NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Hutan Kristal Merah dan Semut Pemakan Dewa

Alam Dewa Kuno (Ancient God Realm) - Wilayah Pinggiran.

Bunyi krak yang keras bergema di hutan sunyi itu. Bukan suara ranting patah, melainkan suara tulang punggung Ye Chen yang berjuang menahan beban atmosfer dunia ini.

Ye Chen setengah berlutut di tanah yang terbuat dari pasir kristal merah. Napasnya berat, paru-parunya terasa terbakar setiap kali menghirup udara di sini.

"Gravitasi ini..." Ye Chen menggertakkan gigi, keringat sebesar biji jagung menetes dari dahinya. "Setidaknya 5.000 kali lipat dari dunia bawah. Jika aku tidak punya Tulang Emas, aku pasti sudah menjadi bubur daging begitu mendarat."

Di Alam Roh Sejati, Ye Chen adalah entitas puncak yang bisa membelah laut dan menahan pulau terbang. Di sini? Dia merasa seperti manusia biasa yang dipaksa memikul gunung di punggungnya. Energi Spirit Severing di tubuhnya terasa encer dan lemah jika dibandingkan dengan Qi Dewa (God Qi) yang padat di atmosfer sekitar.

"Mutiara Penelan Surga... Adaptasi!"

Ye Chen memerintahkan mutiaranya. Pusaran hitam di perutnya berputar perlahan, kesulitan menyaring Qi Dewa yang sangat padat dan liar.

Sedikit demi sedikit, Qi Dewa masuk, menggantikan Qi Roh di meridiannya. Rasa sakitnya luar biasa, seperti mengganti darah dengan timah cair.

"AAAAHHH!"

Teriakan wanita terdengar tidak jauh dari sana.

"Lilith!"

Ye Chen memaksakan kakinya berdiri. Otot-otot Naga Asura-nya menegang, melawan gravitasi. Dia mencabut Pedang Naga Langit dari punggungnya. Pedang itu, yang biasanya terasa ringan baginya, kini terasa sangat berat lagi.

Ye Chen melesat ke arah suara itu. Bukan terbang, tapi berlari—lompatannya hanya mampu menempuh jarak sepuluh meter, jauh dari kemampuan terbang bebasnya dulu.

Di balik rimbunan pohon kristal setinggi gedung pencakar langit, Ye Chen menemukan Lilith.

Kondisi Putri Succubus itu menyedihkan. Sayap kelelawarnya patah karena tekanan gravitasi. Dia terbaring di tanah, dikelilingi oleh tiga ekor makhluk mengerikan.

Mereka adalah Semut.

Tapi bukan semut biasa. Ukuran mereka sebesar serigala. Cangkang mereka berwarna merah metalik yang berkilau. Rahang mereka (mandibula) beradu dengan suara klik-klik yang terdengar seperti gunting baja.

Semut Api Merah (Red Fire Ants).

Tingkat Kekuatan: Setara Spirit Severing Tingkat 5.

Di dunia ini, semut pekerja biasa setara dengan jenderal besar di dunia bawah!

"Menjauh darinya!" teriak Ye Chen.

Salah satu semut itu menoleh, antenanya bergetar. Ia melihat Ye Chen sebagai mangsa baru.

SKREEEK!

Semut itu menerjang dengan kecepatan yang mengejutkan.

Ye Chen mengangkat pedangnya.

TRANG!

Rahang semut itu menjepit bilah Pedang Naga Langit.

Ye Chen terdorong mundur lima langkah, kakinya membajak tanah kristal.

"Kuat!" batin Ye Chen kaget. "Tenaga fisik semut ini setara denganku?!"

Semut itu tidak memiliki teknik, hanya kekuatan kasar murni yang didapat dari lingkungan ekstrem Alam Dewa.

"Tapi kau hanyalah serangga."

Ye Chen memutar pedangnya, melepaskan jepitan rahang itu.

Teknik Pedang Asura: Pembelah Langit (Versi Adaptasi)!

