NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Galvin tersenyum samar penuh arti, "Nanti gue tunjukkin caranya."

"Kenapa nanti? Sekarang aja. Butuhnya juga sekarang," desak Khaira, tak sabar.

Dia merasa sesak sekarang, sehingga sudah jelas oksigen itu dia butuhkan saat ini juga.

Jika Galvin memberitahunya nanti, itu akan percuma, karena jika nanti.. dia sudah tidak merasa sesak lagi.

"Minta gue tunjukkin sekarang? Emangnya lo siap?" tanya Galvin, dengan salah satu alisnya yang terangkat.

"Siap," jawab Khaira dengan yakin.

Galvin langsung tertawa kecil. Suara tawanya yang terkesan berat itu, berhasil mengalihkan fokus Khaira selama beberapa saat, hingga Khaira kembali tersadar.

"Ck! Main siap-siap aja. Pas udah gue tunjukkin nanti nangis," ucap Galvin, sambil mengejek Khaira yang masih belum mengerti maksud dari pernyataan sebelumnya.

Khaira hanya mengerutkan bibirnya, rasa penasarannya semakin membuncah namun dia masih belum menyadari bahwa maksud dari kata-kata Galvin sebenarnya jauh dari apa yang dia bayangkan.

"Aku udah besar, Gal. Ga mungkin nangis."

"Yakin?" bisiknya, tepat di hadapan wajah Khaira, hingga hembusan napasnya terasa jelas menebus cadar yang Khaira kenakan.

"Kenapa diam, hm? Yakin ga bakal nangis kalau gue tunjukkin sekarang?" tanya Galvin kembali, karena Khaira tidak kunjung bersuara.

Khaira tidak menjawab. Dia hanya diam, menatap Galvin dengan pikirannya yang mendadak kosong. Bahkan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.

Hembusan napas Galvin yang terasa begitu nyata, berhasil menyita seluruh kek fokusannya.

'Jantungku...,' batin Khaira, begitu merasakan detakan jantungnya yang semakin berdetak tidak beraturan.

Beberapa detik kemudian, tidak hanya Khaira saja yang diam dan disibukkan oleh perasaannya sendiri, tetapi Galvin juga melakukan hal yang sama.

Mereka sama-sama saling diam dan memandang satu sama lain.

Entah apa yang ada di pikiran mereka, begitu mereka berada di situasi saling pandangan dalam jarak sedekat itu. Hanya mereka sendiri yang tahu akan apa yang mereka rasa.

Derztt... Derztt... Derztt...

Deringan ponsel itu tiba-tiba menggema di ruangan, membuyarkan suasana yang tidak diketahui akan seperti apa akhirnya. Khaira dan Galvin, yang tengah larut dalam perasaan mereka, tersentak kaget.

Hingga keduanya berdeham pelan secara bersamaan, untuk menghilangkan kecanggungan.

Tidak hanya itu, Galvin juga langsung menurunkan kedua tangan kekarnya yang semula dia letakkan di kedua samping tubuh Khaira, dengan telapak tangannya yang bertumpu pada rak buku itu.

"Ponsel kamu bunyi," ucap Khaira, memberitahu.

Padahal Galvin tetap saja akan tahu walaupun Khaira tidak mengatakan itu, karena ponsel itu berada tepat di dalam saku jaket yang Galvin kenakan.

"Hm. Gue tau," jawab Galvin, sambil mengambil ponselnya dari saku jaketnya.

Khaira langsung mengangguk paham.

Mereka masih sama-sama merasa canggung, atas situasi yang baru saja terjadi pada mereka.

Namun, mereka bisa menyembunyikan rasa itu, hingga apa yang mereka rasakan tidak sampai terlihat satu sama lain.

Seiring deringan ponsel yang terus berbunyi, Khaira akhirnya bisa mengendalikan dirinya dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Galvin.

"Mau ke mana?"

Galvin menghentikan langkah Khaira yang hendak pergi dari hadapannya.

"Mau kembali ke meja kerja. Kamu mau angkat telepon, kan?" jawab Khaira, sambil menunjuk ke arah di mana meja kerjanya berada.

Dalam hatinya, Khaira merasa malu dan takut, karena dia baru sadar betapa dekat jarak di antara mereka saat ini.

