NovelToon NovelToon
Shen Yu Jalan Melawan Langit

Shen Yu Jalan Melawan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.

Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Kematian Sebuah Bintang

Surga Kedua - Langit di Atas Kota Roda Besi.

Tekanan yang turun dari celah emas di langit bukanlah Qi yang padat, melainkan bobot dari dunia itu sendiri. Puluhan ribu kultivator di alun-alun kota memuntahkan darah secara serentak, tubuh mereka dipaksa rata dengan tanah baja. Bahkan Lin Xue harus menancapkan pedang teratainya ke lantai hingga sedalam setengah jengkal untuk tetap berdiri, Dao Kehidupan-nya berputar gila-gilaan menahan hukum mutlak tersebut.

Di udara, Eksekutor Bintang menatap Shen Yu dengan mata putih tanpa pupil yang memancarkan kehampaan emosi. Bagi seorang Dewa Sejati, segala sesuatu di bawah ranah mereka hanyalah debu yang bernapas.

"Kau meronta melampaui batas kodratmu, Fana," suara Eksekutor itu tidak bergema di udara, melainkan beresonansi langsung di dalam tulang sumsum semua orang. "Hukum Cahaya Mutlak: Pemusnahan."

Eksekutor Bintang itu mengangkat satu jarinya.

Tidak ada ledakan energi atau gerakan yang rumit. Seketika, pilar cahaya keemasan setebal gunung melesat turun dari celah langit, langsung menelan titik di mana Shen Yu berdiri. Cahaya itu tidak membakar; cahaya itu menghapus eksistensi materi dari panggung realitas. Alun-alun baja Kota Roda Besi di bawah Shen Yu langsung lenyap tanpa sisa, meninggalkan lubang hitam sedalam jurang.

"GURU!" teriak Lin Xue, matanya membelalak dari kejauhan.

Namun, sebelum pilar cahaya itu menghilang sepenuhnya, sebuah pusaran hitam pekat merobek dari dalam pusat cahaya emas tersebut.

ZRAAAASH!

Shen Yu melesat keluar dari dalam pilar pemusnahan itu. Jubah hitamnya telah hancur separuh, memperlihatkan kulitnya yang memancarkan kilau baja dan perak. Asap tipis mengepul dari bahunya, namun Tulang Besi Naga Bintang-nya sama sekali tidak retak.

Ketiadaan berputar liar di sekujur tubuh sang Tiran, melahap sisa-sisa hukum cahaya yang mencoba merobek sel-selnya.

"Hukum alam murni," Shen Yu menyeringai buas, matanya yang hitam dan perak menatap lurus ke arah sang dewa. "Rasanya lebih pedas dari sekadar Qi biasa. Tapi belum cukup untuk membuatku berlutut!"

Eksekutor Bintang sedikit memiringkan kepalanya. Baru kali ini ia melihat seorang Dewa Fana bertahan dari hukum mutlak tanpa kehilangan satu anggota tubuh pun.

"Raga yang menyimpang. Tombak Penghakiman," gumam sang dewa.

Cahaya di tangan Eksekutor itu memadat, membentuk sebilah tombak emas yang permukaannya dipenuhi untaian aksara hukum alam. Ia tidak melemparnya. Ia menghilang, memotong ruang itu sendiri, dan muncul tepat di depan wajah Shen Yu dalam seperseribu detik.

Tombak itu menusuk lurus ke arah jantung Shen Yu.

TRANG!

Sabit Penebas Langit milik Shen Yu menangkis ujung tombak tersebut. Benturan antara Sabit Ketiadaan dan Tombak Hukum Alam menciptakan ledakan suara yang meruntuhkan sisa-sisa tembok Kota Roda Besi di bawah mereka.

Daya dorong sang dewa begitu masif hingga Shen Yu terlempar mundur membelah awan Surga Kedua, menciptakan parit udara sepanjang puluhan mil.

Eksekutor Bintang terus mendesak. Rentetan tusukan tombak emasnya meluncur seperti hujan meteor.

Shen Yu tidak tinggal diam. Ia memutar sabitnya, menggunakan Dao Ketiadaan untuk menelan setiap ujung tombak yang mengarah padanya. Namun, hukum Dewa Sejati terlalu padat. Setiap kali Ketiadaan melahap sebagian tombak itu, tombak tersebut langsung utuh kembali karena "Hukum Cahaya" mendiktekan bahwa senjata itu tidak bisa dihancurkan.

SRAAAK!

