NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sore itu, langit di atas SMA Garuda mendung kelabu, seolah meramalkan badai yang akan pecah. Di taman belakang sekolah yang sepi, aku berdiri menghadap Arkan. Genggamanku pada tali tas begitu erat, ban kapten yang biasanya menjadi kekuatanku kini terasa seperti beban yang mencekik leher.

"Kan, gue mau kita selesai," suaraku bergetar, namun aku memaksanya tetap datar.

Arkan yang tadi sedang tersenyum sambil memegang dua kotak susu cokelat, mendadak mematung. Senyumnya luntur perlahan, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya. "Selesai? Maksud lo... tugas Kimia kita?"

"Hubungan kita, Arkan. Semuanya," balasku, kali ini lebih tegas meski hatiku hancur berkeping-keping. "Lo bakal kuliah di Jakarta. Gue bakal di sini, atau entah di mana. Jarak itu bakal bikin semuanya makin susah. Gue nggak mau nunggu hari di mana lo bakal bosen sama sikap dingin gue dan akhirnya pergi kayak Ayah. Lebih baik kita berenti sekarang, sebelum gue makin hancur."

Hening menyelimuti kami. Hanya ada suara angin yang memainkan daun-daun kering di aspal. Arkan meletakkan susu cokelat itu di bangku taman, lalu melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai jarak kami hanya tersisa beberapa senti.

"Enggak," ucapnya pendek. Tegas. Tanpa ragu.

"Arkan, dengerin—"

"Gak, Nara. Lo yang dengerin gue," potongnya. Matanya yang biasanya jenaka kini menatapku dengan intensitas yang meluap-luap. "Gue nggak mau putus. Dan gue nggak akan setuju."

"Tapi gue nggak bisa kasih apa-apa buat lo, Kan! Enam bulan ini lo cuma dapet punggung gue yang menjauh! Lo pantes dapet cewek yang bisa ketawa lepas bareng lo, bukan cewek yang parnoan kayak gue!" teriakku, air mata yang kutahan akhirnya tumpah.

Arkan meraih kedua bahuku, mencengkeramnya pelan tapi kokoh. "Siapa yang bilang gue butuh cewek lain? Gue butuh lo, Nara. Gue butuh cewek keras kepala yang suka sembunyi di balik buku Kimia ini. Gue nggak peduli kalau gue cuma dapet punggung lo selama enam bulan, setahun, atau sepuluh tahun, asalkan lo masih ada di jangkauan gue."

Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku yang basah. "Lo takut gue pergi kayak Ayah lo? Maka liat gue sekarang. Gue nggak lari, Ra. Gue di sini, dihina, didiemin, ditarik-ulur, tapi gue tetep berdiri di depan lo. Itu belum cukup bukti kalau gue beda?"

Aku terisak, memukul dadanya pelan dengan sisa kekuatanku. "Lo egois, Arkan... lo bikin gue nggak bisa lari..."

"Emang. Gue egois kalau soal lo," Arkan menarikku ke dalam pelukannya, mendekapku sangat erat seolah takut aku akan menguap jika ia melonggarkan sedikit saja pegangannya. "Gue nggak akan biarin lo mutusin ini sendirian. Hubungan ini punya dua orang, dan selama gue masih bilang 'jangan pergi', lo nggak boleh ke mana-mana."

Di bawah gerimis yang mulai turun, aku menyadari bahwa Arkan adalah satu-satunya orang yang berani melawan ketakutanku, bahkan saat aku sendiri sudah menyerah. Tembok yang kubangun selama enam bulan terakhir ternyata tidak cukup tinggi untuk menghalangi laki-laki sekeras kepala Arkana Pradipta.

"Janji sama gue, Ra," bisiknya di puncak kepalaku. "Jangan pernah bilang putus lagi cuma karena lo takut. Takut itu manusiawi, tapi jangan jadiin takut itu alasan buat buang gue."

Aku terdiam dalam pelukannya, mencium aroma parfumnya yang bercampur dengan bau hujan. Aku tidak menjawab, tapi tanganku perlahan bergerak melingkari pinggangnya, membalas pelukannya untuk pertama kali secara sukarela setelah sekian lama.

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!