Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Runtuhnya Istana Pasir
Kekacauan di lobi kantor pusat Adiwangsa Group tidak tertahankan lagi. Cahaya lampu flash kamera terus menyorot wajah Tristan yang kini terduduk lemas di lantai. Pria yang tadi berdiri sombong itu kini berteriak kesakitan, jemarinya terus menggaruk bintik-bintik merah di wajahnya yang kini membengkak. Sebuah kenyataan fisik dari balasan atas semua cerita karangannya selama ini.
"Siska! Cepat... panggil ambulans!" teriak Tristan dengan suara yang hampir habis. "Wajahku... dadaku sesak! Aruna, apa yang kamu lakukan padaku?!"
Siska berdiri terdiam di samping podium. Matanya yang tadi memancarkan kemenangan kini dipenuhi rasa jijik saat menatap Tristan. Pria itu tidak lagi terlihat seperti tiket menuju kekayaan, melainkan seperti monster yang menjijikkan. Namun, menyadari ratusan kamera sedang menyorot mereka, Siska tidak punya pilihan lain. Ia harus tetap menjaga aktingnya jika tidak ingin langsung diseret polisi hari ini juga.
Dengan tangan gemetar dan memalingkan wajahnya dari karena tak tahan melihat luka-luka di wajah Tristan, Siska mencari ponselnya. "Halo? Ambulans! Cepat ke Adiwangsa Tower! Ada keadaan darurat!"
Aruna hanya berdiri diam, melipat tangan di depan dada. Ia membiarkan map aset yang tadinya hangus menghitam itu tetap tergeletak di lantai sebagai bukti nyata pengkhianatan mereka.
"Tidak perlu ambulans untuk mengobati rasa bersalah, Siska," suara Aruna memotong kepanikan itu dengan tenang. "Dan Tristan, ambulans mungkin akan datang, tapi tujuan akhirmu bukan lagi rumah sakit mewah, melainkan sel yang sangat sempit."
Beberapa detik kemudian, suara sirine polisi dan ambulans sama-sama berbunyi di depan gedung. Pak Baskara melangkah maju, menyerahkan sebuah tablet kepada kepala polisi yang baru saja menerobos masuk ke tengah kerumunan.
"Komandan, ini rekaman asli pengakuan tersangka Tristan mengenai percobaan pembunuhan berencana terhadap Pak Adiwangsa, beserta bukti manipulasi dokumen aset perusahaan," lapor Pak Baskara tegas.
Tristan mencoba berdiri, namun setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya untuk kabur, Benih Karma di saku Aruna terasa panas, mengirimkan rasa lemas yang luar biasa ke sendi-sendi pria itu. Tristan jatuh kembali dengan suara yang sangat keras.
"Aruna... tolong..." bisik Tristan saat petugas medis mulai menaikkannya ke tandu dengan pengawalan ketat polisi.
Aruna mendekat, menatap mata suaminya untuk terakhir kali. "Aku sudah memberikan segalanya padamu, Tristan. Dan kamu membalasnya dengan mencoba mengambil nyawa Ayahku. Untungnya, takdir tidak membiarkan pengkhianat sepertimu menang. Sekarang, nikmatilah sisa hidupmu dengan bayang-bayang kejahatanmu sendiri."
Siska mencoba kabur diam-diam di balik kerumunan wartawan. Namun Bimo dan Raka, dua pengawal Aruna sudah lebih dulu menahan kedua lengan Siska menghentikan langkahnya.
"Lepaskan! Aku nggak tahu apa-apa! Aku hanya asisten yang diminta membawakan map ini!" teriak Siska histeris, mencoba melepaskan diri dari pengawal Aruna. Matanya melirik Tristan dengan tatapan jijik, seolah-olah ia tidak pernah mengenal pria yang terlihat kesakitan di lantai itu.
Aruna tertawa sinis. "Asisten yang tidur dengan bosnya bukan lagi asisten, Siska. Kamu adalah kaki tangan. Polisi akan menemukan semua bukti di ponselmu."
***
Polisi segera memborgol tangan Siska yang terus melawan. Para wartawan tidak berhenti mengambil gambar saat Siska diseret menuju mobil patroli. Namun, saat petugas hendak memasukkan Siska ke dalam mobil, suasana lobi yang tadinya berisik dengan suara jepretan kamera. Mendadak berubah tegang karena suara mesin motor yang muncul dari arah pintu masuk utama.
