NovelToon NovelToon
This Is? Another World?

This Is? Another World?

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Akademi Sihir / Fantasi Isekai
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Raphiel-Viel

Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.10 Malam Festival dan Bayangan yang Terbakar

Beberapa hari setelah pagi yang tenang itu, kota Eldoria Luminaris mulai berubah.

Aku pertama kali tahu ada festival dari obrolan tamu di lantai bawah penginapan. Mereka bilang festival besar tahunan akan segera dimulai: Festival Cahaya Bulan (Moonlight Festival). Katanya festival ini sudah berlangsung ratusan tahun, sebagai perayaan akhir musim panen dan doa supaya bulan tetap memberi cahaya di malam gelap. Tradisi utamanya adalah “Membuat hiasan untuk menghiasi malam Festival”—orang-orang membuat lampion, bunga kertas, dan ornamen bulan dari kain serta kayu, lalu dipajang di seluruh alun-alun sebagai simbol harapan dan cahaya yang menyatukan kota. Anak-anak kecil suka ikut bikin, dan malam harinya semua lampion dinyalakan sekaligus, menciptakan lautan cahaya yang indah.

Aku nggak langsung cerita ke Nyx. Dia lagi senang-senangnya setelah latihan sihir kemarin berhasil, dan aku nggak mau langsung bikin dia khawatir. Tapi pagi itu, saat kami turun untuk sarapan, Lyre sudah cerita sendiri.

“Festival Cahaya Bulan mulai besok lusa, Ely. Kota bakal ramai sekali. Kalau kalian mau lihat persiapan, sekarang bagus. Jalanan sudah mulai dipasang lampion, orang-orang bikin stan makanan, bahkan ada parade kecil di pusat kota. Bangsawan Valorian juga datang memberikan sambutan, seperti tradisi setiap tahun.”

Nyx yang lagi minum susu hangat langsung angkat kepala. Matanya berbinar penasaran, tapi ada sedikit keraguan.

“Festival? Ada apa aja, Lyre?”

Lyre tersenyum lembut. “Banyak. Ada pertunjukan sihir kecil, makanan gratis dari pedagang, tarian di bawah bulan purnama. Anak-anak suka banget bagian membuat hiasan lampion bareng. Kalau kalian mau, besok pagi bisa jalan-jalan lihat persiapan. Nggak terlalu ramai dibanding hari H-nya.”

Aku melirik Nyx. Dia kelihatan tertarik, tapi tangannya mencengkeram gelas susu lebih erat.

“Kita coba lihat besok pagi aja,” kataku pelan. “Kalau terlalu ramai atau kau nggak nyaman, kita balik langsung. Nggak usah dipaksa.”

Nyx mengangguk pelan. “Iya… aku mau lihat. Kayaknya seru.”

Besok paginya, kami keluar setelah sarapan. Jalanan Eldoria Luminaris sudah jauh lebih ramai dari biasanya. Orang-orang berlalu-lalang bawa keranjang anyaman penuh kain warna-warni, kertas lipat, dan tangga kayu untuk pasang lampion. Di pusat kota, alun-alun besar sudah mulai dihias: tiang-tiang kayu ditanam, spanduk kain biru-putih bergambar bulan digantung, dan anak-anak kecil berlarian bantu orang tua mereka membuat hiasan bulan dari kertas dan kain. Bau roti manis, daging panggang, dan permen kapas sudah tercium dari jauh.

Nyx berjalan di sampingku, mantel tudungnya ditarik rapat, matanya nggak bisa diam. Dia terus menoleh ke sana kemari, telinganya bergerak-gerak di balik tudung setiap ada suara baru.

“Kak Ely… lihat itu! Lampionnya bisa menyala sendiri!” bisiknya excited, menunjuk ke arah sekelompok pemuda yang lagi uji coba lampion sihir kecil.

Aku tersenyum kecil. “Mau coba pegang?”

Dia menggeleng cepat. “Nggak… nanti orang lihat telingaku.”

“Kita cari tempat yang sepi dulu.”

