NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Sabotase dalam Senyap

​Minggu pertama proyek kolaborasi "Sains Terapan untuk Masyarakat" dimulai dengan atmosfer yang lebih mirip dengan ruang sidang daripada laboratorium sekolah. Sebagai Ketua Koordinator Regional, Senara memiliki hak penuh untuk menentukan jadwal riset lapangan. Namun, sebagai Wakil Koordinator yang memegang kendali atas fasilitas dan logistik, Bima memiliki kekuatan untuk membuat setiap rencana Senara menjadi jalan buntu yang menyakitkan.

​Dendam Bima atas kekalahannya di pemilihan ketua tempo hari telah bermutasi menjadi sebuah strategi sabotase yang sangat rapi. Ia tidak lagi membentak atau berteriak. Sebaliknya, ia menjadi sangat tenang, ketenangan seorang predator yang sedang memasang perangkap di setiap langkah mangsanya.

​"Jadwal riset pertama kita adalah pengambilan sampel air di lima titik aliran sungai pinggiran kota," ujar Senara dalam rapat pleno di ruang OSIS SMP Super Internasional. Ia membagikan selebaran kertas hasil fotokopi buram kepada sepuluh anggota tim gabungan. "Kita akan menguji tingkat keasaman dan polusi mikroplastik menggunakan metode filtrasi bertingkat yang sudah kita sepakati."

​Bima, yang duduk di kursi empuknya dengan laptop terbuka, hanya tersenyum tipis. Ia bahkan tidak melihat kertas yang dibagikan Senara.

​"Ide bagus, Ketua," suara Bima terdengar halus, namun ada nada sarkasme yang tajam di dalamnya. "Tapi, sebagai wakil yang bertanggung jawab atas logistik, aku harus mengingatkanmu. Bus sekolah kami tidak bisa masuk ke area sempit di titik ketiga dan keempat yang kamu tentukan. Dan menurut SOP keselamatan sekolah kami, siswa dilarang berjalan kaki lebih dari satu kilometer di area yang dianggap tidak steril tanpa pengawalan."

​Senara meletakkan pulpennya dengan keras. "Area itu tidak steril karena itu adalah area terdampak, Bima! Kita tidak bisa meneliti polusi sungai kalau kita hanya berdiri di jembatan beton yang bersih, kita harus turun ke bantaran."

​"Kalau begitu, silakan kamu turun sendiri," balas Bima santai sambil memutar layar laptopnya, menunjukkan grafik cuaca. "Data BMKG menunjukkan kemungkinan hujan tinggi di area itu besok siang. Jika kamu memaksakan tim masuk ke bantaran itu dan terjadi banjir bandang atau kecelakaan, itu adalah tanggung jawabmu secara hukum sebagai ketua. Apa kamu siap menanggung risiko itu di usiamu yang baru empat belas tahun?"

​Para anggota tim dari SMP Internasional mulai saling berpandangan, mereka tampak ragu, ketakutan yang ditanamkan Bima mulai bekerja. Senara mengepalkan tangannya di bawah meja. Bima tidak sedang menjaga keselamatan, dia sedang melumpuhkan otoritas Senara dengan menggunakan aturan birokrasi yang kaku.

​"Kita tetap berangkat," desis Senara. "Titik ketiga dan keempat adalah jantung dari riset ini. Kalau kita hapus, data kita tidak valid. Aku yang akan bertanggung jawab."

​"Dicatat, Sekretaris," ujar Bima dengan nada dingin. "Ketua Senara bersedia menanggung risiko kecelakaan kerja demi data."

​Keesokan harinya, sabotase Bima masuk ke tahap yang lebih teknis. Saat tim sampai di lokasi dengan susah payah karena Bima sengaja memerintahkan sopir bus untuk memutar jalan dengan alasan keamanan rute, Senara mendapati bahwa peralatan laboratorium yang dibawa dari SMP Super Internasional tidak lengkap.

