Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Pagi itu, sinar matahari Boston yang pucat menembus jendela apartemen, namun tidak mampu mencairkan atmosfer yang membeku di meja makan. Asher Hudson duduk dengan kantung mata yang menghitam; ia tidak tidur sedetik pun. Pikirannya disiksa oleh bayangan kartu hitam tanpa batas milik Rose dan sosok pria misterius dari masa lalu istrinya yang tiba-tiba hadir kembali seperti hantu yang menuntut balas.
Mia tidak ikut sarapan. Dari kamar sebelah, terdengar suara mual yang dibuat-buat, namun kali ini Asher tidak berlari menghampirinya. Pikirannya tertuju sepenuhnya pada wanita yang duduk dengan sangat tenang di depannya. Rose Moore, sedang mengolesi rotinya dengan selai nanas, gerakannya begitu anggun, seolah-olah dia tidak baru saja menghancurkan mental suaminya semalam.
Asher meletakkan garpunya dengan denting yang kasar. "Sudah berapa lama kau bertemu lagi dengan mantan kekasihmu itu?"
Rose mendongak, matanya yang hijau berkilat penuh kemenangan. "Sejak aku tahu kau menikahi Mia Tiga bulan yang lalu. Begitu kau mengkhianati janji sucimu, aku memutuskan untuk kembali ke tempat di mana aku benar-benar dihargai."
Asher merasakan dadanya sesak. "Apa aku mengenalnya? Apa dia orang Boston?"
Rose terkekeh, suara tawa yang merdu namun menusuk. "Mungkin di Boston kau tidak akan menemukan namanya di majalah lokal. Tapi, Asher, jika kau memiliki majalah bisnis Texas atau mengikuti perkembangan bursa saham di Los Angeles, California, hingga Chicago... maka kau akan menemukannya. Hampir di setiap sampul utama, perusahaan miliknya masuk dalam jajaran nomor satu."
Deg.
Jantung Asher seolah berhenti. Sampul majalah? Bursa saham nasional? Jajaran orang terkaya Amerika? Ia menatap Rose dengan rasa tidak percaya yang bercampur dengan rasa rendah diri yang akut. Selama ini, ia merasa hebat sebagai Direktur Pemasaran di Boston, namun pria yang dibicarakan Rose berada di kasta yang jauh di atasnya. Pria itu bukan lagi sekadar mantan kekasih, melainkan raksasa yang bisa menggilasnya dalam satu kedipan mata.
"Siapa dia, Rose? Katakan padaku siapa namanya!" bentak Asher. Rasa penasarannya sudah membuncah hingga ke ubun-ubun.
Rose hanya tersenyum tipis, menyesap kopinya dengan santai. "Kau tidak akan mendapatkan jawabannya dariku, Asher. Carilah sendiri, jika kau mampu menembus lingkaran elitnya."
Prang!
Asher membanting gelas kristal di tangannya hingga hancur berkeping-keping di lantai. Napasnya memburu. Membayangkan istrinya kembali disentuh, didekap, dan melewati malam panas bersama pria sekuat itu membuat harga diri Asher yang rapuh mencoba memberontak dengan cara yang menjijikkan.
Asher tiba-tiba tertawa, sebuah tawa paksa yang terdengar parau. "Hahaha... Sayang sekali kekasihmu itu. Aku sudah menyentuhmu hampir dua tahun, Rose. Aku sudah memiliki setiap inci tubuhmu lebih lama darinya. Pasti kalian dulu saat berpacaran tidur bersama masih bisa dihitung dengan jari, bukan? Namanya juga masih remaja, paling hanya ciuman hambar dan tidur sembunyi saat orang tuanya tidak ada."
Rose meletakkan cangkirnya. Ia menatap Asher dengan pandangan iba, seolah sedang melihat serangga kecil yang mencoba menggertak singa.
"Kau ingin membandingkan dirimu dengannya, Asher?" Rose memajukan tubuhnya. "Ketahuilah satu hal. Aku mengonsumsi pil pencegah kehamilan selama satu tahun lebih saat bersamanya di Texas. Dan di tahun pertama kami pacaran saja, kami sudah menghabiskan ratusan kotak pengaman. Dibandingkan dengan pernikahan singkat dua tahun kita yang hambar dan penuh pertanyaan gilamu itu... sepertinya hubungan kita tidak ada apa-apanya."
Deg.
Wajah Asher memucat, lalu berubah menjadi merah padam. Kata-kata Rose bukan lagi sekadar kejujuran, itu adalah pengeboman terhadap egonya sebagai seorang pria.
Tanpa sadar, Asher bangkit dan mencengkeram rahang Rose dengan sangat keras hingga wanita itu meringis. Di sudut koridor, Mia Ruller berdiri membeku. Ia sudah menguping sejak tadi, rasa penasarannya tentang pria kaya itu sama besarnya dengan Asher. Namun, melihat suaminya meledak dalam emosi yang mengerikan, Mia hanya bisa terdiam dengan jantung berdebar.
