di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Rina semakin mengeratkan pelukannya, wajahnya sengaja disembunyikan di ceruk leher Rohman yang hangat. Meski matanya terpejam, ia tetap ingin memastikan bahwa "benteng pertahanan" suaminya benar-benar sudah melunak sepenuhnya.
"Mas Rohman kok gitu sih??" gumam Rina dengan nada sedikit merajuk. "Mas nggak suka ya kalau Adek lemah lembut begini? Mas lebih suka aku yang barbar gitu? Hiks... hiks..." Rina bahkan menambahkan sedikit isakan buatan yang sangat dramatis.
Rohman menghela napas, ia menarik tubuh Rina lebih rapat ke dalam dekapannya, membiarkan jemarinya menyisir rambut Rina yang harum.
"Mas lebih suka kamu apa adanya, Sayang," jawab Rohman lembut. Suaranya terdengar sangat tulus di telinga Rina. "Dan kalau soal lemah lembut... dari awal kita kenal di aplikasi pun, kamu sebenarnya sudah sangat manja dan lemah lembut dalam setiap ketikanmu. Jadi kalau ditanya Mas lebih suka yang mana, Mas lebih suka kamu yang begini. Tapi jujur saja, melihat kamu yang apa adanya—baik yang manja maupun yang jahil—itu jauh lebih indah bagi Mas."
Rina terdiam sejenak. Kata-kata Rohman selalu berhasil menusuk tepat ke hatinya yang paling dalam. Namun, Rina tetaplah Rina. Ia masih punya satu kartu as untuk benar-benar membatalkan niat "hukuman" Rohman hari ini.
"Tadi katanya Mas mau hukum aku..." Rina mendongak, menatap Rohman dengan tatapan paling melas yang pernah ia miliki. "Kan Mas nggak pernah hukum aku. Dan Mas dulu di dunia sosial pernah janji, bakal selalu jagain aku tanpa hukum aku. Mas sudah nggak sayang lagi ya sama aku sampai mau hukum-hukum segala? Padahal aku kan istrimu yang paling imut ini..."
Rohman menatap langit-langit kamar sebentar, lalu beralih menatap mata Rina yang berbinar jenaka di balik akting sedihnya. Ia tahu ia sedang dijebak oleh janji lamanya sendiri.
"Hukumannya kan bukan hukuman yang menyakitkan, Rina," sahut Rohman sambil mencubit gemas hidung istrinya. "Hukuman dari Mas itu bentuknya kasih sayang yang lebih dalam. Tapi kalau kamu bawa-bawa janji Mas di aplikasi dulu... Mas rasa Mas memang sudah kalah telak hari ini."
"Berarti nggak jadi dihukum?" tanya Rina penuh harap.
"Untuk saat ini... Mas tunda dulu," bisik Rohman, tangannya mengusap punggung Rina dengan penuh kasih. "Tapi ingat satu hal, Sayang. Menjaga itu bukan berarti tidak tegas. Mas tidak akan memukul atau menyakitimu, tapi Mas akan 'menghukum' setiap kenakalanmu dengan cara yang akan membuatmu ketagihan untuk dihukum lagi. Mengerti?"
Rina tersenyum puas. Ia merasa telah memenangkan ronde ini. Ia membenamkan wajahnya kembali ke dada Rohman, menikmati detak jantung suaminya yang kini terasa tenang.
"Iya, Mas Arab sayang... Makasih ya sudah sabar sama 'singa betina' mu ini. Sekarang benar-benar tidur ya? Adek mau mimpi indah sama Mas."
"Tidurlah, Khumairah..." jawab Rohman pelan, sambil mengecup kening Rina lama sekali.
Keheningan pun menyelimuti kamar itu. Namun, di tengah ketenangan itu, Rina diam-diam membatin, 'Baru satu hari jadi istri saja sudah seru begini, gimana besok kalau sudah pindah rumah? Kayaknya Mas Arab bakal makin nggak berkutik sama jurus-jurus maut gue!'
Rohman yang baru saja mulai memejamkan mata, kembali terusik oleh suara manja Rina. Ia sedikit melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah istrinya yang masih saja punya seribu satu cara agar tidak benar-benar tidur.
"Mas sayang... kaki Adek sakit, pijitin boleh enggak??" pinta Rina sambil menggeser sedikit kakinya ke arah kaki Rohman di bawah selimut. Ia memasang wajah yang seolah-olah benar-benar kelelahan setelah "drama maraton" dari kamar ke dapur tadi.
Rohman menghela napas panjang, namun tangannya tetap bergerak lembut mengusap rambut Rina. "Tadi katanya ngantuk, Dek. Sekarang kamu sakit kaki?" tanya Rohman dengan nada sangsi namun tetap terdengar perhatian.
"Iya, mungkin karena tadi lari-larian dari kejaran 'singa Arab' pas mau kabur ke kamar Bunda," sahut Rina tanpa dosa, matanya berkedip-kedip lucu. "Pijitin ya, Mas? Satu menit saja... biar tidurnya lebih nyenyak."
Rohman terkekeh pelan. Ia tahu ini adalah modus baru, tapi ia tidak tega menolak. Dengan gerakan pelan, Rohman bangkit sedikit untuk meraih pergelangan kaki Rina. Jemari tangannya yang panjang dan hangat mulai memberikan pijatan lembut pada betis dan telapak kaki istrinya.
"Enak banget, Mas..." gumam Rina sambil memejamkan mata, benar-benar menikmati perlakuan manis itu.
"Ini baru pijatan 'kucing lucu', belum pijatan 'macan'," canda Rohman telak. "Sudah, jangan banyak bicara lagi. Kalau kamu manja terus begini, Mas malah yang tidak bisa tidur karena ingin melihat kamu terus."
Rina tersenyum dalam kantuknya. Ia merasa sangat dimenangkan pagi ini. Pria yang dulu hanya berupa teks di layar ponselnya, kini nyata, memijat kakinya dengan penuh kesabaran, dan memanggilnya dengan sebutan yang membuat hatinya mencair.
"Mas... makasih ya," bisik Rina lirih. "Besok kalau kita pindah ke rumah baru, Mas jangan berubah ya. Tetap jadi Mas Rohman yang sabar menghadapi Rina yang re-og ini."
Rohman menghentikan sejenak pijatannya, ia mengecup punggung kaki Rina sekilas sebelum kembali berbaring dan memeluk istrinya erat. "Mas tidak akan berubah, Rina. Justru Mas takut kamu yang akan berubah jadi lebih manja dan Mas jadi tidak tega untuk melakukan strategi 'unboxing' yang sudah Mas susun."
"Ih! Mas mah pikirannya itu terus!" Rina mencubit lengan Rohman, namun kepalanya tetap bersandar nyaman di dada suaminya.
Pagi itu, di bawah remang cahaya matahari yang mulai menyeruak masuk lewat celah gorden, keduanya benar-benar terlelap. Sebuah awal kehidupan baru yang penuh kejutan, di mana si jahil akhirnya menemukan pelabuhan yang paling tenang, dan si pendiam akhirnya menemukan warna yang paling terang.
......*****......