Ye Chen tidak menggunakan Qi luas, melainkan memadatkan Niat Pedang ke tepi bilah pedangnya setipis mungkin.

CRASS!

Kepala semut itu terpotong. Darah hijau korosif menyembur, mendesis saat mengenai tanah.

Satu mati. Sisa dua.

Dua semut lainnya meninggalkan Lilith dan menyerang Ye Chen bersamaan.

"Ye Chen! Hati-hati! Cangkang mereka sangat keras!" teriak Lilith lemah.

Ye Chen tidak mundur. Matanya yang memiliki pupil naga menyala emas.

"Keras? Aku suka yang keras."

Ye Chen melepaskan pegangan tangan kirinya dari pedang.

Dia menyambut semut di sebelah kiri dengan Tinju Tulang Emas.

DUM!

Tinju Ye Chen menghantam kepala semut itu. Cangkang kerasnya retak, tapi tidak hancur. Semut itu terhuyung, tapi masih sadar dan mencoba menggigit lengan Ye Chen.

"Sial, kulitnya lebih keras dari baja meteor!"

Semut di kanan sudah siap menggigit kaki Ye Chen.

Ye Chen melompat (dengan susah payah melawan gravitasi), lalu menginjak punggung semut kanan.

Dia menusukkan pedangnya lurus ke bawah, ke celah di antara kepala dan thorax (dada) semut.

JLEB!

Semut kanan mati.

Semut kiri yang kepalanya retak kembali menyerang.

Ye Chen mengarahkan telapak tangannya ke arah semut itu.

"Mutiara Penelan Surga... Hisap!"

Kali ini, hisapannya tidak sekuat di dunia bawah karena tekanan atmosfer menekan jangkauan mutiara. Tapi itu cukup untuk membuat gerakan semut itu tersendat satu detik.

Ye Chen menebas horizontal.

SRET!

Semut terakhir terbelah dua.

Hening.

Ye Chen berdiri terengah-engah di atas bangkai semut. Dia merasa lelah seolah baru saja bertarung melawan Mahayana.

"Tiga semut... membuatku begini?" Ye Chen tersenyum pahit. "Dunia ini benar-benar gila."

Dia berjalan menghampiri Lilith, membantunya duduk.

"Kau baik-baik saja?"

"Tidak," Lilith meringis. "Gravitasi ini membunuhku. Dan udara di sini... mengandung elemen Yang (Suci) yang membakar kulit iblisku."

Sebagai makhluk dari Alam Iblis, Alam Dewa adalah lingkungan yang mematikan bagi Lilith.

Ye Chen berpikir sejenak. Dia merogoh dada salah satu bangkai semut, mengambil Inti Kristal-nya yang berwarna merah.

"Makan ini," kata Ye Chen, menyodorkan inti itu pada Lilith. "Energi di dalamnya sudah teradaptasi dengan dunia ini. Ini akan membantumu menyesuaikan diri."

Lilith ragu, tapi dia menelannya.

Wajahnya memerah, lalu perlahan kembali normal. Sayapnya mulai sembuh.

"Terima kasih," bisik Lilith. "Jadi, apa rencana kita sekarang, Tuan Penakluk?"

"Bertahan hidup," kata Ye Chen. Dia melihat ke sekeliling hutan kristal merah itu. "Kita berada di dasar rantai makanan sekarang."

Ye Chen berjalan ke bangkai semut lainnya. Dia menyentuh cangkangnya.

"Mutiara Penelan Surga... Analisis Material."

Cangkang semut ini mengandung Besi Dewa Merah (Red God Iron) dalam jumlah kecil. Sangat keras dan tahan panas.

"Bahan bagus," Ye Chen menyimpan bangkai-bangkai itu ke dalam Cincin Awan Putih.

Tiba-tiba, telinga Ye Chen yang tajam menangkap suara.

Suara langkah kaki. Banyak. Dan teratur.

