Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Tidak Relevan
Pagi di Kadipaten Mataram terasa berbeda.
Para bangsawan berkumpul di pendopo utama. Bukan untuk pesta, tapi untuk mendengar perkembangan kasus kematian Ki Demang.
Adipati Sasongko duduk di kursi kebesaran. Wajahnya tegang. Di sampingnya, para penasihat berbisik-bisik.
Sawitri duduk di kursi kayu di sisi kanan. Wajahnya datar, tak terusik oleh hiruk-pikuk di sekelilingnya.
Cakrawirya berdiri di belakangnya, bersandar di pilar. Matanya awas mengamati setiap orang yang masuk.
Jatmiko duduk di seberang, menyandang gelar kebangsawanannya dengan santai. Ia tersenyum kecil melihat Cakrawirya.
“Rapat resmi, Kakang. Kau tidak dapat kursi?”
“Kulo lebih suka berdiri,” jawab Cakrawirya dingin. “Pemandangan lebih jelas.”
Jatmiko terkekeh. “Menjaga betul.”
Sawitri mengabaikan mereka. Matanya pada gulungan lontar di tangannya, laporan pencarian Mbok Ranti yang belum membuahkan hasil.
Pintu pendopo terbuka.
Tumenggung Danurejo masuk dengan langkah berat. Di belakangnya, Nyai Selir Sukmawati melenggang anggun dengan senyum tipis.
Sawitri tidak menoleh. Tapi sudut matanya menangkap kehadiran mereka.
Danurejo duduk di kursi yang disediakan. Sukmawati di sampingnya, seperti biasa.
“Adipati,” sapa Danurejo. “Kudengar ada perkembangan baru?”
Adipati Sasongko mengangguk. “Ndara Tabib baru saja memeriksa jenazah Ki Demang. Hasilnya mengejutkan.”
Ia menatap Sawitri. “Silakan, Ndara.”
Sawitri bangkit. Melangkah ke tengah pendopo.
Semua mata tertuju padanya.
“Ki Demang Suryanegara dibunuh,” ucapnya datar.
“Dengan racun dari ikan buntal.”
Ruangan bergemuruh.
“Ikan buntal?” seru seorang penasihat. “Itu makanan terlarang di istana!”
“Tepat.” Sawitri menatapnya. “Racun ini sangat langka. Hanya orang dengan akses ke dapur istana yang bisa mendapatkannya.”
Sukmawati menyeringai tipis. “Ndara Tabib menuduh orang istana?”
“Kulo tidak menuduh.” Sawitri menatapnya. “Kulo menyampaikan fakta.”
Danurejo mengerutkan kening. “Tapi siapa pelakunya?”
“Kami sedang menyelidiki.” Sawitri kembali ke kursinya.
“Juru masak Ki Demang, Mbok Ranti, menghilang. Dia saksi kunci.”
Wirapati menambahkan, “Kami sudah menyebar orang untuk mencarinya.”
Jatmiko angkat bicara. “Aku bisa bantu. Aku punya kenalan di pelabuhan. Mungkin dia mencoba kabur lewat laut.”
Adipati mengangguk. “Terima kasih, Raden.”
---
Pertemuan baru saja akan dilanjutkan ketika Jatmiko berdiri.
Ia melangkah ke tengah, tepat di hadapan Sawitri.
“Ndara Tabib.”
Sawitri menatapnya. “Raden?”
Jatmiko tersenyum. Senyum yang berbeda dari biasanya. Lebih... serius.
“Kulo ingin menyampaikan sesuatu di hadapan para bangsawan ini.”
Ruangan hening.
Cakrawirya mendorong tubuhnya dari pilar. Matanya menyipit.
“Kulo, Raden Mas Jatmiko, putra ketiga Sultan Mataram, secara resmi menawarkan perlindungan kepada Ndara Sawitri.”
Gemuruh lagi. Lebih keras.
“Perlindungan?” ulang Adipati.
“Nggih.” Jatmiko menatap Sawitri. “Dengan segala hormat, situasi semakin berbahaya. Ancaman dari Demak, intrik di Kadipaten, dan sekarang pembunuhan berantai. Ndara Sawitri butuh pelindung.”
