Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Kamu Harus diobati
Dari reaksi Fasha, Dokter Liam malah mengambil kesimpulan bahwa ada sesuatu yang sangat tidak beres, terutama pada kondisi mentalnya.
“Berbaringlah. Jangan bergerak dulu. Biar saya periksa lebih teliti.”
Saat Dokter mengeluarkan alat-alat medis, tubuh Fasha langsung menegang. Ketika stetoskop didekatkan, ia refleks menutup kepala dengan kedua tangan.
Gerakan naluriah itu membuat dada Dokter Liam terasa sesak.
Ini bukan reaksi sekali dua kali dipukul—ini refleks orang yang terlalu sering disakiti.
“Tenang… tidak apa-apa… tidak akan sakit,” ucapnya menenangkan.
Detak jantung Fasha sangat cepat. Berat badannya jauh di bawah normal. Kurang gizi, dan ada masalah serius pada lambungnya.
“Tuan Sander, tolong ambilkan segelas air. Dia harus minum obat lambung dulu.”
Dokter Liam sudah bertahun-tahun menjadi dokter keluarga Carter. Ia tahu, meski Sander terlihat dingin, pria itu bukan orang yang kejam.
Saat Sander pergi, Dokter Liam membantu Fasha duduk. Dengan suara sangat pelan, ia bertanya,
“Apakah orang yang menyakitimu itu… dia?”
Fasha segera menggeleng keras, seperti boneka pegas.
“Bukan… suamiku orang baik. Yang jahat itu orang lain.”
Dokter Liam menahan napas. Ia tidak tahu siapa yang dimaksud Fasha, maka ia menuliskan aturan minum obat dengan jelas di kertas.
“Apakah kamu bisa membaca?”
Fasha mengangguk kecil. “Bisa. Ini… salep, kan?”
Dokter Liam sedikit lega. Setidaknya, tidak separah yang ia khawatirkan.
Namun setelah minum obat, Fasha masih meringis, memegangi perutnya sambil berbaring di sofa.
“Dokter, tolong periksa kakinya juga.”
Kaus kakinya sudah basah oleh darah dan menempel di kulit. Dokter Liam memotong kain itu perlahan, lalu melepaskannya sedikit demi sedikit.
Potongan porselen masih tertancap di dagingnya.
Dengan pinset, Dokter mengeluarkannya satu per satu, lalu membersihkan dan membalut lukanya dengan hati-hati.
“Sudah… jangan bergerak dulu. Istirahatlah.”
Setelah mencuci tangan, Dokter Liam mengikuti Sander ke ruang kerja.
“Tuan, kondisinya lebih serius dari yang saya perkirakan. Lambungnya sudah lama bermasalah karena pola makan yang buruk. Dia tidak boleh langsung makan banyak, apalagi daging. Harus perlahan.”
Ia menarik napas sebelum melanjutkan,
“Memar di tubuhnya justru bukan yang paling mengkhawatirkan. Yang lebih serius adalah kondisi fisik dan mentalnya. Secara psikologis… dia sangat tidak stabil.”
Sander terdiam. “Aku baru bertemu dengannya hari ini. Dia dari keluarga Madeline.”
Dokter Liam mengangguk pelan. Ia tentu tahu reputasi keluarga tersebut dan kisah putri tertua yang berubah setelah kecelakaan bertahun-tahun lalu.
“Kasihan sekali… ini jelas akibat penyiksaan jangka panjang.”
“Dokter Liam, siapkan laporan medis lengkap, lalu beritahu pada Chris prosedur apa saja yang harus dilakukan.”
“Baik, Tuan.”
Ia ragu sejenak sebelum bertanya, “Saya tahu ini bukan wewenang saya… tapi bolehkah saya tahu, apa sebenarnya yang terjadi?”
Sander mengusap ujung jarinya dan akhirnya berkata, "Ayah ingin aku menikah dengannya."
Mendengar bahwa dalangnya adalah ayahnya yang dingin dan kaku, Dokter Liam hanya bisa menghela napas.
