Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Mengikat
Lauren tidak menunggu awan hitam itu benar-benar menelan matahari. Ia berbalik, meninggalkan balkon dengan langkah terburu-buru. Koridor sekolah yang ramai terasa seperti labirin yang menyempit. Suara tawa siswa lain terdengar seperti deru mesin yang memekakkan telinga. Ia butuh sunyi. Ia butuh tempat di mana frekuensi energi di sekitarnya tidak saling bertabrakan.
Perpustakaan SMA Garuda terletak di ujung sayap barat, sebuah bangunan tua dengan jendela-jendela tinggi yang menghadap ke arah hutan kecil di belakang sekolah. Begitu Lauren mendorong pintu kaca yang berat, aroma kertas tua dan kayu mahoni menyambutnya. Di sini, udara terasa lebih stabil.
"Tempat ini cukup bersih," bisik Herza. Arwah itu muncul di balik rak ensiklopedia, pendar peraknya tampak kontras dengan bayang-bayang rak buku.
Lauren tidak menjawab. Ia berjalan menuju deretan rak paling belakang, tempat buku-buku sastra klasik yang jarang disentuh tangan siswa. Ia menyandarkan punggungnya pada rak kayu yang dingin, mencoba mengatur napasnya. Medali di dadanya masih terasa hangat, memberikan denyutan peringatan yang halus.
Siapa pemuda itu? batin Lauren.
Kenapa kehadirannya terasa seperti badai yang tertahan?
Langkah kaki yang ringan mendekat dari balik rak sebelah. Lauren menegang. Ia mengunci batinnya, mempertebal perisai energinya dalam hitungan detik. Dari balik bayangan buku-buku tebal, pemuda yang tadi ia lihat di lapangan muncul.
Pemuda itu tidak menatapnya. Ia sibuk menelusuri punggung buku dengan jari-jarinya yang panjang. Ia mengenakan seragam yang sama, namun ada aura wibawa yang membuatnya tampak berbeda dari siswa laki-laki kebanyakan. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya memiliki ketenangan yang nyaris tidak alami.
"Rak ini biasanya hanya dikunjungi oleh mereka yang sedang melarikan diri," suara pemuda itu rendah dan tenang, seperti aliran air di kedalaman gua.
Lauren tersentak. Ia tidak menyangka pemuda itu akan bicara padanya.
"Aku tidak sedang melarikan diri."
Pemuda itu akhirnya menoleh. Matanya gelap, namun di kedalamannya, Lauren melihat kilatan sesuatu yang menyerupai pantulan bintang di atas air hitam. Ia tersenyum tipis.
"Matamu mengatakan hal yang berbeda. Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu."
Lauren merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Bukan karena rasa takut yang biasa ia rasakan saat berhadapan dengan entitas, melainkan sebuah debaran asing yang terasa hangat di perutnya. Ada sesuatu yang sangat memikat dari cara pemuda ini menatapnya.
"Aku Lauren," katanya, mencoba mengendalikan nada suaranya agar tetap datar.
"Banyu," jawab pemuda itu singkat.
Banyu melangkah mendekat, hendak meraih sebuah buku yang terletak tepat di atas bahu Lauren. Lauren tidak bergerak, membiarkan pemuda itu mendekati ruang pribadinya. Saat tangan Banyu terangkat, ujung jarinya secara tidak sengaja bersentuhan dengan kulit lengan Lauren yang tidak tertutup seragam.
Zzap!
Lauren tersentak seolah baru saja menyentuh kabel listrik yang terbuka. Sengatan energi yang sangat kuat menjalar dari titik sentuhan itu, merambat cepat menuju medalinya. Rasa panasnya bukan seperti terbakar es, melainkan seperti gelombang elektromagnetik yang mencoba menyelaraskan diri dengan batinnya.
Lauren terengah-engah, matanya membelalak. Ia melihat Banyu juga sedikit terkejut, namun pemuda itu tidak menarik tangannya dengan cepat. Ia justru menatap lengannya sendiri, lalu kembali menatap Lauren dengan kerutan di dahi.
Energi ini... tidak jahat, tapi sangat berat, pikir Lauren.
"Maaf," gumam Banyu. Ia menarik tangannya, namun tatapannya tetap terkunci pada mata Lauren.
"Sepertinya ada listrik statis."
"Lauren, menjauh darinya sekarang!" Suara Herza terdengar sangat tajam, hampir seperti teriakan di telinga Lauren.
