Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heboh soal undangan
"Febi, undangan ini ngga bohong?" seru Cica ngga bisa menahan perasaan kagetnya.
Hana, Nashwa dan Juwita juga ngga kalah kaget sambil memelototi nama yang akan menikah di kertas undangan itu.
Bukan mereka saja, rekan rekan satu kantor sampai ob yang mendapatkan kartu undangan ini juga kaget setengah m@ti.
"Kamu nikung kakak kamu sendiri?" tuduh Juwita.
"Kamu jangan ngomong sembarangan, Wi," sanggah Cica geram, membela Febi. Dia ngga yakin Febi seperti itu. Apalagi Febi sedang didekatin Jetro, milyuner yang hartanya ngga akan habis sepuluh turunan.
Kalo dia jadi Febi, dirinya pasti akan lebih memilih Jetrolah dibanding bosnya.
"Wajar, dong, aku ngomong gitu. Buktinya udah jelas," sarkas Juwita ngga mau di salahkan.
Ketika Cica akan menyemprot temannya lagi, Nashwa memegang lengan temannya.
"Dia keterlaluan," maki Cica geram. Apalagi wajah Juwita juga makin menyebalkan.
"lebih baik kita dengarkan penjelasan Febi," kata Hana menengahi pertengkaran temannya, agar suasana tidak tambah panas dan tambah kisruh.
Febi menghela nafas panjang dan perlahan seolah beban di dadanya sangat banyak.
"Aku dijodohkan papa karena Kak Fiola menolak."
"APAAA?!!" Keempat temannya terkejut. Termasuk Juwita. Kenyataan yang sama sekali tidak dia duga.
"Papa dan Om Danu-papanya Pak Cakra sudah berjanji kalo anak anak mereka akan dijodohkan," jelas Febi lagi.
"Kenapa Kakak kamu menolak?" tanya Nashwa dengan tatapan ngga mengerti.
"Iya. Bukannya mereka pasangan yang serasi sejak lama?" Hana ikut bertanya.
Sementara Cica masih belum bisa berkata apa apa. Tatapnya masih shock pada Febi yang berusaha tetap tenang. Dia tau pasti Febi keberatan dengan perjodohan ini dan dia tidak bisa menolak. Cica merasa gedeg banget karena Febi harus berkorban sebesar ini.
"Kamu harusnya menolak," desis Juwita merasa bersalah juga karena selama ini selalu berprasangka buruk pada Febi.
"Iya. Harusnya kamu tolak." Hana juga mengatakan hal yang sama.
"Kamu ngga akan bahagia, Febi." Cica saat ini ingin menangis.
"Kakakmu aneh. Kenapa dia malah menolak?" kesal Hana.
"Pak Jetro bagaimana?" tanya Nashwa membuat yang lainnya selain Febi menatap dirinya.
"Pak Jetro, kan, menyukai Febi. Lebih baik sama Pak Jetro aja, deh. Kalo sama Pak Cakra, cintanya sudah sama kakak kamu," lanjut Nashwa lagi.
"Betul. Lebih baik kamu terus terang, Feb. Lebih baik menikah dengan orang yang sudah jelas jelas mencintai kita. Kamu juga suka sama Pak Jetro, kan?" berondong Cica akhirnya dengan semua amunisI keyakinannya.
"Aku ngga bisa menyakiti papa. Papa terlalu ingin kami menikah," sahut Febi dengan tatap luka yang kali ini dia perlihatkan.
"Febi...." Cica memeluk temannya dengan penuh emosi
"Terus Pak Cakra bagaimana? Mau aja nikah sama kamu setelah ditolak kakakmu?" tanya Hana dengan nada yang penuh tekanan.
Febi hanya menatap Hana. Seolah membenarkan kata kata temannya.
"Dia juga ngga nolak?" lanjutnya geram.
Bisa bisanya pak bos, marahnya dalam.hati.
Febi menganggukkan kepalanya membuat Hana memijat kuat keningnya.
"Feb, tapi kakakmu sama Pak Bos masih dekat aja kayak pacaran. Maksudnya apa, tuh?" tanya Cica.
"Ngga taulah."
Keempatnya menggeram marah.
"Jadi selain akan nikahin kamu, Pak Cakra juga tetap pacaran sama kakak kamu kalo dia lagi ngga terbang? Gitu?" Juwita bertanya dengan nada shock.
"Beneran?" Nashwa juga shock. Dia langsung lemas.
Kok, ada kakak seperti itu, batinnya ngeri.
"Gila! Tega banget kakakmu." Hana mengumpat.
"Dia iblis ternyata tapi topengnya bidadari." Juwita juga ikut mengumpat. Selama ini dia selalu memuja kakaknya Febi, karena cantik banget, lembut dan juga ramah. Ternyata dia ketipu casingnya.
