Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang mungkin gagal
Dua jam lebih beberapa menit kemudian Cakra segera menelpon Fiola. Dia sudah tidak sabar mendengar penjelasan yang akan dikatakan gadis itu.
"Sebentar, Cakra, pesawatku baru saja landing."
"Oke." Cakra bisa mendengar derap langkah heels Fiola dan juga suara suara percakapan orang orang di sekitarnya. Hingga agak lama kemudian suara suara itu mulai tidak seintens tadi terdengar.
"Setelah kamu menutup telponku, papa menelpon. Ternyata papa mengenal keluarga Jetro."
Cakra menahan nafasnya saat mendengar penjelasan Fiola yang tetap tenang, seolah hal yang dia bicarakan bukan hal yang penting dan dapat mengganggu hubungan mereka.
"Cakra....."
Cakra berdebar, baru sekarang nada suara Fiola terdengar ragu.
"Papa meminta aku bertemu Jetro sore ini," ucapnya pelan
Cakra terdiam. Mencoba berpikir.
"Sia sia saja, Fio."
"Sia sia? Maksud kamu apa?"
Cakra rasanya telinganya tidak salah mendengar nada suara ngga terima dari Fiola.
"Jetro menyukai Febi."
Hening.
"Buket bunga itu bukan dari aku. Tapi dari Jetro."
Hening, tapi Cakra mendengar deru nafas kasar Fiola.
"Jadi Febi bohong? Dia bilang bunga itu dari kamu. Bahkan dia berbohong pada papa juga?" sahutan Fiola terdengar marah.
"Ya."
Terdengar dengusan nafas Fiola.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?"
"Sebaiknya kita mengaku kalo kita memang punya hubungan serius, Fio."
"Tidak! Aku ngga mungkin bisa diterima mama kamu!"
Cakra menghembuskan nafas panjang. Dia lelah harus blackstreet.
"Papaku akan membuat mama menerima kamu," bujuk Cakra.
Terdengar dengusan kesal Fiola.
"Ngga mungkin bisa. Mama kamu terlalu membenci aku. Aku ngga bisa Cakra. Setiap mendapat perlakuan sinis tante, aku selalu merasa tidak berarti apa apa, Cakra. Kerjaanku jadi ngga beres, bahkan aku pernah mendapat surat peringatan pertama. Takutnya nanti aku menjadi pelampiasan kemarahan mama kamu setelah mendengar pengakuan kita."
"Mamaku tidak sekejam itu," sanggah Cakra tidak suka mamanya dijelekkan sampai seperti itu.
"Kamu ngga tau aja apa yang sudah mamamu lakukan padaku selama ini," sengit Fiola.
"Cobalah mengambil hati mama, Fio." Cakra masih berusaha membujuk.
"Sia sia saja. Semua yang aku lakukan selalu salah di mata mama kamu."
Cakra menghembuskan nafas lelah.
"Jadi kamu akan tetap menemui Jetro?" Cakra berusaha mengalah, walau dengan rahangnya yang tetap mengeras.
"Hanya bertemu, Cakra. Ngga akan terjadi apa apa. Aku ngga mungkin mengecewakan papa," bujuk Fiola lembut.
Ganti Cakra yang mendengus kesal.
"Aku akan share lokasi pertemuannya. Jadi kamu bisa datang kalo ngga percaya padaku."
Suara lembut Fiola selalu bisa melemahkan kemarahan Cakra.
"Oke. Aku akan mengawasi kamu dan dia nanti."
"Ya, sayang."
Di tempat lain, begitu komunikasi berakhir, raut wajah Fiola mengeras.
"Jetro milikku. Bukan milikmu, Febi," gumanya menahan marah .
*
*
*
Adriana dan Kalandra sengaja mampir ke ruangan Jetro. Jetro sudah kembali ke ruangannya. Begitu informasi dari Asta, sekretaris Adelia. Mereka tadi bertemu di lobi.
"Adri, kamu yakin Jetro mau?" Kalandra bertanya ragu. Tadi Emir menelponnya dan mengatakan permintaan Anggareksa.
"Ngga ada salahnya dicoba, kan. Kalo Jetro ngga mau, ya, sudah, nggak apa apa," senyum Adriana.