Kami berjalan pelan mengelilingi alun-alun. Di tengah, ada panggung kayu besar yang lagi dibangun. Beberapa pelayan bangsawan dengan baju mewah sudah datang, membawa kotak-kotak berisi kain sutra dan perhiasan untuk dekorasi. Aku dengar bisik-bisik dari orang sekitar: “Putra Duke Valorian datang besok untuk sambutan. Katanya tahun ini festival bakal lebih meriah, karena ada ‘ancaman bayangan’ lagi.”

Aku mengerutkan kening. Kata “bayangan” itu terdengar terlalu spesifik. Nyx juga mendengar, telinganya langsung merunduk.

“Kak Ely… bayangan apa?”

“Nggak apa-apa. Cuma gosip orang. Ayo kita lihat stan makanan aja.”

Kami beli dua tusuk daging panggang madu dan duduk di bangku kayu pinggir alun-alun. Nyx makan pelan, tapi matanya terus mengamati orang-orang. Dia kelihatan senang, tapi juga agak tegang.

“Kak Ely… kalau besok aku ikut festival beneran… boleh nggak aku lepas tudung?”

Aku diam sebentar. “Boleh. Tapi kalau kau nggak nyaman, pakai aja. Aku di sampingmu terus.”

Dia mengangguk pelan, lalu tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Sehari sebelum festival dimulai, suasana penginapan The Golden Inn masih tenang. Aku lagi duduk di meja sudut sambil mengasah katana—kebiasaan lama dari Bumi—ketika pintu depan berdering lonceng kecil.

Lyre menyapa tamu baru. “Selamat datang! Mau menginap atau makan saja?”

Suara yang familiar menjawab. “Aku mencari Elysia Sylphy. Aku dari akademi Luminiella.”

Aku langsung angkat kepala. Nyx yang lagi duduk di sebelahku juga menoleh, tubuhnya langsung menegang sedikit.

Cae berdiri di pintu, rambut biru tuanya diikat ponytail rapi, baju seragam akademi sedikit berdebu karena perjalanan. Dia kelihatan agak capek, tapi matanya langsung cerah saat melihat aku.

“Kak Ely! Akhirnya ketemu!”

Aku berdiri. “Cae? Kamu ke sini sendirian?”

“Iya! Aku dapat libur dua hari, jadi langsung ke sini. Aku cuma mau ajak Kak Ely ikut festival besok. Kota lagi ramai banget, pasti seru kalau keliling bareng.”

Cae melirik ke arah Nyx yang masih duduk di belakangku. Matanya melebar sedikit saat melihat telinga kucing hitam yang sedikit tersembunyi di balik tudung mantel Nyx. Ekspresinya berubah dari kaget menjadi penasaran, tapi bukan kaget takut atau jijik—lebih seperti “oh, ada beastkin di sini”.

“Eh… halo?” Cae menyapa pelan, nggak langsung mendekat. “Kau… temannya Kak Ely?”

Nyx mengangguk kecil, suaranya hampir nggak terdengar. “Iya… aku Nyx.”

Cae tersenyum tipis, masih dari jarak aman. “Aku Cae. Teman Kak Ely dari akademi. Senang kenal kamu, Nyx. Telingamu… lucu banget.”

Nyx langsung menunduk, pipinya merah. Telinganya merunduk malu, tapi ekornya di balik mantel bergoyang pelan sekali—mungkin karena pujian itu terasa tulus.

Cae nggak memaksa ngobrol lebih lanjut. Dia taruh tasnya di meja, lalu duduk di kursi seberang. “Aku nggak tahu Kak Ely punya teman seimut ini. Maaf ya kalau aku tiba-tiba datang. Aku cuma mau ajak Kak Ely keliling festival besok. Kalau Nyx juga mau ikut… boleh banget. Tapi kalau nggak nyaman, nggak apa-apa kok.”

Nyx diam sebentar, lalu lirik ke aku. Aku mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa aman.

“…Aku… mau coba ikut,” kata Nyx kecil. “Tapi… kalau banyak orang, aku takut.”