​"Mana tabung reaksi vakum dan kertas indikator universalnya?" tanya Senara saat mereka membongkar kotak logistik di pinggir sungai yang bau.

​Dion, kaki tangan Bima, mengangkat bahu. "Maaf, Nara. Bima bilang semua alat itu sedang dikalibrasi ulang di lab pusat karena ada instruksi mendadak dari dinas. Kami hanya membawa alat-alat standar."

​Senara menoleh ke arah Bima yang berdiri agak jauh, mengenakan sepatu bot mahal dan jaket tahan air, tampak sangat kontras dengan pemandangan kumuh di sekitarnya. Laki-laki itu sedang pura-pura sibuk mengambil foto dokumentasi dengan kamera DSLR nya.

​Senara berjalan menghampirinya, sepatunya tenggelam di lumpur hitam yang menjijikkan. "Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja menghambat riset ini agar aku terlihat gagal di depan Pak Darmono!"

​Bima menurunkan kameranya, menatap Senara dengan pandangan meremehkan. "Aku hanya mengikuti protokol, Senara. Alat mahal butuh perawatan. Kalau kamu ingin risetmu jalan, gunakan saja peralatan praktis andalanmu itu. Bukankah kamu bilang sains bisa dilakukan dengan apa saja? Mana botol bekasmu? Mana saringan kainmu? Tunjukkan pada kami kejeniusan rakyatmu itu."

​Amarah Senara sudah mencapai ubun-ubun. Ia merasa ingin melempar Bima ke dalam sungai yang penuh limbah itu. Namun, ia tahu itu yang diinginkan Bima. Bima ingin Senara meledak, kehilangan kendali, dan terlihat tidak kompeten sebagai pemimpin.

​"Baik," ucap Senara, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Kita akan pakai cara manual. Semua tim, dengarkan! Kita tidak butuh tabung vakum. Kita akan gunakan botol mineral yang sudah disterilisasi dengan air mendidih. Kita akan lakukan pengujian pH menggunakan ekstrak kunyit yang aku bawa sebagai indikator alami."

​Bima tertawa pendek, suara tawa yang sangat menghina. "Indikator kunyit? Kita sedang mengerjakan proyek regional, bukan sedang praktikum IPA kelas empat SD di belakang rumah."

​"Sains tidak butuh alat mahal untuk menjadi benar, Bima! Sains butuh otak yang bisa berpikir saat alatnya tidak ada!" teriak Senara.

​Selama empat jam berikutnya, Senara bekerja seperti orang kesurupan. Ia turun langsung ke air yang kotor, mengambil sampel dengan tangannya sendiri, sementara Bima hanya berdiri di bagian yang kering, mencatat setiap kegagalan kecil dan ketidakrapian kerja Senara ke dalam tabletnya. Bima sedang menyusun laporan kegagalan untuk menjatuhkan Senara pada rapat evaluasi bulanan nanti.

​Sabotase tidak berhenti di lapangan. Saat mereka kembali ke sekolah untuk menyusun data, Bima menggunakan keahliannya dalam mengolah kata dan grafik, ia menyusun laporan tandingan. Ia membuat simulasi digital yang menunjukkan bahwa metode manual Senara memiliki tingkat margin of error yang sangat tinggi dibandingkan jika menggunakan alat digital miliknya.

​Bima sengaja mengirimkan data simulasi itu ke grup obrolan tim di tengah malam, saat Senara mungkin sudah tertidur karena kelelahan fisik.

​“Evaluasi Teknis: Penggunaan indikator alami (kunyit) oleh Ketua Senara memiliki deviasi hingga 15%. Data hari ini kemungkinan besar tidak akan diterima oleh dewan penilai jika tidak dilakukan uji ulang dengan sensor digital milik SMP Super Internasional. Saya menyarankan restrukturisasi kepemimpinan riset.”

