Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Fajar Berdarah
Surga Ketiga - Batas Wilayah Puncak Matahari Kembar.
Fajar di Surga Ketiga tidak pernah membawa kehangatan yang lembut. Langit terbelah oleh warna emas kemerahan yang begitu terang hingga menyilaukan mata fana, membakar awan-awan menjadi abu.
Di ufuk timur, menjulang Puncak Matahari Kembar. Gunung itu tidak terbuat dari tanah atau batu, melainkan sisa fosil tengkorak raksasa milik Dewa Matahari Purba yang telah mati jutaan tahun lalu. Di kedua rongga mata tengkorak itulah Klan Gagak Emas membangun istana mereka, memancarkan panas yang mendidihkan lautan awan di sekitarnya.
Jauh di bawah bayang-bayang gunung tersebut, armada hitam pekat Malam Abadi melayang tanpa suara, diselubungi oleh Dao Bayangan yang ditenun dengan susah payah oleh para tetua Kuil Teratai Darah.
Di atas geladak kapal komando, Mo Han berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung. Wajahnya yang keriput dipenuhi kebanggaan. Ia menatap puluhan ribu pasukan fana yang kini mengenakan zirah hitam legam, menatapnya dengan penuh rasa hormat.
Ah, sungguh indah menjadi Penatua Luar, batin Mo Han, dadanya membusung. Namun di balik jubah besarnya, kedua kakinya gemetar hebat seperti daun ditiup angin topan. Tekanan hawa panas dari Puncak Matahari Kembar nyaris membuat lututnya copot. Leluhurku, udara di sini panasnya seperti di dalam pantat naga api! Jika Tuan Shen tidak segera bertindak, aku akan matang sebelum perang dimulai!
Di haluan kapal, Yao Ji Sang Dewi Buangan berdiri dengan wajah cemberut. Ia sedang memandangi kuku-kuku lentiknya yang dicat dengan ekstrak teratai darah, lalu mendesah panjang.
"Seribu tahun aku mempertahankan keanggunanku di Kuil Teratai Darah," gerutu Yao Ji pelan, mengibaskan gaun sutranya yang sedikit terkena jelaga. "Sekarang aku harus ikut menyerbu gunung berapi bersama sekumpulan pelarian fana. Jika sutraku robek satu inci saja, aku akan menagih ganti rugi pada tiran gila itu."
Lin Xue, yang berdiri tepat di belakangnya, mendengus dingin. "Sutra bisa ditenun kembali. Jika kau menahan kekuatanmu nanti, aku sendiri yang akan memotong kepalamu sebelum Gagak Emas itu melakukannya."
Yao Ji menoleh, memaksakan senyum manis yang dipenuhi bisa. "Ratu Abadi selalu pandai bercanda."
"Dia tidak sedang bercanda," sebuah suara berat dan absolut memotong udara.
Shen Yu berjalan melewati mereka. Ia tidak mengenakan pelindung apa pun selain jubah hitamnya. Di bahu kanannya, Pemutus Samsara Primordial disandarkan dengan santai. Mata kirinya yang bercincin perak dan emas menatap lurus ke arah Puncak Matahari Kembar.
"Kita sudah berada di depan pintu mereka," Shen Yu menyeringai, sebuah senyuman tiran yang membuat udara panas Surga Ketiga seketika mendingin. "Mo Han! Matikan formasi penyembunyi. Buat suara yang paling bising. Aku ingin burung-burung itu bangun dan menyambut Kematian mereka."
"L-Laksanakan, Kaisar Malam!" Mo Han segera berteriak, suaranya pecah karena panik bercampur fanatisme.
BZZZZZT! BLAAAAAAAAAAR!
Selubung bayangan ditarik. Tiga puluh dua kapal perang raksasa hitam legam muncul secara tiba-tiba di cakrawala, menutupi sinar pagi. Terompet perang dari tanduk naga ditiup serentak, suaranya meremukkan puncak-puncak gunung kecil di sekitarnya.