Sepertinya pengobatannya pada Sander beberapa hari terakhir ini akan sia-sia.
"Tuan Sander, seperti yang Anda ketahui, kehadiran seseorang secara tiba-tiba dalam hidup Anda dapat berdampak. Jika ada masalah, hubungi saya kapan saja."
"Hmm. "
“Ini obat-obatan yang dia butuhkan.” Dokter Liam menyerahkan kantong obat pada Sander.
“Resepnya sudah kutulis, tapi sepertinya dia sulit memahaminya, jadi kamu yang harus mengurusnya. Selain itu, luka-luka di tubuhnya perlu segera diobati. Ia memang menolak saat kuperiksa, tapi meski ini baru pertemuan pertama kalian, ia terlihat sangat bergantung padamu.”
Sander tidak menjawab. Namun bagi Dokter Liam, diam berarti tidak menolak. Ia pun membereskan barang-barangnya dan pergi tanpa banyak bicara.
Saat Sander turun ke ruang tamu, Fasha sedang duduk di sofa sambil memeluk seekor bebek kuning kecil, tersenyum konyol.
Chris rupanya membeli satu keluarga penuh—tujuh ekor bebek, besar dan kecil, tersusun rapi di atas meja.
“Terima kasih, Suamiku. Aku suka sekali pada bebek ini,” ujar Fasha ceria.
Apa hebatnya boneka bebek kuning? Sander hanya mengangguk dingin.
“Simpan resep dan obat di tempat yang sama. Jangan diacak-acak. Sebelum minum, cocokkan dulu dengan resepnya. Minum pakai cangkir bergagang. Di ruang tamu ada dispenser kecil—kalau lampunya merah, berarti air belum panas. Tunggu sampai berubah. Mengerti?”
“Iya, Suamiku, aku mengerti.”
Entah mengapa, panggilan 'suami' yang diucapkan Fasha terdengar begitu aneh di telinga Sander.
“Fasha, kamu tidak boleh memanggilku ‘suami’ lagi. Panggil aku Sander.”
Fasha memiringkan kepala, memainkan bebek kecil di tangannya sambil bergumam, “Kata para bebek… kamu suka dipanggil begitu.”
Fasha menatap Sander penuh harap hanya untuk mendapatkan tatapan cuek dari pria itu.
“Panggil aku Sander.”
“Bagaimana jika Kakak? Memanggil nama suamiku terdengar kurang sopan bukan?”
Sander terdiam.
Nada itu… menyebalkan, tapi lebih baik daripada ‘suami’.
"Bilang padaku jika badan mu terasa sakit.., kalau tidak cocok dengan tempat tinggal atau makanan, sampaikan saja.”
“Iya.”
“Aku suka… kalau tidak dipukul,” kata Fasha tiba-tiba, polos.
Sander mengatupkan bibir. Ia menatap wajah Fasha yang cantik dan polos, sangat berbeda dari rumor yang ia dengar. Mata itu terlalu jernih, terlalu bersih.
“Fasha, pernikahan ini tidak nyata.”
Ia menarik napas pelan.
“Keluargamu hanya menginginkan uang, aku butuh kerja sama. Tidak ada yang peduli dengan keinginanmu… atau keinginanku. Jadi ini bukan sesuatu yang perlu dianggap serius.”
“Keadaanmu juga bukan hasil pilihanmu. Tinggallah sementara di sini. Setelah aku mengatur semuanya, kamu bisa pergi.”
'Pergi…? Sander ingin mengusirku…? Tidak.. itu tidak boleh!'
Air mata langsung menggenang di mata Fasha. Ia merangkak dari sudut sofa, dengan ragu meraih ujung jari kelingking Sander.
“Suamiku… aku baik-baik saja… jangan tinggalkan aku…”
Ia cepat mengoreksi diri, suaranya gemetar.
“Kakak… tolong jangan usir aku…”
'Hanya aku yang tau alur kematianmu.. dan kamu butuh aku untuk menolongmu.. mana mungkin aku mau melepaskan kamu Sander..'