Sebuah motor sport serba hitam menyerobot masuk hingga ke area lobi, menembus kerumunan wartawan yang berlari kesana-kemari menyelamatkan diri. Sebelum polisi sempat bereaksi atau mengambil senjata, pengendara motor dengan helm gelap itu membanting setir dengan ekstrem tepat di samping petugas yang memegang Siska.
"Sekarang!" teriak si pengendara motor.
Siska, yang entah bagaimana caranya sudah berhasil melonggarkan borgolnya, menyikut perut polisi di sampingnya dengan keras. Ia melompat ke boncengan motor, kakinya hampir terseret aspal saat motor itu langsung tancap gas bahkan sebelum ia duduk dengan sempurna. Pergi menghilang di tengah kemacetan Jakarta yang padat.
Semuanya terjadi hanya dalam hitungan detik.
"Kejar mereka!" perintah Komandan polisi, namun motor itu sudah terlalu jauh untuk dikejar oleh mobil patroli di tengah arus lalu lintas.
Aruna meremas telapak tangannya begitu kuat hingga kuku-kukunya menusuk kulit, meninggalkan bekas kemerahan yang perih. Ia tidak peduli pada rasa sakit itu; rasa kesal karena Siska lolos jauh lebih menyiksa dadanya. "Sial! Siapa orang itu?" geram Aruna, emosinya mulai memuncak.
Pak Baskara mendekati Aruna dengan wajah cemas. "Aruna, sepertinya Tristan dan Siska nggak bekerja sendirian. Ada pihak lain yang menginginkan aset Adiwangsa."
Aruna menatap ke arah jalanan tempat motor itu menghilang, lalu beralih menatap Benih Karma di telapak tangannya. Permata itu bergetar kencang, memberikan sensasi dingin yang menusuk tulang. Lolosnya Siska adalah sebuah kegagalan, namun juga sebuah peringatan bahwa musuh yang ia hadapi jauh lebih besar daripada sekadar suami yang tidak setia.
"Biarkan dia lari untuk sementara, Pak Baskara," ucap Aruna dingin, matanya menyimpan ancaman yang jauh lebih berbahaya. "Dia pikir dia sudah bebas. Dia nggak tahu bahwa ke mana pun dia pergi, bau Benih Karma ini akan tetap menempel padanya. Aku akan kembali ke Hutan Sanubari. Aku butuh cara untuk menyeret mereka keluar dari kegelapan."
Aruna berbalik, meninggalkan lobi yang masih kacau. Fokusnya sekarang bukan lagi sekadar memenjarakan Tristan, melainkan mengungkap siapa dalang di balik pelarian Siska.
***
Setelah keributan di kantor mereda, Aruna memilih untuk tidak langsung ke rumah sakit. Ia butuh ketenangan. Ia pulang ke apartemen pribadinya. Satu-satunya tempat di mana ia bisa benar-benar sendirian.
Aruna mengunci pintu rapat-rapat. Napasnya masih tak karuan. Ia segera duduk bersila di tengah ruang tamu yang gelap, menggenggam erat kunci kristal di lehernya. "Ibu, aku butuh jawaban. Siapa pria bermotor itu? Kenapa Benih Karma tidak menahannya?" bisiknya putus asa.
Ia memejamkan mata, memutar kunci kristal itu dengan harapan akan langsung tersedot ke dalam kesejukan Hutan Sanubari.
Satu detik... lima detik... satu menit.
Aruna membuka mata dengan kaget. Ia masih berada di ruang tamunya. Tidak ada pepohonan perak, tidak ada langit ungu, dan tidak ada suara angin yang berbisik. Hutan Sanubari seolah menutup pintu untuknya.
"Kenapa? Kenapa aku nggak bisa masuk?" Aruna mencoba lagi, kali ini dengan perasaan lebih tertekan. Namun, hasilnya nihil. Hutan itu seolah menutup jalan, menolak kehadiran Aruna yang datang dengan amarah yang meledak-ledak atau mungkin... Ada kekuatan lain yang sepertinya sedang menyabotase koneksinya.
Aruna jatuh terduduk di lantai, merasa sangat sendirian.
Sementara itu, di sebuah gudang tua di pinggiran kota yang tersembunyi, motor sport hitam itu berhenti dengan suara decit ban yang membuat orang-orang spontan menutup telinga. Siska melompat turun, napasnya tak karuan, wajahnya pucat karena ketakutan sekaligus lega.
Si pengendara motor melepas helmnya pelan. Di balik kaca gelap itu, muncul wajah seorang pria paruh baya dengan senyum yang sangat tipis dan dingin.
"Terima kasih... Anda menyelamatkan saya," ucap Siska terbata-bata.