Hanya butuh tiga tarikan napas sebelum lonceng dari Puncak Matahari Kembar berdentang panik.
"SERANGAN MUSUH! ADA ANJING LIAR KE WILAYAH KITA!" teriak para penjaga Klan Gagak Emas.
Dari rongga mata tengkorak raksasa itu, puluhan ribu kultivator berzirah emas melesat ke udara. Mereka memanggil Dao Api Kosmik, mengubah langit menjadi lautan api yang seolah hendak menelan armada Malam Abadi.
Di tengah lautan api itu, langit Surga Ketiga mendadak robek. Sesosok pria tua dengan rambut keemasan yang menyala seperti matahari turun dari celah dimensi. Jubahnya disulam dengan sembilan matahari. Auranya begitu menyesakkan hingga menekan armada Shen Yu turun sejauh sepuluh tombak.
Gagak Emas Leluhur. Seorang ahli tua di ranah mutlak Dewa Sejati Tahap Akhir.
"Jadi kalian tikus-tikus dari Surga Kedua yang memancing amarah Kaisar Taiyi," suara Leluhur itu bergema, mengandung hukum alam yang membuat darah mendidih. "Yao Ji! Beraninya kau ini ke tanah suci kami! Hari ini, aku akan membakar jiwa kalian selama sejuta tahun!"
Shen Yu tertawa, tawanya menggelegar dipenuhi arogansi. "Tanah suci? Kalian hanya bersarang di tengkorak dewa mati. Aku datang untuk mengubah tengkorak ini menjadi tempat minum baruku!"
"LANCANG!" raung Gagak Emas Leluhur. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara.
Seluruh Puncak Matahari Kembar bergetar hebat. Dari dalam inti gunung, semburan api purba meletus ke langit, membentuk jaring-jaring api yang mengurung seluruh wilayah.
"Formasi Pembakar Langit: Penjara Matahari Mutlak!"
Suhu melonjak drastis. Kayu perunggu dari kapal-kapal Shen Yu mulai berasap. Jika ini dibiarkan, seluruh pasukan fana akan hangus menjadi abu dalam sekejap.
Namun, sebelum Lin Xue atau Yao Ji sempat bergerak, Shen Yu melesat ke udara sendirian.
"Kalian kira hanya kalian yang bisa menggunakan barang rongsokan purba?!"
Shen Yu mengayunkan Pemutus Samsara Primordial ke depan. Urat emas dan perak pada bilah sabit hitam itu meledak dengan cahaya menyilaukan. Ketiadaan yang dipadukan dengan Hukum Cahaya Surga merobek Formasi Pembakar Langit itu seolah merobek tirai sutra tipis.
ZRAAAAAASH!
Jaring api raksasa itu terbelah menjadi dua. Shen Yu meluncur melewati celah itu, langsung menuju Gagak Emas Leluhur.
Leluhur tua itu membelalakkan matanya, terkejut melihat formasi kebanggaan klannya dipotong dengan satu tebasan. Namun, sebagai Dewa Sejati Tahap Akhir, ia memiliki segudang pengalaman.
Ia merogoh Dantian-nya dengan brutal, menarik keluar sebuah piringan emas raksasa yang bergerigi di tepinya, setengah bagiannya retak dan memancarkan darah hitam purba.
Itu adalah artefak surgawi yang sedang tertidur! Roda Kereta Dewa Matahari!
Begitu roda itu dikeluarkan, ruang waktu di Surga Ketiga menangis. Suara dentingan logam yang sarat akan penderitaan dan kebanggaan masa lalu bergema di lautan kesadaran semua orang. Roda itu pernah digunakan oleh Dewa Matahari Purba untuk membelah kekacauan, dan kini sisa-sisa roh di dalamnya menjerit, menolak untuk digunakan oleh kultivator picik seperti Leluhur Gagak Emas.
