NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abian sakit

Begitu pintu ruang rapat tertutup dan para investor terakhir melangkah pergi. Abian luruh seketika. Ia tidak lagi berusaha berdiri tegak. Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, ia kembali ke ruangannya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa kulit panjang miliknya.

Nana, yang baru saja masuk membawakan sisa berkas, hampir menjatuhkan map yang ia pegang melihat bosnya ambruk begitu saja.

"Pak Abian!" seru Nana panik. Ia meletakkan berkas di meja dan mendekat.

"Bapak pucat sekali. Saya bilang juga apa, Bapak itu sakit!"

Abian tidak membalas dengan kata-kata pedas seperti biasanya. Ia hanya memejamkan mata erat-erat, tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Rasa pusing yang sejak tadi ia tahan kini meledak.

"Haruna... Berhenti mengomel," gumam Abian lirih, suaranya sangat parau. Ia menarik napas pendek sebelum melanjutkan.

 "Buatkan saya teh hangat. Sekarang. Tambahkan sedikit madu kalau ada."

"I-iya, Pak! Tunggu sebentar," jawab Nana sigap.

Begitu Nana menjauh dan sibuk dengan cangkir, Abian meraba saku jasnya. Ia mengeluarkan ponsel, mencari sebuah kontak, dan menekan tombol panggil.

"Halo?" suara pria di seberang sana.

"Ka... ke kantor saya sekarang," ucap Abian singkat, napasnya terdengar berat.

"Abian? Suara lo kenapa?" sahut Raka, sahabat karib Abian sejak SMA yang kini menjadi dokter spesialis penyakit dalam. "Jangan bilang lo pingsan gara-gara kurang belaian."

"Jangan bercanda," potong Abian, matanya tetap terpejam. "Kepala saya berputar. Badan saya panas. Sepertinya flu ini tidak mau berkompromi."

Raka tertawa kecil di seberang sana. "Tapi, sekretaris lo yang cantik itu ada di sana, kan? Biar gue semangat nih ke kantor lo kalau ada pemandangan segar."

Abian membuka matanya sedikit, melirik ke arah pantry di mana punggung Nana terlihat sedang sibuk. Sebuah kilat tidak suka muncul di matanya yang sedang sayu.

"Jangan macam-macam, Raka," desis Abian dengan nada mengancam meskipun sedang lemas.

"Datang saja sendiri. Bawa obat yang paling manjur. Cepat."

"Wih, protektif banget! Oke, oke. Gue jalan sekarang. Tunggu sepuluh menit," ucap Raka sebelum menutup telepon dengan tawa yang masih terdengar mengejek.

Abian mematikan ponselnya tepat saat Nana kembali membawa secangkir teh yang mengepul hangat. Ia menatap asistennya itu, lalu kembali memejamkan mata. Entah karena flu atau karena ucapan Raka tadi, dadanya terasa sedikit panas.

Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan CEO terbuka tanpa ketukan. Seorang pria dengan jas putih tersampir di lengannya dan tas medis di tangan lainnya melangkah masuk dengan gaya santai.

"Mana pasien manja gue?" seru Raka sambil tertawa.

"Dokter Raka? Mari Dok, Pak Abian badannya panas sekali."

Raka menghentikan langkahnya, matanya langsung tertuju pada Nana. Ia tersenyum lebar, jauh lebih lebar.

"Wah, ini ya yang namanya Haruna?" Raka mendekat, mengabaikan Abian sejenak dan malah mengulurkan tangan pada Nana.

"Aslinya jauh lebih cantik. Gue Raka, dokternya Abian sekaligus calon masa depan lo"

Nana tersipu malu dan bingung harus menjawab apa. "Eh, saya Nana, Dok..."

"Raka..." suara serak Abian.

"Periksa saya, bukan asisten saya."

Raka tertawa terbahak-bahak sambil menoleh ke arah sahabatnya. "Santai, Bro. Gue cuma mau memastikan asisten lo nggak trauma punya bos kayak lo. Pucat banget lo, Bi."

Raka mulai mengeluarkan stetoskop dan memeriksa Abian. Namun, sambil bekerja, mulutnya tidak berhenti menggoda Nana.

"Nana, lo betah kerja sama dia? Abian ini dari SMA emang begini, kaku kayak kanebo kering. Kalo lo butuh hiburan. Hubungin gue aja ya. Ini kartu nama gue," ucap Raka sambil menyodorkan kartu nama dengan kedipan mata.

Nana menerima kartu itu dengan ragu. "Terima kasih, Dok..."

"Haruna, ambilkan air minum lagi ke pantry," potong Abian tiba-tiba. Matanya menatap tajam ke arah kartu nama di tangan Nana.

