SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Preman Pasar Sewon Part 2
Namun ketika mereka mengetahui bahwa sayuran yang biasanya selalu tersedia dengan melimpah belum sampai sama sekali, sebagian besar dari mereka merasa sangat kecewa.
Beberapa di antaranya bahkan mulai menunjukkan rasa tidak puas dengan mengeluh dan berkata-kata yang tidak terlalu menyenangkan, menyalahkan para pedagang karena tidak bisa menyediakan barang dagangan yang dibutuhkan.
Beberapa pembeli yang memang datang dengan tujuan membeli sayuran untuk dijual kembali bahkan langsung memutuskan untuk pergi dari Pasar Sewon dan mencari pasar lain yang sudah memiliki persediaan sayuran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Emak Susi yang melihat kondisi ini dengan cermat segera menghampiri Romi yang sedang duduk di tepi lapaknya sambil menyibukkan diri dengan membersihkan ember plastik dan alat-alat lain yang digunakan untuk berjualan.
Ia duduk di sebelah Romi dengan wajah yang penuh kekhawatiran, melihat sekeliling pasar yang mulai ramai namun tidak ada aktivitas berjualan sayuran seperti biasanya.
"Hai Rom, hari sudah semakin siang nak, matahari juga sudah mulai terik sekali," ucap Emak Susi dengan suara yang lembut namun penuh kekhawatiran, sambil mengusap dahi Romi yang mulai sedikit berkeringat karena panasnya matahari pagi.
"Ya emaak, saya tahu itu emaak, tapi kita sabar aja dulu mungkin sebentar lagi truck sayurnya akan datang seperti biasanya," jawab Romi dengan suara yang mencoba tetap tenang dan optimis, meskipun di dalam hatinya ia juga merasa sedikit khawatir dengan kondisi yang terjadi saat ini.
"Ya gak apa-apa sih kalau buat emaak sendiri nak, karena emaak masih bisa berjualan ikan, udang & cumi lagian juga emaak sudah terbiasa dengan segala kondisi yang mungkin terjadi dalam berjualan," ucap Emak Susi sambil menepuk bahu Romi dengan penuh kasih sayang.
"Namun kamu kan harus berangkat ke sekolah jam delapan pagi tepatnya, dan pelajaran pertama kamu adalah matematika yang kamu bilang sangat penting bukan? Kamu juga sudah berjanji dengan guru matematika kamu bahwa kamu tidak akan lagi terlambat atau bolos dari pelajarannya kan?"
"Udah tidak apa-apa emaak, sekali-sekali bolos sekolah tidak akan menyebabkan masalah yang besar kok," ucap Romi dengan suara lembut namun penuh kepastian, matanya yang sedang melihat ke arah jalan masuk pasar itu menunjukkan keseriusan yang mendalam.
"Lagian jika kita tidak dapat sayuran untuk dijual hari ini, bagaimana kita akan mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan membayar biaya sekolah untuk bulan depan? aku lebih memilih untuk membantu emaak daripada pergi ke sekolah dan khawatir terus tentang kondisi kita berdua."
Tiba-tiba saja, suara teriakan yang keras dan penuh kegembiraan datang dari arah kantor kecil pasar – suara tersebut jelas berasal dari Bang Rokib yang telah menunggu dengan penuh kesabaran selama ini. "Truck sayur datang... Truck Sayur datang... Ada dua unit mobil truck yang sudah masuk ke dalam area pasar ini!" teriaknya dengan suara yang sangat lantang hingga terdengar jelas ke seluruh penjuru pasar.
Suara teriakan Bang Rokib tersebut langsung membuat suasana pasar yang tadinya suram dan penuh kekhawatiran menjadi riang dan penuh kegembiraan kembali.
Para pedagang yang sudah mulai merapikan barang dagangannya karena berencana untuk pulang tanpa mendapatkan apa-apa langsung berbalik arah dan melihat ke arah jalan masuk pasar dengan wajah yang penuh harapan.
