NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: SERANGAN KE DUA - PERUSAHAAN PALSU

#

Malam itu, apartemen Maya jadi pusat operasi. Tiga laptop menyala terang. Monitor menampilkan kode yang bergerak cepat. Rizki duduk di sebelah Maya, bantu nge-trace jalur sistem.

Bayu berdiri di belakang mereka. Tangan dilipat di dada. Menatap layar dengan fokus.

Tekong duduk di sofa sambil bersihkan pistol. Sari di sampingnya, ngecek amunisi satu per satu.

"Udah masuk?" tanya Bayu.

Maya menggeleng. "Belum. Firewall mereka... lebih kuat dari yang gue kira. Ada tiga lapis. Gue baru jebol satu."

"Berapa lama lagi?"

"Sejam. Mungkin dua."

Bayu melirik jam dinding. Jam sepuluh malam.

"Kita punya waktu sampai jam empat pagi. Setelah itu, karyawan mulai dateng. Kalau ketahuan..."

"Gue tau," potong Maya. Jari-jarinya makin cepat mengetik. "Makanya gue butuh konsentrasi."

Bayu mundur. Duduk di kursi dekat jendela. Menatap keluar. Kota yang penuh lampu. Kayak bintang jatuh ke bumi.

Tapi di balik cahaya itu... banyak kegelapan.

Banyak kejahatan.

Banyak orang yang menderita karena orang-orang kayak Valerie.

"Target kedua," gumam Bayu pelan. "Jaya Abadi Sentosa."

Perusahaan fiktif yang Valerie pakai buat cuci uang dari narkoba. Secara resmi, mereka jual alat-alat elektronik. Tapi sebenarnya? Cuma cangkang kosong. Uang masuk dari bisnis gelap, keluar jadi uang bersih.

Dan malam ini... cangkang itu akan pecah.

***

Jam sebelas malam. Maya berdiri. Regangkan badan. Tulang belakangnya bunyi krek krek.

"Lapis kedua jebol," katanya sambil senyum tipis.

Rizki tepuk tangan pelan. "Gila, lu. Gue aja butuh tiga jam buat jebol lapis pertama."

"Lu masih belajar." Maya duduk lagi. "Sekarang lapis ketiga. Ini yang paling susah."

Jari-jarinya menari lagi di keyboard. Layar penuh dengan angka dan simbol yang Bayu nggak ngerti.

Setengah jam kemudian...

"MASUK!"

Maya teriak kencang. Berdiri. Tangan diangkat tinggi kayak atlet yang menang olimpiade.

Rizki langsung berdiri juga. "SERIUS?!"

"Serius! Gue masuk! Gue di sistem utama mereka!"

Bayu langsung mendekat. "Tunjukkin."

Maya klik beberapa tombol. Layar berubah. Menampilkan dashboard keuangan perusahaan Jaya Abadi Sentosa.

Dan angka-angkanya...

"Empat ratus miliar?!" Bayu melotot.

Maya mengangguk. "Iya. Ini total dana yang ada di rekening perusahaan. Dari berbagai transaksi ilegal selama setahun terakhir."

"Gila..."

"Tapi..." Maya scroll ke bawah. "Ini yang lebih menarik."

Dia nunjuk satu transaksi besar. "Lihat. Besok pagi, jam delapan, mereka akan transfer tiga ratus miliar ke rekening di Swiss. Kayaknya... dana buat bayar supplier narkoba internasional."

Bayu tersenyum dingin. "Kalau uangnya hilang..."

"Supplier nggak akan terima barang. Valerie rugi besar. Dan supplier... bakal marah."

"Sempurna."

Maya menatap Bayu. "Lu mau gue transfer semua?"

"Semua. Nggak ada yang tersisa."

"Ke mana?"

"Rekening anonim yang udah kita siapin. Nanti kita pecah ke puluhan rekening kecil. Terus tarik tunai perlahan. Biar nggak ketahuan."

Maya mengangguk. "Smart."

Jari-jarinya mulai bekerja lagi. Kali ini lebih cepat. Lebih percaya diri.

"Transfer dimulai. Seratus miliar pertama... selesai."

Layar menampilkan notifikasi sukses.

"Seratus miliar kedua... selesai."

Lagi.

"Seratus miliar ketiga... selesai."

Dan terakhir...