Satu tebasan tombak berhasil menggores pinggang Shen Yu. Darah merah keemasan menetes, namun luka itu segera menutup dengan sendirinya berkat vitalitas naga purba.

"Kau tidak bisa menghancurkan apa yang telah ditetapkan oleh Surga," kata Eksekutor Bintang datar, mengayunkan tombaknya memotong leher Shen Yu.

"Kalau begitu, aku akan menghapus ketetapan itu!" raung Shen Yu.

Cincin perak di mata kiri Shen Yu berputar dengan kecepatan gila.

"Satu Detik Kehampaan!"

Ujung tombak yang hanya berjarak sehelai rambut dari leher Shen Yu mendadak terhenti. Waktu dari tombak itu diputar mundur satu detik ke posisi sebelumnya.

Memanfaatkan celah itu, Shen Yu mengabaikan pertahanan. Ia membiarkan lengan kanannya yang memegang sabit terbuka lebar, dan mengayunkan tinju kirinya yang dilapisi Api Ketiadaan setebal lautan langsung ke wajah sang dewa.

DHUAAAAARRRR!

Pukulan Tulang Besi Naga Bintang itu menghantam helm emas Eksekutor Bintang.

Helm itu retak. Sang dewa terlempar sejauh belasan tombak, darah emas murni menetes dari sudut bibirnya.

Namun, pemandangan mengerikan terjadi. Retakan di helm dan luka di bibir sang dewa menyembur kembali dan pulih dalam sekejap mata. Di ranah Dewa Sejati, tubuh mereka adalah perwujudan hukum. Selama hukum surga masih ada, mereka abadi.

"Sia-sia," Eksekutor Bintang mengangkat tangannya, bersiap memadatkan rantai hukum untuk menyegel Shen Yu.

Shen Yu mengusap darah dari pinggangnya. Napasnya memburu, namun senyum tiraninya semakin lebar. Pertarungan ini telah membangkitkan kehausan murni di dalam Jantung Iblis-nya.

"Kau pulih karena kau terhubung dengan langit di atas sana," bisik Shen Yu, menatap celah emas yang masih terbuka di langit kelabu. "Jika Ketiadaan tidak cukup cepat untuk melahap lukamu... maka aku harus menelan sumber hukummu."

Shen Yu melepaskan cengkeramannya pada Sabit Penebas Langit. Sabit hitam itu memudar ke dalam lengannya. Ia tidak berniat memotong sang dewa. Ia berniat memakannya.

"Kegilaan apa ini?" Eksekutor Bintang menyipitkan mata pupil putihnya, merasakan bahaya yang tidak masuk akal dari tubuh fana di depannya.

Shen Yu merentangkan kedua tangannya. Kegelapan mutlak meledak dari dalam Dantian-nya, menyebar ke seluruh langit Kota Roda Besi, menutupi cahaya kelabu dan emas.

"Seni Kaisar Malam: Pusaran Penelan!"

Bukan hanya Ketiadaan yang dilepaskan, melainkan seluruh sisa Esensi Waktu Purba dan tenaga dari Sumsum Naga Bintang dikerahkan secara bersamaan. Sebuah lubang hitam raksasa terbentuk tepat di belakang punggung Shen Yu, daya hisapnya begitu mengerikan hingga cahaya emas dari celah langit Surga Kesembilan mulai bengkok dan tersedot ke arahnya.

"Lancang!" Eksekutor Bintang murka. Ia melesat maju, menusukkan tombaknya yang kini dipenuhi ratusan lapisan hukum pemusnahan, berniat menghancurkan Dantian Shen Yu sekali dan untuk selamanya.

Shen Yu menyambut terjangan itu tanpa senjata.

CRAT!

Tombak emas itu menembus lurus ke dalam perut Shen Yu, tepat di bawah Dantian-nya. Darah naga menyembur ke wajah sang dewa.

"Kau mati," vonis Eksekutor Bintang dingin.

"Tidak," bisik Shen Yu, darah mengalir dari bibirnya yang menyeringai. "Kau yang tertangkap."

Kedua tangan Shen Yu, yang telah berubah menjadi bayangan Ketiadaan murni, melesat ke depan dan mencengkeram tengkorak sang dewa dari kedua sisi.

Eksekutor Bintang terbelalak. Ia mencoba menarik tombaknya, namun otot perut Shen Yu yang berlapis Tulang Besi Naga Bintang mengunci tombak hukum itu bagaikan jepitan kosmik.

