yang terjadi. Ayahnya yang tiba-tiba memiliki akses ke dana raksasa, rentenir yang langsung menemukan Nadin di malam yang tepat, dan kehadiran Gilang yang bak malaikat penyelamat lengkap dengan kontrak perjanjian yang sudah tercetak rapi di dalam map hitam.

​"Pikirkanlah baik-baik, Nadin," ucap Bastian sebagai kalimat penutup. Pria itu meletakkan sebuah kartu nama berwarna perak di atas meja, tepat di sebelah cangkir kopi Nadin. "Jika kamu butuh jalan keluar dari sangkar iblis itu, hubungi saya. Wirawan Group bersedia membayar utangmu pada Gilang dan memberimu posisi direktur desain. Saya bisa melindungimu."

​Setelah mengatakan itu, Bastian membalikkan badan dan berjalan pergi dengan santai, diikuti oleh dua pengawalnya. Begitu blokade terbuka, Dimas langsung berlari menghampiri Nadin dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran.

​"Nona Kirana! Apakah Anda tidak apa-apa? Bajingan itu tidak melukai Anda?" tanya Dimas sambil memeriksa keadaan Nadin dari atas ke bawah.

​Nadin membuka matanya perlahan. Dia menatap kartu nama perak di atas meja itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengambil kartu itu dan memasukkannya ke dalam saku jas kerjanya tanpa sepengetahuan Dimas.

​"Saya tidak apa-apa, Dimas. Dia hanya menyapa," jawab Nadin dengan suara bergetar. "Ayo kita kembali ke lantai enam puluh. Saya harus kembali bekerja."

​Perjalanan kembali menuju ruang kerja CEO terasa seperti berjalan di atas paku. Pikiran Nadin sangat kacau. Benih keraguan yang ditanamkan oleh Bastian kini tumbuh menjadi akar kecurigaan yang menjalar cepat di kepalanya. Apakah mungkin Gilang adalah dalang di balik kehancuran keluarganya? Apakah pria itu sengaja membuat ayah Nadin berutang agar Gilang bisa menjebak Nadin?

​Pintu ganda ruang kerja CEO terbuka. Nadin melangkah masuk dengan perasaan campur aduk.

​Gilang sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela kaca raksasa dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Pria itu tidak menoleh saat Nadin masuk, namun auranya terasa sangat kelam dan membekukan. Suhu di dalam ruangan itu terasa lebih dingin sepuluh derajat dari biasanya.

​"Dimas," panggil Gilang tanpa membalikkan badannya. Suaranya terdengar sangat datar dan tenang, jenis ketenangan sebelum badai besar menghantam.

​Dimas yang baru saja melangkah masuk di belakang Nadin langsung berdiri tegap. "Ya, Tuan Mahendra."

​"Potong gaji bulan ini untuk seluruh tim keamanan di lantai dasar," perintah Gilang dingin. "Jika ada satu ekor lalat pun dari Wirawan Group yang berhasil masuk lagi ke gedung ini, aku akan memecat mereka semua dan memastikan mereka tidak akan pernah mendapat pekerjaan di kota ini lagi. Keluar."

​"Baik, Tuan." Dimas segera membungkuk hormat, memutar tubuhnya, dan keluar dari ruangan dengan sangat cepat, menutup pintu ganda itu rapat-rapat.

​Kini hanya tersisa Nadin dan Gilang di dalam ruangan yang luas itu. Nadin menelan ludahnya yang terasa kering. Gilang pasti sudah melihat kejadian di kafetaria melalui kamera pengawas. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari pria ini.

​Gilang membalikkan badannya perlahan. Mata hitam pekatnya langsung mengunci mata Nadin. Pria itu melangkah mendekati Nadin dengan gerakan lambat namun pasti, bagaikan predator yang sedang menakar mangsanya.

​"Apa yang dikatakan bajingan itu padamu?" tanya Gilang. Jarak mereka kini hanya tersisa setengah meter.

​"Dia... dia hanya menawarkan pekerjaan padaku," jawab Nadin, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak bergetar. Dia memutuskan untuk menyimpan kecurigaannya sendiri. Bertanya langsung pada Gilang tentang ayahnya dalam kondisi pria itu sedang marah adalah tindakan bunuh diri.

