Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Dunia Harus Melewatiku.
Aku melangkah maju.
Dan seolah dunia menarik napas bersamaku.
Tanah di bawah kakiku bergetar pelan, bukan karena kekuatanku, tapi karena niat. Niat untuk berdiri. Untuk menjadi dinding terakhir. Udara hutan terbelah oleh tekanan aura, dedaunan bergetar seperti makhluk hidup yang menyadari malapetaka akan turun.
Dash!
Jiwa Terkurung pertama melesat.
Ia tidak berlari. Ia meluncur, meninggalkan jejak bayangan seperti luka di udara. Mata merahnya menyala terang, cakar hitamnya memanjang, merobek ruang di depannya.
Aku mengayunkan pedang.
Cahaya perak meledak dari bilahnya, bukan sekadar cahaya, tapi gelombang niat pedang—Tang!—Hantamannya membuat udara meraung. Benturan itu terdengar seperti logam menghantam lonceng raksasa.
Jiwa itu terpental, tubuhnya terpotong, tapi tidak hancur. Bayangan menyatu kembali, menjerit dengan suara yang membuat darahku bergetar.
Dua pemburu masuk bersamaan.
Langkah mereka menghancurkan tanah, aura mereka menyatu dalam formasi. Tombak menusuk dari kiri, pedang membelah dari kanan. Serangan yang dirancang untuk memaksa satu kesalahan.
Aku berputar.
Tang! Tang! Tang!
Pedangku meninggalkan jejak cahaya seperti sabit bulan. Benturan demi benturan meledak di sekitarku. Percikan energi menyambar pepohonan, batang kayu terbelah, tanah terangkat seperti ombak.
Aku tidak mengejar.
Tidak mendorong.
Aku menahan.
Setiap langkahku adalah batas. Setiap ayunan pedangku adalah peringatan, satu langkah lagi, dan dunia ini akan membalas.
Jiwa Terkurung kedua jatuh dari atas.
Langit seperti robek saat ia turun. Tekanan energinya membuat dadaku sesak. Aku mengangkat pedang—Tang!—benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menyapu hutan. Daun-daun terhempas, batu-batu kecil melayang sebelum jatuh kembali seperti hujan.
Lenganku bergetar. Tulang-tulangku berderak.
Aku mundur setengah langkah.
Di belakangku, gua. Dan dari sana, denyutan itu datang. Halus. Rapuh. Seperti nyala lilin kecil di tengah badai.
Shen Yu.
Dadaku berkontraksi. Untuk sesaat, dunia terasa terlalu besar dan aku terlalu kecil. Anak itu … dia sadar. Dia takut. Dan dia mencoba membantu.
Denyutan darah Klan Ling menyentuhku. Dan aku goyah. Cukup satu napas. Cukup satu detak jantung.
Jiwa Terkurung ketiga muncul dari bayanganku sendiri, cakar hitamnya menembus batas aura pertahananku. Udara membeku. Dunia melambat.
Aku berputar.
Terlambat—Zrak—Cakar itu menghantam bahuku.
Saat itu, langit di dalam diriku runtuh. Bukan darah yang keluar. Cahaya.
Cahaya perak menyembur dari lukaku seperti matahari yang pecah dari balik kulit. Cahaya itu mengaum, membakar dunia. Jiwa Terkurung menjerit, tubuhnya terurai menjadi abu bayangan yang disapu angin, seolah tidak pernah ada.
Aku terlempar mundur, lututku menghantam tanah.
Dan saat itu aku merasakannya sepenuhnya.
Liontin di dadaku.
Ia bukan benda.
Ia adalah janji.
Energi tua bangkit, seperti naga yang terbangun dari tidur ribuan tahun. Tanah di sekitarku retak. Cahaya perak menyembur dari celah-celah bumi, membentuk lingkaran raksasa dengan simbol-simbol kuno yang berputar perlahan, seperti bintang mengitari pusat langit.
Formasi aktif.
Aku berdiri di tengahnya, kecil, terengah, tapi tidak sendiri.
Bayangan itu muncul tanpa peringatan.
Bukan dari tanah. Bukan dari langit.
Ia muncul dari ketiadaan, seolah realitas sendiri membuka mata dan menyadari bahwa sudah waktunya mengingat sesuatu yang seharusnya terkubur.
Cahaya perak pertama menyala di udara, tipis seperti goresan pisau di kain dunia.
Lalu goresan itu terbelah.
Udara robek. Ruang melengkung. Tekanan turun begitu tiba-tiba hingga pepohonan di sekelilingku merunduk, batangnya melengkung seperti tunduk paksa. Tanah meraung, retakan menjalar keluar dari lingkaran formasi, bukan liar tapi rapi, mengikuti pola kuno yang lebih tua dari bahasa.
Dari celah itu, sesuatu bergerak.
Bukan tubuh.
Bukan bentuk.
Melainkan kehadiran.
Lalu sisik pertama terbentuk.
Cahaya mengental, memadat, menyusun dirinya menjadi sisik raksasa, bukan logam, bukan batu, melainkan cahaya murni yang dipahat oleh kehendak. Setiap sisik memantulkan simbol kuno yang berputar pelan, seperti bintang yang terperangkap di permukaannya.
Tubuh naga perak menjulang keluar, panjangnya menembus batas penglihatan. Ia tidak muncul sekaligus. Ia diingat oleh dunia, bagian demi bagian, seolah alam semesta berkata. Ah … ya. Kau masih ada.
