Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJODOHAN GILA
“Apa kabar semuanya?” sapa Kael sambil melirik ke arah Mirea.
Mirea hanya menelitinya dari atas sampai bawah.
“Sok asik banget,” batinnya.
“Tapi lumayan ganteng juga,” tambahnya dalam hati.
“Ganteng banget,” celetuk Tira Rothwell tiba-tiba tanpa sadar.
Davito langsung menoleh ke arahnya. Sikutnya hampir mengenai pinggang sang istri, membuat Tira sedikit terlonjak kaget.
“Kakak ipar apanya? Sekarang sudah abad ke-21, sudah nggak zaman ada perjodohan begini,” ujar Noel ketus.
“Nggak usah sok dekat,” tambahnya tajam.
Mirea justru menatap dengan senyuman senang, seolah menikmati situasi yang mulai memanas itu.
“Karena Tuan Kael datang sendiri ke sini, kami juga sekalian mau menyatakan sikap mengenai pernikahan ini,” ujar Davito serius.
Ucapan itu membuat Mirea yang tadi setengah melamun langsung menoleh dan memperhatikan.
“Kami nggak setuju,” lanjut Davito tegas.
Mirea sontak menoleh lagi dengan wajah terkejut. Dadanya seperti ditekan sesuatu.
Entah kenapa, pikirannya langsung melayang ke kejadian semalam, ruangan bawah tanah yang remang, Red yang datang sambil menunjukkan tumpukan orderan, poster buronan wanted dengan wajahnya terpampang jelas. Semua itu bernilai fantastis hanya karena satu hal yaitu statusnya sebagai tunangan Tuan Kael.
Jangan! batin Mirea panik.
Jangan menghalangi orang cari uang dong, sama saja kayak bunuh orang tua yang sedang menghidupi ratusan anak-anaknya.
Wajahnya tetap berusaha tenang, tapi di dalam kepalanya perhitungan cepat sudah berjalan.
Kalau pertunangan batal, orderan-orderan yang masuk itu otomatis tak ada artinya.
Dan kalau tak ada artinya… berarti ia tak akan mendapatkan uang sama sekali.
Itu jelas tidak bisa dibiarkan.
“Kami sadar diri, keluarga Rothwell cuma orang kaya baru yang nggak penting,” ujar Davito tenang, tapi nadanya tegas.
Mendengar itu, Kael justru menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Ia menyilangkan kaki, ekspresinya terlihat seolah sedang menikmati pembicaraan.
“Kalau dulu nggak ketemu Tuan Aldo yang lagi kesusahan, pernikahan ini nggak bakal jatuh kepada kami,” lanjut Davito.
Ucapan itu membuat suasana ruang tamu terasa semakin berat.
Di samping Kael, Mirea hanya bisa diam sambil memutar otak. Pikirannya berjalan cepat, mencari celah, mencari cara agar keputusan itu tidak benar-benar terjadi.
“Mirea memang baik,” tambah Davito pelan, “tapi dia nggak cocok jadi istri Tuan Kael.”
Kalimat itu membuat Kael langsung menoleh dengan tatapan tajam, sudut bibirnya terangkat tipis menampilkan senyum yang sulit ditebak artinya.
“Benar,” ujar Tina di sebelah Davito, suaranya lebih lembut namun tetap tegas.
“Aku rasa awalnya Tuan Kael datang ke sini buat batalin pernikahan ini, benar kan?” tanyanya. Pertanyaan itu jelas sudah lama mengganjal di pikirannya.
Semua mata tertuju pada Kael.
“Benar,” jawab Kael singkat tanpa ragu.
Jawaban itu membuat suasana makin hening.
“Tapi setelah ketemu Mirea secara langsung… aku berubah pikiran,” lanjutnya tenang.
Ucapan itu sontak membuat Mirea tersenyum kecut mengejek.
“Jadi Tuan Kael suka yang lembut dan manis begitu, ya?”
Itulah yang terlintas di benak ketiga kakak Mirea secara bersamaan. Entah kenapa, pikiran mereka tak jauh berbeda semuanya mengarah ke satu kesimpulan yang sama.
Namun ekspresi mereka tetap serius.
“Tapi aku tahu persaingan di keluarga Blackwood itu parah banget,” akhirnya Theo buka suara. Nada suaranya tidak emosional, justru terdengar tenang namun penuh pertimbangan.
Ia menatap langsung ke arah Kael.
“Jadi istri Tuan Kael itu risikonya tinggi. Adikku nggak akan bisa melawan siapa pun di sana. Kalau dia ke kota Zhenkai, bisa saja dia nggak tahan,” ujar Theo jujur.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.
Di sampingnya, Noel dan Aren tidak menyela. Mereka hanya mengangguk pelan, sepakat.
Bagi mereka, Mirea mungkin terlihat tenang dan lembut.
Tapi di mata mereka, ia tetaplah adik yang baru saja kembali ke keluarga.
Mereka belum siap melihatnya terjun ke medan perang keluarga sebesar Blackwood.
“Dia nggak perlu turun tangan,” ujar Kael langsung, suaranya tenang tapi penuh keyakinan.
“Karena aku yang bakal maju duluan, buat beresin semuanya.”
Jawaban itu membuat Mirea tersenyum tipis, seolah sedang menilai kesungguhan di balik kata-katanya.
“Mirea cukup jadi istri Nyonya keluarga Blackwood yang baik. Yang lainnya nggak usah dikhawatirkan,” lanjut Kael.
Sontak ketiga kakaknya saling berbisik pelan, mempertimbangkan. Ekspresi mereka masih penuh keraguan, tapi tak bisa dipungkiri, jawaban Kael terdengar meyakinkan.
“Ini nggak benar… Tuan Kael gampang banget diajak ngomong. Jangan-jangan sungguhan sudah tertarik,” batin Tira, menilai sikap Kael yang jauh berbeda dari biasanya saat keluarga mereka membicarakan urusan bisnis. Biasanya pria itu dingin dan sulit ditebak.
Perlahan, Tira bangkit dan berjalan mendekati Mirea. Ia menghadap putrinya, lalu menggenggam pundaknya dengan lembut.
“Mirea,” panggilnya pelan.
Mirea menoleh.
“Ini masalah pernikahanmu. Gimana pendapatmu?” tanya Tira lembut namun serius.
Sontak ketiga kakaknya langsung menoleh ke arah Mirea. Ruangan yang tadi dipenuhi perdebatan kini mendadak sunyi.
Mirea menunduk sebentar, seolah benar-benar mempertimbangkan. Rambutnya sedikit menutupi wajahnya, membuat ekspresinya sulit dibaca.
“Menurutku… Tuan Kael orang yang baik banget,” ujarnya pelan.
Perkataan itu membuat Kael tersenyum tipis, senyum yang nyaris sinis seolah menikmati bagaimana drama ini berkembang sesuai alur yang tak ia sangka.
Lalu Mirea mengangkat wajahnya.
“Aku mau nikah.”
Hening.
HAH?!
Ketiga kakaknya berseru hampir bersamaan.