Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20
Duniaku seketika senyap. Rasanya seperti ada lubang besar yang menganga di dadaku, menyedot seluruh sisa kekuatan yang kukumpulkan selama tujuh tahun ini. Aku menatap aspal di bawah kakiku dengan pandangan kosong.
Tuhan, kenapa? Kenapa Engkau membiarkan aku bertahan hidup di penjara dengan bayangan tawa seorang anak yang ternyata tidak pernah menghirup udara dunia? Aku kecewa. Aku marah pada takdir, dan yang paling menyakitkan, aku muak pada diriku sendiri.
Kepalaku berdenyut hebat. Ingin rasanya aku berteriak, memaki dunia yang begitu tidak adil ini. Tapi saat nama Hana terlintas, kemarahan itu mendadak luluh menjadi kesedihan yang amat dalam. Aku tidak bisa marah padanya. Bagaimana mungkin aku membenci wanita yang sudah menanggung beban seberat itu sendirian saat aku mendekam di balik terali besi?
"Maafin aku, Han... maafin aku yang nggak ada di sana buat jaga kamu dan dia," bisikku parau. Air mataku jatuh, membasahi debu di jalanan.
Aku mencoba mengatur napas, memaksa jantungku agar tidak meledak karena sesak. Aku harus tenang. Aku sangat mencintai Hana, lebih dari nyawaku sendiri. Rasa cinta itu bahkan sanggup membuatku menelan bulat-bulat rasa sakit hati terhadap keluarganya.
Keluarga Gunawan... mereka yang dengan tega memisahkan kami. Mereka yang menggunakan kekuasaan dan pengaruh mereka untuk menjebloskanku ke penjara, membiarkan rumor kotor tentang obat-obatan itu menghancurkan namaku, hanya agar aku menjauh dari putri mereka. Mereka merenggut tujuh tahun masa mudaku, dan secara tidak langsung, mereka merenggut kesempatan anakku untuk lahir.
Pahit.
Rasanya sangat pahit. Tapi demi Hana, aku akan mencoba melupakan semua dendam itu. Aku tidak butuh keadilan dari mereka, aku hanya butuh pengampunan dari Hana. Aku ingin dia tahu bahwa di dunia yang kejam ini, masih ada satu lelaki yang mencintainya tanpa syarat, meskipun lelaki itu adalah orang yang paling banyak memberinya luka.
Aku berdiri perlahan, menghapus air mata dengan punggung tanganku. Aku tidak akan menyerah sekarang. Jika anak kami sudah berada di surga, maka Hana adalah satu-satunya alasan bagiku untuk tetap menginjakkan kaki di bumi ini.
"Aku akan cari kamu, Han. Bukan sebagai orang asing, tapi sebagai laki-laki yang ingin menebus semua waktu yang hilang," tekadku dalam hati.
...****************...
sudah beberapa hari setelah itu Aku menatap layar ponselku dengan tangan yang mendadak mati rasa. Pesan itu masuk seperti belati yang menghujam tepat di jantungku. Kalimat demi kalimat yang dikirimkan Hana bukan sekadar penolakan, tapi sebuah vonis mati bagi seluruh harapanku.
[Wira, berhenti mencari aku. Berhenti kirim pesan, berhenti tanya ke tetangga lama, dan berhenti bersikap seolah kamu punya hak atas hidupku. Kamu tanya kenapa aku pindah? Karena aku ingin menghapus setiap inci kenangan buruk tentang kamu dari hidupku.]
Napas seolah berhenti di tenggorokanku. Aku membaca baris berikutnya, dan rasanya seluruh duniaku runtuh berkeping-keping.
[ingat kata-kata kamu 7 tahun lalu? Saat aku bertaruh nyawa dan kamu justru menghinaku? Hari itu, kamu bukan cuma kehilangan anak itu, tapi kamu juga kehilangan hak untuk tahu aku masih hidup atau tidak. Jangan pernah muncul di depan keluargaku lagi. Kalau kamu nekat, aku tidak akan segan lapor polisi. Aku bukan Hana yang dulu bisa kamu bodohi dengan kata 'cinta' palsumu.]