Cae mengangguk mengerti. “Pasti. Festival besok ramai, tapi kita bisa jalan di pinggir aja, atau cari tempat yang nggak terlalu penuh. Kalau capek, langsung balik ke sini.”

Lyre lewat lagi, bawa teh untuk Cae. “Nih, minum dulu. Capek ya dari perjalanan?”

Cae mengangguk. “Iya, Bu. Terima kasih.”

Malam itu, kami bertiga duduk di meja makan sambil ngobrol ringan. Cae cerita soal akademi tanpa terlalu memaksa Nyx ikut bicara. Nyx lebih banyak mendengar, sesekali mengangguk atau bertanya kecil seperti “Akademi… susah ya?”. Suasana masih agak canggung—mereka baru pertama kali bertemu—tapi Cae nggak pernah sekali pun menunjukkan sikap aneh atau takut karena ras Nyx. Dia cuma memperlakukan Nyx seperti gadis kecil biasa yang lucu dan pemalu.

Besoknya adalah hari festival.

Festival Cahaya Bulan dimulai saat matahari terbenam. Alun-alun penuh lampion yang menyala sendiri, aroma makanan manis dan daging panggang memenuhi udara. Musik petikan kecapi dan genderang kecil terdengar dari panggung. Orang-orang berpakaian bagus berlalu-lalang, anak-anak lari-larian bawa lampion kecil.

Nyx berjalan di antara aku dan Cae, topi kelinci yang Cae sarankan kemarin dipakai (dia pinjam dari Cae pagi tadi). Topi itu membuatnya kelihatan seperti anak biasa yang lagi cosplay. Dia excited, tapi tangannya mencengkeram lengan aku erat-erat.

“Kak Ely… banyak orang sekali.”

“Tenang. Kita cuma lihat-lihat. Kalau capek, langsung pulang.”

Kami berjalan ke tengah alun-alun. Di sana, Duke Valorian—pria paruh baya berjubah mewah dengan lambang keluarga—naik ke panggung untuk sambutan. Suaranya menggema.

“Selamat datang di Festival Cahaya Bulan! Malam ini, kita rayakan cahaya bulan yang melindungi kita dari bayangan gelap. Dan seperti tradisi, kita buat hiasan untuk menghiasi malam ini supaya cahaya tetap menyinari kota kita!”

Orang-orang bersorak. Beberapa anak kecil dan keluarga bawa hiasan bulan dari kertas dan kain ke tengah alun-alun, memajangnya di tiang-tiang khusus sambil bernyanyi doa kecil.

Festival Cahaya Bulan berjalan indah di awalnya. Lampion-lampion mengapung pelan di udara, cahaya kuning hangat menerangi wajah-wajah orang yang tersenyum. Musik kecapi dan genderang kecil mengalun lembut, anak-anak berlarian dengan hiasan bulan kertas di tangan. Aroma daging panggang madu dan permen kapas memenuhi udara. Nyx berjalan di antara aku dan Cae, topi kelinci palsunya membuatnya terlihat seperti anak kecil biasa yang lagi bersenang-senang. Tangannya mencengkeram lengan aku erat-erat, tapi matanya berbinar setiap melihat lampion baru.

Semuanya berubah dalam sekejap.

Tiba-tiba, dari empat sisi alun-alun, sekelompok orang muncul secara serentak. Mereka semua memakai jubah hitam panjang yang menutupi tubuh dari kepala sampai kaki, tudungnya ditarik rapat sehingga wajah mereka tersembunyi di balik bayangan pekat. Jumlahnya banyak—mungkin sekitar tiga puluh orang atau lebih. Gerakan mereka terkoordinasi, seperti sudah latihan lama, tanpa suara atau teriakan berlebihan di awal. Mereka nggak langsung bicara slogan atau provokasi massa; mereka langsung beraksi.

Yang paling depan mengangkat tangan kanan—api hitam menyala dari telapaknya, bukan api biasa yang oranye-merah, tapi api gelap yang menyerap cahaya sekitarnya. Lampion-lampion di atas kepalanya langsung meredup seolah cahayanya disedot. Dia lempar api itu ke salah satu tiang hiasan bulan terdekat—tiang itu langsung terbakar dengan api hitam yang aneh, asapnya tebal berbau belerang dan logam gosong, membuat area sekitarnya gelap seketika seperti malam tanpa bulan.