Ketika dadanya terbentuk, udara meledak.
Bukan suara ledakan, melainkan tekanan. Gelombang tak terlihat menyapu hutan. Daun-daun tercabut dan terangkat, melayang sebelum hancur menjadi debu hijau. Batu-batu terangkat dari tanah, bergetar, lalu jatuh kembali dengan bunyi tumpul seperti hujan dari dunia lain.
Naga itu bergerak.
Satu gerakan kecil dari lehernya saja membuat awan di atas terbelah, pusaran angin tercipta, dan langit bergetar seperti kain yang ditarik terlalu keras.
Lalu.
Matanya terbuka.
Dua mata perak menyala, dalam dan tak berdasar. Tidak ada emosi di sana. Tidak ada amarah. Tidak ada belas kasihan.
Hanya ingatan.
Langit … tunduk.
Awan merendah. Cahaya matahari meredup, bukan karena tertutup, tapi karena tidak lagi berani bersinar lebih terang dari keberadaan itu.
“A-apa itu?!”
Para pemburu membeku.
Bukan karena takut semata.
Tombak yang terangkat gemetar lalu jatuh dari tangan mereka. Pedang terasa terlalu berat untuk digenggam. Aura yang tadi menyatu dalam formasi kini pecah berantakan, tercerai-berai seperti kabut yang diterpa badai.
Aku melihatnya di mata mereka.
Saat itu bukan lagi teror.
Itu adalah kefanaan.
Kesadaran mendadak bahwa mereka kecil. Bahwa mereka sementara. Bahwa apa pun yang mereka banggakan tentang kultivasi, artefak, nama klan yang tidak lebih dari debu di hadapan sesuatu yang tidak pernah benar-benar mati.
Mereka tidak lagi menatap manusia.
Mereka menatap warisan.
Naga itu melingkar di sekelilingku.
Tubuh raksasanya bergerak perlahan, membentuk lingkaran sempurna. Setiap kali sisiknya melewati udara, ruang bergetar, menciptakan lapisan tekanan seperti tembok tak kasatmata. Tidak ada celah. Tidak ada jalan masuk.
Aku berdiri di pusatnya.
Kecil. Terengah. Lutut gemetar.
Tapi dunia tidak melihatku.
Dunia melihat apa yang berdiri bersamaku.
Kepala naga terangkat tinggi. Lehernya membentang ke langit, sisik-sisiknya memantulkan cahaya perak yang kini memenuhi segalanya. Hutan, tanah, langit, semuanya terendam dalam satu warna yang sama, seolah realitas dicelupkan ke dalam sumpah kuno.
Waktu melambat. Dunia menunggu. Aku tidak membuka mulut. Tidak perlu. Karena saat itu, hukum turun.
“KALIAN AKAN MELUPAKAN.”
Kata-kata itu tidak bergema.
Ia tidak merambat melalui udara.
Ia menetap.
Masuk ke tanah. Ke cahaya. Ke tulang dan jiwa. Bukan suara, melainkan perintah eksistensial.
Cahaya perak menyapu keluar dari tubuh naga seperti banjir surgawi. Ia tidak bergerak cepat, ia bergerak mutlak. Apa pun yang disentuhnya tidak melawan, karena konsep perlawanan itu sendiri runtuh.
Senjata retak.
Bukan terbelah, melainkan menyerah. Logamnya berubah kusam, simbol-simbolnya padam, lalu hancur menjadi serpihan yang jatuh tanpa bunyi berarti.
Artefak meledak.
Bukan ledakan keras, tapi runtuh dari dalam. Inti energinya pecah, cahaya menyembur sebentar, lalu lenyap seperti mimpi yang terbangun paksa.
Ikatan energi terputus satu per satu.
Formasi runtuh. Kontrak jiwa terhapus. Teknik rahasia terurai, seolah tidak pernah dipelajari. Nama-nama metode yang tertanam di ingatan mereka memudar, lubang kosong menggantikan pemahaman bertahun-tahun.
Para pemburu jatuh.
Tidak dilempar.
Tidak diserang.
Mereka hanya … jatuh.
Tubuh mereka ambruk ke tanah seperti boneka yang talinya dipotong, mata kosong, napas masih ada, tapi sesuatu yang penting telah dicabut dari mereka.
Sunyi.
Bukan sunyi alami.
Sunyi setelah hukum selesai bekerja.
Cahaya mulai memudar. Perak berubah menjadi abu cahaya, lalu lenyap ke udara. Tubuh naga perlahan menghilang, sisik demi sisik terurai menjadi partikel bercahaya sebelum menguap, meninggalkan udara hangat yang bergetar pelan.
Tanah masih berasap.
Lingkaran formasi meredup. Simbol-simbol kuno berputar semakin lambat, satu per satu padam, hingga akhirnya hanya tanah retak dan bekas tekanan yang tertinggal seperti bekas tangan dewa yang baru saja diangkat.
Dan dunia … kembali bernapas.
Tapi ia tidak lupa.
Karena aku tahu, sejarah lama sempat membuka mata.
Sementara liontin di dadaku kembali dingin. Aku jatuh berlutut. Napas terasa seperti pecahan kaca di paru-paruku. Aku menoleh ke gua. Ke arah nyala kecil itu. Shen Yu.
Masih hidup. Masih bernapas. Masih belum tahu bahwa barusan, langit dan bumi telah bertabrakan demi dirinya.
Aku menundukkan kepala.
Jika dunia ini ingin mengambilnya, maka dunia harus melewatiku dulu.