David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 15) Dia selalu baik dan hangat
Matahari mulai miring ke barat, cahayanya menembus dinding-dinding kaca pusat perbelanjaan dan membentuk garis-garis keemasan di lantai marmer yang mengilap. Bayangan orang-orang memanjang, bergerak seperti siluet dalam lukisan sore yang hidup. Tanpa terasa, Laila dan David telah mengitari mal itu selama berjam-jam. Kantong-kantong belanja menumpuk, langkah demi langkah semakin berat, dan waktu menunjukkan pukul tiga sore.
Rasa haus mulai menggerogoti tenggorokan Laila. Udara di dalam mal yang dingin justru membuat bibirnya kering. Ia berjalan di samping David dengan langkah sedikit melambat, pandangannya menerawang ke kiri dan kanan lorong yang dipenuhi etalase mewah. Gaun panjang yang dikenakannya bergoyang pelan mengikuti langkah, rambutnya yang tergerai mengilap diterpa cahaya lampu kristal.
Lalu, di salah satu sudut lorong, matanya tertuju pada sebuah toko es krim dengan papan nama berwarna pastel dan gambar cone besar yang menggoda. Mesin pembuat es krim berputar perlahan di balik kaca, memamerkan pusaran lembut warna stroberi dan vanila.
Laila menelan ludah.
Ia tidak mengatakan apa pun, tetapi matanya terpaku beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Aroma manis susu dan gula seolah sampai ke inderanya, memanggil memori lama yang tiba-tiba menyeruak.
"Dio..." batinnya bernostalgia.
Kenangan itu datang begitu saja. Sore yang sederhana di tepi jalan dengan es krim murah, mereka bagi berdua. Dio yang dengan kikuk menyeka sisa krim di ujung bibirnya sambil tersenyum canggung. Seperti potongan film lama yang diputar tanpa izin.
Wajah Laila mendadak sayu. Langkahnya sempat terhenti. Senyumnya memudar, digantikan bayang-bayang masa lalu yang belum sepenuhnya reda.
David, yang berjalan setengah langkah di depannya, menyadari perubahan itu. Ia berhenti, menoleh. Tatapannya tajam, tetapi kali ini bukan dalam arti menakutkan. Ia memperhatikan arah pandang Laila, mengikuti garis matanya, hingga menemukan toko es krim itu.
"Ah. begitu rupanya..." batinnya tanpa berkata apa-apa, hanya mengangkat alis tipis. Jam tangannya berkilau ketika ia melirik waktu. Pukul tiga sore. Waktu yang tepat untuk sesuatu yang manis.
Tanpa membuat keributan, David menilik sedikit ke arah Leo. Hanya dengan satu tatapan singkat dan tajam serta penuh kode, ia memberi perintah tanpa suara.
Leo yang sejak tadi sudah tampak kusut, rambutnya acak-acakan akibat berdesakan dengan kerumunan dan kacamatanya sedikit miring karena berkali-kali tergeser, langsung menangkap maksud itu. Ia menghela napas panjang, menyesuaikan kacamatanya, lalu memberi aba-aba pada para pengawal lain yang juga sudah kewalahan menenteng belasan kantong belanja.
"Baik Tuan," gumam Leo pelan.
Mereka berbalik arah, perlahan menjauh, keluar dari mal untuk menunggu di luar. Tinggallah Laila dan David di lorong itu. Dua insan dalam keramaian yang mendadak hening.
David kembali menghadap Laila.
"Ayo," katanya singkat. Ia meraih tangan Laila.
Deggg.
Sentuhan itu tegas, hangat, dan penuh kepastian. Laila sedikit terperanjat.
"Kemana?" tanyanya refleks.
David mengangguk ke arah toko es krim. "Ya ke tempat es krim itulah."
Nada suaranya datar, seolah hal itu sudah jelas sejak tadi. Tanpa memberi ruang untuk penolakan, ia menuntun Laila menyebrangi lorong.
Jantung Laila berdegup lebih cepat. Ia tidak tahu apakah itu disebabkan oleh langkahnya yang dipercepat, atau karena genggaman hangat dan erat tangan David Mendoza.
Mereka memasuki toko es krim yang bernuansa cerah. Dindingnya dihiasi ilustrasi buah-buahan segar, meja-meja kecil berwarna putih tersusun rapi, dan lampu gantung mungil memancarkan cahaya lembut. Musik instrumental ringan mengalun pelan.
"Duduk," ujar David, menunjuk salah satu meja di sudut.
Laila patuh. Ia duduk dengan anggun, merapikan gaunnya. Sementara itu, David berjalan menuju antrean kasir.
Dan seperti biasa, kehadirannya langsung mencuri perhatian.
Posturnya tinggi, bahunya tegap, setelan jas mahal yang dikenakannya menempel sempurna di tubuh. Dasi gelapnya terikat rapi, sepatu kulitnya mengilap tanpa cela. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, tatapan tajam, dan aura yang tak bisa dijelaskan. Campuran antara wibawa, kekayaan, dan sesuatu yang liar namun terkendali.
Beberapa perempuan di antrean belakangnya berbisik pelan.