Aku tertegun. Aku diam membeku di tengah keramaian jalan yang tiba-tiba terasa sunyi. Sakit? Itu bahkan tidak cukup untuk menggambarkan apa yang kurasakan. Rasanya lebih pedih daripada pukulan di dalam sel, lebih perih daripada tujuh tahun kehilangan kebebasan.
"Cinta palsu...?"
bisikku lirih. Air mataku jatuh tanpa suara. "Han, kalau cintaku palsu, aku tidak akan sanggup bertahan tujuh tahun hanya untuk mendengar suaramu lagi."
Aku mencoba menekan tombol panggil. Aku harus menjelaskan. Aku harus bilang kalau saat itu aku hanya pengecut yang ketakutan, bukan pria yang tidak mencintainya. Tapi, hanya suara operator yang kembali menyapaku. Nomorku sudah diblokir. Benar-benar diputus tanpa sisa.
Selama beberapa hari berikutnya, aku seperti mayat hidup. Aku terus mencoba mengirim pesan dari nomor lain, mencoba menelepon berulang kali hingga jariku lelah, namun hasilnya tetap nihil. Hana benar-benar sudah membangun benteng yang sangat tinggi untuk menjauh dariku.
Dia sudah menghapusku dari dunianya.
Akhirnya, aku berhenti.
Aku terduduk di sebuah bangku taman kota yang asing, menunduk dalam-dalam. Aku menyadari satu hal yang pahit cinta yang kupunya, kelembutan yang ingin kuberikan, dan penyesalan yang membakar batinku... semuanya sudah tidak ada artinya lagi bagi Hana. Baginya, aku hanyalah
"kenangan buruk" yang harus dimusnahkan.
Aku menyimpan ponselku ke dalam saku. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari gerbang penjara, aku merasa benar-benar kalah.
Aku tidak ingin dia melaporkanku ke polisi, aku tidak ingin dia ketakutan lagi. Jika menjauh adalah satu-satunya cara agar dia bisa bernapas lega, maka mungkin... itulah bentuk cinta terakhir yang bisa kuberikan
Aku menyeret langkahku kembali ke rumah tua itu. Rumah yang dulu kutinggalkan dengan penuh amarah dan keras kepala demi membela cintaku pada Hana. Aku ingat bagaimana aku membentak Ibu, menentang setiap nasehatnya, dan menganggapnya tidak mengerti apa-apa soal perasaan.
Begitu pintu terbuka, aku melihat Ibu. Sosoknya sudah jauh lebih renta, rambutnya memutih, dan gurat lelah terukir jelas di wajahnya. Melihatku berdiri di sana, Ibu tidak mencaci, tidak juga mengungkit kesalahanku. Dia hanya menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, seolah tahu bahwa duniamu baru saja hancur di luar sana.
"Wira... kamu pulang, Nak?" suaranya bergetar.
Aku langsung bersimpuh di kakinya, menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil.
"Bu... maafin Wira. Wira salah... Wira gagal..."
Ibu hanya mengusap rambutku dengan lembut, tangan kasarnya menjadi satu-satunya tempat yang menerimaku tanpa syarat.
"Sudah, Nak. Sudah. Kamu sudah pulang."
Setelah hari itu, aku mencoba melanjutkan hidup. Aku bangun setiap pagi, membantu Ibu di rumah, dan mencari pekerjaan serabutan apa saja untuk menyambung hidup. Namun, aku melakukannya dengan semangat yang patah. Setiap kali aku melihat bayi di jalanan, atau mendengar nama yang mirip dengannya, dadaku kembali sesak.
Harapanku sudah hancur. Bayangan tentang keluarga kecil, tentang anak yang kusangka ada, dan tentang Hana yang menyambutku dengan senyum lembut, kini terkubur bersama pesan terakhirnya yang dingin. Aku hidup, tapi jiwaku tertinggal di suatu tempat yang tak bisa lagi kujangkau.
Aku tidak lagi mengejarnya. Aku menghargai permintaannya untuk menghilang, meski itu berarti aku harus menelan api penyesalan seumur hidupku. Aku memilih diam, menjaga cinta yang tersisa di sudut hati yang paling gelap, sambil mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa ada kesalahan yang memang tidak bisa diperbaiki oleh waktu.