NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:565
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Dewasa yang Tiba Tiba

Umi Aisyah membawa Bungah masuk ke dalam kamar tamu di ndalem. Gadis itu masih terisak, wajahnya yang cantik kini sembap dan memerah. Tangannya mencengkeram erat ujung baju Umi Aisyah seolah takut jika dilepaskan, dunianya akan runtuh.

"Ini darah, Umi... banyak banget. Aku masih kecil, belum dewasa! Bungah masih mau main, masih mau sekolah!" rintihnya dengan suara serak yang memilukan.

Umi Aisyah mendudukkan Bungah di tepi ranjang, lalu dengan sabar mengusap air mata di pipi gadis itu. "Nduk, dengarkan Umi. Menjadi dewasa itu bukan berarti Bungah nggak boleh main lagi. Darah ini namanya haid. Ini tandanya Allah sudah memberikan anugerah kepada setiap perempuan agar kelak bisa menjadi seorang ibu."

Bungah terdiam, napasnya masih tersengal. "Tapi... sakit, Umi. Perut Bungah kayak diperas-peras. Apa Bungah bakal berdarah terus sampai habis?"

Umi Aisyah terkekeh lembut, berusaha mencairkan ketegangan. "Nggak akan habis, Nduk. Cuma beberapa hari saja setiap bulan. Sini, Umi ajari caranya pakai pembalut dan cara bersih-bersihnya. Jangan takut, ada Umi di sini."

Sementara itu, di serambi luar, Zidan berdiri mematung. Ia menatap noda merah kecil di lantai kayu—saksi bisu perubahan fase hidup gadis yang ia cintai. Dengan perlahan dan penuh hormat, Zidan mengambil kain bersih, lalu berjongkok untuk membersihkan noda itu sendiri.

Hatinya berdebar aneh. Ada rasa haru yang membuncah. Ia tahu, dalam hukum agama, saat seorang gadis sudah mengalami haid, maka ia telah memikul tanggung jawab ibadahnya sendiri. Namun di mata Zidan, Bungah yang barusan menangis ketakutan tetaplah "mentari kecil" yang ingin ia lindungi.

Ya Allah, dia sudah bukan anak kecil lagi, batin Zidan. Tanggung jawabku untuk menjaganya kini jauh lebih besar.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Umi Aisyah keluar untuk mengambilkan teh hangat dan baju ganti milik santriwati untuk Bungah. Zidan segera menghampiri uminya.

"Umi, bagaimana keadaannya?" tanya Zidan pelan, suaranya sarat akan kekhawatiran.

Umi Aisyah menatap putranya, lalu tersenyum penuh arti. "Dia sudah tenang. Hanya kaget saja karena ibunya belum sempat memberi tahu soal ini. Dia sedang istirahat di dalam."

"Apa Zidan boleh... melihatnya sebentar?"

Umi Aisyah mengangguk. "Boleh, tapi jangan lama-lama. Dia sedang butuh dukungan."

Zidan melangkah masuk ke kamar yang temaram. Ia melihat Bungah sedang berbaring miring, memeluk bantal dengan wajah lesu. Begitu melihat Zidan, Bungah langsung menutupi wajahnya dengan bantal karena malu.

"Ustadz... jangan lihat. Bungah jelek kalau habis nangis," suaranya teredam bantal.

Zidan duduk di kursi yang agak jauh dari ranjang, menjaga jarak sesuai pesan Abi. "Bungah, jangan malu. Itu fitrah. Kamu hebat karena sudah berani melewati rasa sakitnya."

Bungah menurunkan sedikit bantalnya, menatap Zidan dengan mata bulatnya yang masih basah. "Ustadz... kalau Bungah sudah dewasa, apa Ustadz masih mau ajari Bungah kitab?"

Zidan tersenyum sangat tulus, senyum yang membuat kebekuan di hatinya mencair sempurna. "Tentu saja. Malah sekarang, kitab yang akan kita pelajari akan jauh lebih banyak. Kamu siap?"

Bungah mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya, ada binar yang berbeda di matanya. Bukan lagi binar anak-anak yang polos, tapi binar seorang gadis yang mulai menyadari bahwa di sisinya ada seorang pria yang siap membimbingnya melewati setiap perubahan hidup.

Bungah terdiam sejenak, jemarinya memainkan ujung selimut dengan ragu. Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di kepalanya, dipicu oleh ucapan Umi Aisyah tentang "menjadi ibu" tadi.

"Ustadz..." panggil Bungah pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Umi tadi bilang kalau ini tandanya Bungah bisa jadi ibu. Berarti... berarti Bungah sudah boleh nikah ya?"

Zidan tersentak. Pertanyaan itu telak menghantam dadanya. Ia tidak menyangka gadis yang baru saja menangis ketakutan karena darah haid itu akan langsung melompat ke pemikiran sejauh itu. Zidan berdehem, berusaha menetralkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.

"Secara hukum agama, kamu memang sudah dianggap baligh, Bungah. Sudah dewasa," jawab Zidan dengan nada seobjektif mungkin, meski jantungnya berdegup kencang. "Tapi nikah itu bukan cuma soal umur atau soal haid. Ada tanggung jawab besar di sana. Kamu masih harus sekolah, mengejar cita-citamu jadi pelaut yang hebat itu, kan?"

Bungah mengerucutkan bibirnya. "Iya sih... tapi kalau nanti Bungah sudah selesai sekolah, apa Ustadz mau nikah sama Bungah?"

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Zidan. Kamar itu mendadak terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang terdengar nyaring. Zidan menatap Bungah—gadis itu menatapnya dengan kejujuran yang luar biasa, tanpa ada kepura-puraan. Bagi Bungah yang polos, jika ia suka, maka ia akan bertanya.

Zidan menarik napas panjang, mencoba menjaga kewibawaannya sebagai seorang guru sekaligus Gus.

"Bungah... perjalananmu masih panjang. Masa depanmu masih luas seluas samudra yang sering kamu pandang di pantai itu," ucap Zidan dengan suara yang sangat lembut namun sarat akan janji. "Tugasmu sekarang adalah belajar dan tumbuh menjadi wanita yang shalihah. Soal siapa yang akan mendampingimu nanti... biarlah Allah yang menuliskan skenarionya."

"Tapi Ustadz mau kan nungguin Bungah?" desak Bungah lagi, seolah tak puas dengan jawaban diplomatis Zidan.

Zidan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung arti mendalam. "Kutub utara itu selalu sabar menunggu mataharinya terbit, Bungah. Dia tidak akan pindah ke mana-mana."

Bungah tidak sepenuhnya paham dengan perumpamaan kutub dan matahari itu, tapi melihat ketulusan di mata Zidan, hatinya merasa sangat tenang. Rasa sakit di perutnya seolah memudar, digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh.

Sore itu, saat Bungah diantar pulang oleh Kang Adi atas perintah Umi Aisyah, Zidan berdiri di ambang pintu ndalem. Ia menatap mobil yang menjauh itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

Umi Aisyah yang berdiri di belakangnya menepuk pundak Zidan. "Dia bertanya hal yang sulit ya, Le?"

Zidan mengangguk pelan. "Dia terlalu jujur, Umi. Kejujurannya membuat saya merasa harus menjadi pria yang lebih baik lagi untuk bisa pantas menunggunya."

Umi Aisyah tersenyum. "Maka jagalah dia dalam doamu, sampai waktunya tiba mentari itu cukup kuat untuk menyinari seluruh hidupmu."

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!