Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Orang Ketiga
"Bocor?" Harper menundukkan pandangannya. Dia menatap keempat ban mobil Vancelo yang bundar sempurna dan berisi angin penuh, mencengkeram aspal dengan kokoh. "Kau yakin matamu tidak sedang bermasalah, Dom? Katarak, misalnya. Ban mobilmu sama sekali tidak bocor. Benda itu terlihat lebih sehat daripada kewarasanmu saat ini."
Dominic tetap mempertahankan raut wajah datarnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Dia mengetuk-ngetuk pelan kaca jendela yang hampir semua terbuka.
"Kebocorannya sangat halus, Harper. Anginnya keluar perlahan-lahan. Kalau aku memaksakan mobil ini melaju, velg roda mahal ini bisa hancur," kilah Dominic asal-asalan. "Sebagai asisten utamaku, kau tidak boleh membiarkan bosmu terlantar di jalanan pada malam hari seperti ini. Temani aku menunggu mobil derek datang."
"Kau punya sopir pribadi di depanmu! Suruh dia yang menemani!" tolak Harper tegas. "Aku sedang berkencan, dan aku tidak peduli kalau velg mobilmu itu hancur atau sekalian meledak!"
"Tapi tugasmu untuk..."
"Harper! Syukurlah kau di sini!"
Suara bernada cemas memotong ucapan Dominic. Ryan berlari kecil menyeberang jalan, menghampiri posisi Harper yang sedang berdiri di samping mobil mewah berwarna hitam tersebut. Dokter hewan itu terlihat sedikit terengah-engah, raut wajahnya menyiratkan kepanikan.
"Aku mencarimu ke mana-mana. Keadaan di dalam restoran benar-benar di luar kendali," ucap Ryan sambil menarik pelan lengan Harper agar menjauh dari pinggir jalan. "Kau tidak apa-apa? Kenapa kau berdiri di dekat mobil ini?"
Harper menatap Ryan dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Kencan pertama yang seharusnya romantis ini hancur berantakan gara-gara pria egois di dalam mobil tersebut.
"Maafkan aku, Ryan. Aku hanya..."
Ucapan Harper terhenti saat pintu belakang mobil Vancelo itu tiba-tiba terbuka lebar.
Dominic melangkah keluar dari dalam mobil dengan gerakan lambat namun penuh dominasi. Tubuh tingginya yang tegap seketika menjulang, menciptakan bayangan gelap yang mengintimidasi di bawah cahaya lampu jalan.
Meski kemeja kerjanya sedikit kusut dan tanpa jas, aura arogansi dan kekuasaan absolut tetap menguar kuat dari setiap inci tubuhnya.
Ryan memundurkan langkahnya secara refleks. Dia menatap pria asing itu dengan dahi berkerut bingung. Perbedaan di antara kedua pria itu sangat kontras. Ryan dengan kemeja birunya memancarkan aura hangat, ramah, dan membumi. Sementara Dominic dengan kemeja mahalnya memancarkan aura dingin, angkuh, dan penuh ancaman layaknya predator puncak.
"Dan siapa pria ini?" tanya Dominic dingin. Dia sudah bisa menebak, tapi harus tetap gengsi. Matanya menyapu penampilan Ryan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan merendahkan yang sangat terang-terangan.
"Ini Ryan," Harper langsung memposisikan dirinya sedikit di depan Ryan, seolah menjadi tameng pelindung. "Dan Ryan, perkenalkan, ini Dominic Vance. Bosku."
Mata Ryan sedikit melebar. Dia langsung mengenali nama besar itu. Dominic Vance, penguasa Vance Corp yang terkenal kejam dan tanpa kompromi di dunia bisnis. Dan dari tatapan membunuh pria itu, Ryan langsung sadar bahwa keberadaannya sama sekali tidak diinginkan di sini.
"Oh, jadi Anda atasan Harper," sapa Ryan berusaha bersikap sopan. Dia mengulurkan tangan kanannya. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Vance."
Dominic hanya melirik sekilas tangan yang terulur itu. Dia sama sekali tidak berniat menyambutnya. Pria itu justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sengaja membiarkan tangan Ryan menggantung canggung di udara.
Ryan menarik kembali tangannya dengan senyum kaku yang dipaksakan.
"Aku tidak bisa mengatakan hal yang sama," balas Dominic sangat sinis. "Jadi, kau dokter hewan miskin yang mengajak sekretaris utamaku kencan ke restoran murahan yang penuh dengan tikus got?"
"Dom! Jaga ucapanmu!" bentak Harper marah. Wajahnya memerah karena malu atas kelakuan kasar bosnya.
Dominic mengabaikan teguran Harper. Matanya terus menatap Ryan dengan tatapan mencemooh. "Menyedihkan sekali. Berapa gajimu sebulan? Cukup untuk membayar biaya dry-clean gaun sutra yang sedang dipakai Harper? Pria sepertimu seharusnya tahu batasan diri. Kau hanya cocok berkencan dengan wanita yang selevel denganmu, bukan mencoba menarik wanita kelas atas turun ke duniamu yang kotor."
"Tuan Vance, saya rasa ucapan Anda sangat tidak pantas," balas Ryan. Nadanya tetap tenang, meski wajahnya mulai terlihat tegang. "Pekerjaan saya mungkin tidak menghasilkan triliunan rupiah seperti perusahaan Anda, tapi itu pekerjaan yang mulia."
"Mulia?" Dominic tertawa kering, sangat mengejek. "Kau menyebut pekerjaan membersihkan kotoran anjing dan memotong kuku kucing sebagai pekerjaan mulia? Dunia ini diputar oleh uang dan kekuasaan, Dokter. Bukan oleh belas kasihan pada binatang jalanan. Kau hanya membuang-buang waktu Harper."
Kesabaran Harper benar-benar habis. Dadanya naik turun menahan amarah yang meledak. Dia melangkah maju, memangkas jarak dengan Dominic, lalu menunjuk tepat di depan dada pria angkuh itu.
"Tutup mulut kotor dan sombongmu itu, Dominic!" teriak Harper tanpa peduli lagi pada status bos dan bawahan di antara mereka. Matanya menyala-nyala penuh amarah. "Jangan pernah berani merendahkan pekerjaan orang lain hanya karena kau punya banyak uang!"
Dominic sedikit terkejut melihat reaksi keras Harper. Dia tidak menyangka wanita itu akan membela Ryan sebegitunya di depannya.
"Setidaknya Ryan menyembuhkan makhluk hidup!" lanjut Harper tajam, kata-katanya menusuk langsung ke titik terlemah ego Dominic. "Dia punya hati nurani! Dia mengurus nyawa! Tidak seperti kau yang setiap hari kerjanya hanya menyiksa orang, menghancurkan mental bawahan, dan menginjak-injak harga diri manusia lain demi kepuasan egomu yang sakit!"
Hening. Angin malam tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.
Dominic berdiri kaku di tempatnya. Kalimat Harper barusan terasa seperti tamparan fisik yang sangat keras tepat di wajahnya. Ada sesuatu di dalam dadanya yang mendadak terasa nyeri. Bukan ego yang terluka, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang sangat rapuh.
Dominic menelan ludah. Wajahnya perlahan berubah pias. Dia tidak membalas ucapan Harper. Matanya menatap wanita itu dengan sorot terluka yang coba dia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng arogansinya.
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