Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Mengalah Lagi
Sudah seminggu sejak kejadian di bukit. Seminggu di mana Asha berusaha menjauhkan diri dari Arsa dan Raya.
Ia datang ke sekolah tepat saat bel berbunyi, dan pulang secepat mungkin setelah jam pelajaran terakhir berakhir.
Setiap kali ia melihat Arsa dan Raya bersama, dadanya terasa sesak. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Karena ia tau, ia tidak punya hak lagi.
🌷🌷🌷🌷
Pagi itu, Asha datang ke kelas dengan wajah yang pucat. Ia tidak tidur dengan nyenyak semalam karena terus memikirkan Arsa.
Saat ia berjalan menuju kursinya, matanya tidak sengaja menangkap pemandangan yang membuat dadanya semakin sesak.
Arsa dan Raya duduk berdampingan di bangku Arsa. Mereka tertawa bersama sembari melihat sesuatu di hp Raya.
"Hmm, Arsa! Lihat nih, ini foto kita waktu SD! Kamu inget gak?" tanya Raya dengan mata yang berbinar.
Arsa menatap layar hp dengan seksama. "Oh iya! Ini waktu kita ikut lomba basket kan? Kita kalah di babak awal."
Raya tertawa sembari memukul lengan Arsa dengan pelan. "Hmm, iya! Kamu waktu itu marah-marah terus karena wasitnya gak adil."
"Emang bener kok! Dia pilih kasih banget" bela Arsa dengan senyuman lebar.
Asha berjalan melewati mereka tanpa berkata apa-apa. Ia duduk di kursinya sembari menundukkan kepala.
Cinta yang sudah lebih dulu datang langsung menghampiri Asha dengan wajah khawatir.
"Sha, lo gak tidur tadi malem ya? Wajah lo pucat banget" bisik Cinta.
Asha menggeleng pelan. "Gapapa. Cuma lagi gak enak badan aja."
"Sha... Lo harus jujur sama gw. Lo masih mikirin Arsa kan?" tanya Cinta dengan nada yang hati-hati.
Asha terdiam. Tangannya mengepal di atas meja.
"Gw... Gw udah nyerah, Cin. Gw udah capek" jawab Asha dengan suara yang bergetar.
Cinta menatap Asha dengan tatapan sedih. Ia tau sahabatnya ini sedang sangat menderita.
"Tapi Sha, lo gak bisa kayak gini terus. Lo harus—"
"Harus apa?" potong Asha dengan nada yang sedikit tinggi. "Lo liat sendiri kan gimana Arsa sama Raya? Mereka... Mereka kayak cocok banget."
Cinta tidak bisa menjawab. Karena memang benar apa yang Asha katakan.
Sejak seminggu terakhir, kedekatan Arsa dan Raya semakin terlihat jelas. Mereka selalu bersama. Tertawa bersama. Menghabiskan waktu bersama.
Dan yang paling menyakitkan bagi Asha, Arsa terlihat begitu bahagia.
🌷🌷🌷🌷
Saat jam istirahat kedua, Asha memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian. Ia ingin menjauh dari keramaian kelas.
Tapi di kantin, ia malah bertemu dengan Arsa dan Raya yang sedang makan bersama di salah satu meja.
Asha langsung berbalik, ingin pergi. Tapi suara Raya menghentikannya.
"Hmm, Asha! Sini, duduk bareng kita!" ajak Raya dengan senyuman ramah.
Asha terdiam di tempatnya. Ia ingin menolak, tapi ia tidak tau harus bilang apa.
Arsa yang melihat Asha juga ikut berkata, "Iya, Asha. Sini."
Dengan langkah yang berat, Asha akhirnya berjalan menuju meja mereka dan duduk di kursi yang berseberangan dengan Arsa.
"Hmm, Asha. Lo tumben sendirian? Cinta mana?" tanya Raya dengan nada penasaran.
"Dia... Dia lagi ke perpus" jawab Asha dengan suara yang pelan.
Raya mengangguk. "Hmm, oh iya. Asha, gw mau cerita nih."
Asha menatap Raya dengan tatapan kosong. "Cerita apa?"
Raya tersenyum lebar. "Hmm, gw mau cerita tentang kehidupan gw sebelum pindah ke sekolah ini."
Arsa yang mendengar itu langsung terlihat tertarik. "Oh iya! Gw juga penasaran. Lo kan pindah gara-gara papa lo dipindah tugas ya?"
Raya mengangguk. "Hmm, iya. Waktu itu papa gw dipindahkan ke Bandung. Gw terpaksa ikut pindah dan bersekolah di sana."