"Siapa dia?"
"Entahlah. Tapi ini memang gila, auranya sangat berbeda dari lelaki manapun. Dan paling jelas, dia pasti orang kaya..."
David tidak peduli. Ia berdiri dengan tenang, kedua tangan dimasukkan ke saku celana, menunggu gilirannya. Ketika sampai di depan, ia memesan dengan suara rendah dan mantap.
"Dua ice cream cup, rasa stroberi."
Ia membayar tanpa banyak kata, lalu membawa dua cup es krim berwarna merah muda lembut itu ke meja Laila.
Ia meletakkan salah satunya di depan Laila, "ini, nikmatilah..."
Laila menatap es krim itu beberapa detik, lalu mendongak menatap David yang sudah duduk di seberangnya.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
Ia mengambil sendok kecil, menyendok sedikit es krim, lalu memasukkannya ke mulut.
Dingin manis itu langsung menyentuh lidahnya. Rasa stroberi yang lembut meleleh perlahan, menyegarkan tenggorokan yang kering. Mata Laila sedikit terpejam, menikmati sensasi itu.
Tanpa sadar, ia menjilat perlahan bagian atas es krim yang mulai meleleh.
David yang sejak tadi memperhatikannya, mendadak merasa tenggorokannya kering.
Gerakan Laila begitu polos, tanpa dibuat-buat. Lidahnya menyentuh permukaan es krim dengan lugu, mengusap sisa yang hampir menetes. Bibirnya yang merah muda sedikit terbuka, napasnya teratur.
"Pemandangan macam apa ini?" batin David meneguk ludah.
Gluk.
Tangannya terangkat secara refleks, melonggarkan simpul dasinya sedikit. Udara di dalam toko terasa mendadak lebih gerah.
Ia memalingkan wajah sejenak, mencoba mengendalikan pikirannya. "Tenangkan dirimu, David Mendoza. Kau kan sedang berusaha untuk menjinakkannya..." batinnya.
Sementara itu, Laila benar-benar tenggelam dalam kenikmatan sederhana itu. Ia menyendok lagi, tersenyum kecil. Ada sesuatu yang menenangkan dari eskrim dan sore hari. Terlebih ketika duduk berdua tanpa pengawal dan formalitas.
Namun karena terlalu asyik, ia tidak menyadari bahwa sedikit krim menempel di ujung bibirnya.
David mendapatinya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Ia mengambil tisu dari wadah kecil di tengah meja, lalu tanpa banyak peringatan, mengulurkan tangan ke arah wajah Laila.
Laila tersentak ketika merasakan sentuhan lembut di sudut bibirnya. "Apa yang kau..."
David menyeka krim itu dengan perlahan. "Dasar," gumamnya pelan.
Laila membeku beberapa detik. Wajahnya memanas. Ia sadar betapa dekatnya jarak mereka saat itu. Jari David hampir menyentuh kulit pipinya.
"Maaf…" ucapnya lirih, menunduk malu.
"Memang, eskrimnya seenak itu apa?" tanya David, menahan perasaan gemasnya terhadap tingkah Laila.
"Umm," ungkap Laila mengangguk pelan, dengan bibirnya yang manyun.
David terkekeh kecil. Suaranya rendah dan hangat, berbeda dari nada dingin yang biasa ia tunjukkan pada dunia.
"Iya sayang, aku maafin." bisiknya hampir tak terdengar.
Tangannya yang besar lalu beralih ke pucuk kepala Laila, mengelusnya pelan. Gerakan itu begitu spontan dan alami, seolah ia sudah terbiasa melakukannya.
Laila menengadahkan kepalanya perlahan. Ada sesuatu di mata David yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan ketegasan, bukan intimidasi. Melainkan kelembutan yang samar, namun nyata.
Senyum Laila melebar. Memang masih ada canggung yang tersisa, seperti jarak tipis yang belum sepenuhnya terhapus. Tetapi kali ini senyumnya berbeda, lebih ramah dan hangat.
Di dalam hatinya, sesuatu bergetar pelan. "Kalau dilihat-lihat… semakin aku bersamanya, julukan kejam yang selalu melekat padanya seakan-akan tidak benar. Padahal, itulah kebenarannya."
Laila mengingat cerita-cerita yang beredar. "Namun, lelaki yang duduk di hadapanku sekarang, malah membelikanku es krim, menyeka bibirku dengan lembut, dan bahkan mengelus kepalaku. Dia tidak terlihat seperti monster yang dibicarakan orang-orang."
"Dia... selalu baik dan hangat padaku. Meski kadang-kadang agak menjengkelkan. Seolah kekejamannya yang menyebar, adalah suatu kesalahan," batin Laila menatapnya lebih lama dari biasanya.
David yang merasa diperhatikan, mengangkat alis seraya tersenyum sengir. "Kenapa, sayang? Apa aku terlalu tampan, hingga membuatmu susah untuk mengalihkan pandangan?"
"Tidak apa-apa," jawab Laila cepat, lalu kembali menyendok es krimnya.
Lagi-lagi, David terkekeh-kekeh dibuatnya. "Kau wanita yang unik, Laila." Ucap David.