"Seratus miliar keempat... selesai!"

Maya bersandar di kursi. Napas lega. "Total empat ratus miliar. Sudah ditransfer ke rekening anonim. Mereka... bangkrut."

Hening sebentar.

Lalu Tekong mulai tepuk tangan. Pelan. Lalu makin keras.

Sari ikut. Rizki ikut. Bayu ikut.

Maya tersenyum lebar. "Makasih, makasih. Gue terima penghargaan ini dengan rendah hati."

Mereka semua ketawa.

Tapi tawa itu nggak berlangsung lama.

Karena Maya tiba-tiba diam. Menatap layar dengan wajah serius.

"Ada apa?" tanya Bayu.

"Mereka... mereka udah tau."

"Apa?!"

Maya nunjuk layar. "Sistem mereka nge-detect transfer besar-besaran. Alarm internal aktif. Kayaknya... mereka lagi telepon ke bank sekarang."

"Bisa dibatalin?"

Maya menggeleng cepat. "Uangnya udah masuk ke rekening anonim. Bank nggak bisa tarik balik. Tapi... mereka bisa lacak."

"Berapa lama mereka bisa lacak?"

"Kalau mereka pakai hacker bagus... mungkin dua jam."

"Cukup." Bayu menatap Maya. "Pecah uangnya sekarang. Ke seratus rekening berbeda. Semua atas nama palsu. Semua di bank berbeda."

"Siap."

Maya bekerja lagi. Kali ini lebih serius. Nggak ada candaan.

Bayu duduk di sofa. Menutup mata sebentar.

Empat ratus miliar.

Uang sebanyak itu... cukup buat hidup puluhan tahun.

Tapi dia nggak akan pakai buat diri sendiri.

Dia akan pakai buat... menghancurkan Valerie lebih jauh.

***

Pagi itu. Mansion Samudera.

Valerie duduk di ruang makan. Makan roti panggang dengan selai. Minum kopi sambil baca tablet.

Berita pagi. Tidak ada yang menarik.

Lalu... handphonenya berdering.

Nama di layar: Akuntan Kepala - Jaya Abadi Sentosa.

Valerie angkat. "Ada apa pagi-pagi?"

Suara di seberang panik. Napas tersengal. "NYONYA! REKENING KITA... REKENING KITA KOSONG!"

Valerie berhenti mengunyah. "Apa?"

"SEMUA UANG HILANG! EMPAT RATUS MILIAR! SEMUA DITRANSFER KELUAR TADI MALAM!"

Roti di tangan Valerie jatuh ke piring.

"APA?!"

Dia berdiri cepat. Kursi jatuh ke belakang.

"BAGAIMANA BISA?! SIAPA YANG TRANSFER?!"

"KAMI TIDAK TAHU! SISTEM BILANG TRANSFER OTOMATIS! TAPI KAMI TIDAK PERNAH SETUP TRANSFER OTOMATIS!"

"HACKER?!"

"KEMUNGKINAN BESAR!"

Valerie melempar handphone ke dinding. Hancur.

"SIAAAAAAL!"

Teriakan itu bergema di seluruh mansion.

Raka lari masuk. "Ibu! Ada apa?!"

"EMPAT RATUS MILIAR HILANG! DIRAMPOK! OLEH HACKER SIALAN!"

Wajah Raka langsung pucat. "Empat... empat ratus miliar?!"

"IYA! SEMUA UANG DARI JAYA ABADI! SEMUA!"

Raka mundur satu langkah. Tangannya gemetar. "Tapi... tapi besok kita harus bayar supplier... tiga ratus miliar..."

Valerie menatapnya dengan mata melotot. "AKU TAHU!"

Dia berjalan mondar-mandir. Napas memburu. Wajah merah.

"Siapa... siapa yang berani..."

Lalu dia berhenti. Menatap kosong ke depan.

"Kenzo..."

Bisikan itu keluar pelan.

"Pasti Kenzo... dia punya skill hacking... dia pasti..."

"Tapi Bu..." Raka menelan ludah. "Kenzo... Kenzo kan lemah... dia nggak mungkin bisa hack sistem sekuat itu..."

Valerie berbalik cepat. Menatap Raka tajam. "ATAU... DIA PUNYA BANTUAN!"

"Bantuan?"

"Hacker lain! Pasti ada hacker lain yang bantu dia!"

