NovelToon NovelToon
Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.

Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Besar

Valen terus bersembunyi di balik dinding sampai tak ada lagi yang terdengar. Dia mengintip ke depan dan terlihat gadis yang di bully tadi sedang merings kesakitan memegangi lukanya. Saat Valen akan melangkah menghampiri gadis itu, suara di ear piecenya menghentikan langkahnya.

"Tidak sayang, tetap di sana dan biarkan saja dia. Kami sudah sampai di depan."

Valen langsung berhenti dan tetap memerhatikan gadis itu, tapi tepat sedetik kemudian Valen mengerutkan keningnya melihat gadis itu mulai tertawa yang awalnya pelan dan kemudian tertawa keras.

"Dia masih sehat 'kan?" batin Valen.

Valen masih terus memandanginya tanpa berkedip sampai tak sadar jika ada orang di belakangnya yang sudah mengayunkan balok ke arahnya.

Duk....

Mata Valen terbelalak sambil dia memegangi tengkuknya dan tak lama pandangannya kabur. Tapi Valen segera melempar ponsel dan ear piece nya sebelum dia benar benar pingsan karena tengkuknya di pukul oleh seseorang.

itu. "Ck, lo nambah kerjaan gue aja!!!" gumam orang

Tak lama gadis yang baru saja di bully itu menghampiri temannya yang baru saja membuat Valen pingsan. Matanya menatap tajam ke arah Valen dan seolah ingin menghabisi Valen saat itu juga.

"Mendingan kita bawa dia sebelum ada yang tahu nanti," ucapnya pada temannya itu.

Sang temannya langsung mengangguk mengiyakan dan mereka menggotong Valen yang tengah pingsan pergi dari sana.

Dean yang melihat sambungan ponselnya mati merasakan tak nyaman di hatinya.

"Pi, ini ponselnya Valen mati. Perasaan Dean tak nyaman," adu Dean pada Altezza.

Altezza memberi kode kepada yang lain agar mereka segera berpencar. Dan yang lain mengerti dengan kode yang di berikan oleh Altezza.

Altezza segera mengirim pesan pada Zurra agar dia dan Ale bisa melacak keberadaan Valen saat ini.

"Kita berpencar, nggak mungkin Valen seceroboh ini dan membiarkan orang orang itu melakukan sesuatu dengan seenaknya." ucap Altezza pada Dean.

Dean pun mengangguk dan segera mereka mencari Valen tanpa membuat curiga orang orang yang ada di sana. Tapi Dean dan Altezza mengarah kepada tempat di mana terakhir Valen berada. Di sana mereka berdua meneliti semua tempat yang sekiranya di tinggali barang bukti oleh Valen.

Mata Altezza menyipit saat menemukan barang yang amat di hapalinya, ponsel Valen. Altezza segera memungutnya dan memeriksa ponsel Valen dan benar saja ponsel itu retak tampak seperti di jatuhkan.

"Dean lihat, aku rasa Valen melakukannya agar orang yang menyerangnya tak bisa mengetahui kedatangan kita."

Dean mengambil ponsel itu dan meremasnya kuat, Altezza memegang pundak Dean seolah mereka dejavu dengan keadaan saat ini. Di tambah lagi lagi Valen yang menghilang dari jangkauan mereka.

"Kita akan menemukannya dan tak akan mengulur waktu!"

Dean mengangguk dan mereka segera pergi dari sana, tak lupa Altezza segera menghubungi Zurra agar mereka segera bertindak menemukan Arlo dan Valen.

Di sisi lain, Ale sudah frustasi dan akan membanting laptop yang ada di depannya. Zurra yang ada di sampingnya menepuk pundak Ale dan tersenyum lembut ke arahnya.

"Al, tenanglah, tarik napas dan keluarkan perlahan. Setelah ini fokus, ingat alat yang kamu tanamkan di jam tangan kakakmu bukan sembarang alat bukan? Jadi dari situ kamu bisa melacak mereka, hanya saja kamu harus lebih tenang lagi."

Zurra berusaha menenangkan Ale yang sudah cemas dan panik karena dua orang terdekatnya menghilang secara bersamaan. Dan sesaat Ale memejamkan matanya melakukan apa yang di katakan sang mami. Dia menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, setelah itu matanya terbuka dengan cepat.

"Mami, aku akan coba lagi. Kita harus bisa menemukan mereka dan menyelamatkan mahasiswa yang lainnya." ucap Ale setelah tenang.

Zurra mengangguk dan kembali tersenyum, mereka segera bekerja sama untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Ale dan Arlo. Zurra bukan tak khawatir dengan keadaan Valen dan Arlo, sekelebat teringat kejadian dulu di mana Valen yang menjadikan dirinya umpan dan berakhir di luar dugaan mereka. Dan kali ini mereka tak akan pernah menunggu seperti dulu, karena keselamatan Valen dan Arlo jadi taruhannya.

Zurra juga bergerak cepat untuk mencari tahu transaksi tempo hari yang ada di kampus anak anaknya. Dan dia akhirnya menemukan jika transaksi di lakukan oleh orang yang sama hanya saja tidak ada keterlibatan dunia bawah di sana. Tapi Zurra menemukan jika salah satu anggota dunia bawah yang melakukan tindakan itu tanpa membawa nama kelompoknya.