Bukan binatang buas. Manusia.

"Sembunyi!" bisik Ye Chen.

Dia menarik Lilith ke balik akar pohon kristal raksasa, mengaktifkan Sutra Jantung Cermin Hantu untuk menyamarkan keberadaan mereka.

Dari balik semak-semak kristal, muncul sekelompok orang.

Ada lima orang. Mereka mengenakan pakaian berburu yang terbuat dari kulit binatang berkualitas tinggi. Senjata mereka memancarkan aura yang membuat Pedang Naga Langit Ye Chen terlihat seperti mainan.

Pemimpin mereka adalah seorang gadis muda berusia sekitar 18 tahun dengan rambut pendek dan busur panah perak.

Aura gadis itu...

Ye Chen menahan napas.

Gadis itu, yang terlihat sangat muda, memancarkan aura setara Ranah Mahayana (Great Vehicle) Tingkat Puncak.

Dan empat pengikutnya? Semuanya Mahayana.

"Di dunia bawah, Mahayana adalah leluhur legendaris. Di sini... mereka hanya pemburu muda?" Ye Chen semakin menyadari betapa kecilnya dia saat ini.

"Nona Muda! Ada jejak pertempuran di sini!" kata salah satu pemburu pria.

Gadis itu memeriksa bangkai semut (sisa darah dan potongan kaki yang tertinggal).

"Semut Api Merah... dibunuh dengan teknik pedang?" Gadis itu menyentuh bekas tebasan di tanah.

"Niat Pedang ini..." Gadis itu mengerutkan kening. "Tajam, tapi kasar. Dan tidak mengandung Qi Dewa yang murni. Sepertinya pelakunya adalah Ascender (Pendaki) baru yang baru saja mendarat."

"Ascender?" Pria itu tertawa meremehkan. "Orang udik dari dunia bawah? Biasanya mereka mati dimakan semut dalam lima menit. Yang satu ini bisa membunuh tiga semut? Lumayan."

"Cari mereka," perintah gadis itu. "Klan kita, Klan berburu Angin (Wind Hunting Clan), sedang kekurangan budak untuk tambang meteorit. Ascender yang kuat bisa dijual mahal di kota."

Di tempat persembunyian, Ye Chen mengepalkan tangannya.

"Budak lagi?" mata Ye Chen dingin. "Sepertinya di mana pun aku berada, orang-orang selalu ingin memakaikan rantai padaku."

Lilith menatap Ye Chen cemas. "Mereka lima orang Mahayana. Kita tidak bisa melawan."

"Aku tahu," bisik Ye Chen. "Kita butuh pengalih perhatian."

Ye Chen mengambil sisa potongan kaki semut dari cincinnya. Dia melemparkannya jauh ke arah berlawanan dengan kekuatan penuh.

KRAK!

Suara ranting patah terdengar di kejauhan.

"Di sana!" Gadis itu menoleh. "Kejar!"

Kelima pemburu itu melesat ke arah suara tersebut dengan kecepatan yang membuat angin berdesing.

"Sekarang! Lari ke arah berlawanan!"

Ye Chen dan Lilith melesat pergi, menjauh dari para pemburu.

Mereka berlari menembus hutan kristal, menghindari monster dan manusia, mencari tempat yang aman untuk memulai kultivasi ulang.

Ye Chen tahu satu hal: Untuk bertahan di Alam Dewa ini, dia harus segera mengubah seluruh Qi di tubuhnya menjadi Qi Dewa. Dan untuk itu, dia butuh teknik kultivasi tingkat Dewa.

Dan di dalam ingatannya, dari Mutiara Penelan Surga, sebuah teknik kuno mulai terbuka segelnya.

[Sutra Kaisar Asura: Bab Alam Dewa - Penempaan Tubuh Bintang.]

"Tunggu saja," batin Ye Chen sambil berlari. "Beri aku waktu sebulan. Dan aku yang akan menjadi pemburu."

(Akhir Bab 13)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!