Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan
Rommy dengan kesal menendang guling yang jatuh ke lantai dan belum sempat dibereskannya. Dia kelimpungan menyiapkan surat izin, daftar belanja, dan proposal acara untuk kegiatan sosial di panti jompo yang semakin dekat. Kepalanya terasa penuh beban, apalagi semua harus dia tangani sendiri sejak Sonny pecah kongsi dengan dirinya. Biasanya hal-hal administratif Sonny yang mengerjakan. Dan Rommy bisa konsentrasi dengan kerjaan lain. Mana tugas sekolah sedang banyak-banyaknya pula.
“Rom, kenapa sih pagi-pagi sudah gedebugan?” tanya Mama Rommy yang mendengar Rommy banting-banting barang nggak seperti biasanya yang tenang.
“Nggak ada apa-apa, Ma,” jawab Rommy.
Dan seperti biasa dia pagi-pagi berangkat ke sekolah dengan pakaian olahraga dan berlari ke sekolah, dan karena buru-buru tadi dia lupa membawa sarapan yang sudah disiapkan Mama Rommy dalam kotak. Sesampainya di sekolah lagi, saking keselnya dia nendang kerikil di depannya saat berlari.
Kerikil itu terbang ke jalan raya, untung nggak kena orang atau motor yang lewat.
Di sekolah Pak Bandrio yang sedang bersih-bersih menyapa, “Pagi, Rom?”
Rommy cuma menjawab singkat, “Pagi,” lalu mandi dan berganti pakaian seragam sekolah.
“Ada apa nih anak, kok uring-uringan gitu? Biasanya dia ngajak bercanda dan ngobrol sebentar,” kata Pak Bandrio dalam hati.
Nggak berapa lama Mauren tiba. Tumben dia datang sepagi ini. Dan karena saking groginya melihat Mauren, Rommy sampai lupa menutup resleting celananya.
“Pagi, Rom,” sapa Mauren.
“Eh… oh, pagi, Mauren,” jawab Rommy gugup.
“Sudah rapi, tapi resletingnya ditutup dulu dong,” kata Mauren senyum, sambil nunjuk resleting celana Rommy yang lupa ditutup.
Spontan Rommy langsung balik badan dan menutup resletingnya.
“Kenapa aku bisa jadi grogi begini sih kalau lihat-lihat Mauren?” keluh Rommy dalam hati.
“Kemarin Coach Barda nanyain kamu, Rom, kenapa sudah beberapa kali nggak latihan?” tanya Mauren.
Rommy mencoba menguasai nervousnya dan menjawab, “E… karena sibuk banget, Ren… nyiapin acara sosial di panti jompo dan lagi banyak PR dari sekolah juga.”
“Kapan sih rencananya?” tanya Mauren.
“E… minggu depan,” Rommy masih nervous sampai salah nyebut hari pelaksanaannya. “Eh, maksudku hari Minggu.”
“Bukannya biasa dibantu Sonny?” tanya Mauren.
Rommy diam sejenak, menguasai dirinya yang grogi hebat di depan Mauren.
“Sonny sudah nggak mau bantu aku, Ren,” jawab Rommy. “Karena menurutnya kegiatan yang aku gagas tidak akan terekspos dengan baik.”
“Kamu tujuannya mulia, Rom. Kamu mencoba menaikkan kelompok kamu mengerjakan hal-hal yang positif daripada sekadar hura-hura,” kata Mauren yang mulai bersimpati pada rencana kegiatan sosial Geng Kelelawar Hitam. “Mau aku bantu?”
“Wah gawat nih, kalau Mauren bantu aku terus grogi. Tapi kan lagi bisa deketan sama Mauren?” kata Rommy dalam hati. Lalu Rommy terdiam beberapa detik supaya nggak terlalu grogi.
“Mau sih, terutama urusan administrasi,” jawab Rommy akhirnya.
“OK. Ntar detailnya kita WA-an ya,” jawab Mauren. “Oya, Rom, tadi Mama bikin nasi kuning Manado, aku bawa sedikit. Mau nyobain? Nasi kuning Manado lain loh rasanya dengan nasi kuning di sini. Cobain deh.”
“Terima kasih, Ren,” jawab Rommy pelan. “Buat bantuin acara panti jomponya dan nasi kuningnya. Kebetulan tadi aku lupa bawa makan untuk sarapan yang sudah disiapin mamaku.”
Dengan ragu Rommy ambil sebungkus nasi kuning Manado yang disodorkan Mauren. Dan akhirnya mereka makan bersama.
Murid-murid sudah mulai berdatangan satu per satu, termasuk Sonny yang biasanya hangat saling menyapa satu sama lain, tapi kali ini tidak. Sonny langsung duduk di bangkunya tanpa melihat Rommy, seolah-olah dia tidak ada.
Rommy agak canggung dengan hal itu, tapi dia tidak memperdulikannya.
