Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasib Arga vs Nadira
Arga, seolah baru tersiram air dingin, tubuhnya yang sejak tadi terasa panas karena berdiri di bawah matahari mendadak sejuk. Tatapan pria itu terpaku pada seutas senyuman yang nampak gugup, namun begitu mempesona.
"Rini...," bisik Arga serak.
Ia mencoba memproses ucapan sang bidan desa, memastikan apa yang baru saja dia dengar itu tidak salah. Namun, sepertinya dia kalah cepat dengan Andini.
"Bu bidan mau jadi ibu Andini?!"
Andini menghilang dari hadapan Arga dan kini sudah memeluk tubuh Rini sambil tersenyum gembira, seperti saat dia mendapatkan hadiah.
Arga bangkit berdiri. "Ka-kamu yakin, Rin? Saya duda, punya anak, dan... saya cuma tukang kuli."
Rini tersenyum lebih tulus kali ini. "Mas, jika masalahnya ekonomi, selama Mas Arga mau kerja keras, aku juga pasti bantu."
"Tapi, Rin... orangtua kamu? Apa mereka bakal setuju?" tanya Arga, masih ragu dengan dirinya sendiri.
"Ibu dan Ayah nggak akan mempermasalahkan status. Yang penting Mas Arga beneran serius," sahut Rini yakin. Jari tangannya saling bertautan di depan perut.
Beberapa saat ia merenung. Ingatan masa lalu menyeruak. Saat itu, dia harus hidup sendirian, merasakan kelaparan, kedinginan, tidak ada tempat untuk berkeluh kesah, sampai Tuhan memberikan pertolongan lewat uluran tangan seseorang.
Dan kini, ia ingin membantu gadis kecil yang membutuhkan sosok ibu.
"Ayah, ayo nikahi Bu bidan."
Andini menarik-narik tangan Arga yang terpaku, masih belum percaya dengan apa yang ada di depannya.
Rini tersenyum lebar mendengar ucapan Andini yang begitu bersemangat. Ia menunduk dan mengusap puncak kepala gadis itu.
Sementara Arga, pria itu seolah tersihir oleh senyuman daun muda hingga lupa cara berkedip.
Andini yang kesal karena tidak mendapatkan respon dari arahnya, menarik tangan Arga dengan kuat. "Ayah, ayo nikahi Bu bidan!" serunya.
Ia meletakan tangan ayahnya di atas punggung tangan Rini, lalu tersenyum lebar. Mata gadis itu berbinar saat memandang wajah calon ibu barunya yang nampak tersipu malu.
"Ayah!" teriak Andini.
Arga seperti tersesat dalam lamunannya, sampai tak tahu cara kembali sampai Andini mencubit perutnya.
"Eh, Andini sakit? Kenapa cubit ayah?" pekik Arga, sambil menatap wajah putrinya yang tersenyum lebar.
"Ayo nikahi Bu bidan, Ayah," pinta Andini lagi.
Mata Arga membelalak saat menyadari tangannya dan Rini saling bersentuhan. Ia langsung menarik tangan itu merasa gugup, lalu menatap wajah sang bidan desa yang tersenyum malu-malu.
"Ayah, ih! Kenapa diem aja?!" gerutu Andini merasa diabaikan.
"Apa?" tanya Arga, berusaha tenang meksipun ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya.
"Nikahi Bu bidan. Sekarang!" tegas Andini sambil menghentakkan kaki.
"Astaghfirullah, Andini... mana bisa kayak gitu," kata Arga sambil mencuri-curi pandang ke arah Rini yang tersenyum geli melihat tingkah calon putrinya.
"Kenapa nggak bisa? Ayah dan Bu bidan kan udah saling cinta," jawab Andini dengan enteng.
"Apa kamu nggak liat? Baju ayah kotor, wajah ayah bau keringat, belum mandi. Masa Ayah nikahin Bu bidan dengan penampilan kayak gini?" jawab Arga dengan nada bergurau.