​Gilang menghela napas panjang. Sebuah senyuman sinis dan merendahkan terukir di sudut bibirnya.

​"Menawarkan pekerjaan? Atau menawarkan jalan keluar bagimu untuk melarikan diri dariku?" tebak Gilang dengan sangat tepat. Pria itu mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi Nadin dengan punggung jarinya yang dingin. "Kau sangat naif, Nadin. Bastian Wirawan tidak peduli pada bakat arsitekmu. Dia hanya ingin merebut apa yang menjadi milikku untuk memuaskan egonya yang menyedihkan."

​"Saya menolak tawarannya," sahut Nadin cepat. "Saya tahu posisi saya di sini."

​Tangan Gilang turun menuju leher Nadin. Pria itu mencengkeram kerah jas kerja Nadin dengan lembut namun menyiratkan ancaman. Pria itu menarik Nadin selangkah lebih maju hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.

​"Bagus. Karena aku tidak akan segan-segan menghancurkan perusahaan bajingan itu sampai ke akar-akarnya jika dia berani menyentuh sehelai rambutmu," desis Gilang. Mata hitamnya memancarkan kegelapan mutlak. Pria itu menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Nadin.

​"Tapi yang lebih penting dari itu, Nadin," lanjut Gilang dengan suara parau yang membekukan tulang belakang wanita itu. "Kau harus ingat satu fakta penting. Ayahmu yang pengecut itu masih buron di luar sana. Uang yang dia bawa lari adalah milik sebuah konsorsium gelap yang memiliki ikatan dengan dunia bawah tanah. Alasan mengapa para rentenir itu tidak pernah mengganggumu lagi bukan karena utang itu sudah lunas. Tapi karena mereka tahu bahwa kini kau berada di bawah perlindunganku."

​Nadin terkesiap. Napasnya tercekat. Rahasia yang selama ini disembunyikan Gilang akhirnya terungkap.

​"Jika kau berpikir untuk menerima tawaran Bastian dan lari dari sisiku," bisik Gilang, ujung hidungnya menyapu pipi Nadin. "Bastian tidak akan memiliki kekuatan untuk menahan konsorsium itu. Rentenir itu akan memburumu, memburu adikmu di rumah sakit, dan merobek-robek kalian hidup-hidup. Kau hanya aman selama kau berada di dalam dekapanku, Nadin. Jangan pernah lupakan itu."

​Setelah menjatuhkan ancaman psikologis yang mematikan itu, Gilang melepaskan cengkeramannya dari kerah jas Nadin. Pria itu merapikan kerah Nadin dengan gerakan lembut yang sangat ironis.

​Gilang kemudian berjalan kembali menuju meja kerjanya seolah perdebatan yang baru saja terjadi hanyalah percakapan ringan di sore hari.

​"Kembali ke meja gambarmu," perintah Gilang tanpa menoleh lagi. "Ada perhitungan struktur pilar bawah tanah yang harus kau selesaikan sebelum jam lima sore."

​Nadin berdiri mematung di tengah ruangan. Kakinya terasa seberat timah. Jantungnya berpacu liar memproses semua informasi yang baru saja dia terima. Di satu sisi, Bastian memberitahunya bahwa Gilang mungkin adalah dalang kehancurannya. Di sisi lain, Gilang baru saja menegaskan bahwa pria itulah satu-satunya perisai yang mencegah Nadin dibunuh oleh dunia bawah tanah.

​Sambil melangkah gontai menuju meja gambarnya, Nadin menyadari satu kebenaran yang mengerikan. Dia bukan hanya terjebak dalam sangkar kaca asmara yang penuh obsesi, tetapi dia kini berada tepat di tengah-tengah arena peperangan antara para raksasa yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan nyawanya dan nyawa adiknya jika dia melakukan satu kesalahan kecil. Dan kartu nama perak di dalam sakunya terasa semakin berat dan membakar kulitnya.

1
Ida Aja
lah mana lanjutannya
juwita
serba salah di posisi nadin. tp klo di nikahi gpp. ini mah hny di jadikan budak nafsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!