NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Langkahku terburu-buru menembus lobi kantor, ingin segera sampai di kubikelku dan bersembunyi di balik tumpukan laporan. Namun, suara dentuman pintu lift yang tertahan di belakangku memberitahu bahwa aku tidak sendirian.

Baskara melangkah keluar dengan napas memburu. Wajahnya merah padam, bukan karena cuaca Jakarta, melainkan karena amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.

"Aruna! Berhenti!" bentaknya.

Aku berhenti tepat di lorong sepi menuju ruang arsip. Aku berbalik perlahan, melipat tangan di dada, dan menatapnya dengan tatapan yang sangat datar. Tidak ada getaran, tidak ada ketakutan. Hanya kekosongan.

"Ada apa lagi, Pak Baskara? Masalah pasta tadi belum selesai?" tanyaku, suaraku sedingin es di kutub.

"Apa-apaan jawabanmu tadi di depan Rasya?!" ia mendekat, memangkas jarak hingga aku bisa melihat urat di pelipisnya menegang. "Baru kenal di kantor ini? Kamu menyangkal dua tahun hidup kita seolah itu cuma sampah? Kamu menganggapku tidak pernah ada di hidupmu?"

Aku menarik napas panjang, sangat pelan, lalu menatap matanya dalam-dalam. "Bukankah itu yang terbaik? Kamu ingin aku profesional. Aku melakukannya. Aku menghapus sejarah kita agar kekasihmu tidak perlu merasa terancam oleh masa lalu yang busuk."

"Tapi itu bohong, Aruna! Kita punya sejarah! Aku pernah memuja setiap jengkal hidupmu, dan kamu barusan menghapusnya dengan satu kalimat!" Baskara memukul dinding di sampingku, suaranya bergetar karena frustrasi.

"Sejarah?" aku tersenyum tipis, sangat tipis hingga nyaris terlihat seperti hinaan. "Maksudmu sejarah di mana aku mengabaikanmu? Sejarah saat aku berselingkuh di depan matamu? Atau sejarah saat aku membiarkanmu menunggu di bawah hujan sementara aku tertawa dengan pria lain?"

Aku melangkah maju satu tindak, membuat Baskara terpaksa mundur. "Bagiku, sejarah itu tidak layak dibanggakan, Bas. Mengakui kita pernah kenal hanya akan menodai kebahagiaanmu sekarang. Aku sedang membantumu membuang sampah, kenapa kamu justru marah?"

Baskara ternganga. Ia tampak tercekik oleh ketenanganku. Ia terbiasa dengan Aruna yang meledak-ledak atau Aruna yang menghindar, tapi Aruna yang mengakui kebusukannya sendiri dengan wajah sedingin ini adalah mimpi buruk baginya.

"Kamu... kamu benar-benar sudah tidak punya hati, ya?" bisiknya serak.

"Aku punya hati, Bas. Itulah sebabnya aku berbohong," balasku, tetap dengan nada bicara yang stabil. "Aku ingin kamu bahagia dengan Rasya tanpa bayang-bayang perempuan egois dari masa kuliah mu. Jadi, mari kita sepakati satu hal: Di kantor ini, kita baru kenal. Di luar kantor ini, kita tidak pernah ada."

Aku merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan karena emosinya tadi—sebuah gerakan yang sangat formal tanpa ada rasa hangat sedikit pun.

"Kembalilah ke meja kerjamu. Rasya menunggumu dengan senyum yang tulus, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kuberikan padamu dulu, maupun sekarang."

Aku berbalik dan meninggalkannya yang masih berdiri mematung di lorong gelap itu. Gema langkah kakiku terdengar mantap, sementara aku tahu, Baskara sedang hancur berkeping-keping karena ia baru menyadari bahwa ia benar-benar mengenali Aruna yang tenang ia hanya tahu Aruna yang egois

Begitu sampai di meja kerjaku, aku langsung menjatuhkan diri ke kursi. Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga paru-paruku yang terasa sesak setelah konfrontasi di lorong tadi. Tanganku yang sejak tadi kupaksa tetap stabil, kini mulai gemetar hebat di bawah meja.

Aku tidak sedingin yang kulihat di depan Baskara. Aku hanya berusaha bertahan.

"Aruna? Kamu oke? Tadi kelihatannya buru-buru banget balik dari makan siang," tegur Siska, rekan sebangkuku, sambil menyodorkan beberapa lembar dokumen.

"Iya, nggak apa-apa, Sis. Cuma dikejar deadline laporan aja," jawabku singkat, memaksakan senyum tipis yang terasa kaku.

Aku menyalakan layar monitor, mencoba memfokuskan mata pada deretan angka yang menari-nari di sana. Namun, bayangan wajah Baskara yang hancur terus membayangi. Aku tahu, dengan menyangkal masa lalu kami, aku baru saja memberikan luka jenis baru padanya. Selama dua tahun dulu, ia merasa tidak dianggap secara emosional. Sekarang, ia merasa keberadaannya benar-benar dihapus dari sejarah hidupku.

Mungkin memang harus begini, batinku.

Tak lama kemudian, aku mendengar langkah kaki yang familier melewati kubikelku. Aku tidak mendongak, namun aroma parfum Baskara yang tertinggal memberitahuku bahwa ia baru saja lewat menuju ruangannya. Aku bisa merasakan tatapannya tertuju padaku selama beberapa detik, namun ia tidak berhenti. Ia terus berjalan, mengikuti permintaanku untuk kembali ke dunianya yang baru.

Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi dari grup koordinasi proyek muncul.

Rasya: "Mbak Aruna, revisinya oke banget! Pak Hendra puas. Makasih ya buat bantuannya tadi pagi . Besok kita meeting final, ya!"

Aku menatap pesan itu dengan rasa hambar. Aku telah melakukan segalanya dengan benar secara profesional. Aku menyelamatkan hubungan mereka dari kecurigaan. Aku membantu proyek perusahaan. Namun, kenapa gema rasa bersalah ini justru terasa semakin sunyi dan mematikan?

Aku menyadari satu hal; Baskara sekarang tahu bahwa Aruna yang tenang jauh lebih menakutkan daripada Aruna yang egois. Karena dalam ketenanganku, tidak ada lagi ruang baginya untuk masuk—bahkan hanya untuk sekadar membenciku.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!