Wajahnya bersemu merah, menandakan perasaan canggung yang melanda.

Untung saja wajah yang bersemu merah itu tersembunyi di balik cadar.

Galvin, yang juga terkejut dengan deringan ponsel tadi, tampak biasa saja. Matanya yang tajam memandang Khaira dengan penuh ketenangan, seolah ingin menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang mendebarkan.

Deringan ponsel itu berasal dari kantong jaket Galvin. Dengan santai, dia mengambil ponselnya dan melihat layar yang menyala.

Sesekali dia membagi fokusnya antara Khaira dan juga layar ponselnya.

Raut wajahnya berubah menjadi tampak sedikit kesal. Tanpa dia sadari, dia kesal karena momennya bersama Khaira telah terganggu.

"Angkat teleponnya, Gal. Kenapa cuma dilihat saja?" tanya Khaira, sedikit mendesak Galvin untuk mengangkat panggilan itu, karena dia takut jika itu adalah panggilan yang penting dan urgen.

"Harus gue angkat?"

Sejujurnya, Galvin sama sekali tidak peduli dengan panggilan itu.

Khaira mengangguk, memahami bahwa mungkin ada urusan penting yang harus Galvin selesaikan.

Dalam hati, dia berterima kasih pada ponsel yang tadi mengagetkan mereka berdua, karena tanpa itu, dia tak tahu apa yang akan terjadi antara mereka.

"Mau ke mana?" tanya Galvin, begitu melihat Khaira berlalu pergi dari hadapannya.

Khaira kembali membalikan tubuhnya. "Aku mau kembali kerja. Dan kamu juga mau menerima panggilan itu, kan?" tanyanya, memastikan.

"Kayanya orang tadi juga udah pergi dan ga akan liat kita lagi," sambungnya kembali.

"Tetap di sini," pinta Galvin, sebelum dia menerima panggilan telepon itu.

Khaira hendak bersuara, tetapi Galvin lebih dulu menerima panggilannya. Hal itu membuat Khaira harus tetap berada di sana, sesuai apa yang Galvin minta.

"Apa?" tanya Galvin, begitu

panggilannya terhubung dengan Dafa.

Ya, orang yang mengganggu momen-nya bersama Khaira, adalah Dafa.

"Lo cari buku apa, Gal? Perasaan, lama banget ga balik-balik," tanya Dafa, dari seberang telepon sana.

Dia bersama teman-temannya yang lain, masih ada di lantai pertama perpustakaan itu. Lebih tepatnya ada di Cafe Perpustakaan Galaksi.

"Bukunya emang susah dicari," jawab Galvin, mengarang.

"Kita susul lo ke atas, ya. Siapa tahu kalau kita bantu nyari, bukunya bisa cepet ketemu," usul Dafa.

"Lagian lo bukannya minta bantuan kita buat nyari, tapi malah milih susah sendiri," sambung Dafa kembali.

Terasa kurang bagi mereka jika menikmati makanan dan berbincang ringan, tanpa kehadiran Galvin di tengah-tengah mereka.

"Gue tutup teleponnya. Sekarang, kita mau ke lantai atas bantu lo nyari buku itu." Dafa kembali berbicara.

"Ga usah. Gue bisa cari sendiri." Galvin langsung menolaknya.

Dia menolak bukan tanpa sebab, tetapi karena dia tidak ingin teman-temannya menyusul ke lantai dua, kemudian bertemu dengannya dan juga Khaira.

"Apa? Lo bisa cari sendiri?" tanya Dafa, mempertegas.

"Hm!" gumam Galvin.

"Bisa-bisa tapi lama! Udah kita ke sana sekarang," cibir Dafa, tidak sabaran.

Dia menjadi kesal sendiri karena menunggu Galvin yang tidak kunjung turun dari lantai dua.

Tut!

Panggilan mereka terputus. Entah siapa yang lebih dulu memutuskan panggilan itu.

"Kamu mau nyari buku apa? Kenapa ga bilang sama aku? Aku bisa bantu cari buku yang kamu mau," ucap Khaira.

Bukan maksud dirinya untuk mendengar percakapan Galvin di telepon, tetapi mau tidak mau dia harus mendengarkan itu, karena Galvin sendiri yang memintanya untuk tetap di sana.