Kalandra menghembuskan nafas perlahan. Jetro, anak tunggal mereka, memang tidak pernah mengecewakan orang tua. Tiap mamanya mengatur jadwal kencan dengan anak teman temannya, Jetro tidak pernah menolak untuk hadir.
Tapi memang setelah kencan itu, Jetro selalu menyatakan penolakannya. Untung saja teman teman istrinya tidak marah. Mereka mengerti dan menganggap belum hoki saja.
"Ya, terserah kamu saja."
"Sebenarnya aku ingin Jetro mengenal Febi, adik Fiola yang polwan. Siapa tau selera Jetro gadis cantik yang bisa melindungi diri sendiri," ucap Adriana masih dengan senyum di bibirnya.
Kali ini Kalandra tertawa, teringat masa lalu mereka.
"Seperti kamu, ya," ucapnya yang membuat Adriana juga tergelak.
"Oh iya, tapi kenapa kamu ngga kenalkan Febi aja dengan Jetro, sayang?" tanya Kalandra setelah tawanya reda.
"Kata Emir, adik Fiola sudah dijodohkan dengan anak wakil Anggareksa dulu. Katanya atasannya. Sayang sekali, ya." Wajah Adriana tampak kecewa.
"Tenang saja. Kan, baru dijodohkan. Belum tentu berhasil, kan?" Kalandra mengedipkan sebelah matanya membuat istrinya tersenyum agak lebar.
"Semoga gagal, ya." Tawa pasangan suami istri itu pun pecah.
*
*
*
Febi kaget ketika papanya datang ke.kantornya sore ini. Dia sudah bersiap akan pulang.
"Papa?" Febi yang sedang mengambil tasnya menatap papanya heran.
Senyum papanya sangat lebar. Wajahnya sangat berseri.
"Papa antar kamu ke butik. Malam ini kamu akan menemui keluarga Cakra, kan? Kamu harus tampil sempurna," ucap papanya antusias.
Febi memaksakan senyum. Saat melihat binar bahagia di mata papanya, tekatnya untuk jujur selalu goyah.
"Sudah lama, ya, kita tidak pulang bersama," tukas papanya ketika mereka sudah berjalan beriringan meninggalkan tempat kerja Febi.
Febi tertawa mendengarnya.
"Masa papa mau jemput aku tiap pulang kerja."
Anggareksa tertawa mendengar kata kata putrinya.
"Kadang papa merindukan saat saat dulu," ucap Anggareksa. Sebentar lagi anak anaknya akan berpisah dengannya. Mereka akan memiliki keluarga baru. Saat ini dia akan memaksimalkan kualitas pertemuan mereka.
Febi memeluk lengan papanya.
"Aku juga, pa."
Anggareksa tersenyum lembut sambil menepuk nepuk pelan tangan putri bungsunya.
"Nanti sore kakakmu akan menemui anak teman papa."
"Siapa, pa?" Febi menatap papanya penuh tanya.
"Kamu ingat teman papa yang kita temui tadi malam di rumah sakit?"
Febi mengangguk dan perasaannya tiba tiba merasa ngga tenang. Jantungnya berdebar agak keras.
"Rupanya kakakmu sudah mengenal mereka. Jadi papa minta agar kakakmu bisa bertemu dengan anak mereka."
DEG
Febi merasa oksigen tersisa sedikit di sekitarnya dan papanya. Padahal mereka sudah berada di halaman parkiran.
"Namanya Jetro."
Febi mematung.
"Kalo mereka saling suka, papa akan merasa senang sekali. Papa sudah menitipkan anak anak papa pada laki laki yang tepat."
Febi merasa dirinya terlempar di tempat yang paling sunyi.
Mengapa bisa begini?
Apakah Jetro akan datang juga?
*
*
*
Jetro sengaja datang terlambat dari waktu yang dijanjikan. Dia berlama lama di dalam mobilnya sambil melihat reaksi Fiola yang direkam pengawalnya.
Wajah gadis itu yang awalnya tampak tenang dan sabar seperti saat dia bekerja sebagai pramugari di pesawatnya, ngga nyampe sepuluh menit sudah tampak kesal.
Jetro tersenyum melihat sikap kasar Fiola ketika menghadapi pelayan yang menawarkan minuman. Sikapnya ketus.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,