Ia menjeda. “Dan kulo bersedia menjadi pelindung itu.”
Sukmawati tersenyum sinis. Danurejo mengerutkan kening.
Cakrawirya diam. Tapi tangannya mengepal di balik lengan baju.
Sawitri menatap Jatmiko tanpa ekspresi.
“Raden, kulo—”
“Sebagai istri?” potong Cakrawirya tiba-tiba.
Semua menoleh.
Cakrawirya melangkah maju. Wajahnya datar, tapi matanya gelap.
“Jatmiko, kau menawarkan perlindungan sebagai apa? Sebagai pangeran? Atau sebagai calon suami?”
Jatmiko tersenyum lebar. “Kakang cemburu?”
“Kulo hanya bertanya.” Cakrawirya berhenti di samping Sawitri. “Karena tawaran pangeran yang baru belajar perang ini terdengar seperti... basa-basi.”
Udara di pendopo membeku.
Jatmiko tidak tersinggung. Ia justru tertawa.
“Baru belajar perang? Kakang, aku sudah tiga tahun memimpin pasukan di perbatasan timur. Mungkin tidak sebanyak pengalamanmu, tapi cukup untuk tahu cara melindungi wanita.”
“Melindungi?” Cakrawirya tersenyum sinis. “Atau mengurung?”
“Sama sekali tidak.” Jatmiko menatap Sawitri. “Sawitri, kau bebas melakukan apa pun. Tapi kau akan memiliki prajuritku yang menjagamu 24 jam. Rumah aman di istana. Akses ke semua informasi. Bagaimana menurutmu?”
Sawitri mengamati mereka bergantian.
Cakrawirya: otot rahang menegang, denyut nadi di leher meningkat, napas sedikit memburu. Iritasi tingkat tinggi.
Jatmiko: senyum mengembang, tapi bahu tegang, tangan kanan meraba keris kecil di pinggang. Respons defensif.
Dua ekor singa memperebutkan wilayah.
Dan wilayah itu adalah dirinya.
Menarik. Tapi tidak relevan.
“Kulo bukan ternak yang butuh kandang.”
Satu kalimat. Dingin. Tegas.
Jatmiko tertegun. Senyumnya memudar.
Cakrawirya tidak bereaksi, tapi sudut bibirnya berkedut.
“Sawitri, maksudku bukan—”
“Kulo paham maksud Raden.” Sawitri memotong. “Tapi kulo tidak butuh perlindungan. Kulo butuh kerja sama. Dan kulo sudah memilikinya.”
Ia menatap Cakrawirya sekilas.
Jatmiko menangkap itu. Matanya menyipit.
“Kerja sama dengan Kakangku? Apa yang dia tawarkan?”
“Informasi. Data. Jaringan.” Sawitri kembali menatapnya.
“Itu yang kulo butuh. Bukan prajurit, bukan kandang.”
Jatmiko diam sejenak. Lalu tersenyum lagi. Tapi kali ini berbeda.
“Baik. Kalau begitu, aku tawarkan jaringan istana. Aku punya akses ke dapur, ke para abdi dalem, ke informasi yang tidak bisa didapat Cakrawirya dari medan perang.”
Ia melangkah mendekat.
“Aku tidak akan mengurungmu, Sawitri. Aku hanya ingin membantumu. Sebagai mitra.”
Cakrawirya mendengus. “Mitra yang baru muncul setelah kasus ini terkenal.”
Jatmiko menoleh. “Kakang, kau benar-benar tidak suka aku, ya?”
“Kulo tidak suka orang yang memanfaatkan situasi.”
“Aku memanfaatkan? Aku tulus membantu!”
“Tulus?” Cakrawirya tersenyum dingin. “Kau pikir kulo tidak tahu motifmu? Setelah ini, kau akan pulang ke istana dengan membawa cerita bahwa kau pahlawan yang melindungi tabib terkenal. Popularitasmu naik. Pengaruhmu bertambah.”
Jatmiko terdiam.
Sawitri mengamati.
Diamnya Jatmiko... menarik. Bukan karena tersinggung. Tapi karena ditebak.
“Itu bukan motif utamaku,” bantah Jatmiko akhirnya.
“Tapi itu salah satu motifmu.” Cakrawirya melipat tangan.
“Jangan bohong di depannya. Dia bisa membaca kebohongan lebih cepat dari siapa pun.”
Semua mata tertuju pada Sawitri.
Sawitri diam sejenak. Lalu berkata, “Cukup.”
Dua pangeran itu menatapnya.
“Kulo menghargai tawaran Raden Jatmiko. Dan kulo juga menghargai kekhawatiran Raden Cakrawirya.” Ia menatap mereka bergantian. “Tapi kulo tidak akan memilih di antara kalian.”
Jatmiko mengerutkan kening. “Maksudmu?”
“Kulo akan bekerja dengan siapa pun yang bisa memberikan informasi yang kulo butuh. Itu bisa Raden Jatmiko. Itu bisa Raden Cakrawirya. Itu bisa Ki Lurah Wirapati.” Ia menjeda. “Tapi kulo tidak akan menjadi milik siapa pun.”
Keheningan menyergap pendopo.
Jatmiko menatapnya lama. Lalu tersenyum. Kali ini tulus.
“Kau sungguh... unik, Sawitri.”
“Terima kasih. Itu bukan pujian pertama.”
Cakrawirya tidak berkata apa-apa. Tapi matanya... matanya berkata banyak.
Adipati Sasongko berdeham, mencoba mencairkan suasana.
“Baiklah. Perdebatan ini... menarik. Tapi kita masih punya kasus yang harus dipecahkan. Ndara Tabib, apa langkah selanjutnya?”
Sawitri kembali ke mode profesional.
“Cari Mbok Ranti. Dia kunci untuk membuka siapa dalang di balik racun ini.” Ia menatap Jatmiko. “Raden Jatmiko, jika benar-benar ingin membantu, cari informasi di pelabuhan. Tanyakan siapa yang membeli ikan buntal dalam sebulan terakhir.”
Jatmiko mengangguk. “Siap.”
“Cakrawirya.” Sawitri menoleh. “Lacak jejak koki istana yang pulang atau menghilang dalam sebulan terakhir. Termasuk yang sudah pensiun.”
Cakrawirya mengangguk. “Kulakukan.”
Sawitri berbalik ke arah para bangsawan.
“Pertemuan selesai. Kulo akan memberi kabar jika ada perkembangan.”
Ia melangkah keluar tanpa menunggu respons.
Di belakangnya, dua pangeran saling berpandangan.
Jatmiko mendekat ke Cakrawirya.
“Dia hebat, Kakang.”
Cakrawirya tidak menoleh. “Aku tahu.”
“Tapi kau harus sadar... dia bukan wanita yang bisa dimiliki.”
Cakrawirya menatapnya. “Kau baru sadar?”
Jatmiko tertawa. Lalu berbalik.
“Aku ke pelabuhan. Sampaikan salam pada Sawitri.”
Ia pergi.
Cakrawirya menatap kepergiannya. Lalu ke arah Sawitri yang sudah menghilang di balik pintu.
“Dia memang tidak bisa dimiliki,” gumamnya. “Tapi dia bisa dipilih.”
---
Di luar pendopo, Sawitri menaiki kudanya.
Ndari yang menunggu di samping berbisik, “Ndara, tadi ramai sekali. Raden Jatmiko beneran mau melamar?”
“Bukan melamar. Menawarkan perlindungan.”
“Sama saja, Ndara. Pria kalau sudah tertarik, ujung-ujungnya mau memiliki.”
Sawitri menatapnya. “Observasi yang menarik, Ndari. Tapi tidak relevan.”
Ia memacu kudanya.
Di kejauhan, dari balik jendela paviliun timur, Sukmawati tersenyum.
“Dua pangeran memperebutkan satu wanita,” bisiknya. “Ini akan menyenangkan.”
Ia berbalik pada bayangan di belakangnya.
“Siapkan panggungnya. Kita akan buat pertunjukan yang tak terlupakan.”