Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~18
Saat melewati sebuah toko skincare Firman nampak berhenti hingga membuat Marni terlihat kebingungan, apa pria itu ingin membeli sesuatu? lagipula jaman sekarang sudah biasa pria juga menggunakan perawatan kulit.
Firman pun langsung menatapnya. "Mau membeli sesuatu? pilihlah sesukamu!" ucapnya lantas mengajak wanita itu melangkah masuk.
"Tapi mas ..." Marni merasa tak enak hati karena pria itu sudah banyak sekali berbelanja untuknya.
"Ayo tidak enak sama mbak penjaganya jika tidak membelinya, benarkan mbak?" seloroh Firman setelah mereka disambut oleh beberapa penjaga toko tersebut.
Marni pun terpaksa mengambil skincare yang biasa ia gunakan, lumayan mahal karena saran dari mami atau pemilik karaoke untuk menjaga kulitnya agar tetap sehat selain melakukan perawatan di salon kecantikan tentu saja.
"Biar aku yang bayar mas," ucapnya cukup tahu diri namun saat ia hendak mengambil kartu debetnya di dalam tas pria itu sudah mengeluarkan kartunya sendiri lebih dulu.
"Terlambat," tukas pria itu sembari tersenyum jahil.
Marni hanya bisa menghela napasnya, malam ini pria itu begitu banyak menghabiskan uang untuknya pasti tidak cuma-cuma kan?
Malam pun hampir larut dan mereka segera meninggalkan mall tersebut, Marni terlihat diam membisu menunggu hal apa yang akan pria itu minta darinya namun sepatah kata pun tak keluar dari bibirnya dan hanya suara lagu lawas MLTR yang terdengar mengalun indah mengiringi perjalanan mereka dengan sesekali pria itu ikut bernyanyi pelan.
"Terima kasih banyak ya mas, entah bagaimana aku harus membalas semuanya." ucapnya pada akhirnya.
Firman pun mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepalanya. "Nanti saja balasnya setelah kita sudah menikah," ucapnya menanggapi.
Mendengar itu pun Marni nampak tersenyum simpul, mungkin saat ini wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus dan beruntung penerangan di mobil cukup gelap hingga pria itu tak dapat melihatnya.
"Memang mas sudah bicara dengan orang tuanya mas?" ucapnya ingin tahu pendapat mereka.
"Umi dan Abi sedang banyak urusan nanti saat mereka ada waktu aku pasti akan bicara, sabar ya aku yakin mereka takkan mengecewakan kita." sahut pria itu meyakinkan.
Marni mengangguk kecil. "Sepertinya aku yang akan mengecewakan mu, mas." gumamnya dalam hati.
Tak terasa satu jam telah berlalu dan kini mereka sudah sampai di kampungnya, Marni yang baru turun dari mobil langsung melambaikan tangannya setelah sebelumnya kembali mengucapkan rasa terima kasih kepada pria itu.
Beberapa kantung belanjaan pun sudah berada di tangannya, kedua adiknya pasti senang nanti apalagi pakaian yang dibelikan oleh Firman lumayan mahal.
"Ck, anak gadis jam segini baru pulang." sindir Astuti ketika melihat Marni baru masuk ke dalam pekarangan rumahnya, sebelumnya ia mendengar suara mobil makanya langsung keluar entah mobil siapa paling taksi online pikirnya.
Marni tersenyum tipis menatapnya. "Habis temani mas Firman belanja pakaian untuk remaja mushola mbak sekalian aku belanja pakaian untuk hari raya," sahut Marni menanggapi.
Astuti sedikit terkejut mendengarnya, rupanya bersama Firman. "Banyak uang ya bisa belanja baju di mall," ucapnya sambil melirik kantung belanjaan wanita itu yang berlogo sebuah departemen store terbesar di mall.
"Kan aku kerja mbak, kalau mbak Astuti enak tinggal minta sama mas Joko saja." tukas Marni lagi, lebih baik wanita itu tidak tahu jika semua belanjaannya dibelikan oleh Firman karena bisa-bisa akan menjadi gosip satu kampung esok hari.