Lalu Sonny diam-diam mengirim pesan WhatsApp kepada Axel, isinya:
“Bro, kita hari ini bisa ketemu 4 mata? Kita berdua aja, jangan sampai ada yang tahu.”
Axel sudah mengetahui keretakan hubungan Rommy dan Sonny, jadi dia bisa mengira-ngira Sonny mau ngomong apa nanti. Lalu Axel membalas:
“Siap, bro. Atur saja. Bagaimana kalau di sekolah ini saja, setelah jam pulang sekolah? Anak-anak lain sudah pulang, kita bisa bicara berdua, nggak ada yang lihat?”
Balasan Sonny:
“Setuju, bro. See you!”
Sore pukul 15.30, SMA Tunas Bangsa sudah sepi. Murid-murid sudah pada pulang, hanya menyisakan Axel dan Sonny. Setelah kelas kosong, Sonny berjalan pelan menuju kelas Axel.
Sonny masuk ke kelas Axel yang sudah menunggunya, dan kedua seteru itu saling memandang.
“Apa kabar, bro? Apa yang bisa gua bantu?” tanya Axel ramah kepada seterunya itu, dan suasana tegang langsung cair.
“Baik, bro. Lu sendiri bagaimana?” jawab Sonny berbasa-basi.
“Baik, gua baik,” lalu dia mempersilakan Sonny duduk.
Sonny membuka percakapan, “Begini, bro, pastinya lu sudah dengar gua dan Rommy ada perbedaan visi dan misi soal kegiatan sosial.”
“Terus?”
“Dia terlalu idealis mau bikin Kelelawar Hitam sok suci dengan kegiatan-kegiatan sok sosialnya,” lanjut Sonny.
Axel diam saja dan mendengarkan apa tujuan Sonny, walau dia bisa menebak arah pembicaraannya.
“Aku mau bergabung dengan The Executioners,” kata Sonny dengan pelan.
Persis dengan dugaan Axel bahwa Sonny akan bergabung dengan The Executioners karena hubungannya retak dengan Rommy, lalu dia berkata, “Welcome, bro. Geng kita selalu welcome. Dan gua yakin The Executioners akan tumbuh semakin besar dengan orang-orang seperti lu dan Erick.”
Sonny tersenyum dan menyalami Axel yang pernah menjadi musuh besarnya itu.
Sorenya, Mauren berlatih karate dengan mamanya yang mantan karateka nasional. Waktu itu namanya Pingkan Lontoh sebelum menikah berganti nama jadi Pingkan Korompis. Mauren tampak makin manis dengan balutan kostum karate.
“Dalam karate, kuda-kuda adalah hal yang paling penting,” kata Mama Mauren. “Sekarang kamu berlatih tinju, kuda-kuda dalam karate bisa diterapkan dalam tinju.”
“Mengerti, Ma,” Mauren memperkuat kuda-kuda pada kedua kakinya.
Tiba-tiba Mama Mauren melakukan gerakan ashi barai atau gerakan sapuan dengan kaki pada kaki Mauren. Tapi Mauren sudah siap, dan dia tidak bergeming dengan tendangan ke arah kaki mamanya itu.
“Bagus, bagus,” puji mamanya.
Papa Mauren yang dari tadi menonton mereka berlatih bertepuk tangan melihat kehebatan putrinya.
“Temanmu itu, siapa namanya? Ronny?” tanya Papa Mauren.
“Ya, Rommy. Kapan-kapan diajak main ke sini, biar dilatih kuda-kuda karate oleh Mamamu,” kata Logan. “Menurut pengamatan Papa, dia punya potensi jadi petinju hebat.”
“Kalau dia mau, Pa. Orangnya pemalu soalnya,” jawab Mauren.
Padahal Mauren tidak tahu bahwa Rommy hanya menjadi pemalu saat berhadapan dengan dirinya saja.
Tiba-tiba dia ingat, bahwa dia harus mengirim WhatsApp kepada Rommy menanyakan tugas apa yang dia bisa kerjakan untuk kegiatan sosial mendatang.
“Rom, apa yang bisa aku bantu kerjakan untuk kegiatan sosial mendatang?” tanya Mauren melalui pesan WhatsApp ke Rommy.
“Untuk saat ini bantu me-list barang donasi dan apa-apa yang perlu kita belanjakan,” jawab pesan Rommy. “Terima kasih ya, sudah mau membantuku.”
“Gak apa-apa, Rom,” balas Mauren.
Sehabis mengirim pesan balasan ke Mauren, tiba-tiba ada pesan masuk juga ke WhatsApp Rommy. Dari Erick!
“Rom, kita bisa ketemu di coffee shop ‘Java Whisper’ di Horizon Mall sore ini?” kata Erick di pesan WhatsApp-nya.
“OK,” jawab Rommy langsung memasukkan ruyung dan rantai ke dalam tasnya dan bersiap-siap menemui Erick.