"Kak Fiola tau kamu akan menikah dengan Pak Cakra tapi tetap aja deket sama Pak Cakra?Ngga nyangka Kak Fio sejahat itu," kecam Cica kemudian menghembuskan nafasnya berulang kali.
Febi ngga menyahut. Dia menatap ke arah lain, ke arah pengunjung kafe yang rame saat jam istirahat makan siang.
Hatinya masih geram mengingat Cakra yang sengaja membagikan undangan pernikahannya setengah jam sebelum waktu break. Kemudian dia pergi begitu aja, meninggalkannya untuk menerima semua tatapan terkejut dan menjawab banyak pertanyaan dari rekan rekan mereka.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Yah, ngga taulah." Febi sudah nyerah. Baginya lebih baik menghadapi penjahat dari pada menyakiti hati papanya.
"Ngomong aja terus terang," saran Cica gemas.
"Aku takut papa kenapa kenapa."
Cica merespon dengan menghembuskan nafas kasar. Seolah semua jalan sudah buntu.
"Pak Cakra kenapa ngga berani terus terang? Padahal sama kita aja tegas banget," sarkasnya jengkel.
"Sama penjahat aja dia berani. Masa mutusin gini aja dia ngga bisa. Dasar laki laki lemah," hina Juwita memaki bosnya.
"Pak Jetro bagaimana?" tanya Cica mencoba memberikan solusi .
"Mungkin dia udah dapat undangan," jawab Febi pelan. Walaupun Jetro pernah mengatakan dia ngga peduli dengan perjodohannya, tapi laki laki itu belum melakukan tindakan nyata.
Febi juga ragu dan takut dia hanya digombalin oleh orang super kaya itu.
Lagi pula bagaimana mengatakannya pada papanya kalo dia juga menginginkan laki laki yang sama dengan kakaknya.
Keempat temannya hanya bisa menghembuskan nafas kesal, juga bingung. Bagaimana caranya membantu Febi.
"Lagi pula aku ngga yakinlah. Masih banyak yang lebih cantik di luar sana dan ngga punya masalah ribet gini."
Walaupun Febi mengucapkannya tanpa beban, tapi Juwita merasa tersindir. Dia pernah mengatakan itu pada Febi.
"Maaf, Feb."
"Maaf apa? Yang kamu omong benar, kok." Febi mencoba realistis.
Juwita makin merasa bersalah.
*
*
*
Febi menatap kesal Cakra yang saat ini datang ke rumahnya dalam rangka diundang makan malam oleh papanya.
"Kita makan malamnya bertiga, ya. Fiola sudah berangkat tadi pagi," jelas Anggareksa hangat.
Dia senang saat menatap pasangan muda di depannya. Walau pun wajah putrinya masih tampak tertekuk, tapi dia yakin, lama lama pasti akan luluh dan bisa menerima Cakra.
Selama ini hubungan keduanya baik baik saja di kepoli sian. Pasti nanti perasaan jatuh cinta itu akan muncul juga.
Memikirkan hal itu membuat Anggareksa agak tenang.
Cakra masih seperti biasa, tetap tenang. Dia sudah tau kalo Fiola sudah berangkat. Tadi malam gadis itu sudah mengatakan padanya.
Suara gadis itu tampak sangat gembira ketika menelponnya.
Flashback on
"Jangan berpikir kamu akan bisa menikah juga dengan Jetro," ucapnya tegas.
"Tapi kalo keinginan papa, aku ngga mungkin menolak, kan."
Masih saja, batinnya kesal.
"Kamu juga ngga berani ngomong ke mama kamu, kan?"
Hemm.... Gadis itu menantangnya.
Bukan soal tidak berani, tapi mamanya ngga akan peduli karena yang disukai beliau Febi, bukan Fiola.
Endflashback
"Om tinggal bentar. Papamu nelpon, nih." Anggareksa berjalan menjauh.
Kini hanya tinggal Febi dan Cakra saja di ruang makan.
Febi menatap Cakra tajam. Kemarahannya atas sikap laki laki itu tadi siang masih belum sirna.
"Aku sudah memberikan undangan pernikahan kita pada Jetro," ucapnya tenang sebelum makian kasar keluar dari mulut Febi.
Febi tercekat.
"Jadi tadi siang kamu ke perusahaannya?"
"Iya. Dia harus tau, kalo yang dikiriminya bunga itu calon istri orang," pungkas Cakra dengan tatap ngga kalah tajamnya.
Febi mendengus pelan.
"Kenapa kamu tetap ngotot menikah denganku," geram Febi perlahan. Ngga ingin papanya mendengar.
"Awalnya aku kesal. Tapi sekarang aku bangga karena perempuan yang akan aku nikahi ini disukai CEO yang amat sangat kaya raya." Cakra tersenyum miring.
"Dasar sakit jiwa," maki Febi tambah geram. Dia ingin sekali menyiram minuman di gelasnya ke arah wajah Cakra.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,