"Mati kau,!" Gagak Emas Leluhur melempar Roda itu. Roda emas yang terbakar itu melesat ke arah Shen Yu, membesarkan ukurannya hingga menutupi separuh langit, mencoba menggiling sang Tiran menjadi debu.
Melihat artefak surgawi yang menangis itu, tatapan Shen Yu tiba-tiba berubah. Seringai tiraninya memudar, digantikan oleh kesunyian yang amat dalam. Emosi yang sangat jarang ia rasakan resonansi dari keabadian yang kesepian.
Ketiadaan bukanlah sekadar kehancuran. Itu adalah tempat peristirahatan terakhir bagi segala hal yang ditinggalkan oleh era.
Shen Yu tidak menangkisnya. Ia membiarkan Roda raksasa itu menghantam bilah Pemutus Samsara Primordial-nya.
TRANGGGGGGG!
Benturan dua senjata purba itu menghasilkan gelombang kejut yang meluluhlantakkan ribuan pasukan Gagak Emas di udara. Namun, di titik pusat benturan, tidak ada ledakan.
Shen Yu berdiri kokoh menahan Roda raksasa yang berputar ganas mencoba menggilasnya. Tulang Besi Naga Bintang-nya mengerang keras, otot-ototnya tegang hingga batas maksimal. Matanya yang hitam legam menatap langsung ke dalam roh Roda tersebut.
"Roda tua," bisik Shen Yu, suaranya langsung menembus jiwa artefak itu. "Tuanmu yang memegang cahaya itu sudah lama mati. Era ini tidak lagi membutuhkan matahari yang terik. Era ini membutuhkan malam untuk mengistirahatkan semua kepedihanmu."
Roh di dalam Roda emas itu meronta, mengirimkan rasa sakit yang luar biasa ke dalam benak Shen Yu rasa sakit karena ditinggalkan, rasa sakit karena dipaksa melayani dewa-dewa palsu Pengadilan Langit.
"Aku tahu," Shen Yu mengangguk pelan, setetes darah segar mengalir dari sudut bibirnya, sebuah pengakuan langka dari rasa sakitnya sendiri. "Jalanku memang sepi. Menjadi tiran berarti menanggung seluruh kegelapan ini sendirian. Tidurlah, Roda tua. Biarkan kegelapanku memadamkan apimu."
Urat perak di Pemutus Samsara Primordial berdenyut hebat. Dao Waktu berputar mundur, menenangkan sisa-sisa trauma artefak purba tersebut.
Roda Kereta Dewa Matahari itu mendadak berhenti berputar. Apinya padam. Diiringi suara ratapan halus yang terdengar seperti kelegaan mutlak, artefak legendaris itu hancur menjadi debu emas yang bersinar lembut, sebelum akhirnya diserap masuk ke dalam bilah sabit Shen Yu.
Gagak Emas Leluhur membeku, wajahnya sepucat mayat. Senjata pusaka penahan klannya... baru saja dijinakkan dan dilahap?
"Sekarang," Shen Yu mengangkat wajahnya, emosinya kembali terkunci rapat di balik topeng Kematian. Ia melangkah melintasi sisa-sisa debu emas itu, sabit hitamnya kini memancarkan hawa panas murni yang baru saja lahir.
Shen Yu menghilang, dan seketika muncul di hadapan Gagak Emas Leluhur.
Leluhur tua itu mencoba memadatkan pelindung api, namun Ketiadaan yang kini memegang otoritas "Matahari Purba" mengabaikan hukum apinya sepenuhnya.
JLEEEB!
Sabit hitam legam itu menembus lurus jantung Gagak Emas Leluhur. Mata sang Leluhur mendelik lebar, merasakan kultivasinya selama seratus ribu tahun dikosongkan dalam satu tarikan napas.
"Taiyi... akan... membalas..." rintih Leluhur itu, sebelum tubuhnya mengering dan hancur menjadi abu yang tersapu angin Surga Ketiga.