"Ga usah, gue ga perlu buku itu lagi," ucap Galvin, sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.

Memang sejak awal dia tidak bermaksud untuk mencari buku. Dia berada di lantai dua hanya karena satu alasan, yaitu Khaira.

Khaira langsung mengangguk pelan, tanpa memperpanjang lagi pembahasan itu.

"Mau gue gendong ke meja lo?" tanya Galvin tiba-tiba, dan itu membuat Khaira langsung memicingkan kedua bola mata indahnya.

"Ga perlu, Gal. Kaki aku udah baikan," jawabnya, sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Makasih udah bantu ngurangin rasa sakitnya," sambungnya kembali.

"Hm," gumam Galvin, sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah, dengan kedua tangannya yang dia lipat di depan dada.

 

Tidak lama setelah itu, munculan teman-teman dari arah tangga.

Di sana terlihat kehadiran Dafa, Fardan, Daris, dan Faiz, sementara Ezar masih bekerja di Cafe lantai pertama, karena jam kerjanya masih ada.

Dafa terkejut melihat Khaira yang sedang duduk di meja kerja, di lantai dua perpustakaan, sambil membaca beberapa berkas yang tampaknya itu merupakan sebuah laporan.

Ekspresi wajahnya terlihat bingung dan terkejut.

"Khaira?" sahut Dafa, seraya menghampiri Khaira di meja kerjanya.

"Dafa?" balas Khaira.

"Oh, ya, Khai. Kenalin, ini teman-teman gue dan Galvin. Mereka beda sekolah sama kita," ucap Dafa, sengaja memperkenalkan mereka lebih dulu, sebelum Khaira bertanya-tanya tentang kedatangan mereka bersamanya. Orang-orang yang baru saja Dafa perkenalkan pada Khaira adalah Fardan, Daris, dan juga Faiz.

"Halo. Salam kenal," sapa Khaira lebih dulu, sambil mengangkat kedua tangannya, kemudian menyatukan kedua telapak tangannya menangkup di depan dada.

"Masya Allah. Cantik banget!" gumam Daris begitu pelan, namun masih terdengar oleh mereka.

"Tumben banget lo ngucap kalimat kaya gitu," cibir Faiz,

berbisik, karena ada Khaira di depan mereka.

"Kenapa?" tanya Daris, menoleh sinis.

"Biasanya lo ngumpat kalau liat cewe cantik," sambung Faiz kembali.

"Semua tergantung apa yang dikagumi," timpal Daris dengan ringan.

Melihat Khaira yang memakai cadar, benar-benar membuat siapa pun akan kagum.

"Jaga mata lo. Hargai dia," peringat Galvin sambil menatap Daris dengan tatapan tajam.

Dia baru saja muncul dari balik jajaran rak buku itu.

Awalnya dia membiarkan Khaira sendiri di meja kerja itu, supaya Khaira bisa fokus dengan pekerjaannya tanpa merasa terganggu oleh kehadirannya.

"Eh, sory-sory. Gue ga bermaksud bersikap ga sopan," ucap Daris, langsung meminta maaf kepada Khaira.

Teman-teman yang lainnya langsung tertawa pelan, senang melihat Daris tertekan karena baru saja mendapat teguran dari Galvin, yang membuat Daris sadar akan kesalahannya.

"Kenapa lo bisa ada di sini?" tanya Dafa, kembali kepada Khaira.

Awalnya Khaira berada di sana bersama Galvin, tetapi beberapa menit yang lalu Galvin pergi ke toilet yang ada di perpustakaan itu.

Khaira lebih dulu menghentikan pekerjaannya, menunjukkan rasa hormat atas kedatangan teman sekelasnya, sekaligus teman organisasinya.

"Aku memang kerja di sini, Daf," jawabnya dengan suara tenang, lalu meletakkan pena yang baru saja dia pakai untuk menyelesaikan laporan.

Dafa mengerutkan dahinya,

"Sejak kapan? Kenapa gue baru tau?" tanyanya lagi dengan nada penasaran.

Dia tidak mengerti mengapa Khaira tidak pernah memberitahunya mengenai pekerjaan Khaira di perpustakaan yang merupakan milik Galvin—teman mereka bersama.