Andini mengerucutkan bibir sambil memperhatikan penampilan ayahnya. "Kalo gitu, Ayah mandi dulu. Cepetan!" titah Andini tak sabar memiliki ibu baru.
Arga hanya tertawa kecil, gemas dengan tingkah putrinya. Ia menaikan pandangan dan menatap Rini dengan lembut.
"Rini, kalo kamu udah yakin. Nanti malam saya datang ke rumah orangtua kamu. Kita bicarakan hal ini lagi nanti. Sekarang, saya harus balik ke lokasi, nggak enak rasanya baru juga jadi pengawas udah bolos," kata Arga.
Ia berusaha menunjukkan ketenangannya, tanpa ada yang tahu jika jantung pria itu sudah jingkrak-jingkrak.
Rini mengangguk mengerti. "Iya, Mas. Aku juga mau ngomong dulu sama ibu dan ayah. Mas Arga nanti langsung ke rumah mereka aja."
"Yeeee! Dini mau punya ibu baru!" seru Andini sambil melompat-lompat ceria.
Rini membungkuk dan menyentuh pipi Andini. "Nanti malam kita ketemu lagi, ya."
Andini mengangguk antusias. "Iya, Bu bidan. Andini udah nggak sabar punya ibu baru," jawabnya dengan tampang polos.
"Ayah, ayo. Cepat mandi!" Andini menarik tangan ayahnya sekuat tenaga.
"Kami pamit dulu..."
Gadis itu bahkan tidak memberikan kesempatan ayahnya berpamitan dengan benar.
"Cepat, Ayah! Ayah mandi yang bersih dan pake pakaian bagus. Nanti malam kan mau nikah." Andini naik ke atas sepedanya.
Arga, meskipun pernikahannya bukan nanti malam, dia tidak berniat mengatakannya pada Andini. Wajah ceria gadis itu membuat dia tak tega merenggutnya.
Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Rini, Arga sempat melambaikan tangan pada bidan desa itu. Ia merasa harus bekerja ekstra keras lagi supaya pantas menjadi suami gadis berpendidikan seperti Rini.
Rini terpaku, sebelum membalas lambaian tangannya dengan perasaan gugup. "Ya Allah, semoga keputusan aku ini benar."
"Meskipun Andini bukan darah dagingku, tapi aku merasa terikat padanya. Dia anak yang lucu dan menggemaskan," bisik Rini.
Ia menatap kepergian ayah dan anak itu sampai menghilang dari pandangan, sebelum ia masuk ke dalam rumah.
---
Di tempat lain, ketegangan menguasai ruangan yang kini terasa sesak. Tuduhan Bima yang menyebut Nadira penipu, menghantam harga dirinya.
"Ngomong apa kamu, Mas?!" sentak Nadira, masih menunjukkan taring meskipun keringat dingin mulai bermunculan.
"Kamu penipu ulung, Nadira!" Bima melempar buku nikah itu ke depan kaki Nadira.
"Kamu bilang kamu ini gadis, nyatanya kamu sudah memiliki suami!" hardiknya.
Rahang Nadira mengeras. Ia sadar kini Bima ingin melempar seluruh kesalahan padanya.
"Mas, sejak awal kamu...."
Sebelum Nadira sempat membela diri, Bima dengan gesit menjambak rambutnya.
"Dasar wanita licik! Murahan!"
"Kamu pasti berpikir untuk mendapatkan uang dariku demi menghidupi suamimu, kan?!"
Marsinah mendekat lalu melayangkan sebuah tamparan pada wajah Nadira. "Dasar pelacur! Kamu mau memanfaatkan cucuku!"
Nadira terdiam cukup lama, tangannya mengepal di samping tubuh. Rasa sakit akibat tamparan dan jambakan tak sebanding dengan perlakuan Bima yang menjadikannya kambing hitam.
"Oh, ya... dan satu lagi. Mama pernah bilang, jika dia mendengar suara anak yang menelponmu. Apa jangan-jangan kamu udah punya anak, Nadira?!"
Bima benar-benar aktor profesional. Dia sudah menyiapkan rencana untuk menjebak Nadira, dan dia cukup mencuci tangan.
