Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Jenderal dan Sandal Bulu
Pagi di Elysium Estate adalah kemewahan yang sunyi. Di tengah luasnya taman yang dinamai "The Garden of Whispers", berdiri sebuah bangunan kaca modern yang menjadi privasi mutlak bagi Shaneen von Asturia. Di dalam paviliun itu, Shaneen masih bergelut dengan tumpukan kertas musik dan layar monitor yang menyala redup. Dia baru saja menyelesaikan demo lagu untuk grup global "The Eclipse" tepat saat fajar menyingsing.
Baru dua jam dia memejamkan mata, suara gedoran pintu yang panik membuyarkan mimpinya.
"Lady Shaneen! Gawat! Ada tamu agung di mansion utama!" Sarah, pelayan pribadinya, berteriak dari balik pintu dengan suara gemetar.
Shaneen mengerang, menarik selimut sutranya hingga menutupi kepala. "Sarah... jika itu bukan Ayah yang pulang membawa hadiah, suruh mereka pergi. Kepalaku mau pecah."
"T-tapi Lady! Itu Duke Matthias von Falkenhayn! Jenderal Tertinggi Kerajaan! Beliau membawa pasukan pengawal dan menuntut bertemu perwakilan keluarga Asturia!"
Shaneen membuka matanya perlahan. Sleepy eyes-nya menatap langit-langit kamar dengan datar. "Matthias... siapa? Falken apa?"
Shaneen mencoba mengingat-ingat. Enam tahun di Oxford untuk gelar S2 Ekonomi dan Hukum benar-benar membuatnya terputus dari hiruk-pikuk politik bangsawan di tanah airnya. Baginya, nama itu tidak lebih familiar daripada nama merk pembersih lantai.
"Sudahlah. Katakan pada si 'Falken' itu untuk menunggu. Aku harus minum kopi atau aku akan menggigit seseorang," gumam Shaneen sambil beranjak dari ranjang.
Sepuluh menit kemudian, di ruang tamu Mansion Utama yang megah, suasana terasa mencekam. Duke Matthias von Falkenhayn berdiri tegap di tengah ruangan. Seragam militer hitamnya yang kaku dengan garis-garis emas tampak sangat kontras dengan desain interior mansion yang elegan dan artistik. Matanya yang ice blue menyapu ruangan, mencari sosok gadis yang semalam telah mempermalukan seorang Baronet dengan begitu dingin.
Terdengar langkah kaki dari arah koridor. Matthias berbalik, memasang ekspresi paling berwibawa yang biasa membuat para menteri gemetar.
Namun, ekspektasinya runtuh dalam sekejap. Bukan putri bangsawan dengan gaun sutra yang muncul. Yang masuk ke ruangan adalah seorang gadis yang berjalan lesu dengan sandal bulu berwarna putih, mengenakan kaos oversized milik Samuel (kakaknya) yang menutupi setengah pahanya, dan rambut yang diikat asal-asalan ke atas. Di tangannya, gadis itu memegang cangkir kopi besar beruap.
Shaneen berhenti tepat tiga langkah di depan Matthias. Dia tidak membungkuk. Dia tidak memberi salam hormat. Dia justru menyesap kopinya dengan nikmat, lalu menatap Matthias dari ujung sepatu boot militernya yang mengkilap hingga ke deretan lencana di dadanya.
"Jadi," suara Shaneen terdengar serak namun tenang. "Kau Duke yang katanya penting itu? Siapa namamu tadi? Tuan Falken?"
Ajudan Matthias, yang berdiri di belakang, hampir menjatuhkan papan catatannya. Rahang Matthias mengeras, namun ada kilat ketertarikan yang tak bisa disembunyikan di matanya.
"Matthias von Falkenhayn," sahut Matthias dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Aku berasumsi namaku cukup dikenal di seluruh negeri ini, Lady Shaneen."
Shaneen menaikkan sebelah alisnya, wajahnya menunjukkan kejujuran yang menyakitkan bagi ego Matthias. "Maaf ya, Tuan Falken. Aku menghabiskan enam tahun terakhir di Oxford untuk belajar hukum dan ekonomi, bukan menghafal daftar bangsawan yang hobi pamer medali. Apakah kau menteri baru? Atau... kepala keamanan yang bertugas menjaga gerbang istana?"
"Aku Jenderal Tertinggi Royal Guard," Matthias melangkah maju, memperpendek jarak hingga Shaneen harus sedikit mendongak. Atmosfer di sekitar mereka menjadi berat karena aura dominan sang Duke. "Dan aku tidak terbiasa diabaikan, apalagi tidak dikenali oleh seseorang yang menyandang nama Asturia."
Shaneen justru terkekeh pelan, sama sekali tidak terintimidasi oleh jarak fisik mereka. Dia justru menyesap kopinya lagi, uapnya mengenai wajah Matthias.
"Gelar hanyalah label, Tuan Falken. Di Oxford, aku belajar bahwa nilai seseorang dilihat dari apa yang ada di kepalanya, bukan berapa banyak logam yang menempel di dadanya," Shaneen menatap tepat ke mata biru Matthias dengan tatapan tajam namun sayu. "Ayahku sedang di luar negeri. Kakak-kakakku sudah punya mansion sendiri. Jadi, karena tidak ada 'urusan negara' yang mendesak, silakan keluar dari rumahku. Kau mengganggu jam istirahat seorang penulis."
"Penulis?" Matthias menyipitkan mata. "Kudengar anda hanya putri manja yang hobi bermain musik."
"Rumor memang seringkali lebih bodoh dari penyebarnya," balas Shaneen pedas. Dia berbalik, sandal bulunya menyeret di atas lantai marmer yang mahal. "Leo, antar Tuan Jenderal ini ke gerbang. Pastikan dia tidak tersesat di tamanku. Taman itu terlalu luas untuk orang yang terbiasa hidup di dalam tembok benteng yang sempit."
Matthias tertegun di tempatnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, dia diusir seperti seorang tenaga pemasar yang tidak diinginkan. Namun, bukannya marah, Matthias justru merasakan adrenalin yang meledak di dadanya.
Gadis ini benar-benar tidak tahu siapa dia. Dia tidak takut pada gelarnya, tidak terpesona pada ketampanannya, dan bahkan menghina seragamnya.
"Lady Shaneen," panggil Matthias sebelum Shaneen menghilang di balik pintu.
Shaneen berhenti, namun tidak menoleh. "Apa lagi?"
"Jangan repot-repot menghafal namaku dari buku sejarah," ujar Matthias dengan senyum tipis yang mematikan. "Karena mulai hari ini, aku akan memastikan namaku adalah satu-satunya hal yang akan kau ingat setiap kali kau bangun tidur."
Shaneen hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh dan melanjutkan langkahnya. Namun, di dalam hati, si Virgo yang perfeksionis itu mulai merasa terganggu. Pria itu... tatapannya terlalu intens. Sangat merepotkan, batinnya.
Matthias merapikan sarung tangan kulitnya, matanya masih menatap pintu tempat Shaneen menghilang. "Hans," panggilnya pada ajudannya.
"Siap, Yang Mulia?"
"Kosongkan jadwalku untuk kunjungan ke perbatasan minggu depan. Sepertinya aku punya strategi baru yang harus kususun di sini, di Elysium."