Sebelum Khaira sempat menjawab, tiba-tiba Galvin muncul dari balik rak buku. Wajahnya tampak dingin, seperti tidak senang melihat interaksi antara Dafa dan Khaira.

"Kenapa lo harus tau?" timpal Galvin dengan nada sinis, sambil

menatap Dafa dengan pandangan tajam.

"Ya... gue mau tau aja, kan kita temenan. Iya, ga, Khai?" jawab Dafa, kembali bertanya kepada Khaira.

"Ga perlu," pungkas Galvin lagi dengan ekspresi datar.

Belum sempat Khaira merespon, Galvin selalu lebih dulu menimpali ucapan Dafa.

Sehingga pembicaraan itu bukan pembicaraan antara Dafa dan Khaira, tetapi antara Dafa dan Galvin.

"Kenapa dengan mata lo?"

tanya Galvin kepada Dafa yang menatapnya dengan tatapan heran.

Kali ini bukan hanya Dafa yang menatap Galvin dengan keheranan, tetapi teman-temannya yang lain pun sama-sama menatap dengan tatapan seperti itu.

"Seharusnya kita yang nanya. Lo kenapa, Gal?" sahut Fardan.

Galvin hanya mendengus, lalu mengambil alih kursi yang ada di sana dan kemudian mendudukinya.

Setelah duduk di kursi itu, Galvin langsung melirik Khaira yang masih berdiri, karena seluruh teman-temannya juga masih berdiri di sana.

"Duduk," perintah Galvin kepada Khaira, dengan begitu pelan.

Dia masih khawatir dengan pergelangan kaki Khaira yang terkilir, jika Khaira berdiri terlalu lama.

"Kita juga mau duduk," sahut Dafa, sambil menduduki kursi yang ada di sana.

Begitu juga seterusnya, yang lainnya ikut duduk bersama mereka di kursi yang berbeda.

"Lanjutin aja pekerjaan lo," ucap Galvin, dan langsung mendapat anggukkan pelan dari Khaira.

Khaira harus segera menyelesaikan pekerjaannya, supaya mereka bisa pulang lebih cepat.

Khaira melanjutkan kembali aktivitasnya untuk menyelesaikan pekerjaannya, dengan teman-teman Galvin yang masih ada di sana.

"Berapa lama lo kerja di sini, Khai?" tanya Dafa, masih penasaran dengan keberadaan Khaira yang bekerja di perpustakaan itu.

"Bukan urusan lo."

Yang menjawab bukanlah Khaira, melainkan Galvin.

"Gue nanya Khaira bukan nanya lo," ketus Dafa, sambil menatap Galvin dengan tatapan sinis.

"Ck! Jangan ganggu orang yang lagi kerja," ketus Galvin.

"Oke-oke, sory."

Dafa tidak lagi melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Khaira. Karena jika dia bertanya satu pertanyaan lagi kepada Khaira, maka Galvin akan bertindak saat itu juga.

"Lo udah nemu buku yang lo cari?" Fardan bertanya, begitu mengingat alasan mereka berada di sana untuk apa.

"Ga jadi," balas Galvin. Singkat, padat.

"Kenapa? Mumpung ada Khaira. Dia bisa bantu lo cari bukunya." Dafa ikut menimpali pembicaraan mereka.

"Gue bilang ga jadi," tegas Galvin, sambil menatap Dafa dengan tatapan sinis.

"Kalian lagi cari buku? Biar aku bantu cari," tanya Khaira, tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka.

Dia bertanya seperti itu, karena sesuai dengan visi misi Perpustakaan Galaksi, di mana para karyawan harus berusaha sebaik mungkin untuk memberikan pelayanan kepada para pengunjung.

"Kita ga cari buku, Khai. Kita cuma ngantar dia nyari, tapi katanya malah ga jadi," ucap Dafa, sambil menunjuk Galvin melewati sudut mata.

Khaira langsung mengangguk paham.

"Pulang sekarang," ucap Galvin, menatap mereka satu per satu secara bergantian.

"Lo kenapa buru-buru? Gue masih mau nongkrong," protes Daris.

"Ck! Ini Perpustakaan, bukan tongkrongan. Kalau mau nongkrong, mending kita balik ke bengkel," kesal Izzan.