"Gimana rasanya sekolah di sana? Enak gak?" tanya Arsa dengan mata yang berbinar.
Raya tersenyum tipis. "Hmm, awalnya susah. Gw gak punya teman sama sekali. Gw selalu sendirian."
Asha mendengarkan cerita Raya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa kasihan. Tapi di sisi lain, ia merasa cemburu dengan perhatian yang Arsa berikan kepada Raya.
"Tapi lama-lama gw mulai bisa beradaptasi. Gw ikut ekskul basket dan gw ketemu banyak teman di sana" lanjut Raya dengan senyuman.
"Wah, lo ikut basket juga? Sama dong kayak gw!" ucap Arsa dengan nada excited.
Raya mengangguk dengan antusias. "Hmm, iya! Makanya gw seneng banget waktu tau lo juga main basket. Rasanya kayak ketemu teman seperjuangan gitu."
Arsa tertawa kecil. "Kita harus main bareng dong suatu saat. Kayak dulu waktu kita masih kecil."
"Hmm, boleh banget! Gw udah kangen main basket sama lo" ucap Raya dengan pipi yang sedikit merona.
Asha yang mendengar percakapan mereka merasakan dadanya semakin sesak. Ia merasa seperti orang ketiga yang tidak seharusnya ada di sana.
"Hmm, Asha. Lo gapapa? Lo dari tadi diem aja" tanya Raya tiba-tiba dengan nada khawatir.
Asha tersentak. Ia langsung menggeleng cepat. "Gw... Gw gapapa kok."
"Lo yakin? Wajah lo pucat banget" ucap Raya dengan tatapan yang penuh perhatian.
Arsa yang mendengar itu juga ikut menatap Asha dengan tatapan khawatir. "Asha, lo sakit ya?"
Asha merasakan dadanya semakin sesak mendengar nada khawatir di suara Arsa. Nada yang dulu selalu ia dengar, tapi sekarang terasa begitu jauh.
"Gw gapapa. Cuma lagi gak enak badan aja" jawab Asha dengan suara yang hampir berbisik.
"Hmm, mau gw anterin ke UKS?" tawar Raya dengan tulus.
Asha menggeleng cepat. "Gak usah. Gw bisa sendiri."
Sebelum Raya atau Arsa sempat berkata apa-apa lagi, Asha sudah berdiri dari kursinya.
"Gw... Gw duluan ya. Mau ke UKS" ucap Asha sembari berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kantin.
Arsa menatap punggung Asha yang menjauh dengan perasaan yang tidak enak.
'Asha... Dia kenapa ya?' batin Arsa dengan wajah yang penuh tanya.
Raya yang melihat ekspresi Arsa langsung merasa tidak enak. "Hmm, Arsa. Asha kayaknya lagi gak enak badan deh. Kita jenguk dia nanti yuk?"
Arsa mengangguk pelan, tapi pikirannya masih tertuju pada Asha.
🌷🌷🌷🌷
Di UKS, Asha berbaring di ranjang sembari menatap langit-langit dengan mata yang kosong.
Air matanya jatuh tanpa suara. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis dengan keras.
"Kenapa... Kenapa gw gak bisa move on dari dia?" gumam Asha dengan suara yang bergetar.
"Kenapa gw masih berharap kalau Arsa bisa ingat gw? Padahal jelas-jelas dia udah bahagia sama Raya..."
Asha menutup matanya. Di dalam benaknya, ia mengingat semua moment indah yang pernah ia lalui bersama Arsa.
Moment di mana Arsa memeluknya saat ia menangis. Moment di mana Arsa tertawa bersama dengannya. Moment di mana Arsa bilang bahwa ia tidak akan pernah meninggalkannya.
Tapi sekarang... Sekarang semua moment itu hanya tinggal kenangan.
"Gw... Gw harus merelakan lo, Arsa. Gw harus mengalah" bisik Asha dengan air mata yang semakin deras.
"Gw harus ngelepas lo... Biar lo bisa bahagia sama Raya..."
🌷🌷🌷🌷
Sore harinya, Asha pulang dengan perasaan yang begitu berat. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat pelan.
Pikirannya melayang kemana-mana. Ia memikirkan Arsa. Ia memikirkan Raya. Ia memikirkan hubungan mereka yang semakin dekat.
Dan ia memikirkan dirinya sendiri yang semakin terpuruk.
Saat sampai di rumah, Asha langsung masuk ke kamarnya tanpa menyapa ibunya yang sedang menonton tv di ruang tamu.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur sembari memeluk guling dengan erat.
"Gw capek... Gw bener-bener capek..." gumam Asha dengan suara yang pelan.