Herza muncul tepat di antara Lauren dan Banyu. Arwah mentor itu tampak sangat gelisah. Tangannya yang transparan merentang, mencoba mendorong Lauren menjauh, meski ia tidak bisa menyentuh fisik gadis itu secara langsung. Pendar perak di tubuh Herza berfluktuasi liar, menunjukkan tingkat kewaspadaan tertinggi.
Lauren mengabaikan peringatan Herza untuk sesaat. Ia masih terpaku pada kehadiran Banyu. Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia selalu merasa terisolasi, menganggap semua orang adalah ancaman atau beban. Namun saat menatap Banyu, ia merasakan sebuah tarikan yang aneh. Seolah-olah ada sebuah benang tak kasat mata yang menghubungkan jiwanya dengan pemuda ini.
"Kamu siswa baru?" tanya Lauren, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu.
"Ya. Baru pindah pagi ini," jawab Banyu. Ia mengambil buku yang ia incar—sebuah novel tua tentang legenda tanah Jawa.
"Sepertinya sekolah ini menyimpan banyak rahasia."
"Begitukah?"
Banyu melangkah mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Lauren untuk bernapas.
"Setidaknya, aku merasa tidak sendirian lagi sekarang."
Kalimat itu menggantung di udara perpustakaan yang sunyi. Banyu memberikan satu anggukan kecil sebelum berbalik dan berjalan pergi menuju meja petugas perpustakaan. Lauren hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung pemuda itu hingga ia hilang di balik pintu keluar.
"Lauren! Apa kamu sudah gila?" Herza berteriak, kali ini benar-benar menampakkan diri dengan jelas di depan wajah Lauren.
Lauren tersadar. Ia menyeka keringat dingin di dahinya.
"Ada apa, Herza? Dia hanya manusia."
"Hanya manusia?" Herza tertawa pahit, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam.
"Tidakkah kamu merasakannya tadi? Sengatan itu? Itu bukan listrik statis, Lauren. Itu adalah reaksi resonansi."
"Resonansi?"
Herza melayang cepat mengitari Lauren, wajahnya tampak sangat ngeri.
"Medalimu bereaksi karena dia membawa kunci yang lain. Lauren, aura pemuda itu... di luarnya memang tenang, tapi di dalamnya ada pusaran kegelapan yang sedang tidur. Dia adalah magnet bagi segala hal yang kita lawan selama tiga tahun terakhir."
Lauren menyentuh medalinya yang kini mulai mendingin.
"Tapi dia tidak terasa jahat. Aku tidak merasakan kebencian seperti saat bertemu Adiwangsa."
"Justru itu yang berbahaya!" seru Herza.
"Kejahatan yang sadar bisa kita lawan. Tapi kegelapan yang tidak disadari pemiliknya adalah bom waktu. Dia membawa garis keturunan yang terkutuk, Lauren. Aku bisa melihat bayangan di belakangnya, menunggu saat yang tepat untuk bangun."
Lauren terdiam. Ia teringat senyum tipis Banyu dan bagaimana debaran jantungnya terasa berbeda saat pemuda itu menatapnya. Untuk pertama kalinya, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takutnya. Ia tidak ingin menjauh. Ada bagian dari dirinya yang justru ingin tahu lebih banyak tentang pusaran kegelapan yang disebut Herza itu.
"Jangan coba-coba mendekatinya lagi," perintah Herza dengan nada yang sangat serius.
"Pertemuan kalian bukan kebetulan. Jaring-jaring takdir sedang ditarik kencang, dan jika kamu terjebak di dalamnya bersama dia, aku tidak yakin bisa menarikmu keluar kali ini."
Lauren menatap pintu perpustakaan yang tertutup. Cahaya matahari yang mulai meredup di balik jendela menciptakan bayangan panjang di lantai. Ia tahu Herza benar. Secara logika, ia harus menjauh sejauh mungkin dari Banyu demi keselamatannya dan orang tuanya.
Namun, di dalam kepalanya, suara rendah Banyu terus bergema. Setidaknya, aku merasa tidak sendirian lagi sekarang.
Lauren mengepalkan tangannya.
"Kita lihat saja nanti, Herza."
Ia melangkah keluar dari perpustakaan, tidak menyadari bahwa di luar sana, awan hitam yang tadi ia lihat kini telah menyelimuti seluruh gedung sekolah, dan di antara bayang-bayang pohon, mata merah yang pernah ia lihat di masa kecilnya kini kembali terbuka, mengawasi setiap langkahnya dengan penuh kemenangan.