Kerumunan langsung panik total. Teriakan pecah di mana-mana.

“Apa itu api hitam?!”

“Serangan! Penyusup!”

“Lari! Lari dari mereka!”

Nyx langsung menjerit kecil, suaranya hilang di tengah kekacauan. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya mencengkeram lengan aku sampai kukunya terasa menusuk kulit. Topi kelinci palsunya bergeser sedikit, memperlihatkan ujung telinga hitam asli yang merunduk ketakutan.

“Kak Ely… mereka… jubah hitam… banyak sekali…”

Aku langsung tarik katana dari sarungnya dengan gerakan halus tapi cepat. Bunyi logam keluar dari sarung terdengar jelas di tengah teriakan massa.

“Cae, lindungi Nyx! Jangan biarkan dia terpisah!”

Cae mengangguk cepat, wajahnya tegang. Dia angkat tangan kanan, mana mengalir ke telapaknya seperti hembusan angin yang terlihat samar.

“Wind Barrier!”

Angin tipis tapi kuat langsung melingkari kami bertiga seperti gelembung tak kasat mata. Kertas hiasan, debu, dan asap hitam beterbangan di sekitar kami tapi nggak bisa masuk. Nyx bersandar ke belakang Cae, napasnya cepat dan pendek, tangannya masih mencengkeram lengan aku dari samping.

Kelompok jubah hitam maju lebih dekat. Mereka bergerak seperti pasukan—beberapa maju dengan pisau ritual pendek yang bilahnya bercahaya hitam samar, beberapa lagi lempar bola api hitam ke arah panggung dan kerumunan. Api itu nggak membakar normal; ia menyerap cahaya, membuat area sekitarnya gelap seketika, seperti menelan lampion satu per satu.

Penjaga kota dan ksatria yang bertugas di festival langsung bereaksi. Dua puluh orang penjaga dengan tombak dan perisai berlari dari sisi alun-alun, sementara ksatria elit—berbaju zirah ringan dengan lambang bulan di dada—maju dari belakang panggung. Suara terompet peringatan menggema keras.

“Lindungi warga! Tangkap penyusup! Jangan biarkan api hitam menyebar!”

Pertarungan pecah di mana-mana.

Aku maju ke depan, katana sudah siap. Jubah hitam pertama mendekat—dia angkat pisau ritualnya, api hitam menyelimuti bilahnya seperti asap hidup. Aku tangkis dengan punggung katana—benturan itu terasa aneh, seperti menangkis asap yang padat dan dingin. Api hitam mencoba merayap ke bilahku, tapi aku putar pergelangan tangan dan tebas ke bawah—pisau ritualnya patah jadi dua, tangannya teriris dalam. Dia menjerit tertahan dan mundur sambil memegangi lengan.

Dua lagi maju dari samping. Satu lempar bola api hitam ke arah kami—Cae langsung dorong dengan anginnya, bola itu membelok dan meledak di tanah, menciptakan lubang kecil berasap hitam yang membuat rumput di sekitarnya layu seketika.

“Kak Ely… mereka… nggak normal!” kata Cae, suaranya tegang tapi tetap fokus.

Nyx tiba-tiba pegang tanganku erat-erat dari belakang. “Kak Ely… aku… mau coba buff!”

Aku mengangguk tanpa menoleh. “Lakukan. Aku butuhmu sekarang.”

Nyx menutup mata, tangannya mencengkeram lebih kuat. Mana mengalir dari tubuh kecilnya ke tubuhku—hangat, seperti aliran air hangat di urat nadi. Pendengaran jadi tajam luar biasa; aku bisa dengar detak jantung setiap musuh di balik jubah hitam, hembusan napas mereka yang cepat dan teratur, bahkan bisik-bisik di antara mereka: “Tangkap beastkin hitamnya dulu… dia kuncinya.” Kekuatan fisik juga meningkat—ototku terasa lebih padat, gerakan lebih ringan berkat gravitasi dunia ini.