Hpnya tiba-tiba berdering. Asha melirik layar dan melihat nama Cinta tertera di sana.
Ia tidak mengangkat. Ia tidak ingin berbicara dengan siapapun.
Setelah beberapa kali berdering, hpnya akhirnya berhenti. Tapi tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk.
Cinta:
Sha, lo gapapa? Gw khawatir sama lo. Jawab ya kalau lo udah baca
Asha menatap pesan itu dengan mata yang kosong. Tangannya bergetar saat ia mengetik balasan.
Asha:
Gw gapapa, Cin. Lo gausah khawatir.
Cinta:
Sha, jangan bohong. Gw tau lo lagi gak baik-baik aja. Lo mau gw ke rumah lo?
Asha:
Gausah, Cin. Gw cuma butuh waktu sendirian aja.
Cinta:
Sha... Please, jangan nutup diri. Gw di sini kalau lo butuh temen cerita.
Asha tidak membalas pesan Cinta lagi. Ia mematikan hpnya dan memeluk guling dengan semakin erat.
Air matanya kembali jatuh. Kali ini, ia menangis dengan keras. Ia menangis untuk semua rasa sakit yang ia pendam selama ini.
"Arsa... Gw sayang banget sama lo... Tapi kenapa... Kenapa lo gak bisa ingat gw?" isak Asha di tengah tangisannya.
"Kenapa lo bisa ingat Raya dengan sempurna, tapi lo gak bisa ingat gw?"
"Apa... Apa gw emang gak penting buat lo?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui Asha sepanjang malam. Ia tidak bisa tidur. Ia hanya bisa menangis dan menangis.
Sampai akhirnya, ia tertidur dengan mata yang sembab dan hati yang hancur.
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya, Asha datang ke sekolah dengan wajah yang lebih pucat dari kemarin. Matanya sembab dan terlihat sangat lelah.
Cinta yang melihat Asha langsung menghampiri dengan wajah khawatir.
"Sha! Lo kenapa? Wajah lo kayak orang yang gak tidur semalaman" ucap Cinta dengan nada panic.
Asha tersenyum lemah. "Gw gapapa kok, Cin."
"Sha, please. Lo jangan kayak gini terus. Gw... Gw khawatir sama lo" ucap Cinta dengan mata yang berkaca-kaca.
Asha memeluk Cinta dengan tiba-tiba. Pelukan yang begitu erat. Pelukan yang penuh akan kesedihan.
"Cin... Gw udah gak tau harus gimana lagi" bisik Asha dengan suara yang bergetar.
Cinta membalas pelukan Asha dengan erat. "Sha, gw di sini. Gw akan selalu di sini buat lo."
Mereka berdua berpelukan di tengah kelas yang mulai ramai. Beberapa siswa melirik dengan tatapan penasaran, tapi Asha dan Cinta tidak peduli.
Saat mereka melepaskan pelukan, Asha melihat Arsa dan Raya masuk ke kelas bersama-sama. Mereka tertawa bersama sembari berbagi cerita.
Asha langsung mengalihkan pandangannya. Ia tidak sanggup melihat.
"Cin, gw... Gw udah memutuskan sesuatu" ucap Asha tiba-tiba dengan nada yang tegas.
Cinta menatap Asha dengan tatapan bingung. "Memutuskan apa?"
Asha menarik nafas panjang. "Gw... Gw mau mengalah. Gw mau ngelepas Arsa."
Cinta terdiam mendengar ucapan Asha. "Sha... Lo yakin?"
Asha mengangguk pelan meskipun air matanya mulai jatuh. "Iya. Gw udah gak sanggup lagi ngeliat Arsa bahagia sama orang lain sementara gw di sini terus tersiksa."
"Gw... Gw harus mengalah. Biar Arsa bisa bahagia."
Cinta memeluk Asha lagi. "Sha... Lo kuat. Lo pasti bisa lewatin ini."
Asha mengangguk di pelukan Cinta meskipun hatinya berteriak kesakitan.
'Arsa... Maafin gw. Gw harus ngelepas lo' batin Asha dengan air mata yang semakin deras.
'Selamat... Selamat bahagia sama Raya...'
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Sedih banget! 😭 Asha akhirnya memutuskan untuk mengalah dan ngelepas Arsa. Dia udah gak sanggup lagi ngeliat Arsa bahagia sama Raya sementara dia tersiksa...
Tapi apa bener ini keputusan yang terbaik? Atau Asha bakal nyesel?
Dan gimana dengan Arsa? Apa dia gak ngerasain apa-apa sama Asha?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku