Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Murka Sang Ibu Mertua
Aku kembali ke Jakarta dengan perasaan yang jauh lebih hampa. Tidak ada lagi sisa air mata untuk Mas Fikar, bahkan setelah drama hebat di pemakaman Ibu kemarin. Aku memutuskan kembali ke rumah besar itu hanya untuk satu alasan yang masuk akal, mengambil sisa barang-barangku dan menyudahi sandiwara ini secara resmi. Aku tidak mau lagi melarikan diri. Aku ingin berdiri tegak di depan reruntuhan hidupku sendiri.
Namun, begitu kakiku melintasi pintu ruang tamu, atmosfer di sana terasa jauh lebih mencekam ketimbang malam saat aku pergi. Di atas sofa beludru mewah itu, Ibu Sofia duduk tegak. Wajahnya yang biasanya angkuh kini merah padam, menyiratkan amarah yang sedang mendidih. Di atas meja di hadapannya, berserakan foto-foto yang persis seperti yang dikirimkan Clara padaku, ditambah beberapa dokumen medis yang terlihat sangat resmi.
Bagus sekali. Akhirnya wanita yang tidak tahu diri ini pulang juga, suara Ibu Sofia menggelegar, merobek kesunyian rumah yang luas itu.
Aku menghentikan langkah, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar gemetar. Saya hanya datang untuk mengambil barang-barang saya, Bu. Saya akan segera pergi.
Pergi? Setelah kamu mempermalukan keluarga ini? Ibu Sofia berdiri, melangkah mendekatiku dengan tatapan yang seolah ingin menguliti seluruh tubuhku. Fikar sudah menceritakan semuanya. Dia bilang kamu pergi hanya karena cemburu buta pada Clara. Tapi lihat ini! Ia menyentakkan selembar kertas ke arahku dengan kasar. Clara datang ke sini pagi tadi. Dia membawa hasil pemeriksaan kehamilan dan dia bersedia melakukan tes DNA setelah bayi itu lahir. Dia tidak seperti kamu yang hanya bisa menghabiskan uang anakku tanpa memberikan keturunan sedikit pun!
Dadaku terasa seperti dihantam palu godam. Rasa sakitnya menjalar hingga ke kerongkongan. Jadi... Ibu membela wanita itu? Ibu tahu Mas Fikar mengkhianati saya, dan Ibu justru menyalahkan saya?
Pengkhianatan? Ibu Sofia tertawa sinis. Itu adalah suara tawa paling menyakitkan yang pernah mampir di telingaku. Dalam keluarga kami, keturunan adalah segalanya. Kalau Fikar harus melakukan kesalahan dengan wanita lain hanya karena kamu tidak becus hamil, maka itu adalah kegagalanmu sebagai istri! Kamu masuk ke sini karena kontrak, Kiki. Jangan pernah lupa posisi itu. Kamu cuma alat untuk melunasi hutang ayahmu. Sekarang, saat ada wanita lain yang bisa memberikan apa yang paling aku inginkan, seorang cucu, kamu sudah tidak ada harganya lagi.
Aku menatap wanita di depanku dengan rasa tidak percaya yang memuncak. Selama dua tahun ini, aku mati-matian mencoba mencuri hatinya. Aku merawatnya saat dia sakit, menelan semua makiannya bulat-bulat, dan bersabar dengan segala aturan protokolnya yang mencekik leher. Namun, ternyata di matanya, aku tetaplah barang bekas yang bisa dibuang kapan saja ke tempat sampah.
Cukup, Bu, kataku dengan nada dingin yang bahkan mengejutkan diriku sendiri. Ibu boleh menghina saya, tapi jangan pernah sebut pernikahan ini hanya soal keturunan. Mas Fikar mengkhianati saya, dia membohongi saya, dan Ibu justru merayakannya? Jika Ibu begitu menginginkan Clara, silakan ambil dia. Saya tidak sudi lagi berada di satu atap dengan orang-orang yang tidak memiliki nurani.
Tiba-tiba, sebuah tamparan keras mendarat telak di pipiku. Plakk!
Wajahku terlempar ke samping. Rasa panas yang menyengat langsung menjalar di kulit, tapi rasa sakit di dalam hatiku jauh lebih hebat menghujam. Aku memegang pipiku yang berdenyut, menatap Ibu Sofia yang napasnya memburu tidak beraturan karena kalap.
Jangan berani-beraninya kamu bicara seperti itu di rumahku! teriaknya histeris. Kamu akan segera menerima surat cerai. Dan jangan harap kamu bisa membawa satu rupiah pun dari harta Fikar. Kamu datang membawa hutang, dan kamu akan pergi dengan tangan hampa!
Saya tidak butuh uang kalian! teriakku balik. Air mata amarah mulai mendesak keluar dari sudut mataku. Simpan saja uang itu untuk membeli kembali harga diri kalian yang sudah hilang!
Aku berbalik, berlari menaiki tangga menuju kamar untuk menyambar tas dan barang-barang penting yang masih tersisa. Aku tidak peduli lagi pada baju-baju mahal atau perhiasan yang pernah diberikan Mas Fikar sebagai pemanis kontrak. Semuanya terasa seperti sampah bagiku sekarang.
Saat aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa, aku berpapasan dengan Mas Fikar yang baru saja melangkah masuk. Ia tampak kacau, wajahnya hancur. Namun saat melihat pipiku yang memerah bekas tamparan dan Ibu Sofia yang masih berdiri dengan angkuh di bawah sana, ia langsung paham apa yang terjadi.
Kiki, tunggu! Ibu, apa yang Ibu lakukan? Mas Fikar mencoba menahan lenganku, tenaganya kuat tapi tangannya terasa dingin.
Lepaskan aku, Mas! Aku menyentakkan tanganku dengan kasar sampai genggamannya terlepas. Dengar baik-baik. Hari ini, bukan kamu yang menceraikanku. Tapi aku yang membuangmu. Kamu dan ibumu adalah penjara paling menjijikkan yang pernah aku masuki.
Aku melangkah keluar melewati pintu besar itu tanpa sedikit pun menoleh lagi. Di belakangku, aku masih mendengar suara Mas Fikar yang mulai berdebat hebat dengan ibunya, tapi suara itu perlahan memudar seiring langkah kakiku yang semakin menjauh. Aku berjalan di bawah langit Jakarta yang mulai menggelap, dengan pipi yang masih terasa panas dan hati yang sudah mati rasa. Aku tidak punya uang, aku tidak punya tempat tinggal, tapi untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku merasa paru-paruku bisa menghirup udara. Meski napas itu terasa sesak oleh sisa-isa isak tangis yang belum juga usai.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.