Aku melesat maju.

Jubah hitam keempat coba tusuk dari depan—aku miringkan badan, pisau ritualnya lewat tepat di samping telingaku. Aku dengar tarikan napasnya dua detik sebelum serangan itu datang. Aku ambil batu kecil dari tanah—lempar tepat ke tangan pemanah api hitam di belakangnya. Dia menjerit, bola api yang lagi dibentuk jatuh dan meledak di kakinya sendiri.

Lima orang maju sekaligus sekarang. Aku nggak mundur. Buff Nyx membuat dunia terasa lambat—setiap gerakan mereka terlihat jelas seperti gerakan lambat. Tebasan pertama ke kiri—pisau ritual lawan patah jadi dua, tangannya teriris. Tendangan berputar ke kanan—pria dengan tongkat api terpental ke tiang lampion, tiangnya bergoyang keras dan beberapa lampion jatuh. Aku putar badan, tebas horizontal lebar—dua orang lagi jatuh dengan luka di dada dan bahu, jubah hitam mereka robek, darah gelap menyembur tipis ke tanah.

Cae bantu dari belakang. “Wind Cutter!”

Angin tipis mengiris seperti pisau—membuat dua jubah hitam yang coba flank dari samping terpental ke belakang, mendarat di antara kerumunan yang langsung mundur ketakutan. Nyx nggak lepas tanganku, mana-nya terus mengalir meski suaranya mulai terengah-engah.

“Kak Ely… aku… tahan sebentar lagi!”

Aku mengangguk. “Cukup. Kau sudah luar biasa.”

Ksatria kota dan penjaga sudah bertarung di sisi lain alun-alun. Tombak mereka menangkis pisau ritual, perisai menghalau api hitam. Satu ksatria elit menebas jubah hitam dengan pedang panjang—jubah itu robek, memperlihatkan tato aneh di dada musuh: simbol lingkaran dengan mata di tengah, seperti matahari gelap yang dilingkari rantai.

Kelompok jubah hitam mulai mundur teratur. Mereka nggak bertarung sampai mati—seperti sedang menguji atau mengalihkan perhatian. Yang tersisa kabur ke gang-gang gelap di sekitar alun-alun, meninggalkan beberapa yang terluka dan tertangkap penjaga.

Penjaga kota langsung mengamankan area. Kerumunan bubar perlahan, orang-orang lari ke pinggir sambil berteriak panik.

Aku menyarungkan katana, napasku ngos-ngosan. Buff Nyx memudar pelan-pelan. Dia langsung lemas di belakangku, tubuh kecilnya gemetar. Aku langsung gendong dia.

“Nyx… kau baik-baik aja?”

Dia mengangguk lemah, air mata mengalir. “Aku… takut… tapi aku nggak lari…”

Cae mendekat, wajahnya pucat tapi matanya penuh kekaguman. “Kak Ely… cara bertarungmu tadi… seperti bukan manusia…”

Aku hanya tersenyum tipis, meski dada aku masih naik-turun.

Alun-alun yang tadinya indah sekarang penuh lubang, tiang roboh, kain hiasan hangus, dan asap hitam masih mengepul di beberapa titik.

Festival Cahaya Bulan yang seharusnya meriah berubah jadi kekacauan besar dalam waktu singkat.

Penjaga kota mulai mengamankan area, tapi kerusakan sudah telanjur parah. Aku tahu besok pagi berita ini akan menyebar ke seluruh kota.

“Kita pulang sekarang, Cae juga ikut sini. ” kataku pelan sambil menggendong Nyx lebih erat.

1
Wahyuningsih
q mampir thor
Raphiel-Viell: Iyah, makasih
total 1 replies
Raphiel-Viell
Mohon dikoreksi jika ada penulisan yg kurang Rapih dan kurang tepat
Bern
Menarik ya dengan berbeda perspektif gini
Nana
Gaya penulisan nya agak kaki, tapi it's okay sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!