Sejak tadi dia hanya diam, dan dia hanya bersuara ketika ada hal yang membuatnya kesal saja.

"Turun sekarang," perintah Galvin kembali, sambil bangkit berdiri dari kursi itu.

Kemudian dengan cepat, dia melangkah ke arah tangga, dan menuruni tangga itu.

"Eh, Gal. Tungguin kita," teriak Daris.

"Berisik, Ris!" kesal Izzan.

Dengan cepat, Daris langsung menutup mulutnya, walaupun itu sudah jelas terlambat, karena orang-orang pasti sudah mendengar teriakannya.

"Yaudah buruan kita turun, sebelum Galvin tambah ngambek," ucap Faiz, seraya ikut bangkit dari kursi itu.

Kemudian di susul oleh yang lainnya, sehingga saat ini, mereka sama-sama sudah dalam posisi berdiri.

"Sory, Khai. Kita harus pergi sekarang," ucap Dafa, tidak lupa berpamitan kepada Khaira, yang masih fokus kerja di sana.

"Silahkan. Hati-hati," ucap Khaira, merespon dengan ramah, dan langsung mendapat anggukkan dari mereka semua.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alikumsalam," balas Khaira.

Kemudian mereka pergi dari sana, menuruni anak tangga menuju lantai pertama.

"Selama tiga tahun ini, bisa-bisanya aku baru tau kalau Galvin memiliki teman lain selain Dafa," gumam Khaira, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

Selama ini dia berpikir, bahwa Galvin tidak suka bergaul dan berteman dengan orang lain.

Walaupun Galvin aktif dan menjadi ketua di organisasi sekolah, tetapi Galvin terkenal sebagai orang yang sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya.

Tring!

Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Khaira, saat Khaira mengingat Galvin tentang hal itu.

Tanpa menunggu lama, Khaira langsung membaca pesan itu, begitu dis tahu siapa yang mengirimkan pesan padanya.

— Galvin —

"Nanti pulangnya setelah teman-teman gue pulang."

— Khaira —

"Iya, Gal."

Khaira langsung menyetujuinya, tanpa mempertanyakan alasannya.

— Galvin —

"Satu lagi."

"Jangan gampang ramah sama orang lain."

— Khaira —

"Kenapa? Kita harus selalu

ramah kepada siapa pun, kan?"

— Galvin —

"Ramah juga ada batasnya."

— Khaira —

"Memangnya sikap aku melebihi batas?"

— Galvin —

"Ya. Lo terlalu ramah."

"Gue ga suka itu, Khaira."

— Khaira —

"Baiklah, aku minta maaf, karena aku tidak menyadari itu."

"Kedepannya, aku akan lebih hati-hati lagi dalam bersikap.

»»»»

Pesan terakhir dari Khaira, tidak Galvin balas, karena dia langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya.

"Lo beneran tega ngusir kita, Gal?" tanya Daris, dengan ekspresi wajahnya yang sengaja dibuat supaya terlihat seperti sedang meminta belas kasihan.

"Gue ga nyangka lo setega ini sama sahabat lo sendiri," sambung Daris kembali, dengan ekspresinya yang semakin menjadi-jadi.

"Iya, bener. Hati gue jadi potek rasanya," timpal Faiz, mendukung tingkah Daris.

"Ga usah drama!" timpal Dafa.

"Di bengkel banyak yang harus diberesin. Malam ini harus beres. Nanti gue nyusul," ucap Galvin, mengingatkan.

Pekerjaan mereka akhir-akhir ini memang selalu banyak, sehingga mereka hanya memiliki waktu sedikit untuk menongkrong santai seperti itu, tanpa terlibat pekerjaan sama sekali.

"Kenapa lo ga bareng kita aja?" tanya Fardan, karena Galvin tidak bisa pergi dari sana bersama mereka.

"Gue harus urus laporan perpustakaan dulu," jawab Galvin,

yang tidak sepenuhnya benar.

Karena alasan utamanya adalah untuk mengantar Khaira pulang terlebih dahulu ke rumah mereka.

Sementara untuk laporan tentang Perpustakaan Galaksi, bisa dia lakukan di rumah, tanpa harus datang ke Perpustakaan secara langsung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!