Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Suara deru mesin mobil sedan mewah yang halus terdengar kontras saat melintasi jalanan desa yang berbatu dan tidak rata. Sang sopir pribadi melajukan kendaraan tersebut dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang membawa muatan kristal yang mudah pecah. Ia sadar betul bahwa kenyamanan Nyonya Besarnya adalah prioritas utama, terutama mengingat kondisi fisik Ashley yang kini tengah mengandung.
Pagi tadi, sebelum keberangkatan, sebuah perdebatan kecil sempat terjadi di teras mansion. Ashley, dengan kepraktisan khas seorang CEO yang menghargai efisiensi waktu, bersikeras untuk menggunakan helikopter pribadi agar perjalanan lebih cepat dan tidak perlu terjebak macetnya jalur antarprovinsi.
Namun, Kevin langsung mematahkan ide tersebut dengan argumen yang masuk akal. Di desanya, tidak ada tempat yang cukup luas dan layak untuk mendaratkan helikopter tanpa merusak lahan pertanian warga. Seluruh lahan di sana merupakan perkebunan wortel yang luas serta hamparan sawah yang membentang hijau sejauh mata memandang.
Akhirnya, dengan sedikit gerutuan, Ashley menyerah. Mereka berakhir mengendarai salah satu koleksi mobil mewah Ashley, menempuh perjalanan darat selama beberapa jam menuju sebuah pemukiman terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk teknologi modern.
Beberapa penduduk desa yang sedang bekerja di ladang menghentikan aktivitas mereka sejenak. Mereka menatap dengan tatapan bertanya-tanya saat kendaraan mengilap itu melintas di antara pepohonan. Ini mungkin pertama kalinya dalam sejarah desa tersebut mereka melihat mobil sedan eksklusif melintas di jalan setapak mereka, bukan traktor bajak atau truk pengangkut hasil bumi dari perusahaan kontraktor.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah memudar warnanya, namun tampak terawat.
Kevin turun lebih dulu, lalu dengan sigap membukakan pintu untuk Ashley. Ia meraih tangan istrinya, membantunya keluar dengan gerakan yang sangat protektif, seolah takut Ashley akan tergelincir di atas tanah merah yang lembap.
Saat Kevin mengetuk pintu kayu yang sedikit berderit, jawaban terdengar dari dalam. Detik berikutnya, pintu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya dengan pakaian rumahan sederhana yang sedikit kotor terkena noda tanah karena baru saja kembali dari ladang.
Wanita itu tertegun sesaat, lalu matanya berbinar. Ia langsung memeluk Kevin dengan sangat erat, menumpahkan segala kerinduan yang telah ia bendung selama setahun terakhir. Isak tangis haru tidak dapat ia sembunyikan.
"Kevin, ah... putraku... akhirnya kau datang," ucapnya dengan suara bergetar.
Kevin membalas pelukan itu dengan penuh kasih. Ia menepuk-nepuk punggung ibunya, mencoba memberikan ketenangan sementara senyuman hangat tak sedikit pun luntur dari wajah tampannya. "Aku datang, Bu. Aku pulang."
Setelah melepaskan pelukan, Ibu Kevin menyeka pipinya yang basah dengan ujung daster. Matanya kemudian beralih pada sosok wanita cantik yang berdiri di belakang putranya. Ashley tampak sedang sibuk memperhatikan sekitar dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya menelusuri atap rumah yang rendah, lantai semen yang tidak dilapisi keramik mewah, hingga kebun kecil di samping rumah.
Bagi Ashley, ini adalah pengalaman pertama berada di lingkungan seperti ini. Di dalam kepalanya, ia merasa bingung. Ia tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa agar terlihat seperti "menantu yang normal". Haruskah ia memeluk wanita itu? Haruskah ia menjabat tangannya? Atau haruskah ia memberikan salam formal seperti saat bertemu klien bisnis?
"Ah, ternyata Anda juga datang," ujar Ibu Kevin dengan nada yang sedikit sungkan, sekaligus terintimidasi oleh aura otoriter yang terpancar dari Ashley.
Ashley menatap ibu mertuanya itu, merasa canggung dengan kotoran tanah yang ada di pakaian wanita itu, namun ia berusaha menahan diri. Ia hanya mengangguk singkat sebagai jawaban, sebuah gestur yang bagi orang desa mungkin terlihat sangat angkuh dan dingin.
"Masuklah, Nak, Nona. Kebetulan aku baru saja selesai memasak makan siang," ajak sang ibu.