"Tapi Pak, air Bapak masih penuh—"

"Ambilkan yang baru. Saya mau yang lebih dingin," tegas Abian tak terbantahkan.

Begitu Nana berjalan menjauh ke pantry, Raka langsung menyenggol lengan Abian sambil menyuntikkan vitamin ke lengan sahabatnya itu. "Waduh, ada yang terbakar tapi bukan sampah nih. Cemburu, Bi?"

"Jangan sembarang bicara. Dia asisten saya, saya nggak mau konsentrasinya terganggu karena buaya darat seperti lo," jawab Abian sambil membuang muka.

"Halah, alasan. Tatapan lo ke dia itu beda, Bi. Lo sakit begini aja masih sempat-sempatnya ngelindungin dia dari gue," Raka membereskan peralatannya.

"Gue kasih obat tidur juga ya, biar lo istirahat total. Dan saran gue... kalau lo nggak mau dia diambil orang, mulut judes lo itu dikurangin dikit."

Abian terdiam, menatap punggung Nana di kejauhan. Tak lama kemudian, efek obat mulai bekerja, membuat matanya terasa sangat berat. Sebelum benar-benar tertidur, ia sempat menggumam lirih.

"Jangan kasih kartu nama lo ke dia lagi... atau gue cabut izin praktik lo."

Raka hanya menggelengkan kepala. "Fix, ini mah bucin tapi gengsi."

Perlahan, kelopak mata Abian bergerak. Rasa berat yang sempat menghimpit kepalanya kini sedikit berkurang, berganti dengan sensasi dingin dari sisa kompres yang sudah mengering di dahinya. Abian mengerjap, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan cahaya remang-remang di dalam ruangannya.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepi, tidak ada orang.

"Haruna?" panggil Abian lirih.

Abian mendengus getir, lalu menyandarkan kepalanya kembali ke bantal sofa dengan kasar. Hatinya yang sedang sensitif karena sakit mendadak merasa kosong.

"Apa dia pergi meninggalkan aku di sini?" gumamnya pada diri sendiri.

"Cih, dasar asisten tidak setia. Setelah melihatku selemah ini, dia langsung pulang dan membiarkanku mati sendirian di kantor."

Ada rasa kecewa yang menyelinap di antara rasa peningnya.

Namun, saat Abian hendak memaksakan diri untuk bangun dan mencari ponselnya, terdengar suara bip dari pintu sensor.

Cklek.

Pintu terbuka, menampilkan siluet seorang wanita yang membawa sebuah kantong plastik besar dengan aroma yang sangat familiar. Nana masuk dengan langkah jingkat-jingkat, mencoba tidak menimbulkan suara, namun ia langsung mematung saat melihat dua mata tajam Abian sedang menatapnya dari sofa.

"Lho? Bapak sudah bangun?" seru Nana setengah berbisik. Ia segera menyalakan lampu sudut agar ruangan tidak terlalu gelap.

Abian membuang muka, pura-pura kembali menatap langit-langit. "Saya pikir kamu sudah pulang dan membiarkan saya membusuk di sini."

Nana berjalan mendekat, meletakkan kantong plastik itu di meja kopi di depan Abian. Ia mengabaikan nada ketus bosnya.

"Enak saja. Saya tadi keluar sebentar ke depan kantor, Pak. Antrean bubur ayam di sana panjang sekali, tapi kata orang-orang itu bubur paling enak untuk orang sakit," ucap Nana sambil mulai membuka bungkus makanan itu.

Asap tipis mengepul dari mangkuk plastik tersebut, membawa aroma kaldu ayam dan cakwe yang menggugah selera. Nana mengaduknya pelan sebelum menyodorkannya pada Abian.

"Ini saya belikan bubur untuk Bapak. Masih panas. Bapak harus makan sekarang sebelum minum obat dari Dokter Raka lagi," lanjut Nana

Abian melirik mangkuk itu, lalu melirik Nana. "Kenapa lama sekali? Kamu tahu saya tidak suka menunggu."

"Tadi saya juga mampir ke apotek di sebelah tukang bubur, Pak. Membelikan Bapak plester kompres baru, yang lama sudah tidak dingin," jawab Nana sabar. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Abian sejenak untuk mengecek suhu.

"Panasnya sudah turun sedikit. Ayo, Pak, duduk dulu. Mau saya suapi atau bisa sendiri?"

"Saya punya tangan, Haruna. Saya bukan balita."

1
Mundri Astuti
wayuluhhhhh keder dah si abi...pantes Nana fasih bhs jepang, lah bapaknya org jepang taunya.

author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!