"T-Tidakkah kau tahu... menyerap hukum Dewa Sejati akan meledakkan wadah fanamu?!" raung Eksekutor itu, mulai merasakan hukum cahaya di dalam tubuhnya disedot dengan paksa.

"Wadahku... ditempa di neraka," geram Shen Yu.

Daya hisap Ketiadaan dari telapak tangan Shen Yu bekerja secara gila-gilaan. Alih-alih menghapus eksistensi musuh, Shen Yu secara harfiah menyedot serat-serat emas hukum Dewa Sejati dari tengkorak Eksekutor itu dan memaksanya masuk ke dalam Dantian-nya sendiri.

Penderitaan yang merobek jiwa menghantam Shen Yu. Menelan hukum murni Surga Kesembilan terasa seperti menelan matahari hidup-hidup. Urat-urat di wajah dan lengan Shen Yu menonjol, memancarkan cahaya emas yang mengancam akan meledakkan tubuhnya dari dalam.

Namun, Jantung Iblis-nya memompa lebih kuat. Arogansinya menolak untuk hancur.

KRAAAAK... KRAAAAK...

Tubuh Eksekutor Bintang mulai retak. Tanpa hukum alam yang menopangnya, tubuh abadi itu perlahan kembali menjadi fana. Cahaya putih di matanya padam, digantikan oleh kepanikan yang sangat manusiawi.

"L-Lepaskan... aku adalah utusan Taiyi..."

"Di hadapanku, Taiyi hanyalah nama di atas batu nisan," bisik Shen Yu.

Dengan satu tarikan buas, Shen Yu merobek sisa-sisa benang emas dari tengkorak dewa tersebut. Dantian Eksekutor Bintang hancur lebur, dihisap sepenuhnya ke dalam lubang hitam Shen Yu.

Tubuh sang dewa yang telah kehilangan kekuatan langsung berubah menjadi debu emas, tertiup angin kencang di atas Kota Roda Besi. Tombak yang tertancap di perut Shen Yu memudar menjadi ketiadaan.

Shen Yu melayang di udara. Cahaya emas meledak-ledak dari dalam kulitnya, bertarung hebat dengan kegelapan Ketiadaan-nya. Sang Tiran memejamkan mata, memadatkan sisa tenaga naga bintangnya untuk mengunci hukum murni yang baru saja ia telan.

Setelah belasan tarikan napas yang sangat menyiksa, cahaya emas itu akhirnya tunduk dan tenggelam ke dalam pusaran Dantian Shen Yu.

Shen Yu membuka matanya. Tidak ada lagi kelelahan. Di samping cincin peraknya, kini terdapat kilatan emas tipis di kedalaman pupilnya yang hitam. Ia telah mengasimilasi sebagian kecil dari hukum Surga Kesembilan. Ia bukan lagi Dewa Fana biasa. Ia adalah anomali yang berada di batas abu-abu antara kemutlakan dan kehampaan.

Ia menunduk, menatap puluhan ribu pasukannya yang masih berlutut membisu. Mereka baru saja menyaksikan seorang pemuda dari alam bawah membunuh seorang Dewa Sejati dengan tangan kosong.

Shen Yu perlahan mendarat kembali di atas takhtanya di alun-alun, jubahnya yang robek dipenuhi darahnya sendiri dan debu emas sang dewa.

"Langit telah kita robek," Shen Yu, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang mematikan. "Tapi tombakku barusan patah. Sabit ini tidak akan sanggup menahan hukum baru di dalam darahku."

Lin Xue melangkah mendekat, matanya memancarkan kebanggaan dan kekhawatiran yang tersamar rapi. Ia memberikan jubah perak barunya untuk menutupi bahu Shen Yu.

"Pengadilan Langit akan menyadari kematian Eksekutor mereka, Guru. Mereka akan mengirim armada yang sesungguhnya," kata Lin Xue.

"Biarkan mereka datang," jawab Shen Yu, menyentuh gagang bayangan di lengannya. "Tapi sebelum itu, kita butuh senjata yang layak untuk memenggal leher mereka. Mo Han! Bawa tawanan klan yang mengetahui seluk-beluk wilayah ini ke hadapanku."

1
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka...
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Bambang Widono
👍👍🙏🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏
Bambang Widono
mantab lanjut Thor 👍👍💯💯💯💯👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
aleena
semua karyamu pasti bagus bagus
💪💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih 🙏
total 1 replies
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!