"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Puncak Ketegangan
## **Bab 25: Puncak Ketegangan Bagian 1**
"Mundur!" teriak Kenzi, suaranya menggelegar di dalam labirin cermin yang penuh dengan neon neon yang kacau.
Alana membeku, memandangi Kenzi yang baru saja melakukan pertarungan singkat di luar dengan Vero. Cermin-cermin di sekeliling mereka memantulkan ekspresi Kenzi yang dingin dan machine-like, serta Alana yang shock dan bingung.
"Tidak ada waktu!" desis Kenzi.
*Analisis Internal: Paket bom di kamar Alana. Tipe: C4 dengan detonator radio. Timer: Est. 12 menit. Lokasi: 12 km dari posisi saat ini. Variabel: Kemacetan lalu lintas.*
"Apa yang terjadi, Kenzi? Kenapa kau..." Alana mencoba bicara, tapi Kenzi sudah menarik lengannya dengan keras.
"Organisasiku baru saja mengirim pesan. Paket bom sedang dalam perjalanan ke kamarmu," Kenzi menjelaskan dengan singkat, suaranya datar seperti mesin. "Vero hanya umpan untuk menjebakku di sini. Mereka ingin kita berdua mati."
Alana terbelalak. "Bom? Di kamarku? Tapi... bagaimana..."
"Pikirkan naifmu nanti! Jika kita tidak sampai dalam 10 menit, kamarmu akan jadi debu!"
---
Kenzi menyeret Alana keluar dari wahana Rumah Kaca, mengabaikan kerumunan taman hiburan yang panik. Mereka berlari ke arah parkiran. Di sana, sebuah SUV hitam tanpa plat nomor—yang merupakan mobil Vero—menunggu. Kenzi memaksa Alana masuk.
"Kau tahu cara mengendarai mobil ini?" tanya Kenzi kaku, matanya memindai area.
"T-Tentu! Ayah selalu memaksaku belajar..."
"Bagus. Berikan padaku kunci biometriknya. Kau akan mengemudi," Kenzi memerintah, suaranya kaku dan tanpa nada.
Alana memberikan kuncinya, jemarinya gemetar hebat. Kenzi menggunakannya untuk menyalakan mesin. SUV itu menderu.
"Kenzi, bagaimana dengan perban di bahumu? Kau berdarah lagi..."
"Ini bukan variabel operasional, Nona. Fokus pada rel!" Kenzi membanting pintu mobil.
*Diagnosis Internal: Perdarahan internal skala 6/10. Reaksi biologis (peningkatan denyut nadi, keringat dingin) ditekan melalui teknik kontrol otonom level 5. Fokus pada detonasi bom.*
---
Mereka bergerak melalui lalu lintas Jakarta yang padat, menderu dengan kecepatan yang tak logis. Alana mengemudi dengan liar, napasnya tersengal. Kenzi duduk di sampingnya, matanya terus memindai lalu lintas.
*Analisis Taktis: Rute evakuasi darurat di perimeter luar. Probabilitas kemacetan di Jembatan Ciliwung: 85%. Harus dialihkan ke rute alternatif.*
"Dialihkan ke jalur darurat di sektor 3, Nona!" Kenzi memerintah, suaranya kaku dan penuh penekanan.
"Kenzi, aku takut! Aku tidak bisa berpikir..."
"Bernapaslah melalui hidung. Ketakutan adalah mekanisme pertahanan kontrak. Jika kau tidak bisa berpikir, biarkan aku yang berpikir untukmu!"
---
Mereka sampai di gerbang kediaman Wijaya. Bram dan tim taktis Wijaya telah menunggu dengan mode paranoia penuh. Bram melihat perban di bahu Kenzi dan wajah Alana yang pucat.
"Amankan Nona Alana! Tim pembersih bomba ke kamar Nona Alana!" perintah Bram, nadanya keras. "Kau bertahanlah, anak baru. Jangan mati sebelum aku menyelesaikan interogasiku."
"Bomba di kamar Nona Alana, Bram! Tipe C4!" desis Kenzi.
Kenzi tidak menunggu respon Bram. Ia bergerak cepat, rasa nyeri di bahunya diabaikan sepenuhnya. Ia berlari menuju kamar Alana, rasa sakit yang meledak di bahunya ditekan sistematis. Ia tahu unit taktis Wijaya akan tiba dalam hitungan menit, namun Kenzi tidak bisa membiarkan mereka menyentuh paket itu. Chip pelacak biologis di balik perbannya terus mengirimkan anomali data.
"Hentikan, Kenzi! Kau gila!" teriak Bram dari koridor.
"Ini urusan operasional tingkat 4, Bram! Paket bom harus diredam di detik terakhir!" balas Kenzi kaku.
---
Kenzi menerobos masuk ke kamar Alana. Paket tersebut—sebuah kotak karton sederhana—diletakkan di atas tempat tidur. Timer radio yang terpasang di atasnya menunjukkan: 00:15.
*Analisis Internal: Tipe: C4. Detonator radio. Protokol pelucutan taktis level 7.*
Tanpa ragu, Kenzi mengeluarkan chip pelacak biologis dari perbannya. Ia tahu Chip tersebut memiliki sensor frekuensi yang bisa mendistorsi sinyal detonator radio.
*Diagnosis Internal: Nyeri akut, skala 9/10. Reaksi biologis ditekan melalui kontrol otonom level 5. Fokus pada pelucutan bom.*
Dengan jemari yang bergetar namun presisi, Kenzi menekan chip tersebut ke timer radio. Sinyal taktis di rongga telinganya menderu, memperingatkan organisasi bahwa Chip pelacak biologisnya telah aktif.
*10 detik... 5 detik... 2 detik... 1 detik...*
00:00.
Bom tidak meledak.
Kenzi menarik napas perlahan. Ia merasakan kehangatan yang merembes ke perban di bahunya. Ia telah melumpuhkan bom tersebut di detik terakhir, sebuah anomali emosional yang ia sendiri tidak pahami. Logikanya akhirnya mengambil keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Ia tidak lagi peduli pada instruksi "Atas". Ia hanya peduli pada satu variabel yang kini berdiri ketakutan di balik cermin-cermin itu.
"Ini monster..." bisik Kenzi parau.
"Kenzi!" Alana berlari masuk ke dalam ruangan, tangannya masih memegang ujung kemeja Kenzi yang bersimbah darah.
Kenzi menatap mata Alana. Di tengah rasa sakit yang berdeut, ia melihat pantulan dirinya—sebuah anomali emosional yang ia sebut 'bug'. Baginya, menyelamatkan Alana adalah kalkulasi untuk menjaga aset tetap utuh, sebuah tindakan non-optimal bagi seorang pengawal dalam kondisi penyamaran yang mulai terbongkar. Namun, saat itu, logikanya seakan lumpuh oleh dorongan insting yang tidak logis.
Malam itu, di tengah kemeriahan pesta yang telah runtuh, Alana menyadari satu hal: Bahaya terbesar bukanlah orang-orang bermasker yang ingin membunuhnya, melainkan pria yang kini sedang berdiri di hadapannya—pria yang hatinya benar-benar dingin sekeras es. Perang dingin di dalam kediaman Wijaya baru saja dimulai.