"Kamu sudah tau semua ini, Mas!" teriak Nadira. Air mata meleleh di sudut matanya.
"Tau apa?! Apa kamu pikir aku mau nikah dengan wanita yang masih berstatus sebagai istri orang, bahkan memiliki anak?!"
Mardi mendekat, ia ikut memojokkan Nadira. "Kami sudah menerima kamu dengan baik di rumah ini, Nadira. Tapi, kamu... justru membuat penipuan yang luar biasa."
"Beruntung Bima belum menikahi kamu..."
"Aku nggak nipu!" teriak Nadira frustrasi.
Di rumah itu, tidak ada yang mau mendengarkannya. Tiba-tiba bayangan wajah Arga melintas. Setiap kali dia ribut dengan tetangga, pria itu pasti akan selalu melindunginya, tak peduli sekalipun dia salah.
"Aku nggak nipu. Dia yang penipu. Dia sudah tau semuanya!" jeritnya.
Nadira mulai kehilangan kontrol, ia menarik keras. Wajah Andini yang banjir air mata saat hendak dia tinggal pergi menghantam kesadarannya sepenuhnya.
"Papa dan Nenek dengar. Dia perempuan licik. Sudah ketahuan bohong, tapi masih berani membela diri, dan melempar kesalahan padaku," ucap Bima dengan napas memburu, seolah dia benar-benar syok dengan kebenaran itu.
"Usir saja jalang ini dari rumah kita, Bima. Biar dia kembali pada anak dan suaminya. Dasar wanita miskin. Aku pikir, wanita miskin sepertimu tidak akan berulah, tapi ternyata kamu ular!" maki Marsinah.
"Usir dia Bima, Mardi. Jangan biarkan dia membawa apapun dari rumah ini, kecuali pakaian yang dia pake!" titah Marsinah final.
"Nggak! Kalian nggak bisa usir aku kayak gini! Berikan uang dan barang-barangku!" teriak Nadira.
Ia ingin lari mengambil uang dan perhiasan yang pernah Bima belikan. Namun, tubuhnya sudah lebih dulu ditangkap oleh Mardi.
"Lepaskan!" Nadira meronta.
Bima menyeret tubuh Nadira keluar dari kamar.
"Lepas! Kalian nggak bisa lakuin ini padaku. Kalian sudah membuatku jadi pembantu selama ini. Berikan uangku!" jerit Nadira histeris.
Ia berusaha melepaskan diri. Namun, cengkraman dari kedua pria itu kuat.
Di dalam kamar, Gina hanya bisa mendengar teriakan Nadira dengan prihatin. Namun, ada sedikit perasaan lega menyelinap.
"Setidaknya kamu bisa keluar sebelum berakhir sepertiku, Nadira," batin Gina.
Tubuh Nadira dilempar keluar gerbang dengan kasar dan terjengkang ke aspal. "Pergi kamu pelacur!" usir Bima sambil menyeringai puas.
Ia melempar buku nikah Nadira tepat di depan wajah perempuan itu. "Kembali sana pada keluargamu yang miskin itu!" bisik Bima lalu tertawa mengerikan.
Pemandangan itu menjadi pusat tontonan pengguna jalan yang berlalu lalang. Namun, tak ada yang mau membantunya. Dia benar-benar sendirian.
Nadira segera bangkit, mengabaikan rasa sakit di tulang ekornya. "Mas, berikan uangku!" Ia merangsek maju, namun terlambat... bisa sudah menutup pintu gerbang dan menguncinya dari dalam.
"Mas Bima! Berikan hakku!" teriak Nadira, tangisnya pecah.
Ia memukul-mukul gerbang, menendangnya, hingga tubuhnya terjatuh dengan lesu dan tak berdaya. "Uangku... bagaimana bisa aku pulang dalam keadaan seperti ini?"
Tatapan perempuan itu tertuju pada buku nikah yang tergeletak di dekat kaki. Tangisnya pecah. Ia meraih buku itu dengan tangan gemetar.
"Mas Arga, Andini..."
Bersambung...