​Pesan itu adalah bom waktu. Senara, yang baru saja selesai mencuci seragamnya yang penuh lumpur, melihat pesan itu dengan mata yang pedih. Ia tidak menyangka Bima akan bertindak sejauh itu. Bima tidak hanya ingin menang, dia ingin menghancurkan kredibilitas Senara sampai ke akarnya.

​Senara tidak membalas pesan itu di grup. Ia langsung menelepon nomor pribadi Bima.

​"Apa maumu, Bima?" suara Senara terdengar parau namun tajam.

​"Mauku?" Bima menjawab dengan suara yang tenang, terdengar bunyi denting gelas di latar belakang, mungkin dia sedang minum jus di kamarnya yang mewah. "Aku hanya menjalankan tugasku sebagai wakil, untuk melindungi integritas data proyek ini dari metode purba yang kamu paksakan."

​"Kamu berbohong! Kamu sengaja menahan alat-alat itu agar metodemu terlihat sebagai satu-satunya solusi!"

​"Membuktikannya adalah hal yang mustahil bagi orang sepertimu, Senara," ucap Bima dingin. "Dengar, besok adalah rapat dengan Pak Darmono. Aku akan mempresentasikan data simulasiku. Jika kamu tidak ingin dipermalukan, lebih baik kamu mundur dan serahkan posisi ketua padaku. Kamu tetap bisa jadi asisten riset, itu posisi yang lebih cocok untukmu."

​"Dalam mimpimu, Bima!" Senara membanting ponselnya ke kasur.

​Amarah Senara kini berubah menjadi tekad yang membara. Ia tahu ia tidak bisa melawan Bima dengan fasilitas. Ia harus melawan Bima dengan sesuatu yang tidak dimiliki laki-laki itu, keakuratan hasil yang tak terbantahkan.

​Sepanjang malam itu, Senara tidak tidur. Ia melakukan kalibrasi mandiri. Ia membandingkan hasil uji kunyitnya dengan data sekunder dari dinas lingkungan hidup yang ia cari lewat internet gratis di balai desa. Ia menyusun argumen yang begitu detail, menjelaskan mengapa dalam kondisi air sungai yang penuh logam berat tertentu, sensor digital Bima justru akan mengalami glitch karena interferensi elektromagnetik limbah, sedangkan reaksi kimiawi manual tetap stabil.

​Hari rapat evaluasi akhirnya tiba. Aula rapat terasa sangat dingin. Darmono duduk di tengah, menatap dua remaja SMP itu dengan tatapan menyelidik.

​Bima maju lebih dulu. Ia memaparkan presentasi yang sangat memukau secara visual. Grafik-grafik 3D bergerak di layar, menunjukkan kegagalan metode Senara. Ia bicara dengan penuh wibawa, memposisikan dirinya sebagai penyelamat proyek yang hampir hancur karena ketidakprofesionalan sang ketua.

​"Oleh karena itu," Bima mengakhiri presentasinya. "Saya mengusulkan agar kendali riset sepenuhnya diambil alih oleh tim teknologi SMP Super Internasional agar kita tidak membuang-buang waktu lagi."

​Darmono menoleh ke arah Senara. "Senara, apa pembelaanmu? Data yang disajikan Bima sangat masuk akal secara teknis."

​Senara berdiri. Ia tidak membawa laptop mewah. Ia hanya membawa selembar kertas besar berisi tabel perbandingan manual dan beberapa botol sampel air yang ia ambil kemarin.

​"Bima benar soal satu hal, bahwa teknologi itu hebat," buka Senara, suaranya tenang namun penuh otoritas. "Tapi Bima lupa satu hal... yang sangat dasar. Sensor digital seri-X yang ingin ia gunakan memiliki batas toleransi salinitas tertentu. Air sungai yang kita teliti kemarin mengandung limbah klorida dari pabrik tekstil di titik keempat. Bima, apa kamu tahu apa yang terjadi pada sensor digitalmu jika terkena klorida tinggi tanpa pelindung khusus?"

​Bima mengerutkan kening. "Tentu saja sensor itu bisa mengompensasi..."

​"Tidak bisa," potong Senara telak. "Sensor itu akan membaca nilai pH lebih rendah 2,0 dari aslinya karena reaksi oksidasi pada elektrodanya. Sedangkan metode titrasi manual yang aku lakukan tidak terpengaruh oleh klorida. Ini adalah data pembanding dari laboratorium dinas untuk sungai yang sama bulan lalu."

​Senara menyodorkan kertas datanya ke Darmono. "Hasil uji manualku hanya selisih 0,05 dengan data dinas, sedangkan simulasi digital Bima justru meleset jauh karena dia tidak memperhitungkan faktor kimiawi limbah lapangan. Dia hanya belajar dari buku, Pak. Dia tidak tahu bau sungai yang sebenarnya."

​Wajah Bima berubah dari pucat menjadi merah padam. Ia tidak menyangka Senara akan meneliti sampai ke spesifikasi teknis alat yang bahkan belum ia keluarkan dari gudang.

​Darmono memeriksa data Senara dengan teliti, ia kemudian menatap Bima dengan kecewa. "Bima, presentasimu bagus, tapi Senara benar. Di lapangan, realitas seringkali berbeda dengan simulasi komputer. Kamu terlalu fokus menjatuhkan metode ketuamu sampai kamu lupa melakukan riset dasar pada alatmu sendiri."

​"Tapi Pak..."

​"Cukup," potong Darmono. "Senara tetap menjadi ketua. Dan Bima, aku ingin kamu memberikan akses penuh pada semua alat laboratorium tanpa alasan kalibrasi lagi. Jika aku mendengar ada hambatan logistik lagi, aku akan mencoret namamu dari daftar portofolio Garuda."

​Rapat berakhir dengan kemenangan telak bagi Senara. Bima keluar dari ruangan dengan langkah cepat, namun Senara mengejarnya di koridor.

​"Bima!" panggil Senara.

​Bima berhenti dan berbalik, matanya berkilat penuh kebencian. "Kamu puas sekarang? Kamu mempermalukanku di depan Pak Darmono!"

​"Aku tidak mempermalukanmu, Bima. Kamu mempermalukan dirimu sendiri dengan mencoba menyabotase proyek kita," balas Senara, berdiri tepat di depan Bima. "Kamu sangat pintar, tapi kamu terlalu sombong untuk melihat bahwa orang lain juga punya otak. Berhenti bermain-main, Bima. Kalau kamu terus begini, bukan aku yang akan hancur, tapi portofoliomu sendiri."

​Bima tertawa getir. "Kamu pikir ini sudah selesai? Kamu baru saja menyulut api yang lebih besar, Senara. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya dihina oleh seseorang yang bahkan tidak bisa membeli alat tulis yang layak."

​"Dendammu hanya akan membuatmu buta, Bima," ucap Senara sambil berjalan melewati Bima. "Dan di proyek ini, aku tidak akan membiarkan orang buta menyetir jalanku."

​Bima menatap punggung Senara yang menjauh. Amarahnya kini tidak lagi berupa ledakan, melainkan api dingin yang merambat. Ia menyadari bahwa Senara adalah lawan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Gadis itu tidak memiliki fasilitas, tapi dia memiliki insting bertahan hidup yang membuatnya mampu membaca setiap langkah Bima.

​Di pertengahan semester satu ini, persaingan mereka telah mencapai level baru. Ini bukan lagi soal nilai harian, tapi soal perang intelektual di mana sabotase, strategi, dan ketahanan mental menjadi senjatanya. Bima bersumpah di dalam hatinya, ia akan menghancurkan Senara dengan cara yang tidak akan pernah bisa gadis itu duga. Bukan di lapangan, tapi di sistem yang lebih besar yang tidak bisa disentuh oleh botol bekas dan kunyit.

​Dua remaja itu kembali ke dunia masing-masing, membawa dendam yang semakin mengakar, bersiap untuk babak sabotase berikutnya yang akan lebih gelap dan lebih kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!