"Ya iya lah makanya cari suami yang benar biar tidak hidup susah, tapi laki-laki benar juga mikir-mikir kalau mau cari istri jika terlalu miskin juga pasti akan merepotkannya tidak sepertiku sebelum menikah sudah punya warisan rumah ini." ujar Astuti dengan pongahnya namun Marni hanya tersenyum menanggapinya.
"Benar beruntung sekali mas Joko punya mbak Astuti semoga saja mas Joko selalu setia ya mbak, baiklah Marni masuk dulu." tukasnya lantas berlalu masuk karena malam telah larut.
"Tunggu apa maksudmu?" Astuti nampak kesal namun wanita itu sudah terlanjur masuk ke dalam rumahnya.
"Tentu saja mas Joko sangat setia lagipula rugi baginya jika selingkuh karena tidak akan punya apa-apa," imbuhnya meyakinkan dirinya sendiri.
Suaminya itu baginya adalah family man, dimana sangat sayang keluarga. Selalu mengusahakan apapun yang ia minta dan juga anak-anaknya, saat di rumah pun pria itu tak pernah keluyuran kecuali bersama anak istrinya, selain itu juga sangat rajin membantunya membersihkan rumah maupun menjaga anak-anaknya.
Kini Marni nampak disambut oleh keluarganya yang terlihat kaget dengan barang belanjaan wanita itu. "Ya Allah nak, ini semua kamu yang belanja?" ujar sang ibu ketika melihat kedua putranya sedang membongkar barang belanjaan yang diberikan oleh sang kakak.
"Tadi aku membantu mas Firman beli beberapa pakaian untuk remaja masjid lalu sekalian dia belikan untuk Marwan dan juga Mahesa," sahut Marni menjelaskan kepada ibunya.
"Kamu dibelikan juga?" tanya sang ibu ingin tahu sembari melirik kantung belanjaan lainnya yang belum dibuka.
Marni pun mengangguk kecil namun tak berniat membukanya di depan sang ibu karena tak ingin wanita itu berpikiran macam-macam lagipula sebelumnya sudah ia belikan ayah dan ibunya itu pakaian baru dari kota saat ia pulang waktu itu.
"Baiklah, Marni sangat capek bu ingin langsung beristirahat dan untuk kalian berdua besok pergilah ke mushola bersama para remaja lain untuk berterima kasih kepada mas Firman." tukasnya seraya beranjak dari duduknya sambil membawa barang belanjaannya.
"Siap mbak." sahut Marwan yang nampak sangat senang dengan pakaian yang diberikan oleh Firman.
"Jika royal seperti ini siapa juga yang menolaknya menjadi kakak ipar, benarkan bu?" imbuh pemuda itu lagi namun sontak membuat Marni yang berada diambang pintu kamarnya langsung berhenti.
"Jangan berpikiran macam-macam, kalian dibelikan sama seperti para remaja masjid lainnya dan mbak Marni dibelikan juga sebagai upah lelah." ucapnya memberikan sanggahan, keluarganya harus diberikan peringatan sebelum menggosip yang tidak benar dengan para tetangganya esok hari beruntung si biang gosip tetangganya itu juga tidak mencurigai hubungannya dengan Firman dan malah tak percaya dengan kedekatan mereka tapi baguslah karena ia takkan semakin dipojokkan.
Sementara itu Firman yang baru sampai rumahnya nampak melihat kedua orang tuanya belum tidur dan masih bersantai di ruang tamunya yang berada di teras rumahnya, sepertinya mereka sedang menunggunya.
"Assalamu'alaikum," ucapnya memberikan salam.
"Wa'alaikumsalam," sahut keduanya.m bersamaan.
"Darimana nak?" ucap sang ibu menatapnya.
Firman pun segera duduk tak jauh dari mereka. "Belanja pakaian untuk anak-anak mushola, Mi." sahutnya jujur.
"Dengan nak Marni?" tukas sang ayah to the point.
Firman pun langsung menatap ayahnya tersebut lantas mengangguk kecil, apakah ini saatnya ia berbicara serius kepada mereka? karena akhir-akhir ini kedua orang tuanya lumayan sibuk terlebih ibunya yang lebih banyak menghabiskan waktunya di pondok pesantren milik pamannya tersebut.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu