Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Melunakkan hatinya
Hati Hu Lian langsung melembut melihat wajahnya yang penuh harapan. Dia mengangguk perlahan dan mengusap tangan Bai Xuning dengan lembut.
"Tenang saja... aku akan ambilkannya,"ucapnya dengan suara lembut sebelum berjalan ke arah lemari pakaian.Dia mengambil piyama satin berwarna hitam yang merupakan pasangan dengan yang ada padanya.
"Aku juga akan memakai piyama yang sama nanti....," katanya sambil memberikan pakaian itu pada Bai Xuning.
"hmm..."Pria itu menerima dengan senyum kecil yang hampir tidak terlihat, kemudian perlahan berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengobati lukanya sendiri.
Sementara itu, Hu Lian mengambil kain lap dan mulai membersihkan bekas air yang masih menyebar di lantai kamar dan ruang tamu, hati yang tadinya penuh kesedihan mulai merasa sedikit lega melihat bahwa Bai Xuning mau lebih tenang.
Bai Xuning keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah dan mengenakan piyama hitam satin yang sama dengan yang akan dikenakan Hu Lian.
Dia langsung pergi ke ruang tamu dan menemukan bahwa makanan sudah siap di atas meja—hidangan sederhana yang jelas dibuat oleh Hu Lian.
Hu Lian segera mendekatinya dan memintanya untuk makan dulu sebelum dia sendiri pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Kamu makan dulu aku akan mandi," ucapnya pergi meninggalkannya.Bai Xuning dengan patuh duduk di kursinya dan mulai makan perlahan.
Rasa makanan yang lezat masuk ke mulutnya, namun dia tidak bisa benar-benar menikmatinya.
Dia tahu dia sedikit jahat karena memanfaatkan perhatian dan belas kasihan gadis itu padanya setelah membuat dirinya terluka. Tapi dalam hatinya, dia benar-benar tak bisa membayangkan hidup tanpa Hu Lian di sisinya.
Setelah selesai makan, dia dengan cermat membersihkan meja dan menaruh semua piring kotor ke dalam mesin cuci piring.
Setelah itu, dia pergi ke sofa ruang tamu dan duduk dengan tenang, menyalakan TV namun tidak benar-benar melihat apa yang ditayangkan—matanya hanya menatap linglung ke arah layar, pikirannya penuh dengan berbagai hal yang ingin dia tanyakan namun takut untuk mengucapkannya.
Tak lama kemudian, Hu Lian keluar dari kamar tidur dengan mengenakan piyama hitam yang sama.
Dia melihat Bai Xuning yang sedang duduk diam di sofa dan langsung merasa bahwa suasana masih sangat berat meskipun sudah sedikit lebih tenang.
Hu Lian berjalan perlahan dan duduk di sisi Bai Xuning di sofa.
Tak butuh waktu lama, pria itu segera meraih tangannya dan meremasnya dengan lembut—jari-jarinya yang masih sedikit terluka menyentuh kulitnya dengan lembut.
Hu Lian menggenggam tangannya kembali dengan erat. Setelah beberapa saat diam menyatu dengan pandangan, dia akhirnya membuka pembicaraan.
"Apa kamu bisa membicarakannya sekarang?"tanya dia dengan suara lembut namun jelas.Bai Xuning mengangguk perlahan, namun masih sedikit ragu untuk membuka mulutnya.
Dia melihat tangan mereka yang saling menggenggam, kemudian menatap wajah Hu Lian dengan pandangan yang penuh dengan rasa sakit dan ketakutan.
"Aku... aku sangat takut kehilanganmu," ucapnya dengan suara yang sedikit serak."Ketika aku melihatmu bersama dia... semua kenangan tentang bagaimana kamu dulu pernah dekat dengannya membuatku merasa sangat tidak aman. Aku tahu aku salah untuk menyakiti diriku sendiri dan untuk marah tanpa tahu jelas apa yang terjadi."
Dia mengambil napas dalam sebelum melanjutkan. "Aku ingin tahu semuanya... tentang masa lalu kamu dengan Ling Zhi, tentang apa yang terjadi selama aku tidak ada di sisimu, dan tentang apa yang sebenarnya kamu rasakan padaku."
Hu Lian dengan hati-hati mulai menjelaskan semuanya secara rinci—dari bagaimana ingatannya tentang Ling Zhi mulai kembali sedikit demi sedikit, pertemuan mereka yang tidak disengaja, hingga bagaimana ibunya mendorong hubungan mereka.
Dia tidak menyembunyikan apapun, mulai dari makan malam bersama hingga saat Ling Zhi mengantarnya ke kampus.
Setiap kata dia ucapkan dengan jujur, tak ingin ada lagi kesalahpahaman antara mereka berdua.