"Jadi... masa remajamu kau habiskan dengan tidur dengan pria brengsekmu itu?" Asher mendesis tepat di depan wajah Rose, matanya seakan ingin menelan Rose hidup-hidup. "Aku menyesal! Aku menyesal telah menerimamu sebagai pelengkap hidupku! Aku mencintaimu, aku memuja tubuhmu, tapi ternyata selama ini kau hanyalah sampah yang dipuja oleh kekasihmu!"
Asher melepaskan cengkeramannya dan tertawa histeris. "Hahaha! Pil pencegah kehamilan? Kau meminum itu di usia semuda itu? Pantas saja kau sulit hamil sekarang! Rahimmu sudah rusak karena gaya hidup murahanmu itu! Lelucon apa ini? Menghabiskan ratusan kotak pengaman? Kau benar-benar wanita kotor, Rose!"
PLAK!
Asher mengayunkan tangannya, mendaratkan tamparan keras di pipi kiri Rose. Suara hantaman itu bergema di ruang makan yang sunyi.
Rose terlempar sedikit ke samping, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan sedikit darah. Namun, Rose tidak menangis. Ia tidak berteriak kesakitan. Ia perlahan memutar kepalanya kembali menghadap Asher, menatap suaminya dengan mata hijau yang sekarang berkilat seperti pedang yang baru saja diasah.
Ia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum—sebuah senyum yang paling mengerikan yang pernah Asher lihat.
"Kau ingin tahu satu rahasia lagi, Asher?" suara Rose sangat pelan, namun setiap katanya terasa seperti paku yang dipukul masuk ke jantung Asher. "Bahkan saat aku tidur denganmu... saat kau berada di atasku selama dua tahun ini... aku selalu membayangkan wajahnya. Aku membayangkan sentuhannya yang jauh lebih jantan dan penuh gairah daripada sentuhanmu yang membosankan. Kau puas?"
Asher tertegun. Ia merasa dunianya runtuh seketika. Selama dua tahun ini, ia pikir ia memiliki Rose sepenuhnya, namun ternyata ia hanyalah sebuah bayangan hambar di bawah pengaruh sosok pria lain yang tak pernah bisa ia tandingi.
"Kau... kau jalang!" raung Asher, ia mengangkat tangannya lagi seolah ingin memukul Rose sekali lagi.
"Lakukan saja, Asher," tantang Rose, berdiri tegak tanpa rasa takut. "Pukul aku sesukamu. Tapi ingat, setiap bekas luka yang kau tinggalkan di tubuhku hari ini, akan menjadi alasan bagi pria pemilik kartu hitam itu untuk menghapus nama Hudson dari muka bumi ini. Dia tidak akan membiarkan wanitanya disakiti oleh pria pecundang sepertimu."
Mia, yang ketakutan melihat Asher yang seperti kesurupan, akhirnya berteriak. "Asher! Hentikan! Ingat bayi kita!"
Asher berhenti, tangannya gemetar di udara. Ia menatap Rose, lalu menatap tangannya sendiri. Ia merasa kalah telak. Kehadiran Nikolai Volkov—meski namanya belum terucap—telah menghancurkan otoritas Asher di rumahnya sendiri.
Rose merapikan rambutnya yang berantakan dengan sangat tenang. Ia mengambil tas tangannya, berdiri, dan menatap Asher dengan pandangan yang penuh dengan kehinaan.
"Selamat atas bayi kalian," ucap Rose dingin. "Fokuslah padanya, Asher. Karena mulai hari ini, kau bukan lagi suamiku. Kau hanyalah penghuni sementara di apartemen yang akan segera kupindahkan kepemilikannya. Dan kau, Mia... nikmatilah pria yang kau rebut ini, karena dia bahkan tidak mampu memiliki hati istrinya sendiri."
Rose melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Di bawah apartemen, Nikolai sudah menunggu di dalam mobil hitamnya. Ia melihat memar di pipi Rose dan darah di sudut bibirnya.
Wajah Nikolai berubah menjadi sangat gelap. Kegilaan yang dingin terpancar dari matanya. "Dia menyentuhmu, Rosemary?"
Rose hanya mengangguk pelan. "ini sudah selesai, Nik. Sekarang, lakukan apa yang ingin kau lakukan."
Nikolai mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor dengan kecepatan yang mematikan. "Jude. Hancurkan saham Hudson Marketing Group dalam satu jam ke depan. Dan pastikan Arthur Hudson tahu bahwa putranya baru saja menandatangani surat kematian bisnis mereka dengan tangannya sendiri."
Di atas sana, di apartemen mewah itu, Asher Hudson terduduk lemas di lantai dapur di antara pecahan kaca, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya karena rasa penasaran yang tidak bisa ia kendalikan. Rahasia masa lalu Rose yang ia tuntut untuk dibuka, ternyata adalah kotak Pandora yang akan melenyapkannya selamanya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