Pria itu menatap Siska dengan tatapan merendahkan. "Aku menyelamatkan kamu bukan karena peduli padamu, Siska. Tapi karena kamu masih memegang kunci informasi yang aku butuhkan untuk menghancurkan Adiwangsa."
Pria itu adalah Hendrawan, adik kandung Pak Adiwangsa. Paman Aruna sendiri..
***
Hendrawan mengisap rokoknya, menatap asap yang mengepul tipis di gudang yang remang itu. Pikirannya melayang ke enam bulan lalu, di sebuah ruang VIP klub malam yang berisik, tempat ia pertama kali mengendalikan Tristan.
Flashback.
Tristan saat itu hanyalah seorang manajer menengah yang punya ambisi setinggi langit tapi tak punya modal, frustrasi karena kariernya yang itu-itu saja. Hendrawan duduk di hadapannya, memberikan sebuah amplop cokelat tebal berisi rincian kelemahan sistem keamanan perusahaan Adiwangsa.
"Kamu ingin menikahi Aruna? Mudah saja," ucap Hendrawan dengan suara berat yang menghasut. "Aku akan memberikan restuku sebagai pamannya. Aku akan meyakinkan kakakku bahwa kamu adalah calon menantu idaman. Tapi ingat, begitu kamu di dalam, separuh dari saham yang kamu rebut adalah milikku."
Tristan menatap amplop itu, matanya tak lepas dari amplop tebal di depannya. "Dan jika Aruna mulai curiga?"
Hendrawan tertawa dingin. "Gunakan Siska. Dia cerdas, tak punya nurani, dan sangat mencintai kamu. Dia akan menjadi asisten sekaligus mata-matamu. Biarkan Aruna merasa dicintai, sementara Siska mengosongkan brankasnya dari balik layar.
Di sudut ruangan, Siska muncul dari balik bayangan, tersenyum licik sambil memutar-mutar segelas wine. "Aku akan memastikan Aruna terlalu sibuk menangis karena 'kesibukan' Tristan, sampai dia tidak sadar hartanya perlahan habis pelan-pelan.
Hendrawan memberikan sebuah alat. Bubuk sidik jari khusus dan pemindai digital. "Kakakku sangat protektif. Hanya sidik jarinya yang bisa membuka brankas utama. Buat dia lumpuh, buat dia tidak bisa bicara, maka harta itu akan menjadi milik kita tanpa perlu menumpahkan darah secara langsung."
Tristan mengangguk mantap sambil menatap Siska yang juga sudah menunjukkan senyum tipis penuh rencana. Mereka merasa di atas angin, tidak sadar bahwa bagi Hendrawan, mereka berdua pun hanyalah sampah yang bisa dibuang kapan saja.
Flashback Berakhir.
Hendrawan mematikan rokoknya di atas tangki motor. Matanya kembali menatap Siska yang masih gemetar.
"Tristan sudah tidak berguna sekarang. Dia tertangkap karena bodoh dan ceroboh," bisik Hendrawan. "Jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang sama, Siska. Karena jika polisi menemukanku lewat kamu, aku pastikan kamu tidak akan pernah keluar dari tempat ini hidup-hidup."
Siska menelan ludah dengan susah payah. Ia baru menyadari bahwa lolos dari kejaran Aruna bukan berarti ia aman. Ia baru saja masuk ke dalam kandang singa yang jauh lebih mengerikan.
Hendrawan mengepalkan tangannya, menatap bayangannya di kaca spion motor. Seumur hidupnya, ia selalu berada di bawah bayang-bayang kesuksesan kakaknya. Pak Adiwangsa mendapatkan perusahaan, mendapatkan cinta orang tua, dan mendapatkan harta. Sementara Hendrawan hanya mendapatkan sisa-sisa.
Rasa iri yang dipendam selama puluhan tahun telah berubah menjadi racun yang mematikan. Dialah dalang yang sebenarnya, yang menggunakan Tristan dan Siska sebagai alat untuk menguras kekayaan kakaknya dari dalam.
"Aruna pikir dia sudah menang hanya karena Tristan tertangkap," gumam Hendrawan sinis. "Dia tidak tahu bahwa musuh yang sesungguhnya adalah orang yang dulu sering menggendongnya saat kecil. Perang ini baru saja dimulai, Kakakku sayang."
Di tempat lain, Aruna masih berjuang dengan kunci kristalnya, tidak menyadari bahwa pengkhianat yang paling berbahaya adalah orang yang memiliki darah yang sama dengannya.