Saat mendengar semua penjelasannya, Bai Xuning mengerut bibirnya dengan ekspresi yang penuh dengan rasa sakit.
Wajahnya menjadi semakin pucat, dan tak lama kemudian, air matanya mulai jatuh deras tanpa bisa dia tahan atau sembunyikan.
Dia tidak mengeluarkan suara apapun, hanya menangis dengan diam sambil tetap menggenggam tangan Hu Lian dengan erat.
Hu Lian melihatnya dengan hati yang sangat menyakitkan. Dia menarik tubuh Bai Xuning agar menyandar di bahunya, kemudian mengelus punggungnya dengan lembut.
"Maafkan aku... aku seharusnya memberitahumu lebih awal," bisiknya dengan suara yang tercekat."Tapi aku takut kamu akan marah dan mulai bertindak bodoh..."
Bai Xuning mengangguk perlahan, masih tidak bisa berbicara karena emosinya yang terlalu tinggi.
Dia merengkuh pinggang Hu Lian dengan lebih erat, seolah ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar ada di sana dan tidak akan pergi kemana-mana.
Meskipun hatinya merasa sakit mendengar semua cerita tentang kedekatan Hu Lian dengan Ling Zhi, dia juga tahu bahwa Hu Lian sedang berusaha untuk jujur dan itu adalah hal yang paling penting baginya.
Keduanya tetap berpelukan erat di sofa, tubuh mereka saling menopang satu sama lain.
Hu Lian tetap tenang selama seluruh pembicaraan, mengatur napasnya dengan hati-hati agar tidak terbawa emosi yang mungkin membuat Bai Xuning semakin terluka atau tidak nyaman.
Dia sangat menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya bisa saja terasa menyakitkan bagi pria yang sangat mencintainya.
Meskipun dia harus mengatakan semua yang benar, dia berusaha memilih kata-kata dengan sebaik mungkin agar tidak menyakiti perasaannya lebih dari yang sudah terjadi.
"Kamu tahu kan,..." ucap Hu Lian dengan suara yang lembut dan menenangkan, sambil terus mengelus punggung Bai Xuning dengan lembut, ".....bahwa tidak ada yang bisa menggantikan tempatmu, Masa lalu adalah masa lalu, tapi kamu adalah yang ada di sini dengan ku sekarang dan yang aku inginkan untuk masa depan."
Bai Xuning sedikit mengangkat wajahnya dari bahu Hu Lian, matanya masih merah karena menangis namun sudah mulai menunjukkan ekspresi yang lebih tenang.
Dia mengangguk perlahan dan mengusap air mata yang menetes di pipinya. "Aku tahu... aku hanya takut kehilanganmu. Takut kalau kamu ingat semua hal tentang dia dan memilih dia dariku," bisiknya dengan suara yang sudah mulai lebih stabil.
Hu Lian menarik wajah mendekat dan mencium dahinya dengan lembut ,lalu melihat pada Bai Xuning yg melihatnya dengan tertegun.
"Itu tidak akan pernah terjadi... kamu adalah satu-satunya untukku sekarang," ucapnya dengan penuh keyakinan, berharap kata-katanya bisa menghilangkan semua keraguan yang ada di hati Bai Xuning.
Bai Xuning segera memeluk Hu Lian dengan sangat erat, seolah ingin menyatu dengan tubuhnya.
Rasa senang yang luar biasa membanjiri hatinya—semua rasa khawatir, cemas, dan sakit hati yang selama ini menghantui dirinya perlahan sirna digantikan oleh rasa lega dan bahagia yang mendalam.
Gadis ini akhirnya benar-benar milikku... pikirnya dengan hati yang penuh kebahagiaan, wajahnya menyembunyikan diri di leher Hu Lian sambil menghirup aroma harum tubuhnya yang sudah begitu akrab baginya.
"Aku menyukaimu... aku sangat mencintaimu,"ucapnya dengan suara yang penuh emosi, mencium lehernya dengan lembut."......Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, sayang. Maafkan aku karena selalu membuatmu khawatir dan melakukan hal bodoh seperti kemarin."
"Aku memaafkan kamu jauh sebelum kamu memintanya...tapi jangan gegabah lain kali......"jawabnya dengan suara lembut.
Dia mengusap rambut Bai Xuning dengan perlahan, merasa sangat lega karena akhirnya semua masalah bisa teratasi dan mereka bisa kembali bersama dengan hati yang lebih kuat.
Setelah beberapa saat berpelukan, Bai Xuning sedikit mengangkat wajahnya dan melihat langsung ke mata Hu Lian.
Dengan hati-hati, dia membawa bibirnya mendekat dan menciumnya dengan lembut—suatu ciuman yang penuh dengan cinta, janji, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.