Raka mikir sebentar. Lalu matanya melebar. "Maya... Maya Kusuma..."

Valerie mengernyit. "Siapa?"

"Teman masa kecil Kenzo. Dia hacker. Dulu pernah ditangkep polisi gara-gara bobol ATM. Tapi dilepas karena masih di bawah umur."

"DI MANA DIA SEKARANG?!"

"Saya... saya tidak tahu..."

"CARI! CARI SEKARANG! BAWA DIA KE SINI! GUE MAU TANYA LANGSUNG!"

Raka mengangguk cepat. Keluar ruangan sambil telepon.

Valerie berdiri sendirian. Napas masih memburu.

Empat ratus miliar.

Hilang dalam semalam.

"Kenzo... kau... kau benar-benar mau perang..."

Tangannya mengepal kuat sampai kuku menancap di telapak. Darah keluar.

"Baik. Kalau kau mau perang... aku kasih perang."

Dia ambil handphone cadangan dari laci. Telepon seseorang.

Nada dering tiga kali.

"Halo?" suara berat Komisaris Hartawan.

"Kerahkan semua orang. Cari Kenzo dan hacker bernama Maya Kusuma. Bawa mereka hidup-hidup. Aku mau... aku mau siksa mereka sendiri."

"Nyonya... ini..."

"LAKUKAN! ATAU AKU POTONG DANA BULANANMU SELAMANYA!"

"Baik, Nyonya."

Telepon ditutup.

Valerie melempar handphone lagi. Kali ini ke sofa.

Dia duduk. Menutup wajah dengan tangan.

Napas panjang.

Tapi dadanya masih sesak.

Karena dia tau...

Ini bukan akhir.

Ini baru awal.

***

Sementara itu. Apartemen Maya.

Mereka semua masih di sana. Nggak tidur semalaman.

Maya menatap layar. "Uang sudah dipecah ke seratus rekening. Semua aman. Mereka nggak akan bisa lacak."

Bayu mengangguk. "Bagus."

"Tapi..." Maya menatap Bayu serius. "Mereka pasti curiga. Pasti cari siapa yang lakuin."

"Biar cari. Mereka nggak akan nemuin."

"Tapi kalau mereka... kalau mereka nyerang balik..."

Bayu tersenyum dingin. "Justru itu yang gue mau."

Maya mengernyit. "Apa maksud lu?"

"Semakin mereka panik, semakin mereka salah langkah. Semakin mereka salah langkah... semakin gampang kita hancurin mereka."

Maya terdiam. Lalu tersenyum tipis. "Lu... lu beneran strategist."

"Gue belajar dari yang terbaik."

Tekong berdiri. "Sekarang apa?"

"Sekarang..." Bayu menatap keluar jendela. Matahari mulai naik. Langit berubah jadi orange. "Kita istirahat. Besok malam... target ketiga."

"Apa?"

"Rumah judi ilegal. Kita rampok sekaligus bikin skandal."

Tekong menyeringai. "Gue suka."

Mereka semua keluar apartemen Maya satu per satu.

Yang terakhir... Bayu.

Dia berdiri di pintu. Menatap Maya yang masih duduk di depan laptop.

"Lu... oke?"

Maya mengangguk tanpa ngeliat. "Gue oke. Cuma... capek."

"Istirahat. Lu udah kerja bagus."

"Bayu."

"Hmm?"

Maya berbalik. Menatapnya. "Lu... lu nggak takut?"

"Takut apa?"

"Takut... mati. Takut gagal. Takut... kehilangan semua orang di sekitar lu."

Bayu terdiam lama.

Lalu tersenyum pahit.

"Gue udah mati sekali. Kehilangan semua orang yang gue sayang. Jadi... gue nggak punya apa-apa lagi buat takutin gue."

Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Kenzo... dia beruntung punya lu."

Bayu menggeleng. "Bukan gue. Dia yang kasih gue kesempatan kedua."

Dia keluar. Menutup pintu pelan.

Maya duduk sendirian. Menatap layar yang udah mati.

Lalu dia nangis. Pelan. Tanpa suara.

"Kenzo... gue harap... lu bahagia di sana..."

Dan matahari terus naik.

Hari baru dimulai.

Tapi perang... belum selesai.

Malah... baru mulai memanas.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!