Mereka yang sedang duduk dengan lesu mulai berdiri dengan cepat, menyusun ulang meja dan bangku dagangannya dengan penuh semangat baru.
"Alhamdulillah... terima kasih Ya Allah atas segala nikmat dan karunia-Mu yang tidak pernah berhenti diberikan kepada kita," ucap Romi dengan suara penuh rasa syukur sambil mengangkat kedua tangan ke langit, menyaksikan kedatangan dua mobil truck besar warna biru tua yang sedang memasuki area parkir pasar dengan perlahan.
Romi langsung berdiri dengan cepat dan berlari menghampiri Emak Susi yang sedang menangis senang karena melihat kedatangan mobil truck sayuran itu. Ia meraih tangan Emak Susi dengan erat, wajahnya yang muda itu penuh dengan kegembiraan yang tulus: "Emaaak! Emaak! Coba lihat emaak! Truck sayur sudah datang nih emaak, kita masih bisa berjualan hari ini!"
"Alhamdulillah Rom, sungguh emaaknsangat bersyukur atas semua ini nak," ucap Emak Susi dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi yang luar biasa, sambil mengusap air mata kegembiraan yang menetes di pipinya, "Kita memang tidak boleh pernah menyerah dan selalu harus bersyukur atas segala hal yang diberikan oleh-Nya kan?"
Suara panggilan yang khas dari Mpok Wati juga terdengar dari kejauhan, datang dari arah lapaknya yang berada tidak jauh dari lokasi mereka: "Room... Rom... Romi! Apakah benar-benar truck sayur sudah datang seperti yang dikatakan oleh Bang Rokib tadi?" teriaknya dengan suara yang penuh kegembiraan dan sedikit heran, sambil berjalan cepat menuju arah Romi dan Emak Susi.
"Benar sekali mpok Wati! Di depan sana sudah jelas terlihat dua mobil truck besar yang membawa banyak sekali sayuran segar lho mpok," jawab Romi dengan suara ceria sambil mengangguk-angguk dengan penuh semangat, "Kita harus cepat-cepat mendatangi lokasi mereka jika kita ingin mendapatkan sayuran dengan kualitas terbaik dan jumlah yang cukup untuk dijual hari ini."
"Ya sudah benar sekali Rom, kamu segera pergi ke lokasi truck tersebut nak," ucap Emak Susi dengan suara tegas dan penuh kepercayaan kepada anaknya, sambil mengambil dompetnya dari dalam tas ransel tua itu, "Ambil sebanyak 20 karung sayuran terlebih dahulu, dan kalau mereka mengizinkan kamu untuk mengambil lebih banyak lagi, coba mintalah tambahan hingga menjadi 25 karung ya.
Kamu juga harus berhati-hati saat membongkar dan mengangkutnya ya nak, jangan sampai terluka atau capek terlalu banyak."
"Siiaap emaak, emaak tidak perlu kuatir sama sekali dengan Romi," jawab Romi dengan suara penuh semangat sambil menerima uang yang diberikan oleh Emak Susi, "Saya akan bekerja dengan cepat dan hati-hati agar semua sayuran bisa sampai dengan selamat ke lapak kita tanpa ada kerusakan sedikit pun."
Setelah itu, Romi segera berjalan bersama beberapa pedagang lain serta Mpok Wati menuju arah lokasi mobil truck sayuran yang sudah mulai berhenti di area ...parkir yang sudah disiapkan khusus. Udara sekitar area truck langsung terasa lebih segar karena aroma sayuran segar yang keluar dari dalam mobil – ada aroma daun bayam yang segar, aroma kubis yang khas, hingga aroma bawang merah yang sedikit menyengat namun khas.
Sesampainya di depan kedua mobil truck tersebut, mereka melihat Bang Rokib sedang berdiri di depan pintu belakang truck yang sudah terbuka, sedang berdebat dengan dua orang supir yang mengenakan seragam perusahaan pengangkutan sayuran berwarna biru muda dengan logo perusahaan yang jelas terlihat di dada dan lengan baju mereka. Wajah kedua supir tersebut terlihat sedikit lesu namun tetap profesional dalam menyampaikan informasi kepada Bang Rokib.
"Biasanya kan sudah menjadi kebiasaan dan kesepakatan dari dulu ya mas supir, para kenek yang biasanya ikut dalam perjalanan akan turun dan membantu membongkar serta mengantar sayuran langsung ke lapak masing-masing pedagang yang sudah memesan," ucap Bang Rokib dengan suara tegas namun tetap sopan, melihat ke dalam bagian belakang truck yang penuh dengan karung-karung sayuran yang dibungkus rapi dengan plastik bening untuk menjaga kesegaran produknya, "Kenapa hari ini tidak seperti biasanya? Apakah ada kendala atau masalah tertentu yang terjadi?"
"Mohon maaf sekali lagi bang Rokib, kami sangat minta maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin terjadi," jelas salah satu supir yang lebih tua, bernama Pak Sugeng, dengan suara penuh maaf dan rasa tidak nyaman, "Para kenek kami yang biasanya membantu dalam proses pembongkaran dan pengantaran sayuran sedang melakukan aksi demo damai di depan kantor perusahaan kami di Sukabumi. Mereka menuntut kenaikan upah yang sudah lama tertunda dan perbaikan fasilitas kerja yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, mereka tidak bisa ikut dalam perjalanan pengantaran sayuran hari ini."
"Lalu bagaimana dengan proses pembongkaran dan pengantaran sayuran ini mas supir? Siapa yang akan melakukan pekerjaan tersebut jika para kenek tidak bisa membantu kita hari ini?" tanya Bang Rokib dengan suara yang mulai menunjukkan rasa khawatir yang mendalam, melihat sekeliling area parkir yang sudah mulai dipenuhi oleh para pedagang yang sedang menunggu dengan penuh harapan, "Kalau kita harus menunggu para kenek sampai mereka selesai dengan aksi demo mereka, bisa jadi sudah siang bolong dan sayuran yang kita bawa akan mulai layu atau bahkan busuk akibat terkena panas matahari yang semakin terik."
"Kalau memang demikian bang Rokib, kami dari pihak perusahaan pengangkutan sayuran sudah memiliki solusi sementara untuk masalah ini," jelas supir lainnya yang lebih muda bernama Pak Anton, dengan suara yang lebih jelas dan penuh keyakinan, "Kalian bisa mencari bantuan dari tukang panggul lokal yang biasanya bekerja di sekitar pasar ini untuk membantu dalam proses pembongkaran dan pengantaran sayuran. Kami dari perusahaan akan memberikan tambahan uang kuli sebesar 25 ribu rupiah per rit sayuran yang berhasil dibongkar dan diangkut dengan selamat. Jika para pedagang atau agen seperti bang Rokib ingin memberikan tambahan uang sebagai bentuk apresiasi atau kompensasi atas kerja keras mereka, silakan saja – biasanya jumlah tambahan tersebut berkisar antara 50 ribu hingga 75 ribu rupiah per rit saja sudah cukup banyak untuk menarik minat tukang panggul untuk membantu kita."
Romi yang mendengar pembicaraan antara Bang Rokib dan kedua supir tersebut segera mendekati mereka dengan langkah yang cepat namun tetap hati-hati, tidak ingin mengganggu proses pembicaraan yang sedang berlangsung. Ia berdiri dengan tegak di sisi kanan Bang Rokib, kemudian membuka mulutnya dengan suara yang jelas dan penuh kepercayaan diri: "Maaf bang Rokib boleh saya bicara sebentar bang? Saya siap menjadi tukang panggul untuk membantu membongkar dan mengangkut sayuran dari dalam mobil ke lapak-lapak pedagang hari ini. Saya sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini karena sering membantu ayah saya ketika masih hidup dan juga sering membantu beberapa pedagang lain di pasar ini ketika mereka membutuhkan bantuan."