Kevin segera merangkul pinggang Ashley, menuntunnya masuk ke dalam rumah. Ia memperlakukan Ashley dengan sangat hati-hati, memastikan istrinya tidak terbentur pintu yang rendah. Saat di dalam, Kevin menarikkan kursi kayu untuk Ashley dan membantunya duduk dengan perlahan di meja makan kecil yang terletak di tengah ruangan.
Ibu Kevin yang berdiri di sudut dapur memperhatikan setiap gerak-gerik putranya. Raut wajahnya yang semula bahagia perlahan berubah menjadi sedih dan prihatin. Di matanya, Kevin terlihat terlalu "pelayan" bagi istrinya.
Ia melihat Kevin yang begitu penurut, begitu memperhatikan kenyamanan Ashley hingga hal sekecil apa pun, seolah-olah Kevin takut melakukan kesalahan yang bisa memicu kemarahan sang "Singa Betina".
Sebuah suara kemudian terdengar di ambang pintu, membuyarkan lamunan sang ibu. Sang sopir pribadi masuk sambil membawa tumpukan kotak hadiah yang dibawa Ashley. "Tuan, harus saya simpan di mana semua kotak ini?"
Kevin menoleh dan menghampiri sang sopir untuk menunjukkan tempat di pojok ruangan.
Sementara itu, Ashley masih terduduk diam di meja makan. Ia merasa sangat asing. Matanya menatap sekitar ruangan yang penuh dengan figura foto tua. Ia berasumsi bahwa anak laki-laki kecil yang sedang memegang ikan besar di salah satu foto di dinding adalah Kevin saat masih anak-anak. Ada rasa ingin tahu yang muncul, namun ia tidak tahu cara memulai percakapan yang hangat dengan ibu mertuanya.
Ibu Kevin kemudian mendekat sambil membawa sebuah mangkuk keramik tua. "Silakan dicoba ini, Nona Giovano. Saya tidak tahu apakah ini sesuai dengan selera Anda karena saya membuatnya sendiri dengan bumbu seadanya," ujarnya.
Ia meletakkan mangkuk berisi sup ayam kampung itu tepat di depan Ashley. Uap panas mengepul, membawa aroma lemak ayam dan rempah-rempah yang sangat tajam dan kuat—jenis aroma yang bagi orang sehat sangat menggugah selera, namun bagi wanita yang sedang mengalami hyperosmia akibat hamil muda, aroma itu terasa seperti serangan gas beracun.
Aroma jahe dan lemak ayam yang menyengat itu menusuk indra penciuman Ashley dengan telak. Ia seketika mengernyitkan dahi. Perutnya bergejolak hebat, seolah-olah ada badai yang sedang mengamuk di dalam sana. Rasa mual yang luar biasa menyerangnya tanpa peringatan.
Ashley segera mendorong mangkuk itu menjauh hingga sedikit bergeser di atas meja kayu. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangan, wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi kehijauan.
"Kevin..." panggil Ashley dengan suara tertahan, matanya menatap Kevin dengan pandangan memohon bantuan.
Ibu Kevin yang melihat reaksi Ashley langsung mematung. Wajahnya memucat karena merasa tersinggung sekaligus takut. Di pikirannya, Ashley bukan sedang mual karena hamil (karena Kevin belum sempat memberitahu kabar itu), melainkan Ashley merasa jijik dengan masakan desa buatannya.
Kevin yang menyadari situasi menjadi kacau segera berlari menghampiri Ashley. Ia mengusap punggung istrinya dengan lembut, mencoba menenangkan perut Ashley yang sedang bergejolak.
"Ash, tenanglah. Tarik napas pelan-pelan."
Kevin kemudian menoleh ke arah ibunya yang berdiri kaku dengan mata berkaca-kaca. Ia menyadari ada kesalahpahaman besar yang sedang terjadi di antara dua wanita paling penting di hidupnya tersebut.
"Bu, maaf, bukan maksudnya begitu..." ucap Kevin mencoba menjelaskan, namun Ashley mencengkeram lengan bajunya dengan erat, sudah tidak kuat lagi menahan gejolak di tenggorokannya.
"Kamarmu... di mana?" tanya Ashley terengah-engah.
Tanpa menunggu jawaban, Kevin langsung memapah Ashley menuju kamar lama miliknya di bagian belakang rumah. Langkah mereka yang terburu-buru meninggalkan sang ibu yang hanya bisa berdiri diam di dapur, menatap mangkuk sup ayam yang kini mendingin, merasa bahwa putranya memang benar-benar sudah 'diperbudak' oleh istrinya.