Tuttt...Tut...

Zurra segera menghubungi ketua kelompok itu dengan cepat dan mengirimkan bukti bukti yang dia temukan.

"Pablo, gue nggak akan bicara lama sama lo!"

Pablo yang di hubungi Zurra sangat terkejut karena selama ini Pablo tidak pernah menyinggung Zurra dan Altezza.

"Ada apa? Sepertinya ada yang serius." sahut Pablo khawatir.

"Salah satu anak buah lo melakukan transaksi di area yang tak pernah ada di list dunia bawah dan tempat itu adalah tempat di mana anak anak gue sedang melanjutkan hidupnya. Bahkan karena salah satu anak buah lo itu gue kehilangan kedua anak gue dan saat ini Altezza sedang mencarinya. Gue nggak akan maksa lo percaya tapi gue punya semua bukti jika orang yang melakukan pelanggaran itu adalah salah satu dari anggota lo."

Zurra menjeda kata katanya dan ini malah membuat Pablo serasa berhenti bernapas. Dia menunggu apa yang akan di katakan Zurra kepadanya.

"Lo yang mau hukum dia atau gue dan Altezza yang akan turun tangan? Lo tahu kan, bagaimana BLACK DRAGON menghukum para orang yang sudah membuat masalah? Atau lo mau Altezza segera ke tempat lo dan hancurin semua yang lo punya?"

Glek....

Pablo meneguk ludahnya kasar dan dia sangat tahu jika sampai Altezza dan para tangan kanannya datang ke sana tak akan ada yang tersisa.

"Gue akan tangkap dia dan akan kirimkan ke markas kalian, setelah itu gue akan cek semua anggota gue. Gue nggak mau apa yang udah gue bangun hancur sia sia hanya karena satu kesalahan anak buah gue yang bodoh!" putus Pablo akhirnya.

"Kalau lo butuh bantuan gue, lo segera hubungi gue. Dan gue akan coba bantu lacak di mana mereka membawa anak anak lo!" lanjut Pablo lagi.

Bip.....

Tanpa mengatakan apapun lagi Zurra menutup sambungan telfonnya. Ale yang mendengar percakapan maminya dengan salah satu orang dunia bawah merasakan hawa dingin di sana. Meskipun dia dari kecil tahu jika kedua orang tuanya ketua dunia bawah tapi tetap saja dia terkadang masih merasakan ngeri.

Tapi Ale tetap berselancar mencari keberadaan sang kakak dan akhirnya signalnya kembali tersambung dengan jam tangan sang kakak.

"Mamiiii, Ale nemuin keberadaan kakak!" teriak Ale girang.

Zurra yang sudah selesai dengan telfonnya segera mendekat ke arah Ale dan menatap ke arah layar laptop yang ada di depan mereka.

"Ini kan di luar kota Al? Apa mereka baru saja berpindah tempat?" tanya Zurra bingung dan heran.

Ale menggelengkan kepalanya pelan tak mengerti tapi Ale juga heran, mereka secepat itu membawa Valen pergi ke luar kota.

"Mami apa ada kemungkinan mereka anak petinggi kampus kakak? Jika mereka cepat membawa Kakak otomatis mereka menggunakan transportasi yang tak terendus petugas polisi. Karena di berbagai titik sedang ada pemeriksaan kendaraan," ucap Ale sambil terus melacak semua titik yang di lewati Valen.

Zurra nampak memerhatikan semua jalur yang di lewati itu dan dia setuju dengan perkataan Ale jika memang ada orang besar yang membawa Valen pergi.

"Ini yang selalu papi dan mami takutkan saat kalian daftar masuk sekolah tanpa menyertakan identitas nama besar keluarga, jika ada bahaya seperti ini mereka tak akan segan mencelakai kalian. Bukan mami ingin mengajarkan kalian untuk sombong dengan nama besar Byantara dan Dhanurendra, tapi kalian hidup di lingkungan yang bahaya nya tak bisa di tebak seperti sekarang!" ucap Zurra sambil terus menatap layar monitor itu.

Tak lama Zurra berdiri dari duduknya dan membuat Ale mengerutkan keningnya bingung.

"Mami mau kemana?" tanya Ale mencegah sang mami pergi.

"Mami sendiri yang akan jemput kakakmu, bilang sama papimu untuk menghancurkan semua milik Pablo dan semua yang terlibat karena di dalam permainan dunia bawah tak akan ada yang bisa di percaya sekalipun itu orang terdekat kita. Sama seperti kehidupan sehari hari, waspada dengan orang sekitar kita itu sangat di perlukan!" pesan Zurra pada Ale.

Setelah mengatakan itu Zurra melangkah pergi dari ruangan milik Ale, tapi tepat saat dia sampai di ambang pintu Zurra berbalik ke arah Ale.

"Ale di sini aja, tugas kamu mengawasi semua pergerakan semua orang yang ada di